Skandal Sepak Bola; Ketika Sportifitas Makin Tergradasi

skandal sepakbola Investigasi Agensi Kepolisian Eropa menemukan sindikasi mega skandal sepak bola selama kurun waktu empat tahun. Dari 680 pertandingan bermasalah, lebih dari setengahnya terjadi pada laga bergengsi di Eropa.

Ranap Simanjuntak

Europol (European Police Office), yakni lembaga polisi di Eropa tiba-tiba saja membawa kabar menggemparkan. Hasil Operasi Veto yang dilakukan selama 18 bulan membuat terkuaknya mega skandal dalam dunia sepak bola dunia.

Direktur Europol, Rob Wainwright saat mengumpulkan para wartawan di ibukota Belanda: Den Haag, Senin (2/4/2013) menyebut adanya pengaturan skor dalam 680 pertandingan periode 2008-2011. Di mana, 380 diantaranya terjadi di Eropa, sedangkan 300 sisanya meruapakan pertandingan yang tersebar di Afrika, Asia, serta Amerika Selatan dan Amerika Tengah.

Hasil temuan yang sudah diselidiki sejak Juli 2011 itu akan berdampak pada masalah besar buat integritas sepakbola di dunia, khususnya Eropa. “Ini hari yang menyedihkan bagi sepakbola Eropa. Ini kali pertama kami mendapatkan bukti substansial bahwa organisasi kriminal kini ikut beroperasi di dunia sepakbola,” jelas Wainwright.

Europol sendiri memberi klarifikasi hasil investigasi mendapati keterlibatan dari 425 ofisial pertandingan alias kru untuk lebih dari 15 negara. Kru itu meliputi wasit, direktur klub, pemain, dan anggota jaringan penjahat. “Kami telah menemukan sebuah jaringan kriminal yang luas. Pada skala yang belum kami tentukan sebelumnya,” Wainwright juga mengaku kaget atas temuan tersebut. skandalbola europol

Untuk skandal pengaturan skor itu sendiri, dalam sepak bola Eropa, diduga menguntungkan sindikat judi hingga 8 juta euro (setara dengan Rp 104 miliar) untuk setiap pertandingan. Angka itu merupakan keuntungan bersih dari skandal ini.

Sebab, sebelumnya sindikat bermarkas di Singapura yang terhubung dengan jaringan kriminal di Eropa sudah mengeluarkan upeti, balasa jasa hingga uang tutup mulut hingga Rp 26 miliar kepada pihak-pihak yang terlibat. “Ini adalah karya dari sindikat kejahatan terorganisir yang diduga berbasis di Asia dan dioperasikan dengan jaringan kriminal di seluruh Eropa,” tunjuk Wainwright.

Dalam laporan tersebut, Europol menemukan dua pertandingan Liga Champions dan kualifikasi Piala Dunia terkena skandal ini. Sayangnya, tidak dirinci laga-laga apa saja karena masih terkait proses penyelidikan. Kabar pun beredar, pertarungan klub besar asal Inggris, Liverpool FC melawan klub asal Hungaria, Debreceni VSC juga diwarnai pengaturan skor.

Pertarungan di stadion Anfield, markas The Reds (julukan Liverpool) tersebut berlangsung pada 16 September 2009. Ekstra Bladet, surat kabar Denmark dalam laporannya menurunkan adanya pengaturan skor kepada kiper Debrecen, Vukasin Poleksic. Dia yang diduga kuat menerima sejumlah uang agar gawangnya kebobolan lebih dari dua gol.

Hanya saja kebobolan lebih dari dua gol itu tidak pernah terjadi. Meski The Reds mendominasi dengan total Sembilan tendangan menusuk gawang musuh, namun hanya Dirk Kuyt yang mampu menjebloskan si kulit bundar melewati mistar gawang.

Toh dugaan suap itu makin kuat setelah pada 24 Juni 2010 Poleksic mendapat hukuman larangan bermain hingga 30 Juni 2012 karena dituduh terlibat dalam pengaturan skor pertandingan. Kiper asal Montenegro berusia 30 tahun tersebut kemudian mengajukan banding pada 5 Mei 2011, namun Pengadilan Arbitrasi Olahraga menolak banding yang diajukannya.

Di sisi lain, Liverpool sama sekali tidak disebutkan ikut dalam skandal pengaturan skor tersebut. Kubu The Reds mengungkapkan, mereka belum dihubungi oleh Europol maupun UEFA terkait indikasi kecurangan yang sudah dibeberkan itu.

Masih dalam laporan Ekstra Bladet, Debrecen juga melanggar ketentuan pada pertandingan lainnya di Liga Champions melawan Fiorentina. Laga dengan skor 4-3 bagi kemenangan La Viola di Stadion Ferenc Puskas itu saat ini masih dalam tahap penyelidikan kepolisian Jerman. skandalbola calciopoli

Di tempat terpisah, induk sepak bola dunia, FIFA, mengharapkan hukuman penjara bagi pelaku kriminal pengaturan skor. Kepala Keamanan FIFA, Ralf Mutschke, mengutarakan, pengaturan skor dan manipulasi pertandingan merupakan masalah global dan tidak akan hilang besok.”Untuk orang di luar sepak bola, hukuman bagi pelaku sangat lemah dan sedikit membuat pengaruh bagi orang yang telibat pengaturan hasil pertandingan,” jelasnya.

Sementara Asosiasi Sepak Bola Eropa, UEFA, menyatakan siap bekerjasama dengan kepolisian Eropa untuk proses penyelidikan. “Kami akan berkoordinasi dengan Europol terkait laporan apapun dari pengaturan skor pertandingan di kompetisi Eropa,” tulis juru bicara UEFA.

Menanggapi informasi Europol soal adanya sindikat judi Asia yang berbasis di Singapura, seorang wartawan investigasi bernama Declan Hill mempertanyakan mengapa belum ada satu pun orang ditangkap. Pengarang buku ‘The Fix: Soccer and Organised Crime’ tersebut menyerukan kepada pihak berwenang untuk menahan Dan Tan Seet Eng, yang diduga sebagai otak mafia sindikasi Singapura yang disebutkan.

Padahal, dalam penelusuran kasus calciopoli tahun 2006 juga memang didapatkan nama Tan Seet Eng yang diklaim sebagai “Singapore Leader” yang menjadi penyandang dana utama skandal pengaturan skor di beberapa laga turnamen Italia. Hasil investigasi Interpol sendiri memperkirakan keuntungan bersih bisnis kotor Tan Eeng Set dapat mencapai 90 miliar Dollar Amerika Serikat per tahun alias Rp 841, 121 triliun. Luar biasa!

Bukan Temuan Baru

 Pengaturan skor bukan barang baru dalam sistem sepak bola dunia.  Di Italia, tahun 2006 kasus calciopoli mengguncang. Jaksa Federasi Sepak Bola Italia menghukum sebagian klub yang terbukti terlibat dalam pengaturan skor seperti melucuti gelar juara tahun 2005 dan 2006 bagi Juventus sekaligus turun kasta hingga Seri C1 dengan pengurangan enam poin.Bahkan pula, didenda 31 juta Euro.

Sedangkan AC Milan, Fiorentina, Lazio, dan Reggina turun ke Seri B yang juga mendapat pengurangan poin. Tiga untuk Milan dan 15 untuk Fiorentina dan Lazio. Jaringan mafia Italia berafiliasi dengan jaringan mafia internasional. Skandal ini terbongkar ketika Wilson Raj, seorang warga Singapura keturunan India, ditangkap oleh Kepolisian Finlandia akibat pengaturan skor di persepakbolaan Finlandia. Wilson Raj saat ini mendekam di penjara Finlandia akibat perbuatan itu.

skandalbola Tak kapok, tahun lalu terlontar kembali kasus pengaturan skor di Italia. Kali namanya scommessopoli. Dari Hasil sidang perdana saja, Federasi Sepakbola Italia, FIGC mendakwa 44 pesepakbola dan 13 klub dinyatakan terlibat. Misalnya klub Siena dijatuhi pengurangan enam poin memasuki Liga Serie A musim 2012-2013. Sedangkan, Gelandang Chievo Verona, Simone Bentivoglio mengaku harus mempertaruhkan nyawanya saat berupaya mengungkap skandal scommessopoli ini.

Selain itu ada beberapa kasus mafia sepak bola yang pernah terjadi, seperti Totonero (1980). Striker Perugia saat itu, Paolo Rossi terpaksa dikenai hukuman selama tiga tahun, usai diketahui menerima ‘bayaran’ sebesar 1,100 poundsterling untuk mencetak dua gol agar menghasilkan hasil imbang 2-2. Sejumlah klub seperti AC Milan, Lazio, Avellino, Bologna, Perugia, Palermo dan Taranto ikut terlibat.

Kemudian, pada 1984 di semifimal UEFA, Nottingham Forest vs Anderlecht yang mengungkapkan keterlibatan penyuapan wasit sebesar 20.000 poundsterling. Lalu, tahun 1999 beberapa anggota sindikat judi asia ditangkap karena berusaha melakukan sabotase dengan merusak lampu stadion agar pertandingan Charlton Athletic vs Liverpool kala itu ditunda. Juga terjadi pada dua laga lainnya, West Ham vs Crystal Palace dan Wimbledon vs Arsenal. Terakhir, pada 2005, wasit asal Jerman, Robert Hoyzer mengakui perbuatan pengaturan pertandingan atas suruhan sindikat taruhan Kroasia dalam skandal sepakbola Bundesliga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s