Profil Richard Joost Lino, Direktur Utama PT Pelindo II

Pelindo aja“Biaya Pelabuhan dan Harga Komoditas Tidak Imbang”

Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II yang berpusat di Tanjung Priok, Jakarta Utara, bisa dibilang sebagai pintu masuk ke Indonesia. Kebanyakan perdagangan barang keluar-masuk lewat jalur ini. Namun, belakangan daya tampung Pelindo II yang mencapai 7 juta twenty-foot equivalent unit (TEU) per tahun, dianggap sudah limit maksimum. Karena itu, Direktur Utama Pelindo II, Richard Joost Lino, berikhtiar untuk meningkatkan produktivitas, di antaranya membangun tiga terminal di Kalibaru.

Terminal I akan selesai akhir 2014, selanjutnya terminal II pada 2016, dan terminal III setahun berikutnya. Selain Kalibaru, Lino mengatakan juga akan membangun pelabuhan baru di Sorong, Papua, di atas lahan 7.500 hektare. Total investasinya menelan dana hingga Rp36 triliun. Untuk meningkatkan keuntungan dari hasil pembangunan pelabuhan itu, lelaki asal Rote, Nusa Tenggara Timur, ini akan membuat Pelindo tidak ubahnya Pelabuhan Rotterdam di Belanda. “Membuka bagi operator asing untuk masuk, namun kontrol berada di bawah Merah Putih. Jadi keuntungan tetap untuk Indonesia,” ujarnya. Pelindo ok Richard-Joost-Lino

Alumnus Teknik Sipil ITB Bandung ini pun berharap kondisi perekonomian dan politik Indonesia sejatinya dapat mendukung pembangunan pelabuhan baru tersebut. “Harus ada cara agar pembangunan itu tidak terganggu karena Indonesia bisa dapat nilai yang tinggi,” kata Lino. Kepada Sukron Faisal dan Iis Husni Isnaini dari SINDO Weekly, Lino bercerita banyak mengenai industri pelabuhan dan tantangan ke depan. Berikut petikannya:

 

Bagaimana dengan industri kepelabuhan di Indonesia secara umum?

Ada hal yang mendasar di Indonesia untuk pelabuhan, yaitu biaya pelabuhan dengan komoditasnya tidak imbang. Seperti CPO (crude palm oil), tarif pelabuhannya Rp3.000 per ton, padahal harga CPO Rp10 juta per ton. Harga Rp3.000 itu tidak wajar. Tidak ada satu pun perusahaan swasta yang mau investasi, karena tarifnya tidak payable.

Jadi, persoalannya regulasi?

Bukan regulasi, tapi kesalahan dari dulu. Saya katakan pada mereka, Pelindo itu punya Indonesia. Selama ini Anda tidak membayar benar kepada rakyat Indonesia, Rp3.000 itu tidak wajar. Nilai seharusnya US$3−7 per ton, seperti harga di seluruh dunia. Jadi, kami hanya dibayar sepersepuluhnya. Karena kami BUMN, maka mau membangunnya. Tapi ini cara yang tidak benar. Kalau kontainer, tarifnya sudah benar. Tapi batu bara ya tidak ada, karena tarifnya murah sekali. Siapa yang mau investasi kalau tidak ada return-nya.

Siapa yang seharusnya memperbaiki?

Saya beritahu mereka bahwa Anda membayar tidak wajar kepada negara, rakyat dirugikan. Pelindo itu doorman (pintu masuk). Kalau kami untung, pasti akan diinvestasikan lagi di Indonesia, beda dengan perusahaan swasta.

Bagaimana cara membuat investor asing berinvestasi di Pelindo?

Tanjung Priok itu ibaratnya “gadis cantik”. Jadi kami bisa memilih untuk lelang terminal II dan III. Kami sudah dalam proses finalisasi. Saya sudah memasang iklan di majalah The Economist, dengan harga sekitar 120 ribu euro atau Rp1,56 miliar/halaman. Kami pasang di halaman prime, bukan di belakang. Saya pasang iklan ini agar seluruh dunia tahu bahwa akan ada terminal baru yang dioperasikan oleh international company dari Indonesia. Sehingga mereka yang investasi di Republik ini akan memperoleh prospek bagus, dengan pelayanan yang bagus. Jadi, iklan ini untuk Indonesia, bukan untuk trading saja.

Mengenai pembangunan terminal baru Kalibaru, bagaimana perkembangannya?

Terminal baru di Kalibaru sedang berjalan. Terminal I selesai akhir 2014, terminal II 2016, dan terminal III 2017. Serta dua oil terminal Multi Purpose Floater dengan total 10 juta ton/tahun. Untuk yang kontainer, daya tampungnya 4,5 juta TEU per tahun.

Selain Kalibaru, kami juga akan membangun pelabuhan baru di Sorong, Papua. Letaknya 90 km di selatan Sorong, di atas lahan 7.500 hektare. Terminal yang pertama kali akan kami bangun panjangnya 500 meter dengan kapasitas sekitar 500 ribu TEU per tahun. Mulai dibangun akhir 2012 dan akan selesai akhir 2014. Sangat jauh kalau dibandingkan dengan Tanjung Priok yang lahannya hanya 800 hektare.

