Profil Ketua KPK Abraham Samad

Keberaniannya dalam melawan para koruptor melalui lembaga yang dipimpinnya, KPK, telah memunculkan harapan baru bagi terciptanya Indonesia yang bersih dari korupsi. 

Abraham Samad

Jum’at, 2 Desember 2011. Ruang Rapat Komisi III DPR-RI terlihat riuh rendah. Sejumlah anggota DPR dari Komisi Hukum itu tampak serius berdiskusi dengan para koleganya. Wajah tegang tampak dari para komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang saat itu tengah menanti keputusan, siapa yang akan dipilih menjadi ketua di lembaga antirasuah tersebut.

Sebelumnya, DPR telah terpilih empat pimpinan KPK untuk periode yang baru, 2012-2016. Mereka adalah Abraham Samad, Bambang Widjojanto, Adnan Pandu Praja, dan Zulkarnain. Komisi III harus memilih ketua dari empat pimpinan tersebut bersama dengan  Busyro Muqoddas, yang  menjabat Ketua KPK periode sebelumnya.

Setelah melalui pemilihan secara langsung oleh anggota Komisi III DPR-RI, Abraham Samad secara mutlak meraih suara terbanyak. Ia menjadi ketua dengan perolehan suara mayoritas, yaitu 43 suara dari 56 anggota Komisi III yang hadir. Sedangkan Busyro mendapat dukungan lima suara, Bambang empat suara, Zulkarnain tiga suara, dan Adnan satu suara.

 Abraham Samad 2Terpilihnya Abraham Samad sebagai Ketua KPK cukup mengejutkan, sekaligus menebar harapan baru tentang pemberantasan korupsi. Mengejutkan lantaran sebelumnya ia tak dinominasikan untuk memimpin lembaga tersebut. Di luar dua hal itu, ada pula sikap pesimistis dan menduga-duga bahwa anak muda asal Makasar itu adalah sosok titipan dari lembaga tertentu yang tak suka diusik sepak terjangnya berkaitan dengan korupsi.

 Selain dipandang masih relatif muda, Abraham adalah aktivis anti korupsi yang selama ini lebih banyak berkiprah di daerah asalnya, Makasar.  Sedangkan kandidat lain, utamanya Bambang Widjojanto yang diperkirakan bakal menjadi ketua, dipandang lebih senior, lebih berpengalaman, dan lebih dikenal publik. Abraham Samad 3

Meski  pada awalnya tak pernah diperkirakan, Abraham Samad yang tampil sebagai kuda hitam dalam kancah pemilihan Ketua KPK  ternyata direspon positif  oleh publik. Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Trimedya Panjaitan mengatakan, pihaknya menginginkan pimpinan KPK yang independen. “Abraham ini punya komitmen mengerjakan kasus-kasus yang sering kita bilang empat kasus itu (skandal Bank Century, cek pelawat, perkara pajak Gayus Tambunan, dan korupsi di Wisma Atlet),” ujarnya, seperti dikutip Republika. Trimedya juga mengatakan, pertimbangan memilih Abraham yang dari berasal dari daerah juga menjadi kekuatan. “Orang daerah sekali-kali memimpin. Memang kita  tidak punya pilihan lain di luar Abraham dan Bambang.”

Abraham Samad lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 27 November 1966. Ia menyelesaikan  gelar sarjana hukum di Universitas Hasanuddin pada tahun 1993 dan melanjutkan untuk mengejar gelar Master di universitas yang sama sebelum melanjutkan untuk mendapatkan gelar doktor di sana pada tahun 2010.

Abraham telah meniti karirnya sebagai pengacara sejak tahun 1995. Pada awal karirnya ia lebih banyak mendedikasikan waktunya sebagai advokat LSM Anti-Corruption Committee (ACC) di Sulawesi Selatan, di mana ia bertindak sebagai pendiri sekaligus koordinator. Melalui lembaga yang dipimpinnya, Abraham memfokuskan layanan pada pemberantasan korupsi demi terciptanya tata pemerintahan dan sistem pelayanan publik yang lebih baik.

Di luar kegiatannya sebagai penggiat anti korupsi, Abraham dikenal dekat dengan beberapa kelompok Islam dan tokoh produktif. Ia juga tampil sebagai pengacara bagi organisasi Komite Penegakan Syariah Islam (KPSI). Pada tahun 2002 Abraham Samad menjadi pengacara untuk terdakwa terorisme Agus Dwikarna, WNI yang dijatuhi hukuman 17 tahun penjara oleh pengadilan Filipina karena ditangkap di bandara Manila atas kepemilikan bahan peledak. Abraham juga akrab dengan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, pimpinan Jamaah Anshorut Tauhid yang sering dikait-kaitkan dengan gerakan terorisme.

