Profil Emirsyah Satar, Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk.

GA“Pemimpin Harus Punya Strategi, Rasa Antusias, dan Keberanian”

Garuda kian ringan saja mengepakkan sayapnya. Kini, sang Garuda adalah maskapai penerbangan bintang empat. Pencapaian itu membuat Garuda mampu menggeser posisi maskapai jiran, seperti Malaysian Airliners dan Thai Airways. Sebagai penerbangan bintang empat, Garuda kini sudah sejajar dengan 32 perusahaan penerbangan dunia macam Air France (Perancis), JAL (Jepang), Dragonair (Hongkong), Qantas (Australia), dan Korean Air (Korea Selatan). Pada 2015 sang flag carrier punya target bisa menjadi maskapai yang berpredikat bintang lima.

Segala prestasi yang ditorehkan Garuda tentu saja tak lepas dari kerja keras sang “pilot” maskapai ini. Emirsyah Satar adalah orangnya. Sejak diangkat menjadi direktur utama, Emir terus membenahi manajemen Garuda. Urang awak kelahiran Jakarta, 1959, ini punya kunci sakti dalam menata perusahaan, yaitu disiplin terhadap rencana yang sudah digariskan. Kesuksesan Emir “menerbangkan” Garuda membuat dia terpilih dua periode menjadi dirut. Kepada I. Husni Isnaini dari SINDO Weekly, beberapa waktu lalu, Emirsyah Satar menguraikan pemikirannya seputar bisnis penerbangan nasional dan kondisi bangsa saat ini. Berikut petikannya:

Bisa dijelaskan dampak pertumbuhan ekonomi terhadap bisnis penerbangan?

Perkembangan jumlah penumpang kurang lebih satu setengah hingga dua kali dari pertumbuhan ekonomi. Jadi yang terjadi, pertama, kalau ekonomi tumbuh, tentunya penumpang juga akan tumbuh. Kedua, Indonesia menerapkan asas desentralisasi dalam hal alokasi anggaran sehingga yang terjadi setiap provinsi berlomba-lomba untuk meningkatkan pendapatan. Itu bagus karena akan meningkatkan daya beli, kesempatan bisnis juga meningkat. Dengan sendirinya juga berdampak pada maskapai. Jadi, menurut saya dua hal itu yang memengaruhi.

Kalau soal regulasi pemerintah sendiri bagaimana?

Pemerintah mendukung industri ini. INACA juga sudah melakukan berbagai dialog dengan pemerintah dalam memberikan input kepada dunia penerbangan. Contohnya dalam hal perpajakan. Kami berharap regulator dalam membuat kebijakan perpajakan dan aturan bisa membuat penerbangan jadi kompetitif dengan maskapai-maskapai luar negeri.

Bagaimana pandangan Anda soal kondisi bangsa saat ini?

Saya bukan politikus. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki potensi sangat besar. Dari yang kasat mata, yaitu kekayaan alam, tapi itu pun harus didukung oleh sumber daya manusia atau SDM. Kalau kita lihat demografi SDM kita, khusus yang muda-muda, jumlahnya lebih dari lima puluh persen dibanding negara lain. Berarti itu dapat diartikan sebagai bahan bakar untuk berlari lebih cepat lagi. Kita ini bisa menjadi bangsa yang besar, anggota G20 kok. Tantangan kita adalah bagaimana mengeksekusi dan memanfaatkan apa yang kita punya, ini yang sama-sama harus kita lakukan. Kondisi ekonomi kita bagus. Kita punya ekonomi domestik yang kuat. Namun, kita juga jangan terlalu percaya diri.

Pemimpin bagaimana yang dibutuhkan oleh bangsa kita?

Saya tidak berkompeten berbicara banyak mengenai negara karena tidak punya pengalaman. Saya bisa menganalogikan saja dengan perusahaan. Pemimpin suatu perusahaan itu harus memiliki visi. Pemimpin juga harus punya strategi, rasa antusias, dan keberanian.

Seperti apa harapan presiden hasil Pemilu 2014 nanti?

Kita masih berharap banyak kepada generasi muda yang bisa membawa negara kita ke level selanjutnya. Itu harapan saya.

Bisnis penerbangan seringkali mendapat cobaan. Tahun ini Batavia pailit. Sebenarnya, seperti apa kondisi umum bisnis sektor ini?

