Profil Karni Ilyas, Ketajaman Jurnalistik Bang One

Reputasinya sebagai jurnalis tak diragukan lagi, sampai ia dijadikan maskot tokoh kritis di televisi yang ia pimpin, Bang One di TV One.

 Karni Ilyas “Kewajiban wartawan itu, menurut saya, bekerja di mana pun harus menciptakan berita-berita eksklusif.” Pernyataan itu bukan sekadar ucapan hampa. Wartawan senior Karni Ilyas telah membuktikannya.

Sebagai reporter, Karni Ilyas yang kini menjabat Pemimpin Redaksi TV One, memang selalu memperoleh berita-berita eksklusif. Contohnya, saat menjadi reporter majalah Tempo, ia berhasil mewawancarai Kartika Thahir di  Jenewa, Swiss. Kartika Thahir, istri seorang pejabat Pertamina yang menjadi tangan kanan Ibnu Sutowo, HA Thahir, pada era 1980-an. Karni satu-satunya wartawan yang berhasil menguak kasus korupsi di Pertamina ketika itu.

Seperti dikutip merdeka.com, hasil wawancara tersebut menjadi Laporan Utama majalah Tempo edisi 22 Februari 1992 dengan judul “Suami Saya Hanya Kambing Hitam”. Dalam wawancara sepanjang tiga halaman tersebut, Kartika menyangkal semua tuduhan yang ditujukan kepadanya. Oleh banyak orang, wawancara eksklusif Karni Ilyas dengan Kartika Ratna Tahrir dianggap sebagai pengejaran narasumber yang luar biasa. Ia membongkar skandal yang selama ini tertutup rapat.

Berkat ketajaman intuisinya sebagai pencari berita, banyak berita dan  tayangan ekslusif lahir dari tulisannya. Meskipun jabatannya pemimpin redaksi, Karni tak segan-segan turun ke lapangan berbaur dengan reporter yunior. Ia pula yang berhasil mengendus sekaligus melaporkan penggerebekan gembong teroris Dr. Azahari di Malang.

Itu beberapa contoh dari sederet prestasti yang pernah ditorehkan Karni Ilyas. Karni dikenal sebagai jaminan ekslusivitas berita. Oleh karena itu, tak berlebihan jika dikatakan, ke mana pun ia hinggap dan mengelola sebuah media, hampir bisa dipastikan media itu tumbuh, maju, dan berkembang.

Hingga kini, Karni terus berusaha menciptakan berita-berita eksklusif lewat program talkshow Indonesia Lawyer Club (ILC), sebuah program unggulan yang dikemas secara interaktif dan apik. Ia berusaha untuk memberikan pembelajaran hukum bagi para pemirsa yang ditayangkan di TV One. Melalui program ILC, sebelumnya bernama Jakarta Lawyer Club,– Karni pun berhasil menggugurkan mitos bahwa sebuah berita tidak identik dengan kening berkerut. Ia berhasil menyajikan informasi dengan menarik sehingga enak ditonton.

Sebagai wartawan senior, rekam jejak Karni Ilyas dalam dunia jurnalistik nyaris paripurna, mulai dari koran, majalah, hingga televisi. Tak berlebihan jika ia menjadi “incaran” banyak stasiun televisi.Karni Ilyas 2

Karni Ilyas lahir diBukittinggi, Sumatera Barat, 25 September 1952. Sejak kecil Karni  tampaknya memang ditakdirkan dekat dengan dunia jurnalistik. Minatnya pada dunia tulis menulis sebenarnya sudah terlihat sejak ia SD. Tulisan pertamanya berupa puisi dimuat di koran Haluan Padang.

Dari sanalah kekagumannya kepada sosok wartawan makin memuncak – dan ia pun bercita-cita ingin menjadi wartawan. Semua koran terbitan Jakarta yang masuk ke Padang, kota tempat ia dibesarkan, dibacanya. Agar bisa membaca gratis, Kani berteman dengan agen koran di ibu kota Sumatera Barat itu. Tapi kenapa harus wartawan? Katanya, ada satu hal dari wartawan yang tidak dimiliki profesi lain. “Kita bertarung agar bisa menjadi yang pertama dan terbaik,” cetusnya.

