Profil Johanes Auri, Sang Legenda Hidup Sepak Bola Tanah Air

Gambar Legenda sepak bola era 70-an berjuluk Black Silent ini menjadi salah satu pionir lahirnya bibit unggul pemain. Dalam usia tergolong senja, dia terus memupuk kesuksekan proses regenerasi.

Gambar

Orang telah tahu, semua pun tahu di lapangan hijau

kini tlah muncul di ufuk timur, mutiara hitam.

 Timo Kapisa, Johanes Auri, dan kawan-kawannya…

bermain gemilang, menerjang lawan dan selalu menang.

 Persipura, mutiara hitam…

Persipura, selalu gemilang

 Tiada disangka tiada diduga akan semua itu

mereka gemilang di lapangan hijau, semua gembira

 Timo Kapisa, Johanes Auri, dan kawan-kawannya…

bermain gemilang, menerjang lawan dan selalu menang.

 Persipura, mutiara hitam…Persipura, selalu gemilang

 Tiada disangka tiada diduga akan semua itu

mereka gemilang di lapangan hijau, semua gembira

 Syalalalalala, lalalalala … lalalalala, lalalalala

 Lagu berjudul Persipura yang diciptakan band lawas, Black Brothers seperti memaksa kenangan era 70-an. Lagu itu, terlontar saat Persipura atau Mandala Jaya Jaya juara Soeharto Cup tahun 1976. Black Borthers pun memasukkan dua nama pemain andalan Persipura: Timo Kapisa (striker) dan Johanes Auri (bek kiri). Alhasil, lagu ini menjadi populer pada 1977 hingga 1978.

 Di era 70-an, memang pemain dari negeri Papua (dulu bernama Irian Jaya) sedang naik daun. Secara singkat, Persipura di Perserikatan 1973 berada di peringkat ke-5, dua tahun kemudian pada Perserikatan 1975  naik ke posisi keempat. Selang setahun, menjuarai turnamen Piala Soeharto III. Dan, dalam PON IX tahun 1977, Persipura menyematkan medali perak setelah di babak final dikalahkan DKI Jakarta 4-2 melalui adu penalti (2 Agustus 1977). Karenanya, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI)  mengirimkan tim Persipura Jayapura

 Atas dasar itulah, PSSI menghargai prestasi Papua-Persipura dengan mengirimkan Persipura ke King’s Cup 1977 bukan mengutus tim nasional (timnas). Alasannya, PSSI melihat prestasi menanjak persepakbolaan secara umum. Gambar

 Adalah Johanes Auri yang menjadi legenda hidup sepak bola tanah air dari Persipura. Dan, lelaki berusia 58 tahun ini masih eksis dalam kepengurusan badan persepakbolaan nasional saat ini, PSSI dengan menjabat  sebagai anggota Komite Etika PSSI.

 Hampir seluruh hidup Johanes memang dihabiskan dalam lapangan sepak bola. Pria kelahiran Manokwari, 30 Oktober 1954 ini sejak belia memang sudah aktif bermain bola. Hal tersebut karena sang ayah, Leonard Auri juga pemain bola. “Papa saya kebetulan waktu muda juga pemain sepak bola. Kami 12 bersaudara, yaitu 4 laki-laki dan 8 perempuan. Keempat anak laki-laki ini kebetulan juga ikut bermain bola seperti papa saya,” akunya.

 Meski begitu, dirinya bukanlah sosok yang manja. Sejak masih kecil dia punya tekad untuk mandiri. Misalnya untuk membeli sepatu bola. Johanes harus kerja keras. Saban hari sepulang sekolah dia mencari botol-botol minuman yang kemudian dijual. “Pokoknya setiap pulang sekolah saya cari itu botol-botol minuman dan dijual kepada pabrik limun. Lama-lama hasilnya dikumpulkan untuk beli aksesoris bermain sepak bola seperti sepatu, celana sampai kaos. Padahal, papa saya mampu belikan, tapi saya tidak mau,” dia menceritakan.

 Bukan hanya itu, sambil tetap menyalurkan hobi bermain sepak bola, Johanes juga mengumpulkan batok kelapa untuk dijual. Tak jarang pula harus banting tulang membelah kayu yang kemudian dijual. “Dulu harga sepatu yang pernah saya beli harganya Rp 15. 000. Sepatu itu dulu dipakai Waskito (pemain legendaris sepak bola Indonesia era 60-an) yang dibuat langsungnya dari Surabaya dari kakaknya Waskito,” katanya. Untuk sekelas sepatu saja, uang sebesar Rp 15.000 di masa 60-an itu terasa sangat mahal sebab bisa setara dengan gaji bulanan seorang karyawan menengah. “Karenanya saya sangat senang kalau pakai sepatu itu,” tambahnya.

 Namun bukan hanya tampilan yang dia banggakan. Johanes muda juga menjadi pemain bola yang atraktif. Karirnya perlahan menanjak. Boleh dibilang, setelah mengikuti kejuaraan Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (POPSI) tingkat kabupaten namanya mulai diperhitungkan. Lelaki berkulit hitam ini lalu diboyong Perseman Manokwari. “Mulai saat itu saya banyak mengikuti kompetisi,” sambung dia.

 Karena seringnya bertanding hingga ke luar daerah, dirinya pindah sekolah di Jayapura. Tak lama, Johanes dipinang klub Persipura. Dia pun makin aktif keliling Indonesia ikut berbagai pertandingan. Kakinya cekatan mengamankan serangan bola yang datang. “Saya mulai tanding ke berbagai penjuru tempat Indonesia seperti Ujung Pandang, Jakarta, Surabaya, Padang, atau Manado,” imbuhnya.

Tahun 75, saat itu PSSI dinakhodai pelatih asal Belanda:  Wiel Coerver. Tak dinyana, Johanes dipanggil dalam jajaran skuad. Coerver merupakan pelatih yang membantu mengembangkan semangat, kreatifitas hingga rasa percaya diri para pemain, termasuk Johanes.

Saat itu, eforia nasionalisme sepak bola dalam negeri sangat kental. Pasalnya, hampir dua dekade tim Merah Putih tak bisa tampil dalam pentas dunia karena mendapat sanksi larangan bermain selama 16 tahun akibat memboikot pertandingan kualifikasi Piala Dunia 1958 melawan Israel. Sosok kepelatihan Coerver dirasa membawa angin segar sebab berhasil menukangi Fayenord Rotterdam juara Piala UEFA 1974. PSSI yang di bawah kepemimpinan Bardosono mengikat pria kelahiran Belanda 3 Desember 1924 ini.

Dengan sikap tegas Coerver, maka nama Johanes masuk dalam jajaran timnas. Meskipun dalam pemilihan pemain, Coerver harus beradu pendapat dengan Bardosono. Terlebih, pelatih tersebut dikenal begitu membela hak para pemainnya, baik ketika berkiprah di Eropa maupun di Indonesia. “Saat itu saya ikut memperkuat PSSI pada pra olimpiade. Saya bermimpi bisa bermain di PSSI, dan berhasil dengan perjuangan keras Inilah awal kebangkitannya,” ungkap Johanes.

Sebagai anak asli Papua, dirinya mengaku bangga dapat memperjuangkan Indonesia dalam pagelaran internasional. “Saya bangga sebagai anak Papua yang ikut membela mengharumkan nama republik ini. Ada beberapa event, tapi yang paling berkesan adalah pertandingan Pra Olimpiade melawan Korea Utara di Senayan,” kenangnya.

Pertandingan di depan 120 ribu pendukung yang memenuhi stadion Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta itu membawa hasil seri 1-1 melawan Korea Utara. Sayang, Indonesia kurang beruntung karena kalah adu penalti dengan  skor 5-6. Namun, dari kaki Johanes lahirlah sebuah gol dalam laga dramatis tersebut. “Saya mencetak satu gol, meskipun kemudian tangan saya kemudian harus patah karena di pertandingan melawan Rusia tahun 1977. Tangan saya diinjak,” tutur Johanes.

Saking hebatnya Johanes menjaga lini belakang Tim Garuda, maka dalam beberapa pendapat soal pemain legendaris, selalu saja namanya dicantumkan dalam barisan belakang sebelah kiri. Johanes yang bersama timnas dalam satu dekade (1975 – 1985) bahkan bergelar Black Silent karena tak banyak bicara atau mengeluh.

