Profil Hotasi Nababan, Kisah Aktivis Melawan Gugatan Korupsi

hotasi Hotasi menjadi salah sosok fenomenal. Dia merupakan orang yang mendobrak tradisi Pengadilan Tipikor tak pernah mengeluarkan keputusan bebas. Perjuangannya ini katanya mirip dengan bentuk aktivis semasa muda.

Ranap Simanjuntak

Senyum lelaki berkulit putih ini seketika membuncah saat seseorang menjabat tangannya. “Selamat bang, saya baca berita abang dibebaskan,” ungkap sang penyapa pada salah satu kedai kopi di Senayan City, Jakarta, Kamis pekan lalu.

“Iya terima kasih,” jawab lelaki dengan kemeja putih tersebut. “Puji Tuhan, ini suatu mukjizat. Untuk pertama kali tersangka Pengadilan Tipikor bisa bebas dari tuduhan korupsi,” sambungnya.

Sebentar kemudian, laki-laki yang menyapa itu undur diri. Sementara lelaki yang mendapat ucapan selamat itu masih mendapat jabatan tangan dari beberapa orang di balik kerumunan orang. “Saya juga tidak tahu ternyata banyak yang memberi dukungan dan kasih perhatian atas kasus saya,” ungkap lelaki bernama lengkap Hotasi Nababan kepada SINDO Weekly.

Dia menambahkan, tuduhan korupsi selama dirinya menjabat Direktur Utama (Dirut) PT Merpati Nusantara Airlines (PT MNA) periode 2002-2008 menjadi pelajaran buat banyak orang. “Kami menjadi korban kejahatan orang lain. Jadi, khususnya direksi BUMN, tuduhan korupsi dan kriminalisasi itu mudah karena bisnisnya menggunakan uang Negara,” sambung dia.

bersama Dahlan Iskan

bersama Dahlan Iskan

Sedikit ke belakang, cerita dugaan korupsi kepada Hotasi datang dari Kejaksaan Agung (Kejagung). Bermula pada 7 Mei 2011, terjadi kecelakaan pesawat di Kaimana, Papua Barat. Pesawat Merpati MA 60 yang mengangkut 27 orang, terdiri dari 21 penumpang dan enam orang kru tersebut dikabarkan seluruhnya tewas.

Hal ini membuat beberapa dugaan atau spekulasi. Salah satunya soal pengusutan pengadaan pesawat di tubuh PT Merpati. Karena itu, pihak kejaksaan mengeluarkan surat perintah penyelidikan (sprindik) tertanggal 12 Mei 2011. “Saya hanya sekali diperiksa pada bulan Juli, tapi kemudian tiba-tiba pada 16 Agustus 2011 langsung jadi tersangka,” aku lelaki kelahiran Manila, 7 Mei 1965 tersebut.

Hotasi bersama mantan General Manager PT MNA Tony Sudjiarto ditetapkan sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas kerugian terkait penyewaan pesawat jenis Boeing 737-400 dan Boeing 737-500 pada 2006. Dalam prosesi meja hijau, Jaksa Penuntut Umum mendakwa keduanya melakukan tindak pidana korupsi atas kegagalan penyewaan kedua pesawat kepada perusahaan di Amerika Serikat bernama Thirdstone Aircraft Leasing Group (TALG). merpati boeing

Di mana, syarat perjanjian kerja sama tersebut menggunakan Refundable Security Deposit sebesar US$ 1 juta. Deposit ini ternyata disalahgunakan oleh oleh pemilik TALG Alan Messner bersama rekannya Jon Cooper. Sementara pesawat sewaan itu tak kunjung tiba. Bahkan, TALG tiba-tiba menaikkan ongkos sewa, yang membuat PT MNA bermaksud menarik perjanjian kerjasama tersebut. Sehingga, seharusnya uang deposit itu harus dikembalikan.

Singkat kata, TA LG melakukan wanprestasi terhadap PT MNA. Kemudian, Merpati pun memenangkan gugatan di pengadilan Washington DC, namun tetap saja uang deposit tidak dikembalikkan pemilik TALG. Hal ini membuat Kejaksaan Amerika Serikat mendakwa pemilik TA LG dengan pidana berat. “Anehnya, kejaksaan malah mempidanakan saya. Suatu ironi yang sangat menyakitkan,” kata Hotasi.

Merpati sendiri pernah membawa kasus ini di Pengadilan Distrik Columbia, Washington dan pengadilan setempat memenangkan Merpati dan menghukum TALG mengembalikan US$ 1 juta ditambah bunga dan biaya pengacara. Namun belum selesai ditagih dan Hotasi keburu dicopot kemudian pengejaran uang sempat terbengkalai membuat kasus pinjaman ini terbelit. Lantas saat Rudy Setyopurnomo menjabat Dirut Merpati bermaksud mengejar kembali uang tersebut, maka perkara tersebut berjalan alot.

