YUDI LATIEF : PRESIDEN 2014 WAJAH LAMA

Menjadi salah satu pengamat politik, Yudi Latief menjadi tokoh yang mampu mempresentasikan jejak para tokoh belantara nasional. Berikut petikan wawancara saya dengannya :

Apa tanggapan Anda soal hasil survai-survai calon presiden yang saat ini?

Kalau berdasarkan hasil survai itu kan tingkat popularitas tinggi masih didominasi oleh nama-nama lama. Saya kira ini suatu yang wajar karena namanya survai itu kan mengukur suatu kesadaran responden. Artinya kesadaran responden ini biasanya ada di top of mind. Di mana kesadaran itu muncul karena orang-orang banyak di-expose lewat media.

Sehingga, tokoh potensial akibat jarang di-expose itu tidak muncul di pikiran publik. Itu alas an kenapa tokoh-tokoh lama tingkat popularitasnya masih tinggi.

Era politik baru ini kan sangat bergantug dari media massa. Partai sesungguhnya di Indonesia tidak bekerja baik. Dengan segala simbolnya sarana politik sampai tingkat grassroot itu tidak sampai. Karena pembangunan partai itu lebih secara elitis. Seperti top down. Kepemilikan partai atau para elite bertujuan memobilisasi massa semata. Tidak dibangun bersama atas kesamaan ideologi. Karenanya, wajar partai masih semacam itu tentu yang akan terkenal adalah tokoh-tokoh tersebut.

Kalau calon-calon alternatif yang baru?

Ya itulah keadaannya sulit mencari tokoh-tokoh yang baru. Calon alternative itu bisa dating dari organisasi massa (ormas) yang juga mendapat tingkat expose media besar. Semestinya yang lebih mudah dalam pengenalan publik adalah tokoh ormas besar ini. Misalnya Ketua NU atau Ketua Muhammadiyah.

Tapi saat ini tokoh-tokoh politik terlalu mencengkeram dari segala penjuru. Akhirnya pemilihan ketua-ketua ormas juga atas dasar kepentingan politik. Ormas-ormas itu tidak menumbuhkan pemimpin-pemimpin alternatif. Sekarang misalnya pemimpin di NU itu bisa titipan dari tokoh-tokoh partai politik.

Dulu lahir kekuatan alternatif seperti Gus Dura tau tokoh muhammadiyah seperti Syafi’i Ma’arif. Hal ini sekarang tidak lagi muncul.

Jadi, banyak tokoh generasi muda potensial sekarang punya dua pilihan. Pertama kalau tokoh muda ingin bertarung harus memakai logika logistik yang sama dengan partai politik. Ini yang akhirnya menjerat. Jalan pintas seperti korupsi ini yang kemudian menjatuhkan reputasi mereka. Sementara kedua kalau mau berkompetisi dengan ide saja sulit karena belum apa-apa sudah dihitung kantongnya setebal apa.

Desain demokrasi kita yang sangat mengandalkan kekuatan uang itu menyulitkan munculnya tokoh-tokoh politik. Dan, Indonesia untuk satu periode lagi paling tidak, kampanye masih diramaikan tokoh-tokoh lama. Hanya hokum alam yang menghentikannya karena tak sehat lagi secara fisik.

Ada anggapan kalau SBY akan sekuat tenaga menjaga calon presiden mendatang masih berasal dari kalangannya agar aman. Tanggapan Anda sendiri?

Memang sebenarnya potensi untuk mengeksekusi SBY sudah ada. Dari kasus Bank Century saja dari kaca mata politik itu sudah salah. DPR melanjutkan pernyataan pendapat dan sebagainya.

Tapi satu lagi jejaring politik untuk mengeksekusi SBY atau melakukan kriminilisasinya memang dimungkinkan kalau ada pemimpin baru yang bukan dari kalangannya. Itu pun dia harus punya agenda untuk menyehatkan sistem perpolitikan di Indonesia.

Ada tendensi banyak tokoh yang memanfaatkan kepentingan dengan melakukan bargain agenda kepada SBY. Ya ada banyak argenda partai incumbent bukan melakukan untuk penyehatan politik atau menyeret siapapun yang bersalah, melainkan dipakai untuk kepentingan yang lain-lain itu. SBY memang bisa diselesaikan secara politik kalau kepentingan-kepentingan partai politik lain sudah buntu kepentingan politiknya atau tidak punya kepentingan lagi.

