Soeharto dan Sepenggal Kisah Icognito yang Terlupa

Menyelami kehidupan masyarakat kelas bawah adalah budaya lalai atawa alpa sang pemimpin masa kini. Sepenggal kisah pengakuan penyamaran sang diktator ini sekadar mengingatkan kebijakan terdepan dari nurani.

Tak bermaksud mengolok atau mendiskreditkan siapa pun. Tapi yang pasti, kini, kata ‘dekat’ dengan rakyat semacam pepesan kosong. Mengawang dan terawang-awang.

Bagaimana kebijakan itu menjadi ‘bijak’ kalau tak tahu derita yang ramai ngantri di balik gedung tinggi, di daerah pelosok nan jauh di pedalaman, atau terpaksa maling karena lapar mengancam. Sepenggal cerita penyamaran ini juga tak bermaksud membela penguasa Orde Baru yang faktanya mau dekat dengan rakyat.

Cerita incognito atau menyamar diam-diam ke kampung-kampung didengungkan oleh mantan   Wakil Presiden Try Sutrisnotahun lalu di dalam bukunya.

Try era 70-an adalah ajudan taat Soeharto. Dia setia menemani The Smiling General itu menyamar diam-diam ke kampung-kampung mendampingi kunjungan ‘safari rakyat. Misalnya di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.

Ternyata, tak banyak yang tahu soal perjalanan ini, termasuk pejabat-pejabat di wilayah yang mereka hampiri. “Pesannya satu, tidak boleh ada yang tahu Pak Harto melakukan incognito,” ujar Try dalam sambutannya pada peluncuran buku ‘Pak Harto, The Untold Stories’ di TMII, Jakarta, Rabu 8 Juni 2011 lalu.

Try berkisah, Kalau sedang melakukan penyamaran, Soeharto biasanya hanya diiringi tiga mobil yang berisi dokter kepresidenan, pengawal, Pak Harto dan Try Soetrisno sendiri. “Tidak ada protokoler, seadanya saja,” katanya.

Yang paling menarik soal makanan. Selain membawa beras khusus dari Jakarta, Soeharto juga selalu bawa bekal khusus dari Ibu Tien Soeharto. “Bekalnya sambal teri dan kering tempe. Kalau sