Profil Agum Gumelar, Intelijen Kopassus yang Sukses

Agum pertamaDalam kancah nasional, nama Agum Gumelar tak pernah pudar. Lelaki kelahiran Tasikmalaya 17 Desember 1945 selalu mendapat tempat dalam berbagai posisi. Dia merupakan mantan Jenderal yang sudah berperan mulai dari jabatan eksekutif sampai menakhodai banyak organisasi.

Karirnya bermula setelah lima tahun masuk Akademi Militer Nasional Magelang pada 1969, seangkatan dengan Soetiyoso. Dia lalu menjabat sebagai staf Kopkamtib. Namun, ayah dua anak ini karirnya menanjak saat terlibat dalam pergerakan intelijen dan Kopassus.

Pada 1973 dia Staf Kopkamtib dan Badan Koordinasi Intelijen Negara/Bakin. Agum juga pernah bertugas di Taiwan dengan tugas intelijen pada 1970-an, sehingga dia fasih bahasa Mandarin. Lalu, pada 1987 naik jabatan sebagai Wakil Asintel Kopassus, Asintel Kopassus (1988-1990), Asintel Kasdam Jaya (1991-1992). Kemudian dipindahkan Wakil Asintel Kopassus  (1987-1988), Asintel Kopassus (1988-1990), Asintel Kasdam Jaya (1991-1992), dan menjadi  Komandan Korem 043/Garuda Hitam Lampung (1992-1993).

Saat menjabat sebagai Direktur A Bais ABRI, Agum rangkap jabatan sebagai Komandan Kopassus ke-13 (1993-1994). Agum juga tercatat sebagai anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang member rekomendasi mengakhiri karir militer Letnan Jenderal Prabowo pada usia 47 tahun.

Agum memang terkenal berani melawan arus,  sehingga kerap menjalani mutasi ke berbagai daerah. Pada 1992, mantan ajudan Ali Murtopo, yakni bekas komandan Komandan Banteng Raiders ini menjadi Danrem Garuda Hitam di Lampung kemudian naik jabatan sebagai Kasdam I Bukit Barisan hingga 1996.Agum

Suami Linda Amaliasari, puteri mantan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Achmad Tahir Achmad Tahir yang kini menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  sekaligus ini lalu ditarik ke ibukota menjadi staf ahli Panglima ABRI pada 1996. Kemudian, bertugas ke Ujungpandang untuk memimpin Kodam Wirabuana VII. Barulah, pada 1998 dia balik ke Jakarta sebagai Gubernur Lemhanas dan pensiun.

Karirnya menanjak sebelum purnawirawan pada 11 November 2000. Mantan ajudan Ali Moetopo ini pada 1999 ditunjuk sebagai Menteri Perhubungan di era Gus Dur sekaligus Ketua Umum PSSI.

Selanjutnya, karier politik itu berkembang sebagai Menteri Perhubungan dan Telekomunikasi (26 Agustus 2000-1Juni 2001), Menteri Koordinator Bidang Politik Sosial dan Keamanan (1 Juni 2001-23 Juli 2001) merangkap Menteri Pertahanan (10 Juli 2001-23 Juli 2001), lalu Menteri Perhubungan Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004) di era Megawati.

Agum 2Pada 2011, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI dan Polri (Pepabri) ini menjabat sebagai Ketua Komite Normalisasi PSSI. Kecintaanya pada olahraga, khususnya sepak bola membuat terlibat aktif. Sebelumnya Agum menjabat sebagai Ketua umum KONI pada 2003-2007. Dia pernah pula ikut dalam kepengurusan Persatuan Sepak Bola Perwira Tinggi ABRI, pengurus Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI), pengurus olahraga terjun payung (FASI), Ketua Klub Sepak Bola Persija Timur (sejak 1992), Ketua Liga Amatir PSSI, Ketua Pelaksana Liga Indonesia (23 Juli 1993-10 November 1995), dan Ketua Umum PSSI (1998-2003).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s