Kapal Induk Bakrie Tersedak Isu Default

ImageTerbiasa dalam masalah utang, kali ini, Bakrie & Brothers kembali digoyang isu ancaman default. Bahkan, hingga pekan keempat bulan ini harus mencari dana segar US$150 juta.Dus, saham emiten grup ini serentak melorot dalam penjualan di bursa.

Ranap Simanjuntak

Menutup pekan ketiga April, Financial Times menyulut tekanan kepada perusahaan raksasa Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Surat kabar ternama dari Inggris itu secara mengejutkan membeberkan notifikasi gagal bayar (default) atas pinjaman PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sebesar US$ 437 juta oleh beberapa kreditur.

Financial Times, Jumat (20/4) menyebut BNBR harus menambah agunan utangnya agar terhindar dari gagal bayar. Kreditur meminta tambahan agunan sebesar US$150 juta yang harus terpenuhi dalam waktu lima hari kerja. Alhasil, total nilai agunan akan menjadi 1,54 kali dari nilai pokok utang.

Kreditur sebanyak 20 pihak kemudian mencetuskan opsi meminta percepatan bayar utang bila tak ada tambahan agunan. Hanya saja, minimal dua pertiga kreditur setuju pilihan tersebut. Ini sebagai konsekuensi penandatanganan perjanjian kredit antara BNBR dengan Long Haul Holdings Ltd pada 12 Januari lalu. Lewat sindikasi yang digawangi Credit Suisse AG, induk kapal bisnis keluarga Bakrie ini mendapat suntikan US$ 193, 96 juta dengan agunan atau kolateral saham Bumi Plc. Sementara, Long Haul meraih US$ 243,4 juta.

Karena saat berita itu diturunkan nilai jaminan pinjaman Bakrie sudah jatuh 1,2 kali. Artinya berada di bawah syarat yang ditetapkan sebelumnya, 1,54 kali. Kalau tidak menaikkan jumlah kolateral, para kreditor kemudian meminta pembayaran lebih besar.

Kondisi mirip pernah terjadi setahun lalu, tatkala terjerat utang sebanyak US$ 1.3555 miliar. Beruntung, seorang pengusaha, Samin Tan  ke kelompok usaha ini membuat mereka dapat merestrukturisasi pinjaman hingga US$ 1 miliar. Samin Tan dan Bakrie pun mengumpulkan saham sebesar 47,6 persen.

Kondisi utang melilit usaha Bakrie memang bukan cerita baru. BNBR selaku perusahaan investasi ini pada 20120 mencatat rugi bersih hingga Rp 7,6 triliun. Jumlah ini terbilang besar dengan peningkatan rugi sebesar 340,3% dibandingkan kerugian 2009 sejumlah Rp 1,73 triliun, terkait pelepasan saham saat proses restrukturisasi utang.

Padahal, pendapatannya waktu itu bisa tumbuh 85% dengan raihan Rp13,1 triliun jika dibandingkan dengan periode sebelumnya yang sebesar Rp7,6 triliun. Yang membuat parah adalah beban pokok pendapatannya naik lebih besar lagi, sebesar 167 persen menjadi Rp8,6 triliun dari sebelumnya Rp3,93 triliun.

Toh peristiwa yang seperti berulang ini kini masih menanti malaikat penyelemat. Kalau tidak Bumi Plc kini terancam menjadi tumbal pertama untuk dilego. Bumi Plc, yang semula bernama Vallar Plc sebagai ‘kongsi pecah’ keluarga Bakrie dan Rothschild yang mengendalikan produsen batu bara RI, PT Bumi Resources Tbk dan PT Berau Coal Energy Tbk itu kinerja keuangannya makin merosot.

Sebelumnya, BNBR berencana menerbitkan obligasi berdenominasi rupiah sebesar Rp 1 triliun pada akhir 2011 dengan menggunakan buku laporan keuangan kuartal III 2011. Penerbitan obligasi ini dilakukan sebagai salah satu cara refinancing utang perusahaan. Pilihan penerbitan obligasi rupiah ini dipilih karena likuiditas dalam negeri sedang bagus. Hanya saja upaya ini butuh waktu

 

Cara lain yang dilakukan Bakrie dengan menjual separuh dari 47,6% sahamnya di Bumi Plc senilai US$1 miliar ke PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk pada Januari, sebagai upaya menepati janji tenggat pembayaran kepada Credit Suisse.

