Lampu Kuning Blok Mahakam

blok mahakam

Hasrat Pertamina menjadi operator Blok Mahakam kembali tertunda. Rebutan pun masih menjadi perdebatan. Sejumlah pihak merasa terkatungnya kepastian siapa yang menjadi operator lantaran benturan kepentingan.

Ranap Simanjuntak

Entah apa yang ada di dalam benak Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini? Desember lalu, alumnus Teknik Perminyakan dari Institut Teknologi Bandung mengeluarkan sekelumit optimisme soal nasionalisasi Blok Mahakam. Ladang minyak dan gas (migas) di lepas laut Anggana, Kalimantan Timur itu pengelolaannya bakal diambil negara lewat perusahaan pelat merah; PT Pertamina (Persero), setelah kontrak Total E&P Indonesie berakhir pada 2017.

Memang menurut aturan, lima tahun sebelum kontrak berakhir, pemerintah harus mengeluarkan keputusan apakah memperpanjang lagi kontrak atau mengambil alih. Artinya, 2012 merupakan tenggat waktu keputusan tersebut. Di mana, masa lima tahun menjadi waktu persiapan pengelola baru untuk mempersiapkan diri.

Namun secara mengejutkan Kementerian ESDM kemudian melansir akan lebih memprioritaskan soal pengembangan Blok East Natuna di Kepulauan Riau ketimbang kelanjutan Blok Mahakam.

Rudi Rubiandini melontarkan penegasan kalau keputusan pihak yang bakal mengelola Blok Mahakam setelah 2017 belum diputuskan. “Pemerintah belum memutuskan, namun prioritas akan diberikan kepada pengelola yang mampu menguntungkan Indonesia, baik itu perusahaan milik negara maupun asing,” kilah mantan Deputi Pengendalian Operasi BP Migas itu.

Bisa dipastikan terkatungnya kepastias siapa operator Blok Mahakam hingga memasuki kuartal kedua tahun ini. Kementerian ESDM, lanjut Rudi, hingga Maret 2013 bersama Kementerian Keuangan akan memfokuskan merampungkan pengembangan Blok East Natuna. “Jadi, dari prioritas, ya East Natuna yang diurus dulu. Mahakam nanti,” tutur Rudi.

Dia menambahkan, pemerintah kudu hati-hati dalam memutus kontrak perusahaan asing, terlebih bila dirasa secara sepihak. Alasannya, iklim investasi di sektor energi dan sumber daya mineral akan tergganggu. “Pada 2011, investasi di sektor energi dan sumber daya mineral mencapai 27 milyar dolar AS dan dari setiap tahun selalu meningkat, hal ini harus kita jaga. Blok East Natuna itu cadangan gasnya 46 trillion cubic feet (tcf), bandingkan dengan Arun sebanyak 17 tcf, Tangguh 11 tcf, sedangkan Mahakam yang habis kontrak pada 2017 itu tinggal 2 tcf,”sebutnya.

Hal ini tentu saja menjadi lampu kuning bagi Pertamina menguasai ladang migas yang awalnya seluas 16.870 kilometer persegi  dan kini tersisa 4.008 kilo meter persegi. Vice President Corporat Communication Pertamina Ali Mundakir sebelumnya telah menyatakan siap untuk mengambil alih Blok Mahakam. “Dengan mekanisme tersebut maka selanjutnya Pertamina tetap bisa mengakomodir keinginan operator dan pemegang participating interest (PI) saat ini dengan melakukan share saham,” tuturnya.

Namun dia mengeluhkan tumpang-tindihnya aturan pemerintah pusat dan pemerintah daerah (pemda) mengenai pengelolaan lapangan migas di Blok Mahakam. Ali memaparkan, sejumlah regulasi masih kerap tumpang-tindih. Hal ini yang memicu gagalnya usaha dalam mengelola lapangan migas tersebut. “Kami rasa masih cukup sulit karena aturan di Pemda dan di pemerintah pusat itu kadang berseberangan. Terkadang izin di pusat sudah ada namun yang di Pemdanya malah sulit,” tukasnya.

Sementara General Manager Pertamina EP Region KTI (Kawasan Timur Indonesia), Satoto Agustono menyatakan optimistis soal SDM dan kemampuan infrastruktur yang dimiliki Pertamina saat ini. Baginya, Pertamina sanggup mengelola blok yang menyimpan potensi gas bernilai Rp1.000 triliun tersebut.

Di lain sisi, Total E&P Indonesie sendiri juga menyatakan berhasrat memperpanjang kontrak. Pada 2008 lalu, perusahaan asal Perancis ini sudah mengajukan proposal perpanjangan kontrak, namun belum disetujui. Karenanya mereka mengingkan kepastian. “Kita ingin kepastian sehingga planning-nya bisa kita tentukan dari sekarang,” sebut Executive Vice President (EVP) Operations and East Kalimantan District Manager Total Hardy Pramono.

