Profil Harry Tanoe, Lokomotif Politisi Muda

Dengan kekuatan finansial dan jaringan yang dimiliki, Hary Tanoe diprediksikan mampu menjadi motor penggerak bagi generasi muda di bidang politik. Mampukah ia?

Gambar

 Ketika itu, bos MNC Grup, Hary Tanoesoedibjo memutuskan untuk bergabung dengan Partai Nasional Demokrat (Nasdem), banyak kalangan yang tersentak kaget. Publik tak menyangka jika Hary yang selama ini dikenal sebagai professional bisnis tiba-tiba tertarik terjun ke bidang politik.

 Berbagai analisis dari para pengamat dan politisi pun segera bermunculan. Bergabungnya Hary Tanoe, sapaan akrabnya, di Partai Nasdem besutan Surya Paloh, diprediksi bakal menjadi kekuatan yang sulit ditandingi. Betapa tidak, Hary Tanoe adalah pemilik kelompok MNC yang menaungi berbagai media, antara lain RCTI, MNC TV, Koran Sindo, dan media lainnya. Sedangkan Surya Paloh selama ini dikenal sebagai pengusaha media yang memiliki Metro TV dan Media Indonesia,– dua media yang dikenal getol mengulas persoalan-persoalan politik di dalam negeri.

 Praktis tak ada yang memperkirakan bahwa kedua orang itu, Hary Tanoe dan Surya Paloh, adalah sosok pengusaha yang punya ego masing-masing dan sangat sulit menyatukan visi diantara keduanya.

 Sebagai pengusaha bertangan dingin yang sukses mengelola berbagai bidang usaha, Hary Tanoe adalah sosok yang tak mudah menyerah dan cenderung ingin menjadi orang nomor satu. Ingat, ketika berkongsi dengan Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), Hary tampak tak mau menjadi pemegang saham minoritas. Dengan caranya, akhirnya ia bisa menguasai saham PT TPI yang kini menjadi MNC TV.

 Sifat ini tentu saja tak mudah bisa berubah. Di sisi lain, Surya Paloh sebagai penggagas dan pendiri ormas Nasdem, dan belakangan berubah menjadi partai, juga merasa berhak untuk menjadi orang nomor satu di partai yang ia bentuk. Pada sisi ini akhirnya Hary Tanoe dan Surya Paloh, yang bersikukuh menjadi ketua umum Partai Nasdem, tak bisa menyamakan visi.

 Lantaran merasa tak bisa menyamakan visi, Hary Tanoe yang sempat dipercaya menjabat Ketua Dewan Pakar Partai Nasdem akhirnya hengkang dari Nasdem dan memilih bergabung di Partai Hanura. Dalam konferensi pers tentang pengunduran dirinya, Hary Tanoe menyatakan bahwa Ia menginginkan NasDem dijalankan oleh kelompok muda. Sedangkan, Paloh ingin mengambil alih partai dengan menjadi ketua umum partai.

 

Belakangan Hary tak hanya menyatakan keluar dari Partai Nasdem namun juga membentuk perkumpulan yang disebut Persatuan Indonesia (Perindo). Perindo berisikan anggota Partai Nasem yang memutuskan keluar karena tidak sejalan dengan ambisi Surya Paloh yang bersikukuh menjadi Ketua Umum.

 Kepada para wartawan Hary menjelaskan, dirinya memanfaatkan Hanura sebagai momentum untuk menuju ke perubahan.”Saya masuk ke politik bukan untuk meramaikan percaturan politik saja, tapi tentu tujuan akhirnya agar bagaimana Indonesia lebih baik. Parpol itu hanya sarana untuk mengubah Indonesia lebih baik,” kata Hary, di Kantor Fraksi Hanura, Gedung DPR, Jakarta, Kamis (28/2/2013). Karena itu, Hary mengaku mau tidak mau harus terjun ke politik dengan tujuan akhir kemenangan.

Pengusaha Ulet

Sepak terjang bisnis Hary Tanoe memang tak diragukan. Sejak muda ia rajin mengubah haluan bisnisnya, mulai dari perusahaan sekuritas, investment company, lalu membentuk induk perusahaan dan merambah ke bisnis media.

Pada awalnya Hary Tanoe hanyalah anak pedagang kusen dan daun jendela semasa kuliah di Kanada dan Amerika, sembari main di Wall Street. Kembali ke Indonesia, ia mendirikan perusahaan sekuritas PT Bhakti Investama bersama Titiek Soeharto.

Hary Tanoe berhasil berjibaku memutar bisnis justru pada saat turbulensi keuangan Asia Tenggara berepisentrum di Indonesia. Ia mampu meyakinkan Bambang Trihatmodjo dan trah Cendana untuk menjalankan macam-macam bisnis, melalui holding company-nya, Bhakti Investama.

Pada tahun 2002, Hary Tanoe membeli saham Bimantara Group, kerajaan bisnis yang didirikan Bambang Triatmodjo pada 1981. Entah bagaimana sejarahnya, tiba tiba semua kontrol Bimantara sudah bukan lagi di tangan Bambang Tri. Kurang dari lima tahun setelah Hary masuk Bimantara, tanpa banyak bicara, Bimantara Citra tiba-tiba sudah berubah nama menjadi Global Media Network, dan nama Bimantara kini tinggal kenangan.

