Johnny Darmawan Danusasmita, Presdir PT Toyota Astra Motor: “Banyak Ikan tapi Kita Tak Memiliki Jala”

astra gbr mobil Besarnya nilai investasi yang ditanamkan TMC sudah pasti tak lepas dari peran Johnny Darmawan Danusasmita. Siapa dia? Pria ini adalah Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM). Dialah pemain otomotif yang sukses merekatkan ikatan emosional antara mobil dan konsumennya. Jika dulu, di era 70-an masyarakat begitu akrab dengan nama Toyota Kijang, maka di era Johnny Darmawan konsumen kenal benar dengan mobil yang diberi nama Toyota Avanza. Sejak diluncurkan pertama kali pada 2004, penjualan Toyota Avanza hampir mencapai satu juta unit. Julukan sebagai kendaraan sejuta umat pun lantas disematkan.

Atas semua keberhasilannya itu, Johnny kemudian diberi gelar sebagai CEO terbaik di bidang industri otomotif. “Saya tak melakukan apa-apa kok,” katanya merendah, kepada SINDO Weekly, pekan lalu.

Berikut kutipan wawancara lengkapnya.

Penjualan mobil di Indonesia tembus sejuta unit tahun lalu. Komentar Anda?

Sebagai basis industri, Indonesia punya populasi dan sumber daya alam. Sebenarnya kita lebih baik dibanding Thailand. Kita punya populasi empat kali lipat dan Thailand tidak punya SDA. Nah, di sini problemnya adalah masalah manajemen. Dulu di era Pak Harto kebijakan industri otomotif mengarah pada mobil nasional (mobnas); Thailand production base; dan Malaysia sama dengan Indonesia. Kenyataannya, menurut saya, yang benar adalah Thailand. Mengapa? Kalau mobnas ada keterbatasan-keterbatasan. Ada subsidi, misalnya.

Kalau melihat sejarah, mestinya Indonesia sudah sejak lama meraih pencapaian itu. Malah dulu market kita ada di atas pada era 70-80-an. Nah, setelah ada kebijakan mobnas, para investor mulai menarik diri, Indonesia jadi ketinggalan. Barulah sekarang Indonesia mulai menyusul. Saya surprise penjualan Indonesia mencapai satu juta. Ada beberapa contoh. Cina pada 2003 pasarnya cuma berapa jutaan. Sekarang menjadi yang terbesar di dunia, sekitar 20 juta, menyalip Amerika. India juga makin tinggi, yakni bisa mencapai tiga juta lebih.

Kalau melihat negara-negara yang penduduknya banyak itu, Indonesia sebenarnya punya peluang. Masalahnya cuma manajemennya. Pada waktu itu di kepala saya angka itu baru bisa dicapai pada 2013. Pada semester pertama I-2012 saya memperkirakan paling bisa mencapai satu juta berapa, atau di bawah satu juta. Tapi di luar dugaan penjualannya luar biasa.

Apa yang mendorong penjualan setinggi itu? ceo astra

GDP per kapita kita meningkat. Itu biasanya bisa menjadi indikator. Biasanya kalau sudah di atas US$3000, penjualan otomotif pasti naik dan akan menjadi motorisasi, contohnya adalah Thailand. Faktor lain adalah kemudahan-kemudahan. Dulu kalau tidak bawa uang cash, tidak bisa membeli mobil. Sekarang, bisa lewat kredit yang prosesnya gampang sekali. Selain itu, di Indonesia belum ada transportasi umum yang layak dan nyaman.

Lebih jauh lagi investor mulai percaya dengan Indonesia. Toyota, misalnya, begitu konsisten untuk berinvestasi di sini.

Seberapa besar kontribusi industri otomotif terhadap ekonomi?

Otomotif itu industri, bukan jualan mobil. Lewat pajak, otomotif memberikan kontribusi terbesar buat APBD. Mana ada yang dipajaki sebelum lahir sampai sudah nenek-nenek, selain otomotif. Kedua, memberikan kesempatan kerja yang banyak. Berdasarkan hitungan-hitungan sudah ada lima juta orang yang terlibat dalam industri otomotif. Belum pihak-pihak informal yang terkait, seperti para pedagang.

