BERTABUR CAHAYA, DIWALI ALIAS DEEPAVALI MENYIHIR DUNIA

Tulisan ini ada di majalah SINDO Weekly edisi 38 (22-28 November 2012)

Tulisan ke -1

Diwali, Pesta Cahaya untuk Semua

foto : kompasiana-bertabur cahaya atas kemenangan

Diwali merupakan festival bagi semua kelompok etnis di India. Jutaan cahaya lampu, aneka makanan, dan pembelian emas meningkat. Meski transaksi tidak sebanyak tahun lalu, mereka tetap merayakan kemenangan kebaikan atas kegelapan.

Oleh :  Bona Ventura

Selama lima hari di pekan kemarin, cahaya warna-warni menerangi jalanan di India. Lampu minyak dari tanah liat (diya) ditempatkan di sepanjang kusen dan pintu rumah. Beberapa toko memasang bola lampu kecil. Para perempuan, baik di kota maupun desa, pergi dari rumah ke rumah, menampilkan kerajinan tangan nan indah. Terbuat dari bubuk berwarna-warni dan bunga.

Mereka percaya, cahaya lampu dan rumah bersih yang dihias indah akan dikunjungi Lakshmi, Dewi Kekayaan, Kemakmuran, dan Kedermawanan dalam agama Hindu. Dewi Lakshmi adalah pasangan Dewa Wishnu, berinkarnasi menjadi Sinta, istri dari Rama.

Dalam keyakinan Hindu, deretan cahaya itu sebagai perayaan kembalinya Rama dan Sinta setelah berperang melawan Rahwana, raja jahat berkepala sepuluh. Barisan cahaya tersebut menandakan kemenangan terang atas gelap. Masyarakat India menyebutnya Diwali atau Deepavali, kini dikenal sebagai Festival Cahaya.

Diwali dirayakan dalam Sharad Purnima—bulan penuh—pada Ashvina Amavasya, sekitar Oktober atau November tiap tahunnya. Selama satu malam saat bulan purnama, umat Hindu India percaya Dewi Lakshmi akan memberikan kekayaan. Mirip tradisi Natal di Barat, saat orang-orang menghiasi rumah dan membuka cerobong asap, menanti Sinterklas membagikan hadiah.

Diwali juga menandai awal Tahun Baru Hindu. Banyak bisnis di India memulai tahun buku baru pada liburan Diwali. Seperti hari raya agama lain, selama Diwali, mereka mengenakan pakaian baru, menyajikan hidangan manis, dan berbagi makanan dengan keluarga dan teman-teman. Tapi, ada yang menarik dari Diwali. Dua hari sebelum perayaan, orang-orang membeli perhiasan dan barang-barang berharga dari logam. Hari itu dikenal sebagai Dhanteras.

Mengutip World Gold Council (WGC), pada festival Diwali tahun lalu, permintaan emas di India mencapai 933 ton atau 32% dari permintaan emas dunia. Begitu pula tahun ini, kendati harga emas lebih tinggi ketimbang 2011. Arendra Thakur, perwira di Angkatan Laut India, merogoh kocek hingga 250 ribu rupee untuk membeli perhiasan emas kepada istri dan anak perempuannya di toko perhiasan di Mumbai. “Harga memang lebih tinggi dari tahun lalu. Tapi saya tidak bisa melupakan tradisi tahunan membeli emas untuk pesta Diwali,” katanya, seperti dikutip The National.

Lemahnya nilai tukar rupee terhadap dolar Amerika Serikat, membuat harga emas di India melonjak tajam, yaitu 32 ribu rupee per 10 gram dibandingkan festival tahun lalu, sebesar 27 ribu rupee. Kenaikan harga emas membuat pedagang cemas. Salah satunya, Dheeraj Jain, pemilik toko Surana Gold di Mumbai. “Harga tinggi, pelanggan jadi ragu untuk membeli emas sekarang,” ujar dia.

Bila pembelian emas tahun lalu marak dua hari jelang festival, kini transaksi lebih banyak saat festival berlangsung dan setelah Diwali. Kepala logam mulia di Emirates National Bank of Dubai, Gerhard Schubert, berujar tingginya harga emas membuat kendurnya permintaan pada festival Diwali 2012. Data WGC mengatakan investasi emas dan permintaan perhiasan di Negeri Anak Benua jatuh ke 181,3 ton pada kuartal kedua tahun ini, turun dari 294,5 ton selama periode yang sama tahun lalu. Hal ini tidak lepas dari fluktuasi rupee dan tekanan inflasi di India.

Bukan Hanya Umat Hindu

Schubert berharap festival Diwali 2012 dapat mengembalikan daya beli emas warga India. “Kekuatan membeli India memang belum sebaik sebelumnya. Tetapi Diwali bisa menjadi kantong permintaan emas dunia,” katanya. Asa yang juga dinanti pedagang emas internasional, termasuk Dheeraj, mengharap yang terbaik datang bagi pedagang emas. Pasalnya, India merupakan konsumen perhiasan emas terbesar di muka bumi. Festival Diwali memberi dampak signifikan terhadap penjualan emas secara fisik.

foto : tempo.co

Selain umat Hindu, festival Diwali juga dirayakan agama Jain di India. Bagi penganut Jainisme, Diwali menandai ulang tahun pencapaian Guru Mahavira ke nirwana pada 527 SM. Festival ini jatuh pada hari terakhir bulan Ashvin, akhir tahun kalender India. Perayaan dimulai sejak pagi hari hingga malam Diwali. Ketika itu, Mahavira melakukan khotbah terakhirnya dan sebanyak 18 raja-raja di India Utara menghadirinya. Mereka memutuskan cahaya pengetahuan Mahavira harus tetap hidup secara simbolis dengan pencahayaan dari lampu.

Peristiwa itu disebut Diwalior Dipavali, yang disusun oleh Acharya Jinasena dalam kitab Harivamsha Purana. Namun, Diwali bukan sekadar menyalakan lampu. Lebih dari itu, umat Jain harus menyalakan lampu internal mereka, membangkitkan cahaya batin sebagaimana diajarkan Guru Mahavira.

Sementara bagi umat Sikh, Diwali mempunyai makna khusus. Pada abad ke-16, kaum Sikh berkumpul di Kota Amritsar menentang rezim Dinasti Mughal dengan merayakan Diwali. Keajaiban pun menghampiri Guru Hargobind yang bebas usai ditahan di bawah Pemerintahan Kaisar Mughal, Jahangir. Warga Sikh kemudian menyalakan cahaya di Kota Amritsar. Karena itu, Diwali menjadi festival bagi seluruh kelompok etnis di penjuru India. Di seluruh negeri, sekolah dan perkantoran ditutup untuk liburan, seraya berucap, “Happy Diwali.”

 

Tulisan ke-2

Perayaan Kemenangan Sampai Pelosok Dunia

Kemegahan Diwali dirayakan hingga seantero dunia. Beberapa pemimpin negara bahkan memberikan apresiasi khusus. Namun, perayaan umat Hindu ini ternyata sepi di Indonesia.

Oleh :  Ranap Simanjuntak

Pesta warna-warni Deepavali atau lebih dikenal dengan sebutan Diwali telah menyulap seantero dunia. Festival dengan tampilan cahaya yang meruah ini diperingati di seluruh dunia seperti Kanada, Trinidad, Guyana, Inggris Raya, Fiji, Amerika Serikat (AS), Mauritius, Australia, Nepal dan negara-negara lainnya.

Diwali merupakan akumulasi perayaan beberapa agama seperti Dharmik–Hindu, Sikh, Jainisme, dan Buddhisme. Selama tiga hari, tempat jalannya perayaan bakal megah dengan festival lampu yang berwarna-warni. Dari gedung eksekutif Eisenhower di Gedung Putih, kemeriahan Diwali juga terasa di Negeri Abang Sam. Perayaan di Istana AS ini dimulai oleh mantan presiden George W. Bush. Namun, dia tidak pernah secara pribadi berpartisipasi dalam perayaan.

Presiden AS Barrack Obama Merayakan Diwali Dari Gedung Putih

Presiden AS Barack Obama merupakan salah satu orang yang rutin mengikuti acara ini tiap tahunnya. Pada 2009, Obama menjadi Presiden AS pertama yang menyalakan lampu tradisional di ruang timur Gedung Putih tersebut. Setahun kemudian, dirinya merayakan pagelaran Diwali di Mumbai. Pada 2011 juga diadakan di Gedung Putih. Sedangkan tahun ini, dia merayakan bersama wakilnya, Joe Biden, di Gedung Putih.

Dengan memulai pencahayaan tradisional “diya” atau lampu kedua, pemimpin AS ini merayakan bersama kelompok pejabat India–Amerika, anggota masyarakat, dan beberapa diplomat. Namun, Obama memuji ketahanan Sikh pascatragedi di Gurudwara Wisconsin tahun lalu, di mana terjadi penembakan yang telah menewaskan enam orang. “Awal tahun ini, kita diingatkan akan kejahatan ketika seorang pria bersenjata masuk ke Gurudwara Sikh di Oak Creek, Wisconsin, dan melepaskan tembakan,” kata Obama memberi sambutan.

“Sebagai akibat dari tragedi mengerikan itu, kita melihat ketahanan sebuah komunitas yang memperoleh kekuatan dari iman mereka dan rasa solidaritas dengan tetangga mereka antara Sikh dan non-Sikh. Kita juga diingatkan bahwa keindahan Amerika tetaplah keragaman dan hak untuk kebebasan beragama. Diwali adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan teman-teman yang sering ditandai dengan makanan enak dan menarik,” lanjut Obama.

Toh, bukan saja Washington yang ramai merayakan. Dengan jumlah lebih dari dua juta orang Hindu (antara tiga juta orang India atau Asia Selatan, termasuk Indo-Karibia) di Amerika Serikat, perayaan kali ini juga meriah di New York. Sebelumnya, konser udara terbuka di alun-alun Jagan dibatalkan akibat terjangan badai Sandy. Akhirnya dipilihlah pertunjukan di Liberty Avenueyang berjalan mulus.

Di samping itu, Hindu Guyana dan penganut lain melakukan tradisi perayaan Diwali paling menyenangkan di lingkungan New York bagian utara, Jersey, Connecticut, dan Pennsylvania akhir pekan lalu. Interior dan eksterior bisnis, toko, rumah-rumah, serta kuil-kuil dihias perlengkapan penerangan lampu diya dan pohon-pohon elektronik yang dihiasi dengan ciamik. Beragam paket liburan pun dibuka. Para gubernur di AS tak ketinggalan memuji kebaikan di balik makna Diwali dan kerja keras dari umat Hindu, membantu membangun mozaik etnis yang sekarang mendefinisikan komunitas mereka di seluruh Amerika.

Begitu pula dengan tetangga AS, yakni Kanada. Meski masih menderita akibat sengatan topan Sandy, hampir satu juta Indo-Kanada yang tinggal di sana, juga mengadakan pesta di Toronto. Perdana Menteri Kanada Stephen Harper turut membaur bersama Indo-Kanada saat perayaan berlangsung di Parlemen Hill, Ottawa. “Ini Perayaan Nasional Diwali. Sekarang, dalam peringatan ke-12, berkembanglah budaya dan persahabatan yang erat antara India dan Kanada. Kami sangat berterima kasih atas kontribusi ke negara kami. Diwali, juga dikenal sebagai Festival Cahaya, memperingati kemenangan kebaikan atas kejahatan dan cahaya atas kegelapan,” jelas Harper.

Sementara di Inggris, tiga puluh ribu orang memadati Golden Mile untuk perayaan Hari Diwali. Lalu lintas Belgrave Road ditutup selama tiga jam saat pesta kembang api dan cahaya meletus dibarengi aksi jalan kaki. Sementara di taman rekreasi Cossington, acara tak kalah meriah. Fitur klasik India, Bollywood dan penari Bhangra ikut menghangatkan suasana.

Perayaan ini dijalankan oleh Leicester City Council dan Dewan Festival Hindu Leicester dengan pertunjukan kembang api yang spektakuler. Perdana Menteri Inggris David Cameron juga mengajak semua untuk menjaga budaya ini. “Sekali lagi, aku berharap agar semua yang memperingati Diwali sangat bahagia dan sejahtera,” katanya.

Sedangkan Singapura memanfaatkan momentum tersebut dengan menggali potensi wisata. Tercatat selama perayaan, ada peningkatan lebih dari 45% arus masuk wisatawan India dibandingkan tahun lalu. Pemerintah Singapura menyediakan beberapa acara seperti The Village Festival, The UTSAV Parade Street, dan Festival Api yang dimulai seminggu sebelum perayaan Diwali. Sehingga wisatawan India seperti berada di kampung halaman.

Beberapa jalan pun terpaksa ditutup selama perayaan Diwali. Di kuil Sri Mariamman, orang-orang berduyun-duyun nimbrung untuk menyeberangi lubang api. Sehabis imam kepala yang pertama menyeberangi lubang api, 4.200 laki-laki lainnya mengikuti prosesi penyeberangan dari belakang. Little India di Serangoon Road tak kalah megah dengan perayaan kali ini.

Deepavali juga merebak di Sri Lanka. Bahkan, Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa sendiri yang membuka sambutan dengan memberi penekanan cahaya sebagai simbol harapan perdamaian dan ketenangan melalui semangat berbagi. “Ini menandai kemenangan kebaikan atas kejahatan, dan membawa cahaya pengetahuan atas kegelapan kebodohan yang merupakan quests abadi manusia. Saya berharap semua umat Hindu yang mengikuti Deepavali, bahagia dan damai,” ucap Mahinda.

Namun, hal kontras terjadi di dalam negeri. Di Indonesia, perayaan Diwali kurang begitu dikenal, bahkan perayaan semacam ini tidak pernah ada, termasuk Bali yang mayoritas penduduknya adalah Hindu. Sebab, festival ini mirip dan bermakna sama dengan Galungan. Hanya saja, tradisi Galungan dihubungkan masyarakat Bali dengan kekalahan Mayadenawa sebagai tokoh jahat atas Dewa Indra. Ini menjadi bukti bahwa Hindu bukan hanya sekadar ritual, melainkan lebih pada pemaknaan konsep yang disesuaikan dengan kultur dan sejarah masyarakatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s