Karni memulai karier sebagai wartawan di Suara Karya pada 1972. Meski sempat meninggalkan kuliah publistiknya ketika menggeluti dunia kewartawanan, Karni tetap melanjutkan kuliahnya di Fakultas  Hukum Universitas Indonesia (UI). Sampai sekarang, selain sebagai wartawan, banyak orang mengenalnya sebagai “orang hukum”.

Pada 1978, Karni Ilyas hijrah ke majalah Tempo, hingga majalah tersebut dibreidel rezim Orde Baru pada 21 Juni 1994. Jabatan terakhir Karni, Redaktur Pelaksana yang antara lain membawahi Rubrik Hukum.  Hampir seluruh persoalan hukum di republik ini tidak penah lepas dari catatannya.

Pada 1991 hingga 1999 ia diberi kepercayaan memimpin majalah hukum Forum Keadilan sebagai Pemimpin Redaksi dengan tetap merangkap sebagai Redaktur Pelaksana Majalah Tempo. Majalah tersebut sempat menjadi referensi para praktisi hukum dan pengambil keputusan yang terkait dengan masalah hukum. Karni menorehkan catatan kritisnya terhadap persoalan hukum tanah air lewat rubrik “Catatan Hukum”.

Sejak era televisi tiba, Karni meninggalkan media cetak beralih ke media elektronik dengan bergabung ke SCTV. Ia dipercaya memimpin Liputan 6 SCTV  pada 1999-2005. Di layar kaca Karni tampaknya menemukan dunia baru yang ternyata luar biasa. Dalam tempo hanya enam tahun, ia berhasil mengantarkan Liputan 6 SCTV menjadi program berita terkemuka di Tanah Air. “Benar. Itu bahkan dapat kita pertahankan selama enam tahun. Resep dari media cetak ikut masuk, tetapi media visualnya kan juga harus dikuatkan. Media visual itu yang dilihat, yang menarik orang itu kan gambarnya. Jadi intinya bagaimana kita bisa mendapatkan gambar yang lebih bagus daripada stasiun televisi lain,” kata Karni, seperti dikutip dari Republika.

Lalu, Karni hijrah ke Antv  pada 2005. Hanya bertahan dua tahun, Karni lalu dipercaya membenahi TV One  yang baru saja diambil alih keluarga Bakrie pada 2007. Di stasiun televisi yang semula bernama Lativi itu,  anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) itu menempati posisi Direktur Pemberitaan atau Pemimpin Redaksi News & Sports.

Meski tak mudah mengubah haluan dari televise hiburan menjadi televisi berita, toh ia berhasil membuktikan kepiawaiannya. Hanya dalam tempo setahun,  TV One sudah mampu berdiri, dan diperhitungkan sebagai televisi berita terkemuka, bahkan diakui sebagai TV Pemilu nomor wahid.

Sosok Karni yang kritis juga ditampilkan lewat kartun yang bernama Bang One. Tokoh ini muncul pada Maret 2008, sesaat setelah munculnya  TV One. Selama satu tahun karakter tersebut terselip dalam program-program berita TV  One (Kabar Pagi, Siang, dan Malam) dan mendapat apresiasi yang baik.

Sebagai wartawan yang lugas dan kritis, Bang One diberi kesempatan untuk memandu sebuah acara bincang-bincang interaktif berjudul Bang One Show. Dalam mewawancarai narasumber, Bang One selalu mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah.

Penerima Bintang Mahaputra 1999 itu—ia tidak hadir pada acara penyerahannya—juga aktif  di berbagai kegiatan Jakarta Lawyers Club. Pengabdiannya dalam dunia jurnalistik, membawa Karni meraih Panasonic Gobel Awards, untuk kategori “Life Time Achievement” pada 2012.Karni Ilyas 3

Dengan pengabdian yang tak kenal lelah dalam dunia jurnalistik, Karni Ilyas terus mengobarkan semangat untuk senantiasa berkarya dan  berkontribusi untuk mencerdaskan masyarakat. (***)

 

 

One thought on “Profil Karni Ilyas, Ketajaman Jurnalistik Bang One

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s