Anang Iskandar (Kepala BNN): “Narkoba itu Antara Supply dan Demand”

anang iskandar Nama Badan Narkotika Nasional menjadi santer lagi setelah penangkapan sejumlah artis di rumah Raffi Ahmad kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Minggu (27/1/2013) lalu. Sebagai badan yang punya kewenangan menangani khusus soal narkoba, BNN memang dituntut konsisten memberantas berbagai hal-ihwal penyalahgunaan obat haram di negeri ini.

Kepala BNN, Anang Iskandar merasa perlunya membagi porsi pencegahan dan pemberantasan secara merata. Menurutnya, bila permintaan narkoba bisa ditekan, maka penawarannya pun bakal turun drastis. Soal langkahnya memimpin gerakan penanganan narkoba, BNN melakukan berbagai gebrakan seperti menjalin hubungan kerjasama internasional dan memberikan kegiatan sosialisasi secara langsung.

Anang menjamin barisan yang dia pimpin akan bebas dari kongkalikong penyalahgunaan narkoba. Sementara soal pemberian hukuman ringan bagi pelaku narkoba, Jenderal bintang tiga ini merasa kurang setuju. “Ya itu semestinya tidak (terjadi),” katanya.

Ditemui Ranap Simanjuntak dari SINDO Weekly Jumat pekan lalu dalam kunjungan senam bersama pasien (residen) di Unit Pelaksana Teknis Terapy dan Rehabilitasi BNN Lido, Sukabumi, Jawa Barat dirinya antusias menjawab pertanyaan. Orang yang baru sebulan memimpin BNN ini merasa sosialisasi soal narkoba merupakan bagian penting.

Bagaimana kondisi peredaran narkoba dewasa ini?

Ya, prevalensinya memang cukup banyak ya. Dilihat dari hasil penelitian BNN bekerjasama dengan Pusat Studi Indonesia itu prevalensinya  2,12%. Kalau diangkakan sekitar 4 juta orang pengguna narkoba. Jumlah cukup banyak itu harus disembuhkan kalau kita ingin negeri ini bebas dari narkoba. anang iskandar 2

Nah untuk menyembuhkan itu tidak hanya tugas satu instansi Kementerian Kesehatan saja, tapi melibatkan masyarakat juga didorong untuk berperan. Sebab, kalau tidak berarti terus ada demand, makanya akan ada supply. Nah kalau tidak ada demand maka tidak ada supply.

Artinya Anda ingin memfokuskan pada program pencegahan dan penyembuhan bagi pengguna narkoba?

Loh tidak. Kita bikin bagaimana antara pencegahan dan pemberantasan itu balance. Selama ini memang masih belum balance. Artinya, pencegahan jalan, pemberantasan harus tetap ditingkatkan.

Kenapa harus dua-duanya? Karena kesadaran global itu tidak hanya bisa ditangani lewat jalur hukum. Harus ada pencegahan seperti rehabilitasi dan penindakan. Nah kita baru sadar pada akhir-akhir tahun ini setelah ada UU No 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Itulah kesadaran kolektif yang harus dipelihara. Dan, pada kepemimpinan saya akan digenjot pencegahan termasuk rehabilitasinya tapi tetap pemberantasannya dilakukan.

Bagaimana trend peredaran narkoba saat ini?

Trendnya memang ada perubahan dari menggunakan morfin heroin ke kelas amfetamin stik stimulan seperti sabu atau ekstasi. Kenapa ini ngetrend? Karena mungkin pengguna memahami heroin dan morfin merupakan kelas berat yang resikonya bermacam-macam.

Mungkin seluruh dunia, tidak hanya Indonesia nanti berubah trendnya menggunakan sabu yang dinilai lebih soft, tapi tetap berbahaya. Karena itu, kami banyak menggagalkan penyelundupan baik melalui laut maupun bandara udara untuk sabu dan ekstasi.

sabu-sabu, jenis narkoba yang kini disukai

sabu-sabu, jenis narkoba yang kini disukai

Nah untuk perdagangan narkoba tingkat internasional itu seperti apa?

Itu juga berubah trendnya. Kalau dulu The Golden Triangle (segitiga emas sebagai wilayah pertemuan perbatasan antara Thailand, Laos dan Myanmar) sekarang menjadi bulan sabit emas (antara Pakistan, Afganistan, dan Iran).

 

Bong, alat hisap sabu

Bong, alat hisap sabu

 

Kalau jalur masuk ke Indonesia lewat mana?

