“Sektor Riil Masih Terseok”

Image
 Pemerintahan klaim negeri ini berhasil mendongkrak pembangunan ekonomi secara makro. Mahfum, penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada level 4000 berhasil membuat kinerja Bursa Efek Indonesia (BEI) meroket. Awal tahun ini, BEI ditahbiskan meraih peringkat ketiga untuk bursa berkinerja baik.

Di lain sisi, pertumbuhan ekonomi masih tinggi hingga 6,5%. Begitu pula utang luar negeri yang berangsur menurun, meski surat berharga juga naik jumlahnya. Benarkah rakyat Indonesia sudah menjadi tuan di negeri sendiri? Direktur Institute for Development of Economic & Finance (INDEF) Enny Sri Hartati menyanggah persoalan itu. Kepada Ranap Simanjutak dari SINDO Weekly, dia myakinkan kalau pembangunan belum menyentuh langsung bagi masyarakat. Berikut nukilannya :    

 Kebangkitan sektor ekonomi yang Anda lihat saat ini bagaimana?

Kalau bangkit itu kan ada suatu kondisi dari mandek atau turun kemudian jumping. Itulah bangkit. Tapi kalau sekarang ini ya jalan di tempat.Image

 Soal nasionalisasi ekonomi atau menjadi tuan di negeri sendiri apakah sudah tercapai?

Belum. Untuk sektor migas tidak sama sekali. Sedangkan sektor pertanian memang owner dipegang rakyat tapi decision making bukan. Sedangkan sektor- sektor urgent lainnya juga banyak dikuasai asing. Bahkan, bank saja mulai kooptasi dengan asing.

 

Penentu arah kebijakan pada banyak sektor, tak bisa berbuat apa-apa. Hanya menerima keputusan bule-bule itu, khususnya Amerika Serikat. Termasuk dari Cina atau Jepang.

 

Kan pertumbuhan ekonomi dikatakan prima. IHSG membaik, dengan berkutat pada level 4000-an, sementara di luar negeri seperti Eropa sedang anjlok. Itu karena faktor apa?

Faktor fundamental. Sebenarnya Indonesia bisa lebih dari itu dilihat dari segi potensi. Melihat krisis Amerika Serikat kemudian krisi Eropa membuat orang tersadar soal perkenomian yang sustainable dalam jangka panjang tidak lagi mengandalkan capital market.

Saya lebih suka kalau media Jangan hanya melihat dari pasar modal, melainkan kebangkitan ekonomi dari sektor riil. Misalnya pembuatan pabrik akan meningkatkan industri sekaligus menyerap banyak tenaga kerja. Ini bisa berjalan dalam waktu panjang. Beda dengan pasar modal. Begitu ada spekluasi lebih menarik lagi, maka serta merta hari itu juga bisa hengkang.

 

Jadi pertumbuhan ekonomi saat ini belum menyentuh sector riil?

Belum. Makro prudential-nya sudah lumayan bagus, sedangkan mikro prudential-nya masih terseok-seok.

 

Artinya pemerintah tidak berhasil?

Bisa dibilang, penciteraannya saja yang bagus. IHSG atau capita infa membaik tapi di sektor riil tidak ada perubahan signifikan. Politik ekonomi yang berkembang lebih mengutamakan stabilitas makro, misalnya inflasi bisa di bawah dua digit. Soal menggerakkan sektor riil seperti menata kondisi pertanian yang karut marut belum terjadi.

 

Tapi kabarnya kini daya beli masyarakat itu membaik?

Iya untuk masyarakat menengah saja. Padahal, dari total masyarakat Indonesia kelas itu tidak mencapai 10%. Jadi, tidak representatif menggambarkan masyarakat Indonesia keseluruhan.

 

Artinya kesenjangan semakin besar?

Iya. Kalau dilihat dari angka-angka statistik kesenjangan itu makin lebar. Memang growth kita saat ini termasuk tinggi mencapai angka 6,5%. Di Eropa saja pertumbuhannya tak mencapai sekitar angka 4%. Masalahnya yang menikmati itu kelas menengah tadi. Sektor kapitalistik saja yang tumbuh.

Alhasil yang menikmati kultur pertumbuhan tak merata. Di jaman Orde Baru saja menerapkan konsep berimbang dengan trilogi pembangunan, yaitu pertumbuhan, pemerataan, dan stabilitas ekonomi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s