Siapa Beruntung Kedatangan Sherny?

Tertangkapnya terpidana kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) kembali membuka kotak pandora kisah lama. Adakah kepentingan politik atas penangkapan ‘super heboh’ itu?

Ranap Simanjutak Image

Sudah 14 bulan lalu, Sherny Kojongian begitu resah. Di negeri Paman Sam, terpidana vonis 20 tahun kasus BLBI itu bolak-balik pengadilan. Namun malang, Satuan Immigration dan Customs Enforcement (ICE) San Francisco berhasil membekuknya atas  red notice dari ICPO-Interpol di Lyon, Perancis yang dikeluarkan tahun 2006. Surat penahanan sementara itu sendiri datang dari permintaan NCB-Interpol Indonesia.

 Bermula dari laporan Interpol Washington DC kepada Interpol Jakarta pada 10 Agustus 2009. Otoritas di AS tersebut mengidentifikasi identitas perempuan mirip Sherny yang punya ijin tinggal tetap. Singkatnya lewat jalan berliku akhirnya ICE di San Fransisco menahan perempuan yang berupaya keras mendapatkan kewarganegaraan AS itu pada 16 November 2010.

 Sherny sempat mengajukan hak suaka, namun ditolak. Ketok palu pengadilan San Franciso memutuskan untuk mendeportasinya ke Indonesia. Dirinya kemudian melakukan banding hingga dua kali, namun juga kalah. Sherny mau tak mau harus dideportasi. Ia tiba di tanah air Rabu (13/6) pagi. Tak pelak, mantan Direktur Kredit dan Treasury Bank Harapan Sentosa (BHS) itu menghentak banyak orang. Mengingatkan roman pengemplang dana Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) era krisis moneter.

 

Sherny yang melarikan diri sejak 21 Oktober 1998 secara legal itu tak sekalipun menghadiri meja hijau. PN Jakarta Pusat pada 22 Maret 2002 memutuskan Sherny bersalah meski tanpa kehadirannya (in absentia). Perempuan kelahiran Manado, 8 Februari 1963 mendapat 20 tahun kurungan bersama dua terpidana lainnya yang tak lain keluarga sendiri. Komisaris Utama BHS Hendra Rahardja selaku mertua Sherny divonis seumur hidup, sementara sang suami Eko Edi Putranto yang sebelumnya menjabat Komisaris BHS dipidana 20 tahun pula. Ketiganya terbukti menggelapkan KLBI senilai Rp 2,6 triliun kepada enam perusahaan di bawah grup PT BHS.

 Soal dua terpidana ini, Hendra Rahardja meninggal di Australia pada 26 Januari 2003. Padahal baru saja Hendra baru saja mendapat deportasi pemerintahan Negeri Kangguru akibat perjanjian ekstradisi Indonesia-Australia yang sudah ada sejak 1992. Sementara Eko Edi Putranto hingga kini tak diketahui jejaknya. Wakil Jaksa Agung Darmono mengungkapkan, Sherny mengaku tak tahu keberadaan Eko. “Dia bilang tidak ada kontak selama ini. Dia bilang sudah pisah selama puluhan tahun, tidak pernah kontak,” terang Darmono.

 

Namun Indonesia Corruption Watch (ICW) merasa janggal dengan penangkapan Sherny yang berkesan heboh tersebut. Anggota badan pekerja ICW Emerson Yuntho menilai, masih ada terpidana kasus tersebut yang diproses hukum sampai di penjara dan ada yang bebas. Dirinya pernah mendengar 4 obligor dipanggil ke istana menyanggupi bayar hutang. “Megawati tentang SK keterangan lunas. Catatan kami ada 12 orang yang melunasi tahun 2003. 30% tunai dan sisanya penjualan asset yang perlu ditelusuri bodong atau tidak. Tapi, sampai sekarang tidak jelas. Catatan hasil audit BPK banyak obligor atau debitor BLBI itu dinilai kooperatif. Karenanya tak pernah jelas update kewajiban utang tersebut,” ungkapnya kepada Yohannes Tobing dari SINDO Weekly.

 

ICW khawatir adanya intervensi politik. Sebab menurut Emerson pemberian surat keterangan lunas ini bisa terkait dengan pendanaan menjelang Pemilu 2004. “ICW menduga ada ‘makan siang gratis’ bagi pemberian SK tersebut. Perlu ditelusuri lagi, apakah benar atau tidak adanya money politics,” sangka dia.

 

Berdasarkan data ICW hingga akhir tahun 2005, dari 65 orang yang diperiksa (lihat tabet) baru 16 orang yang diproses ke pengadilan. Sementara 7 tersangka lainnya masih terus dalam tahap penyelidikan. “Lebih memprihatinkan lagi, sudah 11 tersangka yang dihentikan penyidikannya oleh kejaksaan (SP3) dan sebagaian diantaranya diduga melarikan diri,” sebut Emerson.

 Lebih lanjut dirinya menunjuk beberapa kasus BLBI proses hukumnya masih belum jelas. Misalnya bos Gadjah Tunggal, Sjamsul Nursalim. Selain dijerat dengan BLBI BDNI juga dijerat BLBI Bank Dewa Rutji. “Penangkapan Urip Tri Gunwawan dan Artalyta Suryani dalam kasus suap terkait upaya kejaksaan membuka kembali proses hukum BLBI ini seharusnya indikasi bahwa pernyataan kejaksaan lewat Jampidsus Kemas Yahya  bahwa SP3 Sjamsul Nursalim sudah sah atau tepat justru dapat dinilai bermasalah,” tambahnya.

 

Namun tak sepenuhnya, pengungkapan kembali kasus BLBI yang bermuara dari Sherny selaku pembuka kunci informasi ini murni hukum. Sejumlah analisis, berbalik pandangan dengan Emerson menganggap penangkapan Sherny sebagai posisi tawar menawar antara partai opisisi dan koalisi. Seperti diungkapkan seroang blogger, Abanggeutanyo. Entahlah.

 


TABEL 1

 

TERSANGKA/TERDAKWA KASUS KORUPSI BLBI YANG MELARIKAN DIRI

 

No. Nama                             Kasus Korupsi                   Perkiraan Kerugian Negara         Tempat Pelarian

1. Sjamsul Nursalim*         BLBI Bank BDNI Rp 6,9 T plus U$ 96,7 juta Singapura, dapat SP3

2. Bambang Sutrisno          BLBI Bank Surya                 Rp 1,5 T                                                 Singapura

3. Andrian Kiki Ariawan    BLBI Bank Surya                 Rp 1,5 T                                                 Singapura

4. Hendra Rahardja *          BLBI Bank BHS                    Rp 2,659 T                                            Australia, meninggal

5. Eko Adi Putranto            BLBI Bank BHS                    Rp 2,659 T                                            Belum jelas

6. Sherny Konjongiang       BLBI Bank BHS                    Rp 2,659 T                                            tertangkap di AS

7. David Nusa Wijaya         BLBI Bank Servitia              Rp 1,29 Trilun                                     tertangkap di AS

8. Samadikun Hartono       BLBI Bank Modern             Rp. 169 miliar                                      Belum jelas

9. Agus Anwar                      Bank Pelita                           Rp. 1.989.832.000.000                       Singapura

 

Sumber : Dokumen ICW

 

TABEL 2 KEPUTUSAN HUKUM

Vonis Pengadilan                             Jumlah Perkara

 

seumur hidup (in absentia)              3

20 tahun penjara (in absentia)         2

2-8 tahun                                               2

Dibawah 2 tahun                                 6

Bebas                                                     3

Total                                                      16

Sumber : ICW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s