Berapa investasi untuk membuat pelabuhan itu? 

Total biaya tahap I lebih kurang US$2,5 miliar atau Rp20 triliun, tahap II sekitar Rp16 triliun. Tahap II ini ada 8 terminal, dengan kapasitasnya 8 juta TEU.

Memangnya berapa daya tampung Priok sehingga harus dibangun pelabuhan baru?

Tahun ini sekitar 7 juta TEU, itu sudah limit maksimum. Untuk itu saya mesti bikin optimasi peningkatan produktivitas di Tanjung Priok hingga 9 juta TEU, sambil menunggu Kalibaru selesai 2014. Perlu usaha extraordinary, kalau tidak maka tidak akan bisa.

Adakah rencana untuk mengembangkan Tanjung Priok ke arah maritime service yang lengkap seperti di Tanjung Pelepas, Malaysia?

Kalau Kalibaru rampung. Karena drafnya saja 16 miliar. Tapi desain semua dermaga itu 20 miliar, sama dengan terusan Selat Malaka.

Apakah pelabuhan baru ke depannya akan mampu menyaingi Singapura?

Tidak juga. Kami hanya ingin mengambil aset yang kami punya. Karena kita masih ada yang transit, meski jumlahnya sedikit. Seperti Panjang, Semarang, kan masih transit di Singapura. Kalau Priok kompetitif dengan fasilitas yang ada, seharusnya transitnya ke Priok. Dermaga-dermaga itu yang mau saya ambil.

Dengan budget keseluruhan yang mencapai Rp36 triliun, apakah untuk pembangunan infrastruktur saja atau pengembangan lainnya?

Khusus untuk Tanjung Priok, hanya infrastruktur, superstruktur, dan equipment. Channel yang sekarang kan hanya ada 14, maka akan dibangun menjadi 16, sama seperti Singapura. Tapi dermaga kita desainnya itu kurang dari 20 meter.

Apa sumber utama masalah produktivitas pelabuhan Indonesia? Lebih ke SDM atau infrastruktur?

Beberapa waktu lalu Presiden SBY bicara soal infrastruktur. Berbicara soal infrastruktur, ada dua: hard infrastructure (fisik) dan soft infrastructure (sistem pelayanan). Nah, soft infrastructure itu murah dan bisa dikerjakan langsung, jadinya cepat. Kapasitas infrastruktur yang ada pun menjadi besar, sambil kami membangun hard infrastructure. Karena hard infrastructure itu butuh waktu 2-3 tahun untuk menjadikan uangnya banyak, sementara soft infrastructure itu tidak.

Contoh, sewaktu saya masuk Tanjung Priok pada 2009, kontainer di Priok pada tahun itu hanya 3,6 juta TEU. Jika Anda ke Priok di awal 2009, keadaannya sungguh messy, macet, dan tidak keruan. Kalau lihat sekarang, Priok itu longgar, padahal volumenya 7,2 juta TEU.

Melihat kapasitas Pelindo saat ini, puncak performanya kira-kira sampai berapa kali lipatnya dari sekarang?

Dengan 7 juta TEU sekarang ini, saya punya challenge besar. Dan bila Kalibaru siap beroperasi 2015 nanti, volumenya bisa meningkat jadi 9 juta TEU. Saya mesti menyiapkan kapasitas tambahan 2 juta TEU lagi, karena tidak mungkin membangun baru. Saya juga mesti mendorong supaya bisa mencapai hal itu.

Pelabuhan adalah salah satu bisnis strategis karena menyangkut kedaulatan bangsa…

Jauhkan nasionalisme sempit, karena dapat menjadi lintah darat bagi masyarakat banyak. Saya harus cari income and profit dengan cara yang elegan, supaya keuntungan dapat ke Indonesia, bukan dibawa ke luar. Dan kita jangan xenofobia (anti-asing). Lihat Pelabuhan Rotterdam di Belanda. Mereka terbuka bagi operator asing, tetapi Belanda yang mengontrolnya. Nah, begitu juga kami, mengundang operator asing dan kami yang kontrol. Keuntungannya untuk Indonesia juga.

Bagaimana pandangan Anda mengenai persoalan kebangsaan saat ini? 

Dengan pertumbuhan 6,5% itu suatu pencapaian yang bagus, karena jumlah negara di dunia yang mencapai pertumbuhan seperti ini bisa dihitung dengan jari. Jadi, politisi yang suka mengkritik, sebaiknya mereka membantu supaya perekonomian Indonesia bisa mencapai 10%.

Meski demikian, saya optimistis dengan Negeri ini. Indonesia menjadi salah satu negara yang demokrasinya sangat demokratis di dunia. Bandingkan dengan Amerika Serikat, kita jauh lebih demokratis. Di sini, Anda bisa menulis sebebas yang Anda mau, tidak ada negara mana pun di dunia yang seperti Indonesia. Indonesia itu sangat fantastik. Kita berharap pemerintah ke depan menjadi lebih baik, lebih bagus, lebih tegas, sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi lebih tinggi lagi.