Dengan latar belakang sebagai aktifis itulah, publik berharap Abraham Samad tidak hanya berani memimpin gerakan pemberantasan korupsi, namun juga mampu memahami anatomi korupsi di Tanah Air yang sudah semakin berurat berakar. Seolah ingin semakin meyakinkan publik, tak lama setelah terpilih sebagai Ketua KPK, Abraham Samad  menegaskan,  “Yang salah, saya sikat!. Jika dalam setahun ia tidak berbuat apa-apa untuk pemberantasan korupsi, maka ia akan mundur dan kembali ke Makasar.

Abraham Samad 4Pemberani dan Percaya Diri

Dalam hal keberanian, Abraham Samad telah menjamin dan menunjukkannya kepada publik. Di tangan dialah proses pemberantasan korupsi mulai menunjukkan tajinya. Sejumlah pejabat tinggi, baik di kepolisian maupun pemerintahan, satu demi satu ia seret ke meja hijau.

Dalam kasus korupsi pengadaan alat simulator SIM di Korlantas Polri yang memicu memanasnya hubungan antara kepolisian dengan KPK, Abraham tampil dengan sangat dingin. Ia tak ragu menggeledah kantor korlantas Polri, lembaga yang selama ini cukup ditakuti dan karenanya sulit disentuh hukum. Ketika perseteruannya dengan kepolisian semakin memanas, Abraham Samad justru mendatangi pimpinan Mabes Polri, bukan  untuk berkompromi melainkan mencari solusi, sambil memegang teguh prinsip yang ia yakini kebenarannya.

Sebelumnya,  mantan Deputy Senior Gubernur BI, Miranda S. Gultom,  juga ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus bagi-bagi cek perjalanan kepada sejumlah anggota DPR. Padahal, sosialita kelas atas  yang sering mengganti warna cat rambutnya ini  selalu bisa berkelit dari kasus hukum terkait dengan pencalonan dirinya sebagai gubernur senior bank sentral.

Tak berhenti sampai di situ, Abraham Samad juga menyeret politisi Partai Demokrat, M. Nazaruddin dalam perkara korupsi pembangunan Wisma Atlit dan proyek-proyek lainnya. Setelah itu, kolega Nazarudin di partai yang sama, Angelina Sondakh juga dia perkarakan. Yang cukup mengagetkan adalah keputusannya untuk menetapkan pejabat aktif di kementerian sebagai tersangka, yakni Menteri Pemuda dan Olah Raga, Andi A. Malarangeng. Tak lama setelah itu, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum juga ditetapkan sebagai tersangka.

Penetapan Angelina, Andi Mallarangeng dan Anas sebagai tersangka merupakan tindakan penuh keberanian. Ketiga orang itu, seperti diketahui adalah orang dekat di lingkaran Cikeas. Andi Mallarangeng tidak hanya sedang menjabat sebagai menteri yang notabene pembantu presiden. Ia adalah orang lingkar dalam Cikeas yang sangat dekat dengan SBY, lantaran sebelumnya Andi dipercaya sebagai juru bicara presiden. Sedangkan Angie dan Anas, adalah pimpinan Partai Demokrat yang digawangi SBY sebagai Ketua Dewan Pembina.

Keputusan untuk menetapkan orang-orang dekat penguasa tersebut hanya dapat dilakukan oleh penegak hukum yang punya nyali. Terlebih lagi, di dalam internal KPK sendiri, konon Abraham juga menghadapi tentangan yang sangat keras. Meski sempat dibantah dan sulit dibuktikan, indikasi adanya pertentangan di internal itu dapat dilihat ketika Abraham Samad mengumumkan penetapan status atas Angelina Sondakh seorang diri. Tak satupun pimpinan KPK yang mendampingi. Abraham Samad hanya berujar, bukti-bukti  hukum sebagai dasar penetapan sudah dianggap cukup.

Indikasi adanya pertentangan internal juga terendus ketika hendak mengumumkan penetapan status Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Menurut selentingan yang berkembang, Abraham sebenarnya  telah lama bermaksud menetapkan Anas Urbaningrum sebagai tersangka. Namun karena ada pertentangan, rencana itu sempat tertunda. Setelah Abraham marah,–hingga menggebrak meja,– pimpinan KPK yang lain akhirnya menyerah, dan penetapan atas status Anas segera dilansir kepada publik.

Politisi Partai Golkar Bambang Soesatyo mengapresiasi keberanian KPK  terkait penetapan tersangka terhadap Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng sebagai tersangka kasus Hambalang.  “Awalnya saya heran, kok Andi M hanya dicekal. Tidak langsung tersangka. Sebab, sebenarnya berdasarkan data dan fakta sudah memiliki bukti yang cukup. Namun demikian, kita tetap memberikan apresiasi kepada KPK. Karena siapapun tahu, Andi Mallarangeng adalah putra mahkota SBY yang gagal jadi ketum PD,” ujarnya, seperti dikutip Tribunews.com (6/12/2012).

