Ketum Apindo, Sofjan Wanandi : Pemerintah Janji Kosong

Image

Berkaitan dengan Hari Kebangkitan Nasional dalam sektor ekonomi. Anda sebagai kalangan pengusaha melihat peran pemerintah dalam meningkatkan perkonomian seperti apa?

Ya saya pikir apa yang mereka inginkan atau rencanakan itu baik-baik saja. Tapi pelaksanaannya yang saat ini tidak berjalan. Kami hanya menunggu. Kalau ekonomi itu kan tidak bisa janji-janji. Tidak bisa menghimbau-menghimbau.

Kami menunggu saja. Kebijakan itu seharusnya dikerjakan pemerintah karena sudah ada anggaran belanjanya. Jadi, kami mau bilang apa? Tinggal menunggu kebijakan. Kemudian, menjalankan apa yang jadi keinginanya.

Sebenarnya yang penting itu adalah kepentingan nasional harus demokratis. Bukan hanya pasar saja atau global saja. Nah kalau komitmen untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bagaimana kita menunggu kekuatan-kekuatan lain. Karena, kami tak bisa bekerja sendiri.

 

Apakah terjadi pengekangan terhadap kemajuan pengusaha?

Itu pasti ya! Apalagi dunia sedang krisis, terutama di Eropa. Hal ini sudah kita rasakan. Dikhawatirkan ini bisa terimbas. Apalagi sekarang sudah terasa dengan mahalnya harga komoditas.

 

Apa yang seharusnya dilakukan negara?

Di Cina, Jepang, Amerika Serikat dan lainnya itu betul-betul menjaga pasar dalam negeri. Itu yang dilakukan oleh Negara-negara tersebut. Tapi kalau kita membuka semua saja. Impor apa saja bisa di negara ini. Kita tak berani melawan atau melakukan hal yang sama. Inilah yang menjadi kendala.

Akhirnya kita tak bisa bekerjasama dalam Indonesia Coorporate di dalam membangun ekonomi secara bersamaan. Inilah yang dirasakan. Karenanya, kita kalah bersaing dengan semua. Misalnya kalau bersaing dengan barang-barang impor terutama dari Cina. Di mana pernanan pemerintah dalam menjaga itu? Semuanya diperbolehkan, apalagi banyak barang ilegal yang masuk, tidak bayar pajak seperti PPN.

 

Seharusnya?

Pemerintah seharusnya memproteksi cara-cara perdagangan yang tidak fair. Kalau tidak dilakukan pemerintah lama-lama kita jadi importir. Padahal, kami sudah membangun industri seperti pabrik-pabrik tapi tak bisa bersaing. Ya kalau begitu impor saja sehingga tak pusing dengan buruh.

Karena itu, diperlukan kerja sama. Perlu memikirkan masalah dalam negeri dulu daripada masalah global. Tak usah malu-malu karena ini Negara ini. Jangan hanya semboyan kita harus berdikari dalam pangan, mesti berdikari dalam ini dan itu, tapi tidak dilakukan. Petani tidak dibina, sumber daya manusia tak diberdayakan sehingga orang lain saja yang masuk terus lancer seperti di jalan tol.

 

Contoh konkret yang dihalangi oleh pemerintah?

Peraturan-peraturan itu yang malah menghambat. High cost dengan cost yang tak perlu misalnya seperti tak tersedianya infrastruktur yang baik. Dimana-mana macet. Jadi, bayar pajak yang besar itu digunakan buat apa? Apalagi tiap tahun naik pajak. Sudah kita tak bisa saling menyalahkan. Kita kerjakan pekerjaan rumah masing-masing. Jangan mau enaknya sendiri.      

 

Ada beberapa kebijakan pemerintah yang dianggap nasionalis seperti memberikan bea (pajak) ekspor bahan mentah minerba. Menurut Anda sendiri?

Saya pikir itu baik saja selama itu betul-betul diatur. Dari dulu itu tak berjalan karena karena aparat itu tak berjalan. Semua kolaps. Semua bisa diekspor seenaknya saja, misalnya pasir yang mengandung bakusit atau nikel bisa diekspor seenaknya saja bahkan bisa jutaan ton ke luar negeri. Siapa yang bermain? Ya aparat pemerintah juga. Bagaimana ekspor illegal bisa lolos dengan kapasitas besar berkapal-kapal bisa tidak tahu itu namanya goblok. Atau dia bermain! Kalau ekspor mutiara sih bisa dimengerti ekspornya tidak terdeteksi.