Sektor otomotif bisa menarik investasi, dan investasi terbesar ada di sektor ini. Jangan lupakan ekspor juga. Kalau kita jadi production base, maka kita akan mengekspor dan memberi nilai tambah buat pemerintah.

Indonesia berpeluang menjadi negara production base?

Sudah di depan mata. Contohnya Toyota, investasinya Rp13 triliun selama tiga tahun ini, dan dimungkinkan menjadi Rp26 triliun. Masalahnya, bagaimana pemerintah menyikapi itu. Harus ada kekompakan dalam menyikapi sesuatu yang menarik ini. Analoginya, banyak ikan tapi kita tak memiliki jala. Bagaimana mau menangkapnya kalau tak punya jala. Nah, jala itu ibaratnya adalah regulasi berupa insentif pajak.

SONY DSC Dampaknya?

Berpengaruh pada industri kecil, seperti baut, mur, dan kopling. Untuk membuat harga murah, produsen akan beralih dari first tier ke second tier, lalu ke third tier. Nah, Indonesia sekarang baru sampai second tier. Selama kualitasnya bagus tak masalah.

Soal regulasi pemerintah atas kepemilikan mobil?

Ada regulasi yang membuai, misalnya DP yang murah dan kemudahan-kemudahan. Nah, belakangan itu mulai disetop dengan menaikkan besaran DP. Tapi itu tak menghambat penjualan mobil.

Lalu, bagaimana prospek ke depan?

Tergantung dari kondisi ekonomi. Bulan-bulan terakhir ini pasarnya agak menurun karena harga komoditas turun. Memang ada yang bilang penjualan mobil berdasarkan pertumbuhan ekonomi. Tapi, harus diingat bahwa mobil merupakan kebutuhan sekunder, bukan primer.

Soal bubble kredit otomotif? astra perakitan

Indikator paling absolut soal itu adalah NPL (kredit macet), dan NPL kredit otomotif terbilang kecil. Nah, mungkin pemerintah punya persepsi lain sehingga perlu mengerem kredit otomotif.

Apa yang bisa membuat industri otomotif kita bisa lebih maju lagi?

Investasi. Dua tahun ini investasi datang berlimpah-limpah. Bukan cuma Toyota, tapi juga Nissan, Mitsubishi, Honda, dan Ford. Semua berlomba-lomba mendapatkan kapasitas yang notabene membuat pasar menjadi kompetitif karena suplainya lebih besar daripada demand.

Soal hambatan?

Salah satunya adalah regulasi. Contohnya adalah soal low cost and green car atau LCG. Pemerintah yang meminta soal itu, tapi sampai sekarang kebijakannya belum keluar.

Industri otomotif dibilang mendapatkan keuntungan atas murahnya BBM?

Ya, naikkan saja harga BBM kalau itu benar secara fundamental. Tidak mungkin kita beralih ke gas. Harga gas Rp3.100, sedangkan premium Rp4.500. Di dunia, negara yang berhasil menggunakan gas disparitas harganya minimum 50%. Kenaikan BBM memang akan membuat penjualan shocked, namun hanya sementara. Dulu pada 2005 Pak Jusuf Kalla pernah menaikkan BBM dan itu hanya membuat shock sekitar empat bulan. Kenaikan BBM kalau memang sebuah solusi saya setuju. Dana itu nanti bisa digunakan untuk infrastruktur. Itu lebih bagus.

Banyak investor yang menanamkan investasinya di bidang otomotif. Suplai lebih banyak daripada demand. Persaingan bisa tak sehat?

Baik sekali buat konsumen karena mereka punya pilihan. Mereka akan merasa happy. Tapi yang paling happy adalah pemerintah karena banyaknya penjualan makin besar pajaknya.

Industri otomotif Jepang sangat dimanja di sini.