Akhirnya, sang legenda memilih karir di klub elite milik ibukota Jakarta, yakni Persija. Johanes saat itu menjadi bagian kwartet dalam asuhan pelatih Persija asal Polandia, Jonata, yaitu Rumahpasal-Johannes Auri-Oyong Lisa-Suaeb Rizal yang dikenal sukar dilewati penyerang lawan. Johanes juga satu klub dengan dengan pemain legendaris lainnya seperti Sofyan Hadi, Anjas Asmara, bahkan Iswadi Idris.

Peduli Soal Regenerasi

Sebagai salah seorang yang merindu kembalinya kejayaan Indonesia dalam mata internasional, Johanes pun memandang perlunya pelatihan kepada regenerasi muda. Meski kisruh kepengurusan sepak bola yang berlanjut alot dewasa ini, tak menghalangi suami dari Wihalmina itu ikut terjun langsung ke lapangan.

 Pada 20 Maret 2011, secara aklamasi dibentuklah Badan Sepak Bola Rakyat Indonesia (BASRI) resmi dibentuk. Badan ini sejatinya bukan tandingan PSSI melainkan sebagai mitra kerja. Johanes Auri ditunjuk menjadi Ketua Umum pertama, sementara mantan pemain timnas lain, Nasri Sallasa mengemban jabatan sekretaris jenderal.

 Bagi Johanes BASRI dibentuk untuk mencari pemain-pemain berbakat di desa. BASRI didaulat menyelenggarakan kompetisi antar klub-klub yang ada di desa dengan membuat LIDI (Liga Desa Indonesia) dengan jumlah klub mencapai 90.000 buah. “Ini tentu bukan pekerjaan mudah. Tapi kami punya komitmen, hal ini harus dilakukan sekarang, bukan besok,” terang Johanes Auri saat dirinya dilantik menjadi Ketua Umum BASRI.

 Dan, hingga Januari 2013, Johanes digantikan Eddy Sofyan sebagai Ketua Umum BASRI periode 2013-2018, namun tetap ikut dalam sistem pola regenerasi yang ada. Seperti halnya, di kampung halamannya, Manokwari dia membangun tempat pelatihan.

 “Tidak ada yang mengambil sepakbola dari Tanah Papua. Sepakbola tetap menjadi milik masyarakat Papua di tanahnya sendiri,” jawabnya setelah terlontar ungkapan salah satu anggota DPR RI mengatakan, orang Papua merasa sepakbola seolah sudah dirampas dari tanah Papua. Hal itu karena PSSI menjatuhkan sanksi kepada Persipura Jayapura yang tetap mengikuti kompetisi Superliga Indonesia tahun 2012.

 Johanes mengaku sangat prihatin, persoalan di luar sepakbola dicampuraduk dengan urusan sepakbola. “Orang politik bicara sepakbola, dengan caranya sendiri. Saya tidak habis pikir bisa seperti itu.” Johanes yang mengikuti kepengurusan Djohar Arifin pun menambahkan, bahaya ketika kepentingan tertentu masuk dalam ranak sepak bola. “Yang berbahaya adalah, ketika persoalan di luar sepakbola di bawah masuk dalam dinamika perkembangan sepakbola. Sepakbola punya aturan main sendiri, mulai dari PSSI, AFC, maupun FIFA. Tidak mungkin dicampuradukkan dengan berbagai kepentingan perorangan ataupun kelompok,” dia menyerukan.

 Johanes sendiri mempertanyakan kondisi perpecahan kepengurusan sepak bola dalam negeri. “Kenapa harus mencabik-cabik sendiri hanya karena kepentingan satu golongan? Orang-orang pasti akan tertawa. Malaysia, Thailand atau lainnya sekarang menertawakan kita, padahal dulu Indonesia sangat disegani,” kata Johanes geram

 “Harapan saya tiada lain, kapan Indonesia bisa merebut kembali menjadi juara di Asia Tenggara atau Asia? Hal itu membuat saya kecewa kepada pembina. Meskipun saya kecewa saya tetap berusaha membina sepak bola. Sebagai ajang pembuktian paling tidak ada kerja nyata.  

Cita-cita saya dua atau tiga tahun lagi, aka nada pemain untuk U-19 atau U-21 yang lahir lahir dari Manokwari,” pungkas ayah dua anak ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s