Pendidikan Orang Batak dan Kelupaan Membangun Kampung Halaman

“Hu gogo pe mancari, arian nang botari, lao pasikkolaon gelleng ki, asalma marsikkola, do satimbo-timbona, sikkap ni na tolap gogo ki…”(Ku akan bekerja sekuat tenaga, pagi sampai malam untuk menyekolahkan anak-anakku, sampai setinggi-tingginya semampuku akan kusekolahkan..) amanat pendidiikan

Lagu ciptaan Nahum Situmorang itu seakan mengingatkan salah satu filsafat orang Batak, yakni Anakhon Hi Do Hamoraon Diahu. Ini menjadi landasan seluruh elemen orang Batak, terdiri dari berbagai sub suku Batak, yaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak, Batak Mandailing dan Batak Angkola.

Pandangan hidup Anakhon Hi Do Hamoraon Diahu telah memperkuat motivasi masyarakat untuk menyekolahkan anak mereka setinggi mungkin. Meski harus mengutang sana sini. Dalam konteks filosofi Batak, hamoraon adalah kekayaan materi, gabe, mamora, sangap. Artinya ada anak, ada harta, baru terpandang. Banyak anak adalah tujuan, sehingga ada perumpamaan yang berkata “maranak sapuluh pitu marboru sampuluh onom (tujuh belas putra enam belas putri). Demikian yang tersirat dari disebut filosofi Tolu H, hagabeon, hamoraon, hasangapon.

Hal tersebut bukan terjadi begitu saja. Pendidikan bagi orang Batak merupakan kebutuhan utama bahkan lebih penting dari segalanya. Ini merupakan kesadaran baru bangsa Batak setelah ribuan tahun terpuruk dalam peradaban tradisionalis dan mendapati dirinya menjadi bangsa yang tertinggal jauh dari bangsa lain di dunia ini di penghujung abad-19.

Memang di sekitar 1300 sebelum Masehi, bangsa Batak sangat terkenal dengan kapur Barus, kemenyan dan emasnya hingga abad-10 sebelum Sumatera diserang oleh Rajendra Cola dari India. Orang Batak sudah mengenal tulisan sejak tahun 1500 SM yang disebut dengan Pustaha yang sangat mirip dengan tulisan bangsa Phoenicia dan Ibrani Aramaic. Hebatnya, saat itu mereka tidak mempunyai kultur sekolah. Menganut mistisisme yang sangat kental sehingga segala sesuatu persoalan cenderung untuk dipecahkan dengan solusi yang kurang logis.

Masuknya revolusi sosial Islam yang dipelopori oleh Gerakan Wahabi/Paderi sangat banyak merubah karakter bangsa Batak terutama di daerah Angkola dan Mandailing. Secara umum ini mengubah pandangan secara radikal dari hal mistis menjadi sangat logis, dari bangsa yang kental dengan praktek perbudakan menjadi penganut agama Islam yang sangat humanis dengan persamaan hak tanpa ras dan tanpa suku.

 

Dengan kedatangan Belanda dan Jerman juga memberikan tambahan warna pendidikan Barat yang sudah hampir 400 tahun diadopsi oleh Eropah dari orang-orang Islam di Eropah Selatan. Jadi, pendidikan bagi orang Batak itu menjadi tradisi turun menurun sebagai bagian terpenting.

Sehingga, banyak orang batak menyekolahkan anaknya di daerah perantauan seperti Jawa yang punya sistem pendidikan lebih baik, bahkan tak sedikit yang mencari hingga ke belahan penjuru dunia.

Sayangnya, semangat pendidikan yang membesar itu tak dibarengi semangat membangun asal tanah Batak di Sumatera Utara. Hampir sebagain besar orang Batak berpendidikan tak mau berkenan pulang untuk membangun Bona Pasogit (kampung halaman). Gejala brain drain atau terkurasnya orang-orang pandai Batak oleh dunia luar masih lekat hingga kini.

Berbagai upaya sendiri sudah dilakukan. Pernah muncul beberapa gagasan, antara lain Maduma dan Martabe. Martabe singkatan dari Marsipatur Hutana Be, kalau diterjemahkan secara bebas “membangun kampung masing masing,” yang populer tahun 1980-an. Martabe menggabungkan dua bahasa, Angkola-Mandailing dan Batak Toba. amanat pendidikan 3

Maduma, yang dipelesetkan jadi “Mangula Dungi Mangan (bekerja baru makan)” dirintis oleh Ir Humuntar Lumban Gaol. Gerakan ini mendapat bantuan dari Orde Baru waktu itu. Maduma banyak membantu masyarakat Bona Pasogit, dengan pemberian bibit tanaman di Sileang, berupa bantuan traktor di Dolok Sanggul, dan tempat lain.

Maduma juga mengirimkan pemuda-pemuda Batak lulusan pertanian UGM, IPB, untuk memberikan penyuluhan pada petani, namun gagal. Para petani menolak kedatangan mereka meski sejatinya gerakan ini berhasil membangun jalan-jalan provinsi dan jembatan di Tapanuli. Juga kapal ferry di Sibolga. Lalu memberikan bibit kopi sigarar utang di Onan Ganjang, Kabupaten Humbang-Hasundutan.

Raja Inal Sirega

Raja Inal Sirega

Konon, Raja Inal Siregar, ketika menjadi Gubernur Sumatera Utara meminta persetujuan Humuntar agar dia yang meneruskan proyek aduma dengan nama Martabe. Namun gerakan ini sekan senyap. dari berbagai sumber.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s