Asia Kuasai dunia

Benua Kuning atau negara-negara Asia mulai meningkatkan PDB. Kebangkitan Cina dan India berhasil merangsang pertumbuhan ekonomi tetangganya yang masih berkembang. Akan Asia  bakal menjadi raja baru?

Ranap Simanjuntak

 

Kabar gembira kali ini datang dari belahan Asia. Dewan Intelijensi Nasional AS (National Intelligence Council /NIC) baru saja merilis laporan setebal 137 halaman yang berisi bangkitnya kekuatan negara-negara Asia. Dimotori Cina dan India, dalam dua dekade ke depan, Asia bisa melalap AS dan Eropa perihal perekonomian.

“Cina saja mungkin akan menjadi ekonomi terbesar, menyalip Amerika Serikat beberapa tahun sebelum 2030. Sementara, Eropa, Jepang dan Rusia kemungkinan besar bakal melanjutkan pelambatan penurunan berkelanjutan,” demikiansepenggal  isi laporan bernama Global Trend 2030 yang terbit Senin pekan lalu tersebut.

Laporan intelijen yang terbit tiap empat tahun sekali dan beriringan dengan masa kedua jabatan Barrack Obama itu dengan gamblang menempatkan Asia sebagai super power ekonomi baru di dunia. Disebutkan, kekuatan menyeluruh Asia dan akan memiliki lebih besar ketimbangAS dan Eropa berdasarkan ukuran jumlah populasi, produk domestik bruto (PDB), anggaran militer, dan investasi di bidang teknologi.

Geliat negara berkembang juga akan nyata. Beberapa negara negara agraris seperti Indonesia bakal mengeruk untung dari penyerapan teknologi. Adalah tantangan perubahan iklim yang membuat permintaan atas pangan dan energi melonjak. Menurut NIC, pertambahan penduduk dibarengi pendapatan per kapita menyebabkan kenaikan permintaan atas air hingga 35%, pangan 40%, dan energi mencakup 50%. Di mana, Cina dan India akan bergantung pada impor pangan. Akibatnya, harga pangan di pasar internasional terus naik. Dan, keluarga ekonomi rendah yang keslitan makan dapat menyulut ketegangan sosial.

Kembali pada naiknya kekuatan Asia, Analisis NIC juga diperkuat dengan survai oleh raksasa property, Knight Frank dan Citi Private Bank. Negara-negara di Asia seperti Singapura, Hong Kong, Taiwan dan Korea Selatan diproyeksikan akan menjadi perekonomian terkaya di dunia secara per kapita pada 2050. Hal ini disebabkan pertumbuhan kawasan yang cepat. Alhasil multi-jutawan Asia akan terus melebihi jumlah orang kaya di Amerika Utara dan Eropa Barat pada 2050.

Negara di kawasan Asia pada perkiraan PDB di tahun 2050 menempatkan Singapura di bagian teratas dengan mencapai US$ 137.710. Disusul Hong Kong (US$ 116.639), Taiwan (US$ 114,093) dan Korea Selatan (US$ 107.752), dan Abang Sam pada posisi kelima, jatuh dari posisi ketiga terjadi pada 2010.

Padahal, bila menengok hasil dua tahun lalu, Taiwan dan Korea Selatan bahkan tidak masuk dalam 10 besar. Dua negara ini memang sedang menuju arah perbaikan. Misalnya pertumbuhan ekonomi Taiwan pada kuartal III tahun ini tumbuh tumbuh 1,02% dari  periode yang sama tahun lalu. Nilai tukar dolar Taiwan juga menguat 2,5% dalam 3 bulan terakhir dan menjadi salah satu yang terkuat dari 11 mata uang Asia yang paling banyak diperdagangkan. Sementara Korea Selatan makin menancapkan taring dengan kebijakan ekonomi kreatifnya. Melonjaknya ekspor, khsususnya kendaraan roda empat dan produk logam membuat Negeri Giinseng ini surplus neraca berjalan. Pada September lalu, negeri ini mencetak nilai surplus hingga US$6,07 miliar.

