Perdagangan Indonesia-Cina 2013: Kita Akan Terus Defisit

Selain manufaktur, industri teksil Cina juga berjaya

Selain manufaktur, industri teksil Cina juga berjaya

Berikut wawancara denganWakil Ketua Bidang Perdagangan, dan Logistik KADIN soal prediksi perdagangan Indonesia-Cina tahun 2013 ini :

Natsir Mansyur, Cina menguasai Indonesia

Natsir Mansyur, Cina menguasai Indonesia

Bagaimana prediksi Anda soal perdagangan Indonesia-Cina tahun depan?

Saya kira defisitnya makin besar. Jangan berharap kita bisa surplus. Tahun ini saja defisit perdagangan kita dengan Cina sekitar US$ 12 miliar. Kita pernah pernah melakukan lompatan dengan melakukan revisi perjanjian kerja sama. Ada potensi yang perlu perlu dilakukan agreement dalam China dan ASEAN (China-ASEAN free trade area/CAFTA). Namun ternyata itu juga tidak maksimal. Misalnya dalam kesepakatan perdagangan sudah tercapai bahwa transaksi dengan Cina bisa menggunakan mata uang rupiah, bukan dollar. Tapi Cina malah tidak memenuhi. Dan, tidak ada sanksi atau pengawasan soal ini. Segmentasi pasar Cina ke Indonesia saya rasa akan semakin besar.

Defisit perdagangan Indonesia – Cina  dari tahun ke tahun makin melebar. Defisit neraca pembayaran Indonesia dalam beberapa triwulan terakhir melebar sampai 3,1% persen dari GDP. Hal itu terjadi karena menurunnya ekspor Indonesia dan juga derasnya angka impor.

Berbagai produk non migas Cina banjir di pasar domestik. Made in Cina dinilai lebih murah sekaligus punya kualitas bagus juga. Inilah yang menjadi alasan utama.

Dampaknya akan seperti apa?

Dampak perdagangan bebas semakin hari semakin nyata saja buat pebisnis dalam negeri. Ditambah krisis Eropa yang sedang terjadi. Tahun depan diperkirakan pertumbuhan perekonomian dunia belum bisa pulih dan bisa saja terus menurun. Tentunya prospek perekonomian Indonesia di masa mendatang juga akan terpengaruh. Apalagi Indonesia yang berpenduduk terbesar keempat di dunia

Saat ini, China mengalami kelebihan produksi akibat melemahnya permintaan pasar Amerika Serikat dan Eropa. Di sisi lain, perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dikhawatirkan dapat menekan laju ekspor akibat penurunan permintaan dari negara-negara yang menjadi pasar utama ekspor Indonesia. Kalau dibiarkan maka Indonesia bisa menjadi bangsa yang konsumtif. Lalu, ada fenomena pengusaha memilih menjadi pedagang karena lebih terbuka peluang impor.

Sektor apa yang paling besar?

Dengan dibukanya pasar bebas maka persaingan semakin kuat. Saat ini, sektor yang paling besar adalah manufaktur. Dalam lima tahun ini sektor manufaktur Indonesia lagi jelek dan kalah bersaing, sehingga Cina sebagai negara penghasil terbesar manufaktur memanfaatkan ini.

Tapi saya rasa ke depan semua sektor akan dikuasai produk Cina. Sementara Indonesia sendiri harus banyak impor bahan baku. Kita punya bahan baku seperti pasir, tembaga, bongkahan. Kalau lainnya harus impor. Bahkan, Indonesia sebagai negara agraris akan impor pangan seperti singkong.

Kenapa bisa?

Iya. Kita sudah impor singkong Rp 32 miliar juga dari Cina. Badan Pusat Statistik (BPS) bilang total impor singkong yang dilakukan Indonesia dari Januari hingga Oktober 2012 mencapai 13.300 ribu ton dengan nilai US$ 3,4 juta atau Rp32,3 miliar. Ini terjadi lantaran adanya ketidakseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan produksi pangan.

Singkong kita kekurangan, karena itu Departemen Pertanian harus bisa menggenjotnya. Bukan Cuma produksi singkong, tapi juga komoditas pangan yang lain. Kalau pangan sudah krisis wah sudah bahaya!

Kalau soal barang selundupan Cina?

Nah itu. Pasar bebas atau CAFTA bisa menjadi alas an terbukanya penyelundupan. Bahkan ini bisa menjadi semacam legalisasi. Pemerintah sendiri seperti tidak mengantisipasi dampak dari pelaksanaan CAFTA dengan membanjirnya produk-produk China di pasar dalam negeri. Pengendalian, pengamanan, dan perlindungan industri nasional masih jadi wacana saja.