Bisa bermacam-macam. Misalnya dari Iran bisa ke Eropa lalu masuk lewat India atau Afrika. Dan, mereka selalu merubah jalur itu karena sudah diantisipasi oleh pemerintah. Jadi mungkin bisa lewat Australia atau bahkan Timor Leste yang dulu tidak pernah lewat situ.

 Saat ini narkoba dari India semakin banyak yang masuk. Nah sistem pencegahannya bagaimana?

Kita melakukan kerjasama bilateral dengan India. Kami jadi tahu trend berkembang di sana. Sekarang ini yang sedang ngetrend ngirim per paket, tidak lagi menggunakan jasa kurir. Kami melakukan kerjasama dengan instansi aparat menghadapi paket-paket yang isinya kemungkinan narkoba.

Kami menjalin kerjasama misalnya dengan kantor pos untuk berhati-hati kalau ada kirimin narkoba. Juga menjalin mitra dengan asperindo (Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia) sebagai yang mewadahi jasa pengiriman paket.

Humas BNN, Simurat menunjukkan dua linting ganja yang ditemukan di rumah Raffi Ahmad.

Humas BNN, Simurat menunjukkan dua linting ganja yang ditemukan di rumah Raffi Ahmad.

Kita tahu banyak peredaran narkoba menggunakan sistem sel putus sehingga Bandar atau pemasok utamanya tak bisa terungkap. Nah apa yang dilakukan BNN dalam mengatasi sistem ini?

Kita menggunakan teknologi intelijen juga kerja sama internasional. Dengan kedua cara ini maka bisa didapat informasi tentang pintu-pintu peredaran narkoba yang masuk Indonesia. Sebaliknya, Indonesia memberikan informasi asal usul negara-negara yang dilewati peredaran narkoba.

Sistem kerjasama internasional itu seperti apa?

Ada bermacam-macam seperti CND (Commission on Narcotic Drugs), UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) yang dua-duanya di bawah payung PBB. Ada juga kerjasama dengan Colombo Plan sebagai kelompok masyrakat non government. Ada juga kerjasama bilateral. Di situ ada penangkapan hingga tukar menukar informasi. Kalau ada warga negara Indonesia yang ditangkap di luar negeri, maka kami bisa melakukan pemeriksaan di negeri tersebut.

Lalu, soal maraknya peredaran narkoba sendiri di lapas (lembaga permasyarakatan). Apa langkah antisipasinya?

Ya kami melakukan antisipasi terhadap pengguna atau pengedar narkoba di lapas. Kalau tidak direhabilitasi artinya setiap hari ada kebutuhan di dalam lingkungan lapas tersebut. Karena itu, kita tetap mengawasi. Memang kenyataannya banyak di dalam lapas terjadi peredaran narkoba.

Beberapa kali pemeriksaan ditemukan jumlah narkoba yang cukup besar. Bahkan, ada ditemukan kitchen lab di dalam lapas. Ini menunjukkan adanya kebutuhan dan menjadi warning bagi kita semua.

Apakah dalam pemeriksaan tersebut di dalam lapas, Anda mengalami kendala?

Tidak kami tidak tertutup. Selama ini bisa kami dibantu Kementerian Hukum dan HAM, khususnya Dirjen Lapas. Memang sih ada prosedur, tapi kalau melewatinya tidak terlalu menyulitkan.

Lapas mana saja yang rawan penyelundupan narkoba?

Ada beberapa lapas ya! Yang sudah terbukti dan banyak terungkap seperti lapas Nusakambangan. Tidak tertutup kemungkinan juga lapas-lapas lain.

Apakah bisa juga peredaran narkoba itu dari luar negeri?

Ya bisa saja menggunakan alat komunikasi bisa berhubungan dengan luar negeri. Memang masalah narkoba ini tidak lepas dari masalah internasional.

Soal hukuman para pengedar narkoba. Seperti warga negara Inggris,Lindsay June Sandiford yang menyelundupkan 4.794 gram kokain ke Bali mendapat hukuman mati. Apa tanggapan Anda?

Saya kira mereka mendapat hukuman setimpal. Hakim sudah memberikan amar putusan yang menurut saya hukum itu sudah setimpal.

Lindsay June Sandiford, WN Inggris yang divonis hukuman mati di Bali.

Lindsay June Sandiford, WN Inggris yang divonis hukuman mati di Bali.

Anda pernah mewacanakan kepada KY soal hakim khusus narkoba. Kenapa dan seberapa pentingnya soal itu?

Usulan itu. Lebih spesifik seorang hakim memahami tentang peredaran narkoba saya kira jauh kinerjanya dibandingkan hakim yang tidak punya pengetahuan khusus soal narkoba.

Anda pernah menangkap gembong pemilik pabrik ekstasi Hengky Gunawan yang kemudian waktu oleh Hakim Agung Akhmad Yamanie dilakukan pembatasan vonis hukum mati lewat PK (peninjauan kembali) sehingga hukumannya hanya 12 tahun. Apa Anda menilai ini tidak terlalu ringan? 

Hengky Gunawan dihukum memang sekitar 10 tahun. Memang ketika itu jenis psikotropika jadi tidak bisa dihukum berat. Jadi kami manut-manut saja! Itu sudah setimpal. Menyesal juga Bandar narkoba kok dikasih? Tapi ya jenisnya psikotropika.

 Sedangkan Schapelle Corby juga grasi dari presiden. Bagaimana Anda menilainya?

Ya itu semestinya tidak (terjadi). Itu yang merekomendasikan itu perlu dikaji. Untuk ke depan Insya Allah tidak terjadi lagi.

Schapelle Corby, ratu ganja asal Austalia yang mendapat grasi. Dituduh agen mata-mata asing.

Schapelle Corby, ratu ganja asal Austalia yang mendapat grasi. Dituduh agen mata-mata asing.

Kalau hakim-hakim yang banyak menggunakan narkoba sendiri itu gejala apa?

Ya saya kira itu warning bagi kita semua. Bahwa kita tidak kebal soal narkoba.

Ada penanganan khusus tidak untuk hakim yang bandel itu?

Penanganannya sama. Tidak ada yang khusus atau membeda-bedakan.

Program apa yang ingin Anda kembangkan?

Menyeimbangkan pencegahan dengan pemberantasan. Itu saja sehingga program pencegahan dan rehabilitasi itu muruk dan program pemberantasan itu menyala. Jadi muruk dan menyala.

Kalau begitu anggarannya disesuaikan?

Tidak. Kami lebih mengefisiensikan hal-hal yang tidak dierlukan itu dialihkan kegiatan-kegiatan yang cenderung melayani masyarakat.

Kalau boleh tahu berapa anggaran BNN tahun ini?

Rp 1 triliun.

Alokasi penggunaan anggaran terbesar buat apa?

Ya tidak keliahatan. Itu merata! Jadi kita mengefisiensi kegiatan-kegiatan yang tidak berorientasi semata-mata kepada anggota BNN tapi orientasi kepada masyarakat.

Soal koordinasi dengan Polri. Kita tahu saat ini BNN tidak lagi di bawah kepolisian, melainkan langsung di bawah presiden. Sementara di Polri juga ada satuan narkoba. Nah apakah selama ini ada masalah?

Kita memang dua lembaga. Tapi tim building akan dibangun sehingga ranah polisi dan BNN, di mana BNN adalah “anaknya” dan di BNN sendiri masih banyak polisi aktif itu orientasinya satu elemen. Penindakannya satu elemen.

Soal pengaturan kewenangannya bagaimana?

Ya sama saja. Polisi punya kewenangan, BNN juga punya kewenangan. Keduanya berjalan beriringan. Tim building itu perlu menerima apa adanya.

 Nah apakah tidak terjadi benturan kewenangan?

Itulah artinya perlu membangun kesediaan menerima peran apa adanya. Yang serius dan sungguh-sungguh bertugas tentu akan berhasil di lapangan. Kami mendorong itu.

Kalau memang BNN ini diserahkan seluruhnya, kekuatannya tidak seimbang atau masih sedikit. Polisi kekuataannya jauh lebih besar dan sudah tersebar. Karena itu, kami mendorong Polri melakukan penyelidikan karena memang sudah porsinya.

Tapi bisa saja rawan benturan seperti ketika KPK berdiri berbenturan dengan Polri dan Kejaksaan karena berebut kewenangan. Itu kan bisa terjadi juga antara BNN dan Polri?

Ya itu bisa! Tapi kita bangun untuk satu elemen. Kita saling asah, asuh, dan asih.

Di BNN sendiri kalau ada oknum yang ‘nakal’ diapakan?

Memang bisa saja. Sejak muda saya menjadi pemimpin kalau ada yang salah disentil. Kepemimpinan saya sejak dulu sama! Yang berprestasi tetap saya puji, tapi kalau ada yang salah tetap kita ketak. Sejak dulu, saya tidak berubah.

Selama saya di sini belum ada oknum BNN yang membekingi narkoba. Tapi memang harus dirangkul para anak buah karena saya di sini sebagai pemimpin.

Soal penindakan seperti pemberantasan narkoba contohnya di Kampung Ambon, Cengkareng kenapa berlarut-larut?

Masih. Itu masti menjadi perhatian kami. Dan, itu masih sampai lima tahun ke depan masih begitu.

Kendalanya apa?

Tidak ada kendala. Kendalanya tidak tahu.

Maksudnya tidak tahu?

Itu kan peredaran narkoba tidak ada yang tahu. Kalau ada yang tahu dan melaporkan pasti saya tangkap.

Tapi di Kampung Ambon itu kan banyak peredaran narkoba sampai sekarang?

Ya buktinya banyak juga ditangkap. Banyak berita-berita di Kampung Ambon ditangkap polisi dan BNN. Artinya kita perhatian ke sana. Kalau ada yang bertanya kok tidak selesai-selesai? Anda tidak mengerti sejarahnya. Itu sejarah panjang.

penggereberkan di kampung Ambon. Tak pernah usai.

penggereberkan di kampung Ambon. Tak pernah usai.

Ada isu yang mengatakan peredaran narkoba dibekingi para jenderal seperti peredaran ganja dari Aceh. Anda berani?

Itu kan bukan masalah berani atau tidak. Tapi, ada atau tidak? Kalau ada, saya tabrak. Loh, apa saja kita sandung di sana! Sekarang masalahnya yang membekingi narkoba itu ada atau tidak. Secara moralitas, belum pernah ada narkoba yang muncul membekingi narkoba.

Profil Anang Iskandar,

Bukan Orang Baru di BNN

Bisa dibilang, kesederhanaan begitu lekat dalam kepribadian Anang Iskandar. Polisi aktif berpangkat Komisaris Jenderal ini sejak kecil sudah terbiasa kerja keras. Ayahnya, (Alm) Suyitno Kamari merupakan seorang tukang cukur di sekitar jalan Residen Pamudji, Mojokerto. Karenanya, dia juga ahli memotong rambut.

Lulusan Akabri Kepolisian Tahun 1982 ini terbilang sebagai the rising star dalam mendulang karir. Meniti karir dari perwira menengah, Anang ditugaskan pada beberapa tempat seperti di Bali sebagai Kaplosek Kuta Bali hingga KP3 BIA Ngurah Rai Bali. Dia juga terbiasa dalam urusan kriminal selama menjabat sebagai Kasat Serse Tangerang Polda Metro Jaya hingga Kapolsek Pancoran Jakarta Selatan dan KA Unit VC Sat Serse Umum Dit Serse Polda Metro Jaya.

Di Jawa Timur, lelaki berkulit coklat ini dua kali menjabat Kapolres, yakni di Blitar dan Kediri di Jawa Timur hingga hijrah menjadi Kapolres Jakarta Timur. Dan, beberapa tahun kemudian, kembali lagi ke Jawa Timur sebagai Kapolwiltabes Surabaya.

Pada tanggal 28 Oktober 2011, Anang diangkat sebagai Kapolda Jambi kemudian tak sampai setahun dia dipercaya untuk menjabat Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Mabes Polri. Kemudian, dia ditunjuk sebagai Gubernur Akademi Kepolisian menggantikan Irjen Pol Djoko Susilo yang tersandung kasus dugaan korupsi di Korps Lalu Lintas Mabes Polri.

Tak lama, tepatnya 11 Desember 2012 lulusan Pasca Sarjana Universitas 17 Agustus Surabaya ditetapkan sebagai Kepala BNN oleh Presiden SBY menggantikan Komjen Pol Gories Mere. Meski baru seumur jagung, namun BNN bukanlah tempat baru baginya.

Pria kelahiran Mojokerto 18 Mei 1958 ini tokoh yang tak asing lagi bagi organisasi BNN. Anang pernah menjabat sebagai Kapus Cegah Lakhar BNN tahun 2008. Dia lalu, naik jabatan sebagai Direktur Advokasi Deputi Pencegahan BNN hingga 2010. Karenanya, wajar kalau lelaki yang hobi fotografi dan melukis ini memberi perhatian soal pencegahan, termasuk rehabilitasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s