Waspada Penyebaran Flu Itik

Transformasi flu burung menjadi flu itik di Indonesia bisa terduga sebagai bioterisme dari luar negeri. Kali ini, manusia dapat terlutar dan vaksinnya sendiri baru beredar medio Februari mendatang. Relawan Palang Merah Indonesia melakukan kampanye pencegahan pandemi flu H1N1 di Bundaran HI, Jakarta, Selasa (7/7).

Ranap Simanjuntak

Flu burung bikin heboh lagi. Sejak kali pertama diidentifikasi pada Oktober tahun lalu di Brebes, virus varian baru dengan clade (pengelompokan virus berdasarkan data genetik) 2.3.2 ini membuat kepanikan peternak unggas. Seperti kisah lama, ni juga bersubtipe H5N1. Namanya berubah menjadi flu itik.

Dalam tempo terbilang cepat, virus baru ini hingga minggu kedua Januari sudah menjangkit pada 11 provinsi dan 49 kabupaten/kota. Kementerian Pertanian (Kemenntan) mencatat, itik yang tewas terjangkit hingga 242.368 ekor. Sementara, Himpunan Peternak Unggul Lokal Indonesia (HIMPULI) menghitung total kerugian hingga Rp 17,5 miliar.

Apa perbedaan flu burung  lama, H5N1 clade 2.3.1 dengan flu itik, H5N1 2.3.2 ini? flu itik-sedang diteliti Ahli Mikrobiologi Medik Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Profesor Retno D Soejodoono menyampaikan, virus flu itik bukanlah mutasi dari virus flu burung. Ini katanya, karena perbedaan topografi pohon filogeni atau kartografi, meski keduanya ada hubungan evolusi dan kekerabatan antarvirus.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dari semua kasus di seluruh dunia dari 2003 hingga Desember 2012, sebagian besar kasus H5N1 adalah flu burung (clade 2.3.1) berjumlah 610 kasus dengan 360 kematian. Dengan angka fatalitas sebesar 59,02%. Lebih mengerikan, flu itik dapat menular kepada manusia. Sebab, dalam sejumlah kasus di luar negeri seperti Bangladesh (3 kasus), Cina termasuk Hongkong (5 kasus). Di mana, dalam 8 kasus tersebut, 3 diantaranya meninggal dunia. Beruntungnya, hal ini belum ditemukan di Indonesia.

Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, ada beberapa faktor yang ikut berperan untuk terjadinya penularan virus dari hewan ke manusia. “Dari sisi virusnya, ada sebagian virus yang memang dimungkinkan dapat hidup pada jaringan atau sel manusia dan jaringan atau sel binatang. Tapi juga juga ada virus tertentu yang hanya dapat hidup pada jaringan maupun sel binatang sehingga tidak menular kepada manusia,” tandas lelaki berkulit sawo matang ini.

Nah, dari sisi manusianya yang perlu dicermati seperti daya tahan tubuh merupakan seseorang dapat terjangkit atau tidak. “Untuk dapat terinfeksi virus dari hewan ada banyak faktor seperti daya tahan tubuh. Lalu, lamanya kontaminasi dengan virus serta dosis atau banyaknya virus yang mengkontaminasi,” jelas Tjandra.

Disamping itu, dia melanjutkan, pola hidup seperti kebersihan perorangan dan sanitasi lingkungan juga Disamping itu akan ikut mempengaruhi terjadinya penularan virus. “Kalau cuaca sejauh ini belum ada bukti ilmiah ada tidaknya hubungan dengan penularan virus. Untuk tanda-tanda manusia yang terjangkit seperti kasus di Cina adalah adanya demam tinggi, batuk, pilek yang disertai sesak nafas,” tuturnya.

Lalu, bagaimana mengidentifikasi itik yang sudah terjangkit? Tjandra menunjuk keterangan Kementerian Pertanian, bahwa ada tortikolis yakni itik akan berputar-putar, kemudian terjatuh. Itik juga mengalami kejang-kejang, sulit berdiri, warna selaput mata berubah menjadi putih, dan pada induk itik terjadi penurunan produksi telur.

Seperti pepatah lawas, mencegah lebih baik daripada megobati, cara menghindari clade 2.3.2 ini tak jauh beda dengan cara sebelumnya. Tjandra menjelaskan langkah pencegahan termudah adalah menghindari sedapat mungkin tidak kontak langsung dengan unggas seperti itik, terutama yang lagi sakit. Kalau terpaksa harus kontak dengan itik dan atau produknya maka diusahakan selalu menggunakan alat pelindung diri. Sedangkan bila memasak itik atau burung sebaiknya dipastikan sudah benar-benar matang.

Bagi yang memelihara unggas, sebaiknya memisahkan kandang dari rumahtempat tinggal. Pembersihan berkala secara rutin tak lupa menggunakan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan. Sebaiknya pula mengisolasi serta tidak memelihara itik bersama dengan ayam atau unggas lainnya berada dalam satu kandang.

“Nah kalau ada itik atau ayam yang sakit hingga mati mendadak segera melapor bila menemukan ke dinas peternakan setempat. Jangan lupa melaksanakan pola hidup bersih dan sehat dalam keluarga dengan salah satunya selalu mencuci tangan menggunakan sabun dengan cara yang benar,” pinta Tjandra.

Kemunculan tiba-tiba flu itik ini dimungkinkan berasal dari luar negeri. Clade 2.3.2 sendiri pertama terdeteksi pada 2005. Tahun lalu, virus ini dijumpai di sejumlah negara seperti Rusia, Mongolia, Bhutan, Bangladesh, Korea Selatan, Hongkong, Cina, dan Jepang. Indikasi penjalarannya bergerak dari Asia Selatan ke arah Asia Tenggara dan kawasan lainnya. Kemungkinan virus ini menyebar dibawa burung liar dan diperkirakan yang bermigrasi. Namun, sejumlah pendapat meyakini, peredaran di Indonesia dilakukan secara sengaja lewat perdagangan unggas.

Bahkan, saking hebohnya, virus baru ini diduga sengaja dimasukkan sebagai bentuk teror. Ketua Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Emil Agustiono menyebut penyebaran H5N1 clade 2.3.2 sebagai upaya bioterorisme guna menggoyang ketahanan pangan Indonesia. Sampa-sampai Badan Intelijen Negara (BIN) sedang mendalami dugaan ini. “Kita berkoordinasi dengan kementerian terkait karena itu sangat-sangat teknis jadi harus oleh ahlinya,” ungkap Kepala BIN, Marciano Norman

Di sisi lain, karena flu itik berbeda dengan flu burung maka vaksinnya pun tak sama. Kementan sendiri baru saja mengklaim sudah menemukan flu itik atau H5N1 clade 2.3.2 ini. “Kami sudah menemukan vaksin untuk flu itik jenis baru ini. Insya Allah awal Februari 2013 sudah diproduksi sebanyak 25 juta vaksin untuk jenis virus baru ini,” terang Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Syukur Iwantoro.

Hanya  saja masyarakat perlu menunggu sampai pertengahan Februari mendatang. Masalahnya, pembuatan vaksin itu memerlukan waktu 35 hari, sehingga vaksin flu burung baru bisa dibagikan kepada peternak kecil dan menengah. Sedangkan bagi peternak skala besar harus membeli sendiri produk vaksin buatan lokal ini. Pemerintah sendiri menargetkan memproduksi 75 juta dosis vaksin pada 2013, yang dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, virus flu itik ini akan diproduksi sebanyak 25 juta dosis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s