Menelisik tokoh-tokoh dari kalangan SBY itu siapa?

Yang pasti SBY akan memilih yang bisa mengamankan dia setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Tentu saja SBY harus berhitung dari security tapi juga elektabiltas pula. SBY akan mencari pengganti yang bisa terpilih karena itu langkah dalam mengamankan dia.

SBY bisa memilih siapa saja yang tinggi dari sisi elektabilitas. Bisa Edi, Djoko Suyanto atau lainya. SBY tentu akan memilih calon yang paling potensial.

Saat ini seperti ada semacam pemilihan pemimpin dengan pola mengejutkan. Misalnya terpilihnya Timur Pradopo sebagai Kapolri dari bintang dua langsung melesat ke bintang empat. Atau terpilihnya Abraham Samad yang dari tidak dikenal publik tiba-tiba menjadi Ketua KPK. Menurut Anda apakah gejala ini bisa terjadi pada Pilpres 2014?

Ya itu tadi. Bisa siapa saja. Bahkan bisa saja tidak memperhatikan prestasi, sehatnya. Misalnya Timur menjadi Kapolri itu bisa mengamankan posisinya saja. Penjelasannya sederhana itu.

Masalahnya sekarang SBY menghadapi problem di dalam internal partainya sendiri. Di satu sisi dia ingin menjaga prestasi sehingga calonnya atau Partai Demokrat masih memenangi Pemilu dan bisa mengamankan calon yang dia pilih sehingga bisa terpilih. Di sisi lain SBY tak berani mengeksekusi orang-orang di partainya yang bermasalah secara hukum.

Ini seperti istilah maju kena, mundur kena. Kalau tidak berani mengeksekusi kader yang bermasalah maka reputasi Partai Demokrat akan jeblok sehingga nanti sulit bersaing pada Pemilu 2014.

Sementara kalau berani mengeksekusi kader bermasalah maka bisa terjadi pembangkangan internal yang pada akhirnya bisa menyeret SBY sendiri. Jadi memang kalau sudah takdirnya maka akan terbuka peluang tak terkira.

Kalau ketokohan Gita Wirjawan bagaimana?

Saya kira itu sulit karena dia tidak dikenal publik. Profilnya juga seperti di drop darimana gitu. Bukan politisi atau aktivis yang punya basis massa. Dan, dalam persepsi politik ini akan menjadi semacam titipan lobi internasional. Jadi menurut saya akan sulit.

Sedangkan Sri Mulyani yang sudah berhasil menjadi Menteri Keuangan dari hasil survai ternyata popularitasnya kurang bagus. Bahkan partainya tidak lolos verifikasi. Kecuali nanti Sri Mulyani didukung oleh Partai Demokrat itu persoalan berbeda.

 

Kalau tokoh alternative seperti Rizal Ramli?

Ini kembali kepada sistem politik kita yang menyulitkan tokoh alternatif. Selama masih ada kuota 20 persen, paling hanya ada tiga pasangan kandidat. Nah kebanyakan kandidat ini adalah yang punya kekuatan mengontrol partai politik.

Ini adalah kesalahan desain Pemilu kita. Semestinya partai politik yang lolos parliamentary threshold (PT) bisa mencalonkan calon sendiri. Pemilu presiden menjadi dua tahap. Di mana, tahap pertama semua calon dari partai yang lolos PT bisa ikut. Kemudian tahap kedua misalnya dipilih dua pasangan dari dukungan suara terbanyak. Otomatis ada partai yang mendukung partai A atau partai B sehingga dengan sendirinya koalisi sebelum Pemilu sehingga setelah Pemilu akan lebih stabil jalannya pemerintahan. Nah kalau sekarang nyambung.

Kalau setiap partai yang lolos PT ini bisa memajukan calon sendiri maka dia akan mencari calon yang bisa memajukan calonnya sendiri. Figur-figur kuat dari luar partai biasanya dari partai kecil akan diambil guna mendongkrak suara. Nah selama tidak ada kesatuan pemilu legislatif dengan pemilu presiden maka tokoh alternatif itu akan sulit muncul.

 Kalau ketokohan Hatta Rajasa yang sudah dicalonkan PAN dan dianggap orang dekat SBY?