Dengan gebrakan secepat kilat, ia menggemukkan jaringan media di bawah bendera Media Nusantara Citra yang mengkongkonsolidasikan kepemilikan media elektronik televisi (RCTI, Global TV, MNC TV), radio (Sindo Radio), portal berita okezone.com dan cetak (Koran Sindo dan mengangkat anak tiri majalah Trust–kini berubah nama menjadi SINDO Weekly–menjadi anaknya).

Melalui MNC, Hary Tanoe melakukan akuisisi ataupun kemitraan strategis dengan sejumlah pemilik radio swasta niaga, televisi lokal, termasuk pengembangan channel-channel kosong yang ada di jaringan TV Berbayar Indovision.

 Setelah membuat gebrakan dengan menguasai saham Bimantara, Hary Tanoe kembali merambah bisnis keluarga Cendana yang lain. Sasarannya adalah stasiun televise milik Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut. Kini Hary Tanoe tengah  bersengketa kepemilikan saham di  Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Mbak Tutut yang putri penguasa Orde Baru dan menjadi Presiden RI selama 32 tahun, dibuat Hary Tanoe ‘tidak berkutik’.

 Puncaknya, di penghujung 2011 lalu Harry Tanoe mulai “spinning” lagi, dengan memproklamirkan diri sebagai pentolan Partai Nasdem bersama koleganya, pemilik televisi berita pertama Metro TV dan pendiri Koran Media Indonesia, Surya Paloh.

 Masuknya Hary Tanoe ke politik praktis pada saat bisnisnya mulai menggeliat, tentu menimbulkan tanda tanya berbagai kalangan. Ketika kepercayaan rakyat kepada para politisi dan partai politik menipis, mengapa ia justru memasuki ranah tersebut?

Sebelum merapat ke Partai Nasdem, Hary Tanoe dikenal sangat dekat dengan Partai Demokrat dan masuk dalam lingkaran Presiden SBY. Karena itu, ketika Hary Tanoe memilih merapat ke Surya Paloh,– politisi yang gencar mengkritik kebijakan pemerintah,– spekulasi pun muncul. Kabar beredar, masuknya Hary Tanoe ke partai dengan icon Surya Paloh itu lantaran ia sakit hati ditinggal SBY. Menurut selentingan kabar, Hary merasa ditinggalkan saat didera kasus Sisminbakum di Kejagung.

Benarkah? Hary Tanoe membantah keras spekulasi yang mengatakan, pilihannya bergabung bersama Partai Nasdem berlatar-belakang kekecewaan pada penguasa dan partainya. Ia menegaskan bahwa bisnisnya telah mapan, sehingga ia merasa sudah waktunya memenuhi panggilan hati nurani untuk terjun di bidang politik. “Ini karena ada motivasi, ada panggilan. Ada niat ada jalan. Saya ingin menyumbangkan, membangun bangsa dan memberikan kontribusi positif. Tidak ada niatan untuk mencari uang dari politik.” Demikian  Hary Tanoe menepis kecurigaan.”

 Meski belum menunjukkan “kelasnya” sebagai politisi, keberanian Hary Tanoe naik ke panggung politik mendapat apresiasi sejumlah kalangan. Salah satunya adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie.

Menurut Jimly, etnis Tionghoa yang pengusaha, yang berani terjun ke politik baru Haryy Tanoe. Saya apresiasi bahwa politik itu dunia kita semua. Jadi tidak usah segan, darimana pun latar belakang kita, untuk terjun ke dunia politik. Karena itu mulia.”

Sebagai warga negara, Hary Tanoe tentu sepenuhnya berhak menentukan haluan politiknya. Apalagi, ia telah matang di bidang bisnis sehingga bisa diharapkan ia tak akan tergoda untuk memupuk kekayaan dari kancah politik.

Pakar Komunikasi Politik Univeritas Indonesia (UI) Effendy Ghazali menyatakan, masuknya Hary Tanoesoedibjo ke kancah politik  merupakan suatu gejala yang wajar. Karena, di luar negeri juga terjadi serupa: seorang pengusaha masuk partai politik. Hal itu terjadi pula pada Thaksin di Thailand dan di beberapa negara lain.

Namun, sebagai pengusaha di bidang media,– yang pengaruhnya besar dalam membangun opini publik,– langkah Hary Tanoe memang layak dicermati. Terlebih lagi, ia bergabung dengan Surya Paloh, yang juga memiliki media.

Pengamat politik senior Arbi Sanit mengatakan bahwa masuknya Hary Tanoe ke pentas politik merupakan hal yang lumrah sebagai pengusaha.  Sebab, katanya, orang-orang bisnis semakin yakin dengan masuk ke politik, bisnisnya akan lebih terlindung atau malah bisa ekspansi. Sejalan dengan itu, bergabungnya Hary Tanoe ke parpol tidak akan membuat perpolitikan Tanah Air menjadi produktif. Justru akan terjadi konflik kepentingan, terkait posisinya sebagai pengusaha dan politisi.

Kecurigaan tersebut agaknya menjadi pekerjaan rumah yang harus dijawab oleh Hary Tanoe. Jika niatnya terjun ke dunia politik adalah ingin menjadi pencerah bagi politisi muda tanah air agar semakin aktif membangun demokrasi di Tanah Air, tentu harus didukung. Dengan kekuatan financial yang ia miliki, Hary Tanoe bisa menjadi lokomotif bagi gerakan politisi muda Indonesia.

Namun jika ia punya agenda terselubung, misalnya membalut bisnis dengan baju politik, cepat atau lambat Hary Tanoe bakal menjadi pecundang yang bakal dilindas zaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s