Haidar Bagir Dakwah Inspiratif dari Buku dan Film

Ranap Simanjuntak

Tak mau tertinggal teknologi, Haidar Bagir mulai memenuhi tuntutan digital soal penerbitan buku. Juga, terjun membidani film berkualitas mencapai pembentukan karakter.

Lelaki itu masuk dalam rumah di jalan sempit pojok Jagakarsa, Jakarta Selatan sambil menenteng laptop tipis. Seketika dia mendapat sambutan ciuman tangan anaknya yang ternyata bekerja di kantor kecil. Sementara penghuni lainnya sibuk bertarung dengan layar monitor komputer.

 “Ini kantor baru Mizan Digital Publishing,” tunjuk lelaki yang tak lain adalah pemimpin grup usaha Mizan. Ya, dia adalah Haidar Bagir, tokoh pembentuk karakter, termasuk soal pembela kerukunan agama yang juga meliputi pemahaman soal Syiah.

Pria kelahiran Solo, 20 Februari 1957 ini mengaku sedang mempersiapkan tantangan era digital. Menurutnya, buku menggunakan medium kertas sebentar lagi akan ditinggalkan. Haidar mencontohkan kaset yang tergantikan CD, begitu pula dalam soal buku pasar akan melirik medium digital.

“Saya kira dua tahun lagi dampaknya akan terasa. Kalau lima tahun kemudian, sudah sangat memukul. Kita baru mencoba aplikasi dua buku. Ternyata dalam dua hari sudah di-download 2000 orang,” jelas Doktor Filsafat dari Universitas Indonesia (UI) yang melakukan riset setahun di Departemen Sejarah dan Filsafat Sains, Indiana University, Bloomington, AS tersebut.

Namun masalah timbul soal finansial. Haidar mengaku, saat ini content digital begitu terbatas dalam mencari keuntungan. Sebab, pengguna terbiasa mendapatkan secara gratis.

“Betul itu. Tapi saya kira ada banyak cara. Misalnya dengan menyisipkan iklan di buku tersebut. Yang jelas ini harus dipersiapkan kalau tidak mau ketinggalan,” katanya.

Demikian inovasi seorang Haidar Bagir yang puluhan tahun bergelut dalam ranah penerbitan serta pendidikan. Dirinya mengaku terpanggil lantaran hasrat pencerah lewat edukasi sekaligus dakwah.

Ayah empat anak (Muhammad Irfan, Mustafa Kamil, Ali Riza, dan Syarifa Rahima) itu juga menjadi sosok kunci dalam film dalam negeri berkualitas. Lewat Mizan Production, kini film-film bertema pendidikan, budaya, dan agama wira-wiri di bioskop hingga layar tancap di pelosok desa.

Haidar berkisah, awal terjun dalam ranah sinema akibat desakan Andrea Hirata yang memaksa salah satu novel tetraloginya, Laskar Pelangi menjadi tontonan layar lebar. Meski sebelumnya sudah ada Mizan Cinema “Akhirnya kita mulai dengan buku yang fenomenal itu. Kerjasama dengan Miles Film. Alhamdulilah berhasil. Penontonnya paling banyak dalam sejarah film Indoenesia,” cerita jebolan pasca sarjana dari Pusat Studi Timur Tengah Harvard University, AS (1990-1992) itu.

Film Laskar Pelangi yang rilis 25 September 2008 langsung mengentak, menyihir penonton. Bahkan, menjadi pemecah rekor sebagai film dengan penonton terbanyak dengan catatan sebanyak hampir 5 juta orang. Jumlah ini di atas film Ayat-ayat Cinta, juga terbitan Mizan yang sebelumnya ditetapkan MURI sebagai film yang paling banyak ditonton dengan raihan lebih dari 3 juta saja.

Haidar lantas mentitahkan Mizan terus menyelam. Film kedua berjudul Garuda di Dadaku pun sukses meski tak sebesar yang perdana. “Nah kalau film ini tidak dimulai dari buku, melainkan justru kita buatkan bukunya,” aku Haidar.

Sontak, Haidar mulai melafalkan produksi film dalam grup Mizan Production menjelma menjadi raksasa penggerak film inspiratif. Beberapa produksi yang sudah retas, diantaranya : Garuda di Dadaku (sutradara Ifa Isfansyah; bekerja sama dengan Salto Films, rilis 18 Juni 2009), Emak Ingin Naik Haji (sutradara Aditya Gumay; bekerja sama dengan Smaradhana Pro, rilis 12 November 2009), Sang Pemimpi (sutradara Riri Riza, bekerja sama dengan Miles Films, rilis17 Desember 2011), 3 Hati, 2Dunia, 1Cinta (sutradara Benni Setiawan, rilis 1 Juli 2010), Rindu Purnama (sutradara Mathias Muchus, rilis 10 Februari 2011), dan seMESTA menduKUNG biasa disebut Mestakung (sutradara John De Rantau, Oktober 2011, kerja sama dengan Falcon Pictures).

“Bahkan, 3 Hati, Dua Dunia, Satu Cinta menang Piala Citra sebagai Film Bioskop Terbaik. Pemainnya juga dapat penghargaan. Ini diangkat dari dari dua novel karangan Ben Sohib yang aslinya bernama Ali Shahab berjudul Da Peci Code dan Rosid dan Delia,” celetuk Haidar.

Terakhir Film berjudul Ambilkan Bulan  yang disutradarai Ifa Isfansyah telah rilis akhir tahun lalu. Juga kerjasama dengan Falcon Pictures. Yakni, sebuah film musikal anak-anak menampilkan lagu-lagu legendaris karya AT Mahmud. Bagi Haidar, ini berangkat dari keprihatianan terhadap budaya anak-anak yang mati suri.

“April ini kita akan review. Memang bukandari buku tapi diharapkan bisa menghidupkan gairah lagu anak. Lagu-lagu AT Mahmud dinyanyikan oleh tujuh band nusantara ternama,” tutur lelaki yang sebenarnya berlatar ilmu teknologi industri dari ITB ini.

Namun Haidar harus menahan diri untuk terjun bebas bisnis film. Sebab dalam hitungannya, prospek film Indonesia lagi jeblok. Lelaki berhidung mancung ini memberi contoh film The Raid. Meski dipuja sampai penjuru dunia, namun prediksi penonton film bergenre action gaya pencak silat itu masih sepi penonton.

“Film The Raid  yang masuk dalam kategori film Hollywood pada posisi 26. Tapi, dugaan kita penonton berkisar 1 juta saja. Jadi, ini bukan waktu yang pas untuk jor-joran masuk dalam layar lebar,” sebut lelaki yang pernah meninggalkan Mizan pada 1980 karena kesibukan rutinitas dan kembali bergabung pada 2001 sebagai Direktur Utama Mizan.

Padahal, dalam film layar lebar, biaya produksinya begitu besar, terlebih tema pendidikan. “Kalau membuat film horor atau seks itu biaya cukup Rp 2 miliar sudah jadi. Tapi film kita seperti Sang Pemimpi biayanya hampir Rp 13 miliar. Yang termurah saja Rp 6 miliar,” tandas Ketua Badan Pendiri Yayasan Imdad Mustadh’afin (YASMIN) ini.

Tantangan membesar karena mayoritas penonton adalah kawula muda. “Nah kebanyakan dari golongan ini ternyata lebih menyukai film tema horor atau yang berbau seks,” timpal dosen di The Islamic College Jakarta itu.

Karenanya, Haidar coba melirik siaran televisi atau biasa dikenal Film Television Movie (FTV). Alasannya FTV lebih murah tetapi punya pengaruh besar karena penontonnya lebih banyak dibandingkan layar lebar. Dengan begitu, resiko menjadi kecil, meski keuntungannya tak akan sebesar film layar lebar.

“Jadi FTV ini dari unsur segi pendidikan bisa lebih efektif. Apalagi dalam kondisi layar lebar film Indonesia kurang bagus,” tukas salah seorang pembela warga Islam Syiah di Madura yang diserang akhir tahun lalu.

Mizan Productions menorehkan tinta emas dengan memproduksi film serial bergengsi yang notabene sarat dakwah Islami. Di bawah kepemimpinannya, sudah bercokol produk FTV. Misalnya  Seri Munajat Hati berkisah seputar haji di MNCTV. Ada pula 4 episode Kecil-Kecil Punya Cerita, yaitu FTV bagi anak yang diangkat dari seri buku laris Kecil-Kecil Punya Cerita terbitan Mizan.

MNCTV juga menayangkan serial TV 3Hati 2Dunia 1Cinta sebanyak 15 episode. Dan, serial TV Laskar Pelangi sebanyak 15 episode ditayangkan di SCTV sejak Desember 2011 lalu. “Masih ada lagi beberapa serial TV yang sedang kita buat. Tapi ini juga tidak mudah karena sudah banyak pemainnya,” tambah Haidar.

Toh bukan berarti Haidar meninggalkan film layar lebar. Timnya tetap memilih buku yang cocok, utamanya best seller untuk menjadi film layar lebar atau FTV. “Kita pilih sebab itu lebih menjamin kesuksesannya. Misalnya sekarang sedang syuting distrudarai oleh Hanung Bramantyo dari novel Perahu Kertas karangan Dewi Lestari. Jual film soal Inggrit Ganarsih istri pertama Soekarno yang kemungkinan selesai tahun depan. Ada juga beberapa lainnya,” tutup lelaki yang mengikuti berbagai aksi sosial pendidikan seperti jaringan sekolah batuan kaum dhuafa bernama Lazuardi Hayati dan pendiri Yayasan Sekolah Tinggi Islam Madina Ilmu Jakarta serta Yayasan Muthahhari tersebut.

*) Tulisan ini menjadi bahan tulisan SINDO Weekly edisi 5.Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s