Profil Manoj Punjabi, President & CEO MD Entertainment

Manoj pertama“Pemerintah Tidak Mendukung Film & Televisi”

Nyalakan televisi Anda dan pindahkan saluran ke televisi-televisi nasional saat waktu-waktu utama tayang. Dapat dipastikan Anda akan menonton drama televisi alias sinetron yang diproduksi oleh MD Entertainment.

Hingga kini, tercatat belasan ribu drama televisi alias sinetron dan puluhan film telah dihasilkan rumah produksi yang digawangi Manoj Punjabi tersebut. Sehingga, dapat dikatakan bahwa MD Entertainment merupakan kerajaan terbesar di bidang produksi drama televisi di Indonesia.

Namun, dia merasa pemerintah tidak memberi dukungan atas sektor kreatif di Indonesia. “Bantu promosilah kalau di luar (negeri). Kalau ada pasar, bukalah. Punya booth di luar negeri itu penting sekali,” ucapnya saat ditemui Yohannes Tobing dari SINDO Weekly, pekan silam. Berikut petikan wawancara dengan President dan CEO MD Entertainment:

Bagaimana awal mula Anda membuat dan mengelola MD Entertainment?

Dari awal saya sudah membuat konsep mau memberikan yang terbaik di dunia software pada bidang televisi, terutama di Indonesia. Lalu, setelahnya akan lari ke bidang perfilman. Semua itu sudah saya rencanakan dan gambarkan sejak awal, mau besar di televisi, mau created brand image yang kuat di televisi kemudian baru masuk ke picture. Ini karena film satu stage di atas lini bisnis. Biar orang bikin televisi atau mau sama produsen sinetron, drama, atau bisa produksi film tidak segitu mudah. Jadi, dari awal saya sudah punya konsep.

Dari konsep tersebut, Anda lebih fokus pada bisnis yang mana?

Fokus saya selalu ke televisi, itu utama saya. Tapi kalau kita fokus, semua pasti sama. Maksudnya, satu portofolionya jadi bagus kalau kita kuat di televisi. Film merupakan software. Jadi, saya bukan lari ke televisi yang lebih ke arah hardware. Fokus saya software, saya ingin menjadi raja software, ini penting sekali. Raja software bisa di televisi, picture, musik, dan bisa created. Jadi, lebih ke arah produk-produknya, misal seperti Microsoft yang memproduksi software. Saya memilih software karena semua hardware di dunia ini butuh software. Indonesia dengan populasi segini, semua menjadi era digital. Dengan demikian, menurut saya software itu sangat penting. Sebenarnya, siapa pun bisa membuat software, tapi menghasilkan software yang baik itu tidak mudah.

Strategi apa yang akan Anda lakukan melihat potensi di Indonesia?

Kalau berbicara Indonesia, it’s about retail. Jadi, Indonesia itu bisa kita pegang dengan televisi.  Melalui televisi, kita bisa meneruskan pesan ke masyarakat. Jadi, saya lihat pertumbuhannya akan berkembang terus. Potensi kita masih sangat besar.

Langkah apa saja yang Anda lakukan melihat kebutuhan pasar di Indonesia? Manoj

Jelas saya selalu melihat pasar membutuhkan apa. Tapi, saya selalu melihat dan mengerti keinginan pasar. Tinggal saya mau kasih apa ke pasar. Istilahnya, pasar minta sesuatu dan saya tidak bisa ikut terus. Kalau seperti ini jadi tidak trend setter. Saya harus menjadi trend setter dan inovatif. Saya harus kasih sesuatu yang pasar mau, tapi dengan kemasan baru, dengan sesuatu yang beda. Harus berani out of the box. Kalau mau out of the box, pasar harus menerima. Kalau pasar tidak terima, berarti saya gagal. Tidak banyak orang suka dengan perubahan. Jadi, kalau kita mau berani, perubahan itu kita harus spekulasikan dengan pintar.

Kalau berbicara anggaran dan konsep, apa sih masalah terbesar dalam pembuatan film?

Masalah terbesar adalah biaya produksi. Sayangnya, kita tidak memiliki fasilitas studio. Jadi begini: selama ini kita yang buat film, kita yang invest, kita yang danai, kita yang produksi, kita juga yang distribusi. Kalau di negara lain ada bagian-bagiannya. Yang produksi orang lain, distribusi orang lain, studio punya orang lain, sehingga ada kerja sama yang penting dengan orang lain. Di sini, tidak. Itulah hambatannya. Kalau berbicara sinetron, ya tiap hari kita harus produksi. Artisnya bagaimana? Biaya artis tidak murah. Jadi, harus bagaimana? Yang pasti kita harus berkembang lagi. Saya ingin ada studio di sini. Lebih banyak studio, itu rencana saya ke depan. Ini supaya syuting bisa nyaman, bisa lebih explore, dan industrinya bisa lebih besar lagi.

Apakah Anda tidak tertarik dengan kepemilikan televisi?

Anda tahu, izin TV sudah tidak bisa. Kita tidak tahu, apakah sudah era digital. Saya sudah dapat media partner yang kuat. Jadi ya sudah itu jargonnya hardware. Saya akan keluarkan yang jargonnya hardware, saya bagian software. Jadi, kalau hardware bisa bekerja sama dengan software pasti akan menjadi kombinasi yang sangat kuat.

Apa yang perlu ditingkatkan pemerintah di bisnis yang Anda tangani saat ini?

