Mempertanyakan Komitmen APP Soal Deforestasi

planet ok Pernah gagal komitmen, APP kembali melontarkan janji kedua soal penghentian laju deforestasi. Ini murni kesadaran soal lingkungan atau sebatas kepentingan bisnis?

Ranap Simanjuntak

Deforestasi di Indonesia sudah begitu mengkhawatirkan. Penebangan hingga perusakan lapisan hutan dengan cara mengubah penggunaan lahan secara permanen membuat dampak ekologi yang besar. Hutan aslinya setelah menyusut hingga 72% dan  hutan tropis tertinggal sekitar 10% saja. Padahal, kandungan hutan cukup besar, karena punya 12% dari jumlah spesies binatang menyusui atau mamalia, pemilik 16% spesies binatang reptil dan amphibi, 1.519 spesies burung dan 25% dari spesies ikan dunia.

Bahkan negara ini menjadi menjadi negara dengan tingkat deforestasi tercepat di dunia. Kerusakan hutan lahan gambutnya saja tercatat sebagai 4% penyumbang emisi gas rumah kaca dunia. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara terbesar ketiga penyumbang emisi global setelah Amerika Serikat dan China. PLANET

Menurut kajian Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), deforestasi bersumber dua hal, yakni yang terencana dan tidak terencana. Pengkampanye Perkebunan dan Hutan Skala Besar Zenzi Suhadi member analisis kajiannya hingga Juli tahun lalu, penyebab perusakan hutan secara terencana menjadi penyumbang terbesar. “Terencana itu berdasarkan kebijakan pemerintah misalnya dari alih fungsi untuk peruntukan lain menjadi 12,35 juta ha itu. Itu Untuk review tata ruang saja,” terangnya.

Zenzi menambahkan, untuk hutan yang dilepaskan bagi pembukaan perkebunan mencapai 5 juta ha. Belum lagi HPK (hutan produksi konversi) yang dibuat hutan kelapa sawit itu sebesar 1 juta ha. “Kalau untuk ijin tambang eksplorasi itu saya lupa detailnya, tapi yang jelas lebih dari 1 juta ha,” ungkapnya.

Pemerintah sebagai pihak yang bertanggungjawab soal kelestarian hutan sendiri sudah mengidentifikasi beberapa perusahaan besar yang menambah lajunya deforestasi. Sektor yang paling besar, yakni industri bubur kertas dan kelapa sawit.

Tiba-tiba, saja perusahaan kertas Asia Pulp and Paper (APP), anak usaha Sinar Mas Group (SMG) merilis komitmen untuk melakukan penghentian deforestasi pada pekan lalu. “APP berjanji tidak lagi menebang hutan alam di seluruh rantai pasokannya yang berlaku efektif sejak tanggal 1 Februari 2013. Langkah yang ditempuh ini merupakan percepatan dari target semula APP yang akan dicapai pada tahun 2015” jelas Managing Director Sustainability & Stakeholder Engagement APP, Aida Greenbury, Jumat (8/2/2013).

Tiga poin dalam komitmen APP ini yakni pertama mereka hanya akan mengembangkan area-area non-hutan sebagaimana diidentifikasi lewat penilaian HCVF (High Conservation Value Forest) dan HCS (High Carbon Stock). Akan ada sanksi bagi perusahaan pihak ketiga yang menjadi penyuplai kayu untuk APP jika tidak menaati panduan ini. Kedua, mendukung penekanan emisi gas rumah kaca dengan memastikan perlindungan pada lahan gambut. Serta, memastikan tereduksinya emisi gas rumah kaca dari keberadaan sumber daya alam ini.

Ketiga, APP akan menghindari dan menyelesaikan konflik sosial di seluruh rantai suplai mereka. Dilakukan kerja sama dengan para mitra, termasuk masyarakat adat untuk memastikan terpenuhinya prinsip FPIC (free, prior, informed consent) yang dimiliki oleh masyarakat adat dan warga lokal, serta bertanggung jawab untuk menangani protes dan menyelesaikan konflik dengan dialog yang konstruktif dengan mitra lokal, nasional dan internasional.

Menanggapi ini, Greenpeace Indonesia terkesima. Kepala Kampanye Hutan Indonesia, Bustar Maitar, mengungkapkan, kalau APP sepenuhnya menerapkan kebijakan baru tersebut, maka ini akan menandai perubahan dramatis, sebab sudah bertahun-tahun terlibat dalam deforestasi di Indonesia. “Kami memuji APP atas komitmen baru mereka untuk mengakhiri deforestasi, namun apa yang sebenarnya terjadi di hutan itu lebih penting dan kami akan terus memantau perkembangannya,” katanya.