Namun sedianya, beberapa pihak atau lembaga telah menyimpulkan aksi bisnis sewa pesawat itu tidak termasuk dalam kategori korupsi. Menteri Negara BUMN saat itu Sofya Djalil selaku pemegang saham mayoritas PT MNA  dalam suratnya tertanggal 5 Mei 2007meminta bantuan Kedubes AS di Jakarta pada menyatakan ini sebuah resiko bisnis.

Kemudian, KPK sebagai lembaga pemberantasan korupsi, pada 27 Oktober 2009 sudah menyimpulkan kasus ini tidak memenuhi kriteria tindak pidana korupsi. Bareskrim Kepolisian RI sebelumnya pada 2007 sudah mengungkapkan hal sama. Tak berbeda dengan penelusuran Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) lewat surat yang ditujukan ke KPK pada 10 Mei 2010 menyimpulkan pemeriksaan belum memenuhi unsur tindak pidana korupsi.

Toh Hotasi tak berkutik karena Kejaksaan tetap melanjutkan gugatan tersebut di Pengadilan Tipikor. Akibatnya, ayah dua anak ini terus melakukan perlawanan secara gerilya. Dirinya pun menyewa pengacara handal, Juniver Girsang.

Suami dari Eveline Hutapea ini secara teliti mengumpulkan barang bukti yang sudah tercecer. Dua setengah tahun dalam masa persidangan, Hotasi mengaku harus menerima olokan banyak orang. Sebab, menurutnya, di negeri ini tersangka korupsi sudah sangat identik dengan terpidana. “Dukungan keluarga, anak-anak, dan kerabat yang membuat saya bisa kuat,” tuturnya.

Secara cermat Hotasi pun membuat dua buah buku. Pertama berjudul “Jangan Pidanakan Perdata” dan buku lainnya Pledoi “Kami Korban Kejahatan Orang Lain”. Namun, dia mengelak pembuatan buku tersebut sebagai media membela diri semata. “Awalnya ini sebagai pembelajaran kepada masyarakat. Publik paham perkara ini secara utuh. Harapan saya, banyak jaksa mempelajari kasus ini supaya tidak terjadi lagi korban berikutnya,” kilahnya.

Sisa Semangat Aktivis

Dalam proses perlawanan atas gugatan kejaksaan, Hotasi mengaku mendapat pengetahuan soal hukum, terutama kaburnya batasan tindak pidana dengan perdata. Aka tetapi, lelaki yang kini bekerja sebagai konsultan pada berbagai perusahaan infrastruktur ini terngiang atas perjuangannya selama menjadi aktivis mahasiswa.

“Ya seperti teringat waktu jadi mahasiswa melawan tirani kekuasaan,” aku salah satu mahasiswa ITB yang meminta tirani militer dihapuskan pada aksi Maret 88 di gedung DPR/MPR. Padahal, saat itu sedang berlangsung sidang umum MPR. Tentu saja, represif kekuasaan kala itu masih kental.

Hotasi yang pernah menjabat Ketua Himpunan Sipil ITB itu bersama rekannya masuk ke gedung kura-kura sambil membentangkan spanduk bertuliskan ‘Tangan Besi Bukan Sarana Demokrasi’. Aksi itu, menurutnya sebagai upaya melawan kediktatoran rezim Soeharto.

Mereka lalu menemui Wakil Ketua DPR/MPR, Letjen Saiful Sulun. “Hanya Fraksi TNI yang berani menemui kami,” kenang Hotasi saat rombongan sebelumnya sudah berusaha menemui fraksi lainnya tetapi tidak ada yang berani menerima mereka. Ikut pula dalam aksi tersebut Pramono Anung yang kini jadi Wakil Ketua DPR dari PDI Perjuangan. “Saya dulu mentornya Sujiwo Tedjo dan Nirwan Derwanto,” tambahnya.

Setelah lulus dari ITB, Hotasi yang tergolong cerdas mengambil kesempatan beasiswa kuliah di Massachusetts of Technology, Boston, Amerika Serikat. Sambil mengejar gelar S-2 Technology Policy dan Civil Engineering, dia pun mengisi waktu dengan bekerja di Massachusetts Water Resources Authority.

“Saya memang sejak kecil dididik orang tua saya untuk kerja keras. Ayah saya pendeta dan ibu saya seorang guru menekankan pentingnya kedisiplinan,” terang lelaki berjidat lebar ini.

Kemudian, Hotasi pulang ke tanah air dengan mengawali karir di Garuda Indonesia sebelum akhirnya pindah ke General Electric South Pasific dengan karier tertinggi sebagai Presiden Direktur GE Locomotif Asia Pasific. Kala terlontar reformasi 1998, Hotasi pun tergerak untuk melakukan aksi perlawan menggulingkan rejim otoriter Soeharto. “Saya memberi dukungan di balik layar lewat SPUR (Solidaritas Profesional untuk Reformasi). Ada banyak aktivis seperti Fachroel Rachman, Pramono Anung, dan Jumhur Hidayat,” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s