Dalam hal transportasi Asia juga bakal menggurita. Catatan perkiraan Airbus mengatakan, maskapai penerbangan di Asia Pasifik akan menerima sekitar 9.370 pesawat baru dalam 20 tahun ke depan. Pengiriman bernilai 1,3 triliun dollar AS ini mencakup 34 persen dari total pesawat baru, dengan kapasitas di atas 100 kursi, yang akan melayani seluruh dunia dua dekade mendatang. “Asia Pasifik bakal menyalip wilayah Amerika Utara dan Eropa sebagai pasar transportasi udara terbesar di dunia,” ungkap Chief Operating Officer Customers Airbus, John Leah.

Ya, optimistis negara berkembang merupkan kunci sukses kedigdayaan negara-negara di Asia di masa mendatang. Pada survai di 25 negara oleh BBC World Service terdapat hasil bahwa warga negara maju lebih pesimistis sementara warga negara berkembang lebih bersemangat.

Dr umar Juoro, Peneliti Centre for Infomation and Development Studies, (CIDES) sekaligus anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) secara spesifik memang menilai kelesuan negara-negara maju seperi AS. Menurutnya, negara itu sedang mengalami double defisit, yaitu defisit anggaran pemerintah dan defisit dalam neraca berjalannya.

“Produk-produk Amerika Serikat juga sudah tidak kompetitif lagi di pasar dunia, apalagi perusahaan-perusahaan ternama Amerika Serikat praktis sudah menggeser kegiatan manufakturing ke negara-negara lain, terutama Cina,” jelasnya seperti  dikutip BBC.

Di belahan negara maju lainnya, Eropa, dewasa ini mengalami masa suram sejak bergulirnya krisis Yunani. Bahkan, Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) mengeluarkan perkiraan bahwa negara-negara pemakai mata uang euro memasuki resesi. OECD memaparkan, krisis utang menjadi ancaman terbesar perekonomian dunia.

Inggris sebagai pemimpin Eropa saja mengalami masa suram dengan naiknya tingkat pelemahan ekonomi. Pemerintah Koalisi Inggris bahkan melakukan pemotongan US$ 131 miliar selama lima tahun guna mengurangi defisit anggarannya. OECD melansir ekonomi Inggris dan negara-negara pemakai euro akan mengalami penyusutan sekitar – 0.1% tahun ini. Dan, diprediksi meningkat -0,4% kuartal I tahun depan.

Meski berbagai prediksi kenaikan Asia, khususnya Cina sebagai pemimpin ekonomi dunia baru, namun tantangan masih banyak. Seperti diungkapkan, Kepala Riset residential Inggris di Knight Frank, Grainne Gilmore, bahwa pertumbuhan PDB yang cepat tidak secara otomatis menjamin peningkatan tajam dalam kekayaan bersih individu. “Pertumbuhan ekonomi yang cepat memberikan kesempatan penting untuk penciptaan kekayaan skala besar,” dia menuturkan.

Predikat adidaya ekonomi baru dunia oleh Cina juga masih sulit diraih. Alasannya,  pasar dunia yang dikuasai Cina sudah mulai melakukan proteksi-proteksi. Bila di wilayah Asia terus meningkat, maka akan banyak negara yang berpaling pada AS. ”Cina bisa menjadi musuh terbesar bagi dirinya sendiri”, kata Mathew Burrows penyusun laporan NIC itu.

 

 

TABEL 1

PERBANDINGAN CINA DAN AS (2011)

–       Amerika Serikat

GDP: US15,09

Penduduk: 311,6 juta

GNI per kapita: US$48.450

 

–       Cina

GDP:7,318 triliun

Penduduk: 1,344 miliar

GNI per kapita: US$4.904

 

TABEL 2

PROSENTASE PERTUMBUHAN EKONOMI BARU ASIA

Negara

2010

2011

Cina

10,4

9,3

India

8,8

7,7

Rata-rata Negara Asia Berkekuatan Ekonomi Baru

9,5

 

8,2

 

TABEL 3

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 6 Negara ASEAN

Negara

2010

2011

Proyeksi 2016

Rata-rata 2003-2007

Proyeksi Rata-Rata 2012-2016

Indonesia

6,1

6,3

6,9

 

5,5

6,6

Malaysia

7,2

4,6

5,6

 

6,0

5,3

Filipina

7,3

4,5

5,1

5,7

4,9

Singapura

14,5

5,6

4,8

7,5

4,6

Thailand

7,8

2,5

4,9

5,6

4,5

Vietnam

6,8

5,9

6,7

8,1

6,3

Rata-rata enam negara

7,6

5,0

5,9

6,1

5,6

 

Sumber : OECD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s