Bagaimana dengan persoalan ekonomi yang ada?

Seluruh dunia kagum dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6,5%, jadi jangan komplain. Kalau mau mengkritik, mereka juga harus memberi kontribusi. Bila setiap orang mau bersinergi, perekonomian kita bisa tumbuh fantastik.

Apa harapan Anda terhadap untuk pemimpin hasil Pemilu 2014? 

Seorang pemimpin yang berani dan tegas untuk memutuskan. Dia harus percaya apa pun yang dilakukannya itu benar untuk rakyat dan dilaksanakan.

Harapan Anda terhadap partai politik peserta Pemilu 2014? 

Saya melihat, dengan kondisi parpol seperti sekarang, akan muncul tokoh nonpolitik. Parpol butuh karakter orang seperti itu untuk menjual parpolnya. Masyarakat kita sekarang makin pintar, mereka melihat sosok, bukan partai politiknya lagi.

Karakter pemimpin seperti apa yang Anda harapkan di 2014? 

Pokoknya mereka yang punya integritas tinggi untuk Negeri ini, yakni berani mengambil keputusan dengan cepat. Berapa persen sih orang seperti kami di negeri ini? Tidak banyak. Biarkanlah acara ini menjadi momen lima tahunan, siapapun presiden yang terpilih nanti, walaupun kita tidak memilihnya, harus sama-sama kita support.

Apakah kondisi politik saat ini memengaruhi perkembangan Pelindo? 

Seperti terminal I, II, dan III proyek Kalibaru yang membutuhkan banyak uang hingga triliunan rupiah, harus ada cara agar pembangunan ini tidak terganggu, karena kita bisa dapat nilai yang tinggi. Maka itu, kami membuat oversight committee; terdiri dari orang-orang independen yang mengawasi semua proses pembangunan yang saya lakukan secara transparan.

BIODATA RICHARD JOOST LINO Pelindo Richard Joost Lino, Direktur Utama PT Pelindo II

Tempat, tahun lahir              : Rote, Nusa Tenggara Timur, 1953

Pendidikan

1976    Teknik Sipil, ITB Bandung

1978    Diploma Teknik Hidrolik, The International Institute for Hydraulic  and Environmental engineering, Delft, The Netherlands.

1979    International Course on Sediment Transport in Estuarine and Coastal Engineering, Coastal research Centre, Poona, India.

1980    Senior Course on Port and Harbour engineering, Tokyo, Japan.

1981    Project Management Course, Virginia Polytechnic Institute and State University, Virginia, USA.

1989    Magister Bisnis Administrasi, Institute Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (IIPM), Jakarta, Indonesia

 

 Laut Adalah Hidupnya

“Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudera”. Lagu itu bukan sekadar nyanyian bagi Richard Joost Lino, Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II, melainkan sudah seperti mendarah daging. Inilah yang membuat R.J. Lino, yang lahir pada 1953 di Kepulauan Rote, Nusa Tenggara Timur—yang identik dengan pantai dan laut—tidak bisa berpisah dengan kehidupan laut. “Dari kecil saya suka laut karena rumah saya hanya 100 meter dari pantai,” katanya.

PelindoSaking cintanya akan laut, setamat dari Teknik Sipil ITB pada 1976, Lino memilih disiplin ilmu yang ada kaitannya dengan laut, yaitu mengambil Diploma Teknik Hidrolik di The International Institute for Hydraulic di Belanda. Kemudian, ia memperdalam keilmuan bidang laut di India, Jepang, hingga Amerika Serikat.

Pada 1992, Lino bergabung dengan Transconsult, tempat ia banyak terjun langsung dalam proyek dan penelitian kelautan Indonesia. Tiga belas tahun berselang, ia ikut dalam proses pengadaan Pelabuhan Guigang, Guang Xi di Cina. Setelah pengadaan, Lino didapuk menjadi Managing Director Pelabuhan Guigang. Peran utamanya mengevaluasi perencanaan pelabuhan dan renovasi pelabuhan lama menjadi pelabuhan modern.

Pengalaman mengenai akses kanal, pemecah gelombang, bidang kargo, dan seabrek pengetahuan di bidang pelabuhan, membuat Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memanggilnya sebagai Direktur Utama Pelindo II di akhir 2009. Sebagai orang nomor satu di Pelindo II yang membawahkan 12 pelabuhan di Indonesia bagian barat, Lino harus dapat meningkatkan performa Pelindo II, khususnya Pelabuhan Tanjung Priok, yang kondisinya tidak keruan. Saat itu, kontainer di Priok hanya 3,6 juta TEU per tahun. Kini, volumenya meningkat 7,2 juta TEU per tahun. Bahkan, ia berencana meningkatkan lagi hingga sekitar 9 juta TEU per tahun. Hal itu bukan tidak mungkin, sebab Lino bilang, laut adalah hidupnya.

 

One thought on “Profil Richard Joost Lino, Direktur Utama PT Pelindo II

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s