PROFIL AHMAD SYAFI’IE MA’ARIF, SANG PLURALIS SEJATI!

Sosok yang menghormati pluralisme ini dikenal bersahaja. Ia tak segan-segan mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah yang tak berpihak untuk kepentingan rakyat.

 SYAFII mAARIFDalam sebuah kesempatan diskusi di hadapan para mahasiswa dan dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta  (UMY) pada 17 Agustus 2012 lalu, Buya Ahmad Syafi’ie Ma’arif kembali  menyuarakan pemberantasan korupsi  yang telah menjadi masalah sangat serius bagi bangsa Indonesia. Ia mengatakan, terus berlangsungnya korupsi seolah menjadikan Indonesia sebagai kawasan  “kumuh”, karena hampir di setiap proyek besar ataupun dalam institusi pemerintahan terdapat berbagai kasus korupsi.

Konsekuensinya, masyarakat mulai kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah dan wakil rakyat. “Korupsi telah menjadi masalah yang sangat serius bagi bangsa Indonesia, hal ini perlu ditindaklanjuti melalui aksi nyata dari berbagai pihak,” tegas  Syafi’ie, seperti ditulis dalam situs um-surabaya.ac.id.  Ia mengajak kalangan perguruan tinggi sebagai institusi intelektual untuk ikut serta dalam upaya pemberantasan korupsi.

Di usianya yang menginjak 78 tahun, Ahmad Syafi’ie Ma’arif memang tak pernah lelah menyuarakan berbagai ketimpangan yang terjadi di Tanah Air, tak terkecuali persoalan korupsi. Syafi’ie dikenal luas sebagai tokoh agama dan ilmuwan yang mempunyai komitmen kebangsaan yang kuat. Sikapnya yang plural, kritis, dan bersahaja telah memposisikannya sebagai Bapak Bangsa. Ia tak segan-segan mengkritik sebuah kekeliruan, meskipun yang dikritik itu adalah temannya sendiri.

Syafi’ie paham betul kondisi itu dilakukannya karena Indonesia membutuhkan pemikiran kritis untuk memajukan bangsa. Menurutnya, dengan pemikiran kritis, tujuan kemerdekaan  bangsa Indonesia  dapat tercapai. Pemikiran kritis diperlukan untuk perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.SYAFII mAARIF 2

Dalam masalah agama, sikap Syafi’ie Ma’arif juga sangat tegas dan jelas. Ia keras mengkritik setiap perlakuan tidak adil terhadap kelompok penganut agama manapun. Belum lama ini, misalnya, ia menyoroti  keberagaman di Indonesia. Dalam pandangannya,  Indonesia memang dikenal dengan bangsa yang beragama, tetapi prinsip keadilan dan lapang dada menerima perbedaan belum juga tegak. Saat ini kian banyak kelompok yang ingin membunuh perbedaan itu dengan dalih agama, yang sebetulnya karena kurang paham dan hanya dilandasi oleh egoisme sempit.

Padahal, sudah jelas konstitusi sangat kuat melindungi setiap warga negara untuk memeluk agama dan menjalankannya dengan rasa aman, damai, dan bebas. Namun, negara tidak selalu hadir di saat genting. “Jika negara yang memiliki hak memaksa agar setiap orang tunduk pada konstitusi dan peraturan lainnya menjadi lemah dan kehilangan wibawa, maka anarkisme akan sulit diatasi. Selama 15 tahun terakhir, energi bangsa sangat terkuras oleh rentetan konflik yang tak habis-habisnya,” kata Safi’ie,  seperti dikutip dari Suara Pembaruan.

Syafi’ie berprinsip, pluralisme harus terus dijaga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Pluralisme menunjukkan kemajuan suatu bangsa. Oleh karena itu, ia mengaku tak habis pikir bila banyak pihak menilai pluralisme sebagai prinsip yang haram. Syafi’ie menilai bahwa pluralisme menunjukkan tingkat intelektualisme suatu bangsa.

Oleh karena itu, Syafi’ie memastikan, negara atau masyarakat tanpa pluralisme akan menghasilkan kondisi yang berantakan. Baginya, setiap insan yang ingin melintasi abad harus berpikir cerdas. Maka, dia juga menilai pentingnya muncul majelis tarjih dan kemerdekaan berpikir di tengah-tengah PP Muhammadiyah.

