Menanti Kelanjutan Proyek Listrik Tenaga Angin

Selesai kesepakatan feasibility study, kini pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) kapasitas besar menanti kerja sama PLN. Akankah investasi energi terbarukan sebesar $150 juta ini segera bergulir?Image

Ranap Simanjuntak

Kardaya Warnika mengaku sibuk. Dirjen Energi Baru Terbarukan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) itu Rabu sore pekan lalu diberondong sejumlah tamu dari luar negeri. Lelaki yang mendapat tugas mengawal perkembangan engeri alternatif (selain energi fosil) ini mengatakan rencana pembangunan PLTB kapasitas 50 mega watt (MW) di Dusun Patehan, Kecamatan Sanden, Bantul, Yogyakarta tersebut membuat investor luar negeri mulai tertarik. “Sekarang tinggal menunggu power purchase agreement (PPA) denga PLN. Kita hanya sebagai fasilitator,” katanya kepada SINDO Weekly.

 Kalau jadi, tahun depan masyarakat sekitar Bantul, Yogyakarta akan mendapat pasokan listrik dari angin. Dengan perhitungan rata-rata tiap keluarga menghabiskan sekitar 1.000 watt per bulan maka, ada 50.000 rumah ditopang. “Angka ini meliputi masyarakat satu kabupaten,” lanjutnya.

Seperti diketahui, Direktorat Jenderal Energi Baru Kementerian ESDM telah berhasil menorehkan nota kesepakatan (MoU) dengan UPC Renewables Indonesia Limited.  Kardaya berserta para jajaran diplot membantu persiapan pelaksanaan feasibility study (FS) program pembangunan PLTB di pantai Samas tersebut. Di mana, UPC Renewables Indonesia Limited menggandeng partner lokal  PT Binatek Reka Energi selaku partner lokal.

Sehabis pendatanganan PPA yang kini masih berlangsung, rencananya proyek ini selesai dalam waktu 15 bulan. Total investasinya diproyeksi menelan dana sebesar US$ 150 juta. Di mana, investasi awal senilai US$ 75 juta akan digunakan untuk menginstalasi 33 turbin angin dengan kapasitas listrik terpasang masing-masing sebesar 1,5 megawatt.

Kardaya mengakui tenaga angin belum menjadi proyeksi energi dan strategi bauran energi primer. Namun, proyek PLTB Samas yang akan tercatat sebagai pembangkit listrik pertama terkoneksi dengan fasilitas turbin angin di Indonesia menjadi awal baik. “Saat ini kebutuhan energi kita, 95% dipenuhi oleh energi fosil seperti  minyak. Kondisinya hanya mencukup kebutuhan 11 tahun mendatang kalau tak ditemukan yang baru. Sehingga, kita harus mencari alternative, salah satunya ya PLTB ini,” sebut dia.

Menurut Kardaya, dewasa ini pengembangan PLTB hanya berorientasi uji coba. Belum tertuju bagi kepentingan industri komersial. Nah proyek PLTB Samas dengan kapasitas ini 50 MW terhitung besar untuk skala utilitas. Bahkan, menjadi PLTB terbesar, mengalahkan PLTB di Sukabumi yang hanya berkapasitas 10 MW. “Proyek ini bisa jadi batu loncatan dalam memulai pengembangan energi terbarukan yang berasal dari tenaga angin. Sebab, bauran energi untuk tenaga angin bisa dibilang masih nol besar,” katanya.

Akan tetapi Kardaya mengingatkan agar pengembangan PLTB Samas ini perlu bersinergi dengan pemanfaatan teknologi serta memberdayakan konten local. Sehingga, dapat menyerap tenaga kerja pribumi. “Keberadaan lapangan kerja baru akan memberikan nilai tambah sehingga proyek-proyek ke depan akan lebih menjanjikan. Kita ada 17 ribu pulau yang banyak tempat bisa dimanfaatkan. Nanti investor silahkan pilih,” pinta dia.