Bisnis penerbangan itu merupakan bisnis yang sangat kompetitif. Marginnya kecil, tapi cash-nya banyak. Namun cash yang masuk, kemudian keluar semua. Justru yang banyak meraup keuntungan adalah bisnis-bisnis yang mendukung penerbangan, bukan penerbangan itu sendiri. Seperti pihak pabrikan yang membuat pesawat itu sendiri, pihak repair station, dan pihak ground handle. Lalu pihak bandara, dan sistem penjualan tiket melalui agen-agen. Nah, mereka ini jarang merugi. Yang rugi justru maskapainya. Jadi, bagi maskapai saat jaya harus mengerti bagaimana efisiensi dan mengoptimalkan pendapatan.

Bisa dijelaskan persaingan bisnis ini seperti apa?

Masing-masing penerbangan operations excellence-nya mesti ada, lalu ukuran dari usahanya itu sangat penting. Dengan demikian, hanya pemain serius yang bisa masuk ke penerbangan. Kompetisi yang ketat bisa mendorong kita jadi kreatif dan inovatif. Selama ekonomi Indonesia tumbuh, tentunya bisnis penerbangan di Indonesia juga akan makin tumbuh. Memang tidak semua bisa bertahan. Akan ada seleksi alam.

Apakah persaingannya masih tergolong sehat?

Bagi saya, yang terpenting adalah setiap pemain harus disiplin dalam mengikuti aturan-aturan, keamanan, dll. Di penerbangan, ada atau tidak pengawasan atau pengontrol, manajemen harus memastikan bisa mengikuti aturan.

Apa yang menjadi masalah utama yang dihadapi setiap maskapai, berdasarkan pengalaman Anda di Garuda?

Dalam setiap bisnis, kita harus menerapkan beberapa hal. Pertama, kita mesti berpikir kedudukan kita di mana? Lalu, segmentasi pasar kita yang dituju? Otomatis dari hal itu kita harus mempelajari seberapa besar kue yang harus tersedia. Setelah kita tentukan, selanjutnya adalah disiplin dalam hal mengeksekusi langkah-langkah yang kita rencanakan. Terkadang, banyak juga perusahaan yang eksekusinya berbeda dengan rencana. Selama kita disiplin saya yakin bisa.

Modal asing sudah mulai masuk ke industri penerbangan nasional, bagaimana Anda melihatnya?

Memang kita butuh modal. Nah, ketersediaan modal di Indonesia belum bisa dikatakan cukup. Meski butuh modal, jangan sampai kita jadi tamu di rumah sendiri. Yang kedua, kalau bisa regulator menerapkan asas resiprokal buat maskapai asing. Jangan sampai maskapai asing mudah ke sini, sedangkan kita susah masuk ke sana. Kami selalu mengimbau regulator untuk terus melihat itu.

Bagaimana citra Garuda sebagai maskapai milik negara di mata dunia internasional?

Yang pasti, Garuda tahun lalu mendapat penghargaan The World’s Best Regional Airline.

Sebagai maskapai negara, apakah Garuda mendapat keistimewaan dari pemerintah?

Tidak. Waktu meminta tambahan modal sebesar US$100 juta, itu pun harus dengan ketentuan ini-itu. Kalau kita bandingkan dengan maskapai milik negara tetangga, mereka bisa mendapatkan miliaran dolar.

Menurut Anda siapa kompetitor Garuda?

Kalau kompetisi secara langsung belum ada, tapi kalau yang tidak langsung banyak. Dengan arti kata, maskapai-maskapai tersebut dari segi segmentasi pasar juga tumpang tindih dengan kita. Tapi, di sisi lain kita harus sadari bahwa hal ini tidak bisa kita lakukan tanpa perbaikan yang intensif, berkesinambungan, improvement, dll. Karena semakin kita bagus, harapan pasar akan semakin tinggi. Kalau Internasional, kompetitornya itu daerah tempat kita terbang.

Seberapa ekspansif Garuda ke depannya?

Tahun ini kita pasti buka London, Brisbane, lalu rute-rute tambahan, kita juga belum lama mengevaluasi Auckland.

Bagaimana soal laba Garuda di kuartal empat tahun lalu?

Dibandingkan tahun sebelumnya meningkat double digit.

Apa yang Anda lakukan sampai Garuda bisa sampai seperti ini?

Bagi saya, alur pemikiran itu penting, terutama dalam mengevaluasi kinerja. Jika ada perusahaan yang tak berjalan dengan baik tentu harus diidentifikasi dulu persoalannya. Apakah karena pasarnya, operasionalnya, atau kecukupan modalnya. Nah, semua itu kita evaluasi.