Namun dirinya mempertanyakan keseriusan yang sudah dibuat APP tersebut. “Mengapa sekarang?,” tanyanya. Mungkin ada kaitan dengan tekanan global terhadap produk APP yang diduga tak ramah lingkungan. “ Sudah jelas bahwa tekanan komersial dan dampak reputasi kehilangan pelanggan besar di seluruh dunia sangat penting,” sergah Bustar.

Seperti diketahui, Greenpeace merupakan salah satu LSM yang aktif mengkampanyekan perusakan hutan oleh APP. Misalnya Juli 2010, Greenpeace Internasional meluncurkan laporan ‘Bagaimana Sinar Mas Meluluhkan Bumi’. Investigasi itu menunjukkan, sumber bahan baku APP berasal dari hutan habitat satwa langka dilindungi, seperti Harimau Sumatera, Gajah dan Orangutan di bentang alam Bukit Tigapuluh Jambi dan kawasan hutan gambut terutama di Kerumutan, Riau. Dalam kurun 2007 – 2011, pemasok APP menambahkan kehancuran sekitar 69.500 hektar hutan di buffer zone Bukit Tigapuluh.

Penelusuran selanjutnya memaparkan, sejumlah industri di dunia ikut membantu perusakan hutan skala besar ini. Seperti pabrik mainan terkenal, Mattel dengan  boneka berbusana Barbie atau Lego dengan Star Wars dan Disney yang menjalin kerja sama dengan APP turut berperan dalam penghancuran hutan hujan Indonesia dan mendorong kepunahan satwa langka sekaligus meningkatkan perubahan iklim.

Akhirnya APP harus gigit jari, sebab secara bertahap banyak merk-merk global yang telah memutus kontraknya. Mereka mengaku kebijakan itu guna menghilangkan keterkaitan deforestasi dalam rantai pasokan mereka. Dari tekanan Greenpeace, menghasilkan lebih dari 100 perusahaan seperti Adidas, Kraft, Mattel, Hasbro, Nestlé, Carrefour, Staples hingga Unilever melakukan pemutusan kontrak kerja sama dengan APP.

PLANET 2 Pada 2009, Unilever membatalkan kontrak senilai 20 juta poundsterling per tahun. “Kita telah menerima tudingan yang sangat serius atas Sinar Mas dan kami tidak memiliki pilihan kecuali menghentikan sementara pembelian dari mereka di masa depan,” uajr Gavin Neath, Vice President Komunikasi Unilever kala itu. Januari tahun lalu juga, Levi’s melakukan pemutusan kontrak kerja sama dalam pembelian bahan baku untuk packaging dari APP. Jelas ini memusingkan perusahaan yang punya lebih dari 500 ribu karyawan ini.

Karena itu, komitmen APP ini menuai kritik. “Kita curiga ini hanya trik mereka dalam proses pemasaran bukan dalam perubahan mainstream dalam pengelolaan hutan. Kedua, kalau mereka menyatakan menekan proses perusakan kawasan hutam alam, yang dipertanyakan bahan baku dari mana? Kita curiga bahan baku mereka dari hutan yang berbatasan langsung dan dari pemegang HPH dengan skala lebih kecil,” sebut Zenzi.

Apalagi, menurutnya, komitmen ini bukan yang pertama dibuat APP. Janji serupa pernah dibuat perusahaan itu dengan menggandeng WWF (World Wide Fund for Nature) tahun 2003. Isinya, melindungi High Conservation Value Forest tenggat waktu 12 tahun. Namun, tak sampai setahun, pada 2004, WWF menarik diri dari komitmen ini karena menilai bahwa APP dinilai gagal dalam membuat kemajuan dalam komitmen yang sudah disampaikan tersebut.

PLANET 3         “Hal lain yang mungkin perlu dilakukan adalah hasil pengecekan Walhi selama satu dekade soal keterlibatan 13 perusahan yang mendapat ijin tidak benar. Kami meminta KPK membuka kasus ini yang sudah SP3meski beberapa pejabat sudah divonis, sementara penikmat yaitu perusahaan yang mendapat ijin itu tidak tersentuh hukum,”  pungkas Zenzi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s