Penataan sistem ekonomi yang dilakukan pemerintah tampaknya lebih mengarah ke global?

Saya pikir tidak ada gunanya. Apakah bisa masuk investasi kalau di dalam negeri tak beres, tidak akan dilihat. Omong kosong itu.

 

Sektor riil jadi terabaikan?

 Itu tidak dilupakan, tapi hanya janji-janji kosong. Ini hanya diomongin terus  menjadi wacana tapi tak dikerjakan. Rencana sih bagus, tapi tak terealisasi.

Janji seperti apa misalnya?

Ya janji bikin infrastruktur, janji bikin ini dan itu. Mana saja janji bikin listrik 10000 MW yang dulu dijanjikan Jusuf Kalla. Sudah 2 tahun terlambat. Mana gas yang dijanjikan? Selalu dinaikkan dengan harga tinggi-tinggi.

Berarti tidak ada dukungan pemerintah?

Lihat saja kenyataannya. Dukungan ada saja. Kami tak perlu didukung-dukung. Pemerintah kerjakan saja pekerjaan rumahnya, kami menjalankan pekerjaan kami. Lalu kita bersinergi untuk berkompetisi secara global. Tak perlu dukung-dukungan. Yang penting jangan diganggu saja sudah bagus.

Berarti sering diganggu?

Ya you kalau sudah ngerti jangan pura-pura tanya.

Bisa dibilang sistem politik dengan otonomi daerah memberatkan?

Tentu saja memberatkan. Mereka menjadi raja-raja kecil. Kita bisa lihat dari jauh banyak yang terlibat korupsi. Tidak benar itu! Kalau otonomi daerah itu salah seharusnya diperbaiki perundang-undangannya. Jangan menjadi raja-raja kecil yang tak bisa diawasi.

Sektor manakah yang paling vital. Apakah perdagangan dan indutri atau lainnya?

Semua sektor itu penting. Tak bisa bekerja sendiri-sendiri. Yang paling penting adalah presiden. Dia komitmen tidak? Dia bisa mengawasi para menteri atau tidak dengan capaian targetnya. Jangan didiamkan kalau ada menteri yang kurang dalam bekerja.

Masalah utama ada situ?

Masalah utama leadership. Di mana-mana di dunia ini kalau pemimpinnya lemah maka semua tidak berjalan.

Tapi secara menyeluruh pertumbuhan ekonomi kita lumayan berhasil mencapai 6,5% dibandingkan misalnya Eropa yang krisis. Atau target pendapatan per kapita US$ 4000 per tahun bisa tercapai?

Tidak bisa dikatakan begitu. Angka 6,5% itu dari data yang kecil atau rendah. Tak bisa disamakan dengan income per kapita Eropa yang mencapai US$ 30.000 per tahun. Tidak betul kalau dibilang begitu. Kalau dibandingkan salah. Apalagi perbedaan kaya dan miskin sangat besar. Bagaimana pembangunan bisa dinikmati sebagian besar rakyat, buka hanya sebagian kecil saja.

Dengan sistem perbankan bagiamana Apindo melihatnya?

Perbankan nasional sudah baik. Hanya saja perbankan milik pemerintah disarankan agar lebih banyak membantu UKM-UKM. Kalau yang besar tak usah dibantu lagi!

Kembali ke makna Kebangkita Nasional, apa yang Anda harapkan?

Kebangkitan nasional itu kembali mengingatkan bahwa kita sebagai bangsa itu satu. Kita bersatu untuk menyelesaikan masalah-masalah rakyat yang bisa membantu untuk menaikkan menaikkan tingkat hidupnya.

Kegunaannyaa untuk mengingatkan, mengintrospeksi apakah yang kita lakukan sesuai dengan cita-cita founding father. Jangan kita berkelahi sendiri, tercerai berai sendiri. Sehingga, kita terjajah bukan secara fisik tapi juga dalam bentuk lain. Introspeksi juga kepada pemimpin apakah yang sudah dia lakukan? Janganlah rakyat yang melayani pemimpin.          

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s