Banyak kalangan pelaku industri dan dunia usaha di dalam negeri sudah menyatakan adanya revisi dan perlakuan khusus dalam kesepakatan CAFTA. Namun pemerintah sepertinya masih kurang melakukan gebrakan. Contohnya proses pengenaan pengenaan bea masuk anti dumping (BMAD) dan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) atau safeguard prosesnya bertele-tele. Birokrasinya terlalu panjang.

barang selundupan Cina gampang masuk

barang selundupan Cina gampang masuk

BMAD dan BMTP sudah diberlakukan beberapa tahun lalu, tapi hanya sedikit saja yang dikenakan terhadap barang impor. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat perlindungan atas pasar domestik. Terlebih bagi Cina yang kini menempatkan Indonesia sebagai tujuan relokasi pasar karena ekspor ke Eropa dan AS menurun drastis. Saya kira barang selundupan dari Cina juga masih ramai.

Apa yang perlu dilakukan pemerintah?

KADIN meminta pemerintah lewat Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperbesar kapasitas kerja Komite Pengamanan Perdagangannya (KPPI). Juga seharusnya ada kuota impor yang diberlakukan oleh Kemendag. Dalam sektor energi saya rasa Permen ESDM No.7 2012 sudah menjelaskan soal kegiatan hilirisasi. Sayangnya pengaturannya belum baik dalam mengatasi stagnasi kinerja ekspor komoditas itu.

Hal terpenting penguatan pasar domestik juga harus ditopang oleh keputusan pemerintah yang kuat. Regulasinya baru satu, yaitu Perpres Nomor 5 Tahun 2009 juga belum kuat di tengah gempuran barang-barang impor dari China sangat besar sekali.

Lalu peranan swasta atau pengusaha sendiri bagaimana?

Selama ini eksploitasi sumber daya alam sangat besar. Padahal kita juga punya kekayaan lain seperti pertumbuhan penduduk yang besar. Nah karena itu perlu itu juga diperhatikan investasi sumber daya manusia yang seperti diterapkan Cina. Jadi, perlu juga menggadeng mereka.

KADIN Komite Tiongkok sendiri sudah menggandeng Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam mengajak investor Cina bisa bersama-sama mengembangkan ekonomi kreatif. Misalnya dengan mengalihkan kerjasama perdagangan dan investasi dari yang berbasis komoditi ke pengembangan sumber daya manusia (SDM). Kreatifitas ini tidak perlu biaya mahal dan juga berkelanjutan. Perusahaan Cina juga bisa memanfaatkan tenaga kerja Indonesia.

Profil Natsir Mansyur:

Nama Natsir Mansyur dikenal dalam dua dunia sekaligus, yakni politik dan bisnis. Lelaki kelahiran Makassar, 1 April 1963 melakukan sinergi dalam memajukan perekonomian bangsa sekaligus terjun dalam dunia politik bersama Partai Golkar. Dia sebagai fungsionaris pengurus DPP Partai Golkar pernah mengusulkan jabatan Menteri Pemuda dan Olahraga selayaknya ditempati oleh pengusaha.

Natsir—demikian dia disapa—saat menjabat anggota Komisi XI DPR (periode 2004-2009) merupakan salah satu penggagas audit investigasi yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam kasus pemberian dana talangan ke Bank Century. Dengan adanya audit ini maka pengungkapan kasus Bank Century sempat ramai meski hingga kini belum selesai. Natsir sendiri mengungkapkan, penanganan Bank Century menunjukkan lemahnya sistem pengawasan dari Bank Indonesia. Bahkan, dia yakin adanya kriminal yang dilakukan oleh pengelola Bank Century.

Kemudian, Natsir ditunjuk menjadi Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik pada 2010 untuk masa lima tahun. Alumnus Universitas Hasanuddin berkeinginan perdagangan yang sehat, kompetitif, dan berkeadilan bagi Indonesia baik dalam negeri maupun dalam kancah internasional.

Ayah tiga anak ini mewanti-wanti imbas negatif globalisasi, terlebih terbukanya kran perdagangan bebas seperti ASEAN Economic Community tahun 2015. Hal ini membuat persaingan akan semakin sengit dan NAtsir berharap pemerintah mau serius terlebih dahulu melindungi kepentingan Indonesia. Baginya, kebijakan pemerintah saat ini terlalu liberal dan tidak mengamankan pasar domestik. Pemerintah juga sering membuat kebijakan sendiri tanpa koordinasi dengan pengusaha.

Suami dari Sri Widoyanti  juga berharap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bisa menjadi salah satu mediasi atau bahkan penyelesaian masalah. Kadin, tambahnya, senantiasa mendorong pemerintah menerbitkan regulasi seperti Undang-Undang Perdagangan dan peraturan terkait lainnya untuk lebih berpihak pada dunia usaha nasional.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s