Kalau saya lihat, pemerintah tidak terlalu mendukung bisnis film dan televisi. Pemerintah seperti tidak tahu, bidang ini sangat kuat. Dengan bidang film dan televisi, budaya kita bisa menonjol, bisa lebih dikenal di luar. Saya sudah tidak mengharap dukungan, tapi pemerintah seharusnya jangan membuat susah. Sebaiknya pemerintah memberi kebebasan dalam kewajaran. Saya tidak minta lebih, tapi kita perlu kebebasan supaya kita lebih kreatif dan bisa lebih berkembang.

Sebagai contoh, Pemerintah Malaysia sangat mendukung perfilman dengan memberikan insentif gila-gilaan. Saya lihat insentif Indonesia masih kecil dan enggak ada perwakilan. Kita sudah punya pasar televisi dan film, tapi tidak konsisten. Tahun lalu ada, tahun ini tidak ada lagi karena sama sekali tidak ada dananya. Menurut saya, pemerintah bersalah karena tidak memiliki promosi yang benar. Padahal bagi saya film merupakan senjata yang sangat kuat.

Pandangan Anda tentang kondisi perekonomian Indonesia secara umum?

Ekonomi Indonesia saat ini akan terus naik. Saya sangat optimis dengan Indonesia. Istilahnya,  saya sahamkan semua di sini, saya sangat berani. Saya lihat sangat cerah. Indonesia masih akan naik terus. Potensi kita masih segini, tapi akan naik terus. Berkali-kali lipat.

Apa yang Anda harapkan dari politik di 2014?

Satu hal: keamanan. Mau apa pun, terserah, tapi jangan sampai ekonomi kita tidak stabil. Sekarang kita macan Asia, jadi kekhawatiran orang kepada kita ada pada politik. Sejauh ini, baik. Mau ada ini atau itu, tapi tetap stabil. Jadi, saya sebagai pedagang merasa nyaman. Itu yang penting. Kita harus buktikan bahwa politik di 2014 ini, mau seperti apa pun, jangan sampai melemahkan kenyamanan orang. Itu harapan saya.

manoj lagi

 

Biodata Manoj Dhamoo Punjabi

Tempat tanggal lahir   : Jakarta, 7 Desember 1972

Pendidikan : Sarjana Bisnis Administrasi Indonesia Europe University, Jurusan Pemasaran dan Keuangan (1989–1993 )

Karier :

1995–2002                  Manajer Marketing dan Produksi PT Multivision Plus

2002–sekarang            President dan CEO PT MD Entertainment

 

MD Entertainment, Kerajaan Sinetron Terbesar di Indonesia Manoj 3

Nama MD Entertainment merupakan sebuah rumah produksi terbesar di Indonesia. Didirikan oleh Dhamoo Punjabi, adik Raam Punjabi yang kemudian diteruskan putranya Manoj Punjabi, setelah hengkang dari Multivision Plus pada tahun 2003.

Dari tangan-tangan dingin di rumah produksi ini telah melahirkan lebih dari 12.000 jam tayang sinetron yang menyumbangkan rating di banyak televisi unggulan. Di antaranya: Benci Jadi Cinta, Bawang Merah Bawang Putih, Malin Kundang, Cinta Fitri, Melati untuk Marvel, Sampeyan Muslim?, Tendangan Si Madun, dan  Raden Kian Santang.

Sementara di dunia film pun tak kalah hebatnya: sekitar 3.000 hingga 4.000 jam tayang, seperti  Kala (2007), Suster Ngesot, hingga Habibie & Ainun (2012). Perusahaan ini, menurut Manoj telah memiliki 500 karyawan tetap dan hampir 1.400 tenaga kontrak, termasuk aktor/aktris, penulis skenario, dan sutradara.

Manoj menyebut memulai usahanya dengan menyiapkan infrastruktur lebih dulu sebelum memproduksi film dan sinetron. Mulai menyiapkan kantor, peralatan, dan studio. Kebanyakan orang yang direkrutnya pun tergolong baru di bidang tersebut sehingga MD Entertainment harus melatih mereka. “Jadi saya enggak ambil orang yang eksis di market. Kita ciptakan pasar baru. Itu kan lebih susah,” paparnya.

MD Entertainment pun harus berusaha meyakinkan artis-artis andalan, seperti Tamara Bleszynski, Ari Wibowo, dan Kris Dayanti, untuk masuk ke MD. Barulah kemudian rumah produksi itu mengorbitkan bintang-bintang baru.

manoj 4            Untuk itu, Manoj mengaku harus mengawasi secara langsung kerja para pegawainya. Dia mengibaratkan seperti membangun sebuah gedung, saat akan membangun 10 lantai, dia telah menyiapkan untuk 20 lantai. “Fondasinya sudah kuat. Kalau nambah, ya saya supervisi, dilihat terus,” ucapnya. Walaupun begitu, Manoj mengaku tidak ingin menerapkan pengawasan secara kaku. Namun juga tidak sampai terlalu fleksibel agar tidak pecah.

Hasilnya memang luar biasa. Film Habibie & Ainun yang diproduksi MD Entertainment menjadi salah satu film terlaris di negeri ini. Dengan jumlah penonton mencapai lebih dari 4 juta orang telah membuat film itu berkedudukan sama dengan Laskar Pelangi. Setelah sebelumnya pun sukses membuat Ayat-ayat Cinta ditonton lebih dari tiga juta orang.

One thought on “Profil Manoj Punjabi, President & CEO MD Entertainment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s