Pada saat mengevaluasi ada tiga permasalahan pokok: pertama human capital, organisasi, dan behavior. Kedua, masalah operasional. Ketiga, masalah keuangan. Jadi, atas dasar itu saya ajak kawan-kawan di Garuda untuk bekerja sesuai dengan rencana, tapi dengan satu aturan: “No Blaming“. Harus juga ada manajemen harapan dan ada tahapannya. Tahap dua tahun pertama, Garuda bisa bertahan. Dua tahun berikutnya adalah peningkatan produk dan layanan. Setelah itu, memperkuat daya saing Garuda. Kemudian di tahun kelima, masuk ke tahap perkembangan. Kuncinya adalah rencana dan eksekusi bisa termonitor dan sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan dengan disiplin.

GA 2Biodata Emirsyah Satar      

Tempat, tanggal lahir  : Jakarta, 28 Juni 1959

Pendidikan : Akuntansi FE UI

Karier :

1983 : Auditor di kantor akuntan Pricewaterhouse Coopers

1985 : Assistant of Vice President of Corporate Banking Group Citibank

2003–2005 :Wakil Direktur Utama PT Bank Danamon Indonesia Tbk.

2003 : Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia

2005–sekarang : Direktur Utama PT Garuda Indonesia

 

 

Garuda, Maskapai Bintang Empat

Sebagai maskapai penerbangan milik negara, Garuda Indonesia memang ibarat burung. Senang terbang tinggi mengangkasa dan sekali waktu menukik turun. Itu pula yang dialami Garuda Indonesia. Pada periode 80-an Garuda Indonesia pernah tercatat sebagai maskapai terbesar kedua setelah Japan Airlines (JAL). Waktu itu, maskapai ini memiliki tak kurang dari 79 pesawat, dana tunai sebesar US$108 juta, dan keuntungannya Rp200 miliar per tahun.

Namun, memasuki periode 90-an hingga awal tahun-tahun 2000, Garuda seolah kehilangan tenaga untuk mengepakkan sayapnya. Yang terjadi, BUMN penerbangan ini tak henti ditimpa musibah. Mulai dari jatuhnya beberapa pesawat yang menelan korban jiwa, hingga utang setumpuk yang tak sanggup dilunasi. Kondisi itu membuat citra Garuda di mata dunia internasional nyungsep hingga mencium landasan: dilarang terbang di Eropa. Tak salah kalau kemudian muncul pemikiran untuk membubarkan maskapai ini, alias dilikuidasi.

Pilihan melikuidasi Garuda tak lepas dari beban utang yang ditanggung BUMN penerbangan ini. Sudah begitu, Garuda juga tetap membutuhkan tambahan modal dari pemerintah sebesar US$100 juta. Tercatat, waktu itu utang Garuda US$600 juta, kewajibannya mencapai total US$1.811,3 juta, dan modalnya negatif US$233,8 juta. Amburadulnya keuangan Garuda tak lepas dari manajemen perseroan yang kerap diintervensi oleh pihak-pihak yang waktu itu berkuasa.

Setelah melewati pembahasan yang panjang dan mendalam, keputusan melikuidasi Garuda tak jadi pilihan. Pemerintah lebih memilih opsi untuk melakukan restrukturisasi utang maskapai ini. Lagi pula, kalau Garuda dibubarkan, ongkos sosial yang bakal muncul bisa lebih besar lagi. Belum lagi masalah harga diri bangsa.

Ternyata opsi merestrukturisasi utang ketimbang melikuidasi adalah pilihan yang tepat. Perlahan tapi pasti, Garuda mulai kembali mengepakkan sayapnya tinggi ke angkasa.

GA 3  Kini, Garuda bisa kembali menunjukkan kebanggaan buat bangsa. Sepanjang kuartal III tahun kemarin, Garuda sukses membukukan keuntungan sebesar US$56,4 juta, naik 51,6% dibanding periode yang sama tahun 2011, yaitu sebesar US$37,24 juta. Selain membukukan keuntungan, citra Garuda juga telah pulih. Ini terbukti dengan berbagai penghargaan yang diterima Garuda dari lembaga-lembaga internasional. Salah satunya adalah penghargaan sebagai “The World’s Best Regional Airline’ dari SkyTrax, lembaga pemeringkat maskapai independen yang berkantor di London, Juli tahun kemarin.

Kini, Garuda adalah maskapai penerbangan bintang empat dan bercita-cita menjadi bintang lima di 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s