Kalau hanya didukung oleh PAN maka akan sulit. Tapi kalau SBY menganggap Hatta Rajasa menjadi tokoh popular dan bisa mengamankan dirinya maka bisa saja.

Memang sepertinya Hatta Rajasa mengharapkan dukungan dari Partai Demokrat.

Kalau pencalonan di PDI Perjuangan sepertinya ada persaingan antara Megawati dan Puan Maharani. Apakah menurut Anda ini bisa menjadi perpecahan?

Saya kira dari hasil survai suara Megawati tidak otomatis dialihkan kepada Puan. Artinya Puan belum dipandang pendukung PDI Perjuangan sendiri sebagai figur yang diharapkan. Kalau antara Megawati dan Puan menurut saya yang masih mempunyai elektabilitas tinggi masih ada di Megawati. Kecuali PDI Perjuangan mulai mengeluarkan alternatif nama lain di luar keluarga Soekarno. Tapi sepertinya tidak ada upaya untuk mencari alternatif tersebut.

Kalau Prabowo?

Prabowo itu elektabilitasnya dia lebih tinggi ketimbang Partai Gerindra. Jadi partai belum bisa mendukung tingkat popularitas dan elektabilitas Prabowo.

Kalau pemilihan presiden masih dipatok 20 persen maka Gerindra akan sulit mencalonkan Prabowo. Apalagi Prabowo tampaknya sudah tak berhasrat untuk menjadi calon wakil presiden. Dia ingin menjadi presiden. Ini tantangan lagi bagi Gerindra.

Soal Nasdem dan prediksi pencalonan Surya Paloh bagaimana?

Nasdem sebagai partai saya kira relative agak besar dengan lolos PT. Partai ini bisa mengambil suara dari Partai Demokrat. Namun dari sisi calon yang dimajukan dari Nasdem ini justru menjadi kebalikan dari Gerindra. Tokoh Nasdem seperti Surya Paloh masih terbilang endah popularutas dan elektabilitasnya. Sehingga, Nasdem harus mencari tokoh yang punya elektabilitas tinggi.

Nah kalau misalnya Jusuf Kalla mau terjun lagi bagaimana peluangnya?

Kalau dalam posisi cawapres posisi JK terbuka bagi semua partai. Dia bisa masuk dari beberapa partai. Masalahnya kalau dia ingin menjadi calon presiden masalahnya apakah Partai Golkar mau mencalonkan? Bisa saja JK didukung oleh Nasdem atau PPP. Tapi lagi-lagi bagaimana mengakumulasi syarat 20 persen tersebut.

Kalau Aburizal Bakrie sendiri?

Dia selama ini mengatakan masih menunggu hasil survai. Tapi saya kira dia tidak akan rela untuk menyerahkan tiket calon presiden kepada tokoh lain. Masalah dia kebalikan dari Prabowo.

Elektabilitas Partai Golkar masih jauh di atas tingkat elektabilitas ketokohan Aburizal Bakrie. Kelihatannya dia agak sulit diterima di Jawa khususnya Jawa Timur. Nah kalau dia bisa menggarap Jawa maka bisa mendongkrak popularitas. Tapi sejauh ini dari hasil survai dia masih berat untuk mengambil hati pemilih di Jawa. Saat ini Partai Golkar popularitasnya cukup membaik seiring menurunnya Partai Demokrat.

Rekomendasi atau prediksi calon untuk pemilu 2014 kira-kira siapa?

Ini situasi yang amat sulit. Lepas dari suka atau tidak suka yang potensial adalah Prabowo dengan kesulitan dari dukungan partai. Alternatif lain Megawati kuat kalau berpasangan dengan calon wakil presiden yang kuat seperti JK. Sebab, pemilih Megawati terbilang stabil sekitar 14 persen. Nah dia membutuhkan pasangan yang kuat di luar Jawa.

Sejauh ini berdasarkan survai berpusat di Prabowo, Megawati dan JK. Nah kalau JK masalahnya harus mencari pasangan yang kuat dari Jawa. Saya kira hanya berpusat pada tiga nama tersebut. Memang mungkin pemilih bosan tapi tidak ada piliha lain. Itu realitas politiknya.     

 

*) Menjadi bahan tulisan untuk Majalah SINDO Weekly edisi 1Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s