Kalau G to G itu biasa. Tapi kalau soal politik saya tidak bisa menjawab. Sekarang era transparan, jadi peraturan berlaku untuk semua. Memang pemerintah pro kepada investor yang sungguh-sungguh. Ada investor yang datang belakangan minta keistimewaan karena sudah ketinggalan jauh dengan para investor Jepang.

Jadi Anda tak sependapat soal mobil nasional?

Saya mendukung program mobnas dan saya menghargai sikap kreatif. Tapi untuk membuat sebuah mobil yang seutuhnya itu tidak mudah. Suatu saat kita bisa membuat mobil sendiri, ya why not?

BIODATA Johnny Darmawan Danusasmita

Nama                                       : Johnny Darmawan Danusasmita

Tempat/Tanggal Lahir         : Jakarta/1 Agustus 1952

 Pendidikan:

Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi, Universitas Trisakti, Jakarta

Karier

2010 – sekarang                      Presiden Komisaris PT Astra Otoparts

2008 – sekarang                      Komisaris PT Serasi Autoraya

2008 – 2010                            Komisaris PT Toyota Astra Financial Services

2006 – sekarang                      Komisaris PT Intertel Nusaperdana

2006 – sekarang                      Komisaris PT Astratel Nusantara

2006 – sekarang                      Komisaris PT Suryaraya Prawira

2006 – sekarang                      Komisaris PT Brahmayasa Bahtera

2005 – sekarang                      Direktur PT Astra International Tbk.

 Organisasi Profesi

2011 – sekarang                      Ketua Bidang APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia)

2011 – sekarang                      Ketua Bidang KADIN

2008 – sekarang                      Komisaris Bursa Efek Indonesia

2007 – sekarang                      Anggota Dewan Konsultatif Standard Akuntansi Keuangan (IAI)

2007 – sekarang                      Wakil Ketua Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia)

 

PT Toyota Astra Motor, Peluang Sudah di Depan Mata ceo astra 2

Sejak krisis ekonomi melanda Amerika Serikat (AS), titel produsen mobil terbesar pun beralih ke Toyota. Produsen mobil asal Negeri Matahari terbit itu sukses menyingkirkan General Motor (GM). Sejak itu pula, GM beserta pabrikan mobil di Amerika Utara lainnya, seperti Ford dan Chrysler, menutup satu per satu unit pabriknya di Detroit. Masa kejayaan industri otomotif Negeri Paman Sam pun berakhir.

Toyota tak hanya berjaya di AS. Di Indonesia gelar sebagai penguasa pasar bahkan sudah disandang produsen mobil dari Jepang itu sejak pertengahan dekade 1970-an.

Tahun lalu Toyota Astra Motor (TAM), distributor kendaraan roda empat itu, di Tanah Air ini sukses membukukan penjualan mobil hingga 400 ribu unit. Dengan angka penjualan itu, Astra menguasai pangsa industri otomotif nasional sebesar 35%.

Tak berhenti di situ, TAM juga terus memperbesar kapasitas produksi mobilnya guna memenuhi permintaan dalam negeri dan ekspor. Pendirian pabrik baru di daerah Karawang dengan nilai investasi Rp2,9 triliun akan segera direalisasikan pada tahun ini.

Nilai investasi itu merupakan bagian dari komitmen Toyota Motor Corporation (TMC) yang ingin menginvestasikan dananya sebesar Rp26 triliun. Nantinya, produksi mobil Astra akan bertambah 250 ribu unit per tahun.

Soal besarnya minat industri otomotif dunia menanamkan modal di Indonesia, menurut Johnny Darmawan, pasar Indonesia amatlah menggiurkan. Besarnya populasi dan melimpahnya sumber daya alam menarik minat pihak asing untuk menanamkan investasinya di sini.

Hanya saja, Johnny mengingatkan jika pemerintah menyiapkan regulasi yang tepat, maka Indonesia bisa menjadi negara production base. “Peluang itu sudah di depan mata,” ujarnya, lalu menambahkan jika benar terwujud maka dampak positifnya bisa berlipat-lipat, termasuk ke kalangan industri kecil. Kontribusi industri otomotif pun akan semakin besar buat negara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s