Total E&P Indonesie sendiri memperkirakan target produksi kondensat di Blok Mahakam tahun ini hanya 66.000 barel oil equivalent per day (boed). Sementara produksi gas, bakal naik lantaran Total telah berhasil mengembangkan Blok South Mahakam sejak 2007 lalu. Karenanya, pengembangan sumur-sumur baru dan kegiatan maintenance akan terus dilakukan. Sehingga, perusahaan menggelontorkan investasi setidaknya US$2 miliar per tahun untuk kegiatan operasional tersebut. “South Mahakam, misalnya, kita start-up untuk kompensasi decline di 2012–2014, tetapi, ya itu kita butuh kepastian,” tandasnya.

Sementara peluang mendapatkan jatah Blok Mahakam juga dilontarkan oleh pemerintah daerah (Pemda) Kaltim. Lewat hak partisipasi (participating interest), pemerintah daerah bisa menggenggam saham dalam pengelolaan Blok Mahakam. Dengan rincian, jumlah pendapatan yang bisa diperoleh, dari minyak saja, 10% saja bisa mengantongi Rp 9,8 triliun. Beberapa skenario sempat terlontar seperti kepemilikan oleh Pertamina 51%, , Total 30%, dan BUMD 19%. Skenario lainnya, skema Pertamina 50%, Total dan BUMD masing-masing kecipratan 25 %.

Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengatakan, wajar bila daerah dalam hal ini Pemprov Kaltim dan Pemkab Kukar mendapat bagian lebih. Dengan kalkulasi Pemprov dan Pemkab Kukar, dengan BUMD dan joint venture masing-masing, telah menyiapkan skema. Hak partisipasi yang didapat akan dibagi 60 persen untuk Kukar dan 40 persen provinsi. Pemprov diwakili PT Migas Mandiri Pratama yang menjalin patungan dengan PT Yudhistira Bumi Energi, Kukar melalui Perusda Tunggang Parangan.

Dengan terhambatnya siapa operator pengelolaan lanjutan Blok Mahakam ini disinyalir adanya intervensi asing. Marwan Batubara, pengamat migas menilai alasan prioritas, itu hanya merupakan cara pemerintah mengalihkan isu agar Blok Mahakam tidak jadi diambil alih PT Pertamina. “Perdana Menteri Prancis tidak perlu repot datang ke Indonesia pada 2011 untuk meminta perpanjangan kontrak bagi Total E&P, jika memang potensi di lapangan tersebut sangat kecil,” terangnya.

Sedikit cerita, Japex Indonesia (kini Inpex), adalah yang pertama kali mendapat hak kelola Blok Mahakam pada Maret 1967. Tiga tahun kemudian, Total E&P Indonesie masuk dan mendapat 50%  saham berikut pengelolaannya. Kontrak pertama berdurasi 30 tahun dengan Inpex dan Total berakhir pada 1997 dan sejak itu perusahaan gas asal Jepang Inpex Corp turut memiliki hak partisipasi dengan porsi saham sebanyak 50%. Perpanjangan kontrak selama 20 tahun pun kemudian disetujui pemerintah tatkala Soeharto baru beberapa minggu menjadi Presiden ke-2 RI. Blok Mahakam ini dipercaya memiliki cadangan gas sebesar 27 tcf. Sejak dieksploitasi perdana pada 1974 silam hingga 2012 lalu, blok tersebut telah menghasilkan sekitar 75% dari cadangan.

Menurut informasi, cadangan di Blok Mahakam saat masa kontrak habis pada 2017, yakni minyak tersisa 52,2 juta barel dan gas minyak 2,03 tcf. Namun  Belakangan tersiar kabar, cadangan tersebut masih berkali-kali lipat jumlahnya. Itulah yang membuat PT Total E&P Indonesie masih betah di Blok Mahakam.

Pengamat migas, Kurtubi sendiri menilai pengungkapan data soal penurunan produksi di Blok Mahakam hanylaha strategi agar tidak ada perusahaan migas yang berminat mengelola blok tersebut. Dirinya meyakini, cadangan di Blok Mahakam itu masih sangat besar, dengan perkiraan sekitar 12,5 tcf. “Bahkan, ada peneliti yang menyatakan cadangan gas di Blok Mahakam masih bisa lebih dari itu, dan nilainya bisa lebih dari Rp 1.000 triliun,” katanya.

Namun ungkapan ini langsung disanggap Wamen ESDM. “Mahakam yang ketika habis nanti 2017 nggak sampai 2 triliun tfc. Jangan percaya sama Kurtubi, maupun Marwan bahwa kita punya 12 tfc. Jangan percaya! Itu bohong! Hanya kira-kira tinggal 2 tfc saja,” pungkas Rudi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s