Analisi MNC Securities, Edwin Sembayang memberi saran Bakrie untuk rela menjual saham Bumi Plc. Apalagi, kinerja keuangannya dikhawatirkan makin buruk dengan ancaman gagal bayar tersebut.

“Sahamnya terus turun, penjualan asset perusahaan merupakan hal yang sangat penting. Mungkin kinerjanya bisa lebih buruk dibadingkan tahun lalu,” sebut Edwin.

Selain ancaman gagal bayar, kinerja keuangan bakl melorot akibat turunnya harga batu bara dunia. “Naik turunnya harga Bumi mempengaruhi bagi harga saham lainnya. Biasanya kalau turun sering dikuti penjualan besar saham-saham lainnya, “ turutnya.

Dirinya menambahkan, langkah BNBR sangat menentukan nasib saham emiten-emiten grup lainnya. “Saham-saham Grup Bakrie melemah disebabkan oleh isu notifikasi default itu. Melemah atau menurunnya saham-saham tersebut kedepannya, tergantung bagaimana BNBR membayar sesuai kriteria rasio,” tambah dia.

Direktur Utama BNBR Bobby Gafur Utama mengelak. Dia menegaskan bahwa tak ada pinjamann BNBR dalam kondisi default. “Walau kami bertindak sebagai peminjam, kami tidak berkewajiban menyediakan top up, sehingga ini bukan masalah besar,” terang Bobby.

Sementara Direktur Keuangan BNBR Eddy Soeparno membantah isu default tersebut. Dirinya bahkan mempertanyakan akurasi berita itu, meski sampai berita ini ditulis belum melakukan gugatan atau somasi kepada Financial Times.

Yang jelas memang saham anak usaha BNBR dalam lantai bursa di awal pekan keempat ini anjlok. PT Bakrie Telecom (BTEL) melemah 1,92% menjadi Rp 255 per saham. Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) turun 3,28% dengan harga Rp 295 per saham. Darma Henwa Tbk (DEWA) jatuh sampai 4,82% dengan catatan harga Rp 79 per saham. Bahkan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalami posisi terendah tahun ini dengan penurunan 7,44% menjadi Rp 1.990 per saham. Bakrie Development Tbk (ELTY) terpelanting 5,06% menjadi Rp 118 per saham. Dan, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melemah 6,34% menjadi Rp 192 per saham.

Soal utang Bakrie memang punya tradisi. Ini bisa menjadi investasi yang menguatkan atau malah memundurkan usaha. Tapi kali ini jelas mereka sedang tersedak.

Dari catatan SINDO Weekly, pinjaman lain yang dilakukan BNBR tahun ini adalah dari Mitsubishi Corporation sebesar US$ 150 juta pada kuartal I 2012. Menurut direksi perusahaan, pinjaman ini akan digunakan untuk mendanai rencana investasi di sektor energi, baik investasi di pasar modal maupun investasi di sektor riil.

Eddy mengungkapkan, pinjaman yang diperoleh perusahaan ini memiliki jangka waktu selama empat tahun dengan bunga London Interbank Offered Rate (LIBOR) plus 7%. “Dana ini murni untuk investasi perusahaan, bukan pinjaman untuk menjalankan berbagai proyek infrastruktur yang kami miliki,” kata Eddy.

Eddy menjelaskan, perusahaan akan melakukan pembangunan PLTU Tanjung Jati A pada tahun ini dengan nilai US$ 2 miliar. Perusahaan juga akan mulai membangun proyek tangki bahan bakar minyak untuk anak usahanya, PT Bakrie Energi International. Pendanaan proyek ini akan dicari perusahaan bersama pemegang saham lainnya. “Kami juga sudah mendapatkan dana dari mitra strategis yang masuk,” kata dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s