Konflik Perbatasan Laut Cina

rebutan wilayah

rebutan wilayah

Perbatasan wilayah laut Cina makin meruncing. Negara ekonomi terbesar kedua itu berhadapan dengan beberapa negara Asia, termasuk ASEAN.

Ranap Simanjuntak

Pesawat taktis: F-15 langsung melayang-layang di udara Kamis pagi pekan lalu, sekitar pukul 11.00 waktu Jepang. Delapan Jet tempur itu segera menghadang sebuah pesawat non-militer milik pemerintah Cina memasuki wilayah Kepulauan Senkaku atau yang disebut Cina sebagai Diayou. Tak lama, F-15 berhasil menggiring pesawat adsminitrasi kelautan milik Negeri Tirai Bambu itu keluar dari pulau yang beberapa bulan ini menjadi sengketa kedua negara.

Aksi cegat itu membuat Negeri Matahari Terbit memanggil memanggil Duta Besar Cina untuk sebagai layangan peringatan protes resmi. Namun hal ini dianggap cina sebagai perihal biasa. Pesawat Cina tersebut menyatakan dirinya berada di wilayah udaranya. “Kepulauan Diaoyu adalah bagian dari wilayah kami, jadi adalah normal bila ada pesawat kami berada di wilayah udara kepulauan itu,” kata Juru bicara Kementerian Lur Negeri Cina, Hong Lei.

Jumat (14/12/2012) empat Cina kapal terlihat berlayar ke perairan teritorial kepulauan disengketakan. Kapal-kapal pengawasan maritim itu memasuki zona 12-mil laut di sekitar Kubashima, salah satu pulau di gugus yang disebut Senkaku oleh Jepang sejak dua bulan lalu.

Rebutan klaim wilayah di Laut China Timur ini makin buruk sejak September lalu. Kala itu, pemerintah Jepang mengklaim membeli pulau-pulau Senkaku dan melakukan nasionalisasi. Namun Beijing menyebut wilayah sengketa itu miliknya. Bahkan Menteri Luar Negeri Cina Yang Jiechi menetapkan Diaoyu sebagai “wilayah suci” yang sudah ada sejak jaman purbakala.

Pulau tersebut terletak di dekat daerah penangkapan ikan, yang kaya dan berpotensi besar cadangan gas dan menurut Cina sebagai salah satu wilayah kedaulatan mereka. Aksi pembelian Jepang dari pihak swasta dinilai melanggar ketentuan. “Pembelian tersebut melanggar kedaulatan wilayah kami dan tugas pemerintah adalah untuk menjaga kedaulatan wilayahnya,” ungkap Yang.

Beijing sendiri kemudian menerbitkan buku putih tentang Kepulauan Diaoyu yang memberi penegasan kalau gugusan pulau di Laut China Timur tersebut bagian tak terpisahkan dari wilayah kedaulatan china. Disebutkan,  Jepang telah mencuri Diaoyu. Buku putih tersebut juga menyatakan Cina dengan tegas melawan dan akan melakukan berbagai uapaya. “Pendirian Cina mengenai masalah Pulau Diaoyu tegas dan konsisten, tekad China membela kedaulatan dan keutuhan wilayahnya teguh tak tergoyahkan, tekad China membela hasil kemenangan perang antifasis sedunia sedikit pun tidak kendur,” demikiian sepenggal kalimat dalam buku tersebut.

Hubungan kedua negara sedianya memburuk sehingga protes Anti-Jepang di kota-kota besar Cina. Terlebih Kamis lalu merupakan peringatan 75 tahun peristiwa kelam Pembantaian Nanjing (dulu ibukota Cina), yakni pembantaian oleh Kekaisaran Jepang.

Akibatnya, perekonomian bisnis dua raksasa Asia itu terganggu. Misalnya tiga produsen mobil terbesar Jepang mengaku produksinya di Negeri Tirai Bambu  merosot drastic. Hingga akhir kuartal IV tahun ini, Toyota produksinya berkurang 61%, Nissan kekurangan produksi sebesar 44%, dan Honda turun sebanyak 54%.

Namun konflik wilayah ini sepertinya bakal panjang. Cina harus  menahan diri bila memaksakan kehendak sebab AS bakal membantu kalau sekutunya di Asia Timur itu diserang secara militer. Jepang bisa berlindung mendapat bantuan AS atas Pakta Keamanan Bersama yang ditandangani pada 1960. Kerjasama itu sebagai pengganti Perjanjian Keamanan Bilateral 1951 dan tiang fondasi yang dianggap sebagai paling penting dari Lima Aliansi Perjanjian Amerika Serikat di Asia.

Cina Diserbu

Bukan hanya dengan Jepang, Cina bersengketa, melainkan dengan India. New Delhi menuding Beijing menduduki secara tidak sah sebagian besar wilayah India di Jammu dan Kashmir. Beijing juga mengklaim sekitar 60.000 km persegi wilayah di negara bagian Arunachal Pradesh di timur laut India yang berbatasan dengan Tibet.

Ketegangan makin menjadi sehingga baru-baru ini dua menteri luar negeri dari masing-masing negara menggelar pertemuan. Sayangnya tidak banyak kemajuan dari pembicaraan kedua negara tersebut. “Saya tidak melihat kemajuan sama sekali. Kenyataannya, Cina telah mempertegas sikapnya. Terdapat lebih banyak pencaplokan perbatasan dan kehadiran angkatan laut Cina meningkat di Samudera Hindia,” dikatakan mantan Menteri Luar Negeri India Lalit Mansingh.

Rebutan wilayah ini sebenarnya sudah berlangsung lama. Pembahasan secara diplomasi juga sudah beberapa kali digelar. Perwakilan Beijing-New Delhi pertama kali berlangsung pada 2003, setelah mantan Perdana Menteri India Atal Bihari Vajpayee dan Presiden China Hu Jintao menyepakati paradigma baru untuk menyelesaikan sengketa perbatasan kedua negara. Toh hasilnya tetap buntu.

Akhir pekan lalu, Kepala Angkatan Laut India Laksamana Devendra Kumar Joshi mengungkapkan, pasukannya siap berlayar ke perairan sengketa guna melindungi kepentingan ekonomi – minyak dan gas bumi – di Laut Cina Selatan. Di mana, kepentingan bisnis New Delhi beradadi tiga blok minyak lepas pantai yang dimiliki sebagian oleh Oil and Natural Gas Corp. (ONGC), semacam BUMN India, di tepi laut Vietnam yang salah satu blok tersebut sudah menghasilkan minyak mentah.

Seementara Cina keras hati kalau lokasi dua blok di Cekung Phu Khanh dan mengatakan bahwa blok tersebut tidak berada di dalam 200 mil laut  atau 370 km zona ekonomi eksklusif (ZEE) Vietnam. Sejatinya India mendukung Hanoi dan mengutip Konvensi PBB tentang Hukum Laut [UNCLOS] tahun 1982 untuk bekerja di blok tersebut.

Di sisi lain, Cina terus mengklaim kekuasaan territorial di Laut Cina Selatan dengan mengeluarkan paspor yang menunjukkan peta, di mana tertera juga Arunachal Pradeshh, sebagian wilayah Jammu dan Kahsmir serta beberapa pulau yang disengketakan. Kebijakan ini menuai protes sekaligus meningkatkan  ketegangan hubungan bilateral Cina dengan beberapa negara ASEAN seperti Filipina, Vietnam, Brunei serta Taiwan yang diklaim Cina pula sebagai kedaulatannya.

Negara-negara yang bersengeta dengan Cina itu lalu kompak tak bersedia memberikan stempel pada paspor warga Cina yang datang berkunjung. Hal ini sebagai sikap bahwa mereka tak menyetujui peta baru yang menurut mereka dibuat sepihak tersebut. India bahkan bereaksi lebih keras dengan memberikan visa yang mencantumkan peta versi India kepada  warga negara Cina yang datang ke India.

Dewasa ini, Vietnam akan menambahkan kapal pengawas pada wilayah laut China Selatan. Patroli baru diberi kewenangan menangkap awak dan mengenakan denda pada kapal-kapal asing di dalam zona ekonomi Vietnam sejak 25 Januari tahun depan. Hal itu, karena perusaahan negara Vietnam, PetroVietnam menyebut beberapa kapal nelayan Tiongkok memotong kabel salah satu kapal eksplorasinya di Laut China Selatan.

konflik laut cina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s