KPK, katanya lagi, harus segera dapat mengungkap apakah ini kejahatan korporasi atau individu. Kalau melihat fakta-fakta yang sudah terungkap di publik,  lanjut Bambang lagi, ini adalah kejahatan korporasi yang terencana, terstruktur dan rapih.

“Jujur, saya angkat topi dan salut pada kepemimpinan Abraham Samad. Century naik ke penyidikan, Hambalang sudah ada yang tersangka,  petinggi partai dan menteri aktif juga. Ini baru dalam sejarah KPK,” puji Bambang.

Dalam diskusi bertajuk “Menakar Keberanian KPK Mengungkap Kasus Besar”   Bambang Soesatyo menilai, setidaknya ada tiga kasus yang sudah mengalami kemajuan, yaitu Bank Century, cek pelawat, dan Wisma Atlet. Prestasi itu berbeda dengan pimpinan KPK sebelumnya. “Kontribusi KPK sebelumnya dalam kasus tersebut sangat minim, bahkan cenderung jalan di tempat,” kata Bambang, seperti dikutip Tempo.co.id.

Abraham Samad 5

Menurut Bambang, tugas yang diemban Abraham Samad sangatlah berat, karena para koruptor dan kroninya akan selalu melakukan upaya perlawanan. Karena itu ia berharap agar Abraham Samad dan kawan kawan senantiasa waspada agar peristiwa Bibit-Chandra dan Antasari tidak menimpa mereka.

 

Seperti diketahui, ketika menjadi ketua KPK, Antasari Azhar dijerat dengan kasus pasal pembunuhan. Banyak yang meyakini bahwa Antasari sengaja dijebak dan diperkarakan agar ia tak menyentuh kasus korupsi yang melibatkan sejumlah pembesar di negeri ini. Hal yang sama juga terjadi pada pimpinan KPK yang lain, yakni Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah, yang dikenal dengan kasus Cicak-Buaya.

 

Sinyalemen adanya ancaman pelengseran terhadap Abraham Samad antara lain dilontarkan oleh anggota Komisi III DPR-RI dari Fraksi PPP, Ahmad Yani. “Saya sudah mulai dengar ada gerakan seolah Abraham melanggar SOP, agar dia mau ikut diajak berkompromi, tapi dia tetap kokoh,” jelasnya. Ia menandaskan, ada upaya pelemahan dari dalam KPK, dan Abraham sudah mengetahui persekongkolan itu.

 

Namun, Abraham Samad tak terlalu risau dengan selentingan itu. “Enggak apa-apa. Kalaupun kita di antasarikan,” katanya enteng.  Ia menyatakan siap menjalani segala risiko menjadi orang nomor satu di KPK, meski harus meregang nyawa. “Kalaupun kita meninggal karena pemberantasan korupsi itu lebih terhormat,” tegasnya. (***)

One thought on “Profil Ketua KPK Abraham Samad

  1. Jarak dari Pelabuhan Bakauheni ke Pelabuhan Merak adalah sekitar 33.6 km. biaya investasi jalan tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa sekitar Rp. 2,4 triliun sekitar 12,7 km dari Nusa Dua melewati Ngurah Rai dan berakhir di Benoa. Seandainya Pemerintah membangun Jalan tol Bakauheni ke pelabuhan merak, maka kesejahteraan rakyat Indonesia semakin baik, apakah pemerintah takut akan membunuh PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Negara ini memelihara masalah, untuk memperoleh laba/keuntungan. Apakah tidak semestinya Ferry di pelabuhan Bakauheni dialihkan ke wilayah Indonesia bagian timur, pasti rakyat Indonesia akan sangat berterima kasih, ingat pemilu 2014 jangan salah pilih, atau ditipu 5 tahun lagi^^ Sekedar informasi pak dahlan iskan : Perusahaan yang ditulis diatas adalah perusahaan milik pemerintah Indonesia, Laba/keuntungan dari perusahaan Plat merah itu adalah sepenuhnya milik pemerintah. Ingat pengertian APBN itu apa, Anggaran yang dikeluarkan dari pajak, keuntungan perusahaan persero, dll. anggaran itu diserahkan untuk membiayai kebutuhan negara agar berjalan & juga pembangunan. Orang BUTA pun tahu pak dahlan iskan, bedanya dana untuk pembangunan 2,4 triliun itu tidak melewati APBN tapi orang BUTA pun tahu pak dahlan iskan sumber dana 2,4 triliun itu berasal dari perusahaan yang dimiliki oleh negara. Harusnya KPK masuk kenapa margin/laba/keuntungan perusahaan milik negara tidak masuk ke APBN baru disalurkan ke pembangunan tol Nusa dua. Jelas ada pelanggaran disana, kenapa sisa hasil usaha BUMN tidak masuk ke APBN malah digunakan langsung ke jalan tol bali. KPK halo KPK, Pak Abraham Samad lirik disitu dong^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s