Di luar persoalan pluralisme, Syafi’i juga krisis terhadap perpolitikan di Tanah Air. Menurutnya, tingkat peradaban politik  masih rendah dan “kumuh”. Kualitas demokrasi negara kita di bawah standar. Politik telah menjadi mata pencarian karena seluruh kegiatan politik bukan untuk menyejahterakan rakyat, tapi justru untuk kepentingan pribadi masing-masing. Hampir di setiap proyek besar ataupun dalam institusi pemerintahan terdapat berbagai kasus korupsi.

Anak Minang yang Besar di Yogya SYAFII mAARIF 3

Ahmad Syafi’ie Ma’arif lahir di Sumpurkudus pada 31 Mei 1935 di sebuah  kabupaten yang dinamakan Sijunjung, Sumatera Barat,. Sejak kecil ia hidup dalam lingkungan keislaman yang kental. Masa sekolah Syafi’ie bisa dibilang banyak menemui kesulitan.

Ketika hendak masuk SMA Muhammadiyah di Yogyakarta pada tahun 1956,  ia sempat ditolak karena berasal dari SLTP di Desa Lintau di Sumatera Barat, yang dianggap tidak bermutu. Ia lalu mendaftar ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah di kota yang sama. Di sekolah yang mencetak kader-kader da’i Muhammadiyah itu, nilai rapor Syafi’ie selalu bagus dan selalu mendapat peringkat satu.

Ia  hijrah ke Yogyakarta di sekolah yang sama. Ia memang mengambil seluruh pendidikan menengahnya di Mualimin Muhammadiyah. Ia lalu melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum Universitas Cokroaminoto, Solo, hingga memperoleh gelar sarjana muda. Selama mahasiswa, ia aktif di  Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Setamat dari Fakultas Hukum, ia melanjutkan pendidikannya ke IKIP Yogyakarta, dan memperoleh gelar sarjana sejarah.

 

Setelah itu ia concern menekuni ilmu sejarah dengan mengikuti Program Master di Departemen Sejarah di Universitas Ohio, Amerika Serikat. Sementara gelar doktornya diperoleh dari Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Chicago, AS, dengan disertasi Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia.

Selama di Chicago ia terlibat secara intensif melakukan pengkajian terhadap Al-Quran, dengan bimbingan dari seorang tokoh pembaru pemikiran Islam, Fazlur Rahman. Di sana pula ia  sering terlibat diskusi intensif dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais yang ketika itu juga  sedang mengikuti pendidikan doktornya.

Selama di bawah kepemimpinan Syafi’ie Ma’arif, Muhammadiyah menunjukkan komitmen keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan yang kuat. Perkembangan pemikiran Muhammadiyah pun mengalami kemajuan yang signifikan. Kemajuan ini ditandai oleh banyaknya generasi yang digawangi oleh kaum muda, seperti Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP), al-Maun Institute.

Komitmen Syafi’ie itu pula yang membuat ia menerima penghargaan Magsaysay Awards 2008 untuk kategori Peace and International Understanding. Dalam kacamata Syafi’ie, perdamaian mempunyai banyak halangan dan tantangan. Tetapi, tanpa perdamaian, hidup menjadi tidak relevan (irrelevant) dan tak lagi bermakna (meaningless). Karena itu, kita tidak boleh lelah untuk memperjuangkannya.

Syafi’ie juga mendirikan sebuah lembaga keislaman, yaitu Ma’arif  Institute for Culture and Humanity. Lembaga ini didirikan pada tanggal 28 Februari 2003 di Jakarta. Didirikannya lembaga ini dilatarbelakangi oleh kasadaran akan pentingnya institusi kultural yang memperjuangkan tersosialisasikannya watak dan ciri khas Islam Indonesia yang berpihak pada keadilan.

SYAFII mAARIF 4 Kemunculan lembaga-lembaga tersebut dilatarbelakangi oleh kegelisahan kaum muda Muhammadiyah sebagai generasi penerus bangsa dan perserikatan. Kaum muda dituntut lebih berani menyuarakan aspirasi dan kepentingan rakyat demi perubahan dan pemihakan. Corak pemikiran dan perkembangan yang dibawa oleh kaum muda tentu akan berbeda dengan pemikiran golongan tua.

Menurut Syafi’ie,  gesekan antargenerasi dan perbedaan cara pandang seharusnya menjadi energi bagi generasi muda untuk selalu eksis di tengah masyarakat yang plural.

Di tengah hiruk-pikuknya persoalan politik, hukum, Syafi’ie terus melangkah. Ia terus “menularkan” komitmennya terhadap keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan kepada kalangan generasi muda.(***)SYAFII mAARIF 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s