Kisah Sindikat Pembobol Surat Berharga Bank

Polisi berhasil mengamankan sindikat pemalsuan surat berharga hingga triliunan rupiah. Meski sebagai pemain baru, jaringan ini terbilang mahir sekaligus terkoordinir.

Digital CameraRanap Simanjuntak

Ada-ada saja operasi penipuan dan upaya membobol bank. Kali ini jaringan penipuan bilyet surat deposito berjangka (SDB) bisa diamankan polisi. Sindikat yang beranggotakan enam orang itu melibatkan karyawan kontrak pengelola parkir bank Mandiri.

Adalah Ahmed Abdel Mon’em Ahmad Salwaha yang menjadi korban. Lelaki warga negara asal Yordania ini tergiur dengan iming-iming Syarifuddin (48) yang berprofesi sebagai pengacara. Di mana, korban dijanjikan mendapat SDB Bank Mandiri sebesar Rp 1 triliun dengan syarat memberikan uang setoran uang sebesar 6% dari jumlah SDB tersebut. “Artinya diminta awal sekitar Rp 60 miliar,” kata Kepala Bagian Humas Polda MetroJaya Kombes Polisi Rikwanto kepada Ferdi Christian dari SINDO Weekly, Selasa pekan ini.

Agar percaya, maka Ganefo Aritonang (50) yang berperan sebagai pejabat bank Mandiri. Dia berpura-pura menjadi petinggi Bank dengan menyerahkan SDB palsu itu kepada Syarifuddin di lantai 9 Plaza Bapindo lantai 9. Padahal, Ganefo hanyalah karyawan kontrak (outsourcing) anak usaha Bank Mandiri, yakni Mandiri Ivestama sebagai perusahaan pengelola gedung parkir.

Toh, Ahmed tak langsung percaya. Dia berjanji akan melakukan pembayaran secara mencicil dengan terlebih dahulu memberikan uang sebesar Rp 150 juta. Syarifuddin melunak dan memberikan Nomor Pokok wajib Pajak (NPWP), KTP, dan pasport asli miliknya agar korban percaya.

Keesokan harinya, tepatnya 4 Juni 2013, Ahmed berusaha memverifikasi SDB bernomor seri AD12701 nomor rekening 123-02-0470251-0 atas nama Syarifuddin. Korban menyertakan berkas identitas pelaku ke kepada pihak Bank Mandiri cabang Sudirman, Jakarta Selatan yang terletak di Plaza Bapindo.

Nyatanya pihak Bank Mandiri menyatakan itu palsu. Petugas Bank Mandiri Putu Ari Priyatna yang memeriksa awalnya bingung karena hasil pemeriksaan SDB itu hanya berisi deposito sebesar Rp 10 juta, namun diubah menjadi Rp 1 triliun. Putu lantas menghubungi Polda Metro Jaya yang hanya selemparan batu dari kantornya bekerja.

Polisi bergerak cepat dengan langsung mengamankan Syarifuddin kemudian menyergap anggota sindikat lainnya. Salah satu pelaku, Parlindungan Hutagalung (54) yang bertugas sebagai penerima order ditangkap pada kediamannya di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan.

Dari rumah itu, polisi menemukan surat berharga lainnya seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 080264 yang diberikan kuasanya kepada Parlindungan. Lebih hebohnya lagi, ditemukan selembar certificate time depocit Bank Central Asia (BCA) atas nama Abdul Holik senilai Rp 873 triliun.

Ketika dikonfirmasi, Kepala Biro Litigasi BCA Pusat, Januar A. Saputra menyatakan kalau surat berharga senilai Rp 873 triliun juga palsu. “SDB Bank BCA yang ditemukan polisi di rumah penggeledahan juga palsu,” terangnya.

Kemudian, polisi juga menangkap kawanan pelaku. Dua orang penerima order yang membuat SDB palsu adalah Abdul Holik (52), ditangkap di Cipanas, Jawa Barat dan Ivan Sofyan alias Alfan Rivaldi alias Donny Kurniawan (40). “Dari penggeledahan rumah Abdul Holik di Bogor didapati surat berharga BI senilai Rp 373 triliun yang juga palsu,” sambung Rikhwanto.

Pelaku lain yang ditangkap adalah Mudjayadi (40) di daerah Cimanggis, Depok serta Ganefo pejabat bank mandiri palsu pada kediamannya di Rawamangun, Jakarta Timur. Dari rumah Ganefo didapati ID Card Mandiri atas nama Ganefo RA bernomor yang berlaku hingga tahun 2014.

Keenam pelaku, menurut Rikhwanto, tak punya keahlian khusus lantaran mereka belajar secara otodidak. “Latar belakang mereka kebanyakan sarjana hukum, tapi pembuatannya dengan peralatan canggih sehingga kasat mata tidak terlihat SDB palsu,” ungkapnya.

Dalam persidangan nanti, jaksa bisa menjerat para tersangkan dengan pasal 263 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Pemalsuan Surat dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun. Senior Vice President Legal Group Bank Mandiri Mohammad Arifin Firdaus meminta masyarakat berhati-hati atas makin maraknya peredaran surat berharga  bank yang palsu.”Untuk memastikan keabsahan bilyet deposito bisa konfirmasi ke kantor cabang bank penerbit terdekat. Kami sendiri berusaha meningkatkan kemanan nasabah,” pungkasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s