Direktur UPC Renewables Indonesia Limited Steven Zwaan menambahkan, pengembangan proyek PLTB dilakukan melalui agenda pembangunan agresif agar tercapai target produksi hingga Juli tahun depan. Kelebihan PLTB baginya, yaitu ramah lingkungan. Energi ini nol emisi dari tenaga listrik terbarukan yang bersih untuk jaringan listrik pulau Jawa. “Ini bisa mereduksi produksi Karbon Dioksida hingga 90.000 ton CO2 setiap tahun. Kami komitmen merealisasikan sumber energi bersih dengan dampak lingkungan paling minim,” akunya.

Dirinya menambahkan, kehadiran PLTB di pesisir Samas bisa menjadi  pionir dalam memulai sejumlah proyek turbin angin di dalam negeri.  Steven optimis PLTB di kawasan tropis seperti Indonesia akan mendistribusikan energi secara efektif karena kecepatan angin yang relatif konstan. Terlebih di beberapa Negara maju seperti Cina, Amerika dan Jerman teknologi ini sudah mendapat perhatian besar. Dalam catatan SINDO Weekly, di Jerman saja pembangkit listrik dari angin sudah mencapai hingga 20 giga watt.

Tak jauh berbeda diungkapkan Direktur Utama PT Binatek Reka Energi Erwin Yahya. Dia mengatakan, pembangunan proyek ini bukan asal, melainkan sudah ada penelitian dan pemantauan insentif selama empat tahun. Penelitian tersebut dilakukan pada sejumlah pulau di pesisir pantai selatan Jawa termasuk pantai Trisik, Pandansimo, Sams, Parangkusuma, Parangtritis, dan Parangendog. Menurutnya, tidak semua tenaga angin yang dihasilkan di sejumlah pulau dapat dikonversi menjadi sumber energi listrik.

Erwin sendiri menjelaskan, listrik yang dihasilkan melalui pola wind farm tersebut akan dijual kepada PLN. Pihaknya dan UPC Renewables Indonesia Limited merinci skema kerja sama sistem independent power producer (IPP). Pengembang menawarkan harga kepada PLN sebesar Rp 1.200 per KWH selama 20 tahun, dan Rp 700 selama 10 tahun berikutnya.Image

Penawaran ini terbilang cukup mahal. Sebab, pada PLTB Sukabumi berkapasitas 10 MW yang dibangun PT Viron saja menjual kepada PLN dengan harga Rp 775 per KWH. Sedangkan harga rata-rata yang dijual PLN kepada masyarakat sebesar Rp 600 per KWH. Akibatnya, negara harus mensubsidi biaya tambahan.

PLN sendiri mengkaji berdasarkan FS. Bukanya hanya PLTB Samas ini, melainkan di beberapa tempat seperti wilayah Nusa Tenggara Timur yang melibatkan tim ahli PLTB asal Cina. “Sehingga nantinya kalau PLTB itu berhasil dikembangkan, diharapkan dapat menarik pihak lain untuk ikut mengembangkan,” ungkap Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN (Persero) Bambang Dwiyanto.

 

BOX

Regulas Hemat Energi

Pemerintahtengah mempersiapkan regulasi guna mengatur penghematan energi. Akan tetapi belum dapat diputuskan peraturan tersebut berbentuk keputusan menteri atau yang lainnya. Akan tetapi regulasi ini nantinya berlaku untuk pejabat pemerintah sebagai permulaan dan percontohan kepada masyarakat.”Nantinya setiap pejabat di seluruh Indonesia harus membuat laporan, berapa besar pemakaian listriknya,”tutur Dirjen Energi Baru Dirjen Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM Kardaya Warnika.

Jerman Lirik Sulawesi

Perusahaan General  Electric mulai melirik pengembangan PLTB di dalam negeri. Misalnya Perusahaam asal Jerman menyatakan ketertarikan melakukan investor pembangunan secara bertahap masing-masing 10 MW dan 30 MW. “Penjajakan sudah dilakukan pada wal Mei lalu dengan mulai mencari daerah yang cocok. Tapi sepertinya mereka tertarik di Sulawesi,” kata Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM Hasrul Laksamana Azahari.

*) tulsan ini bahan di majalah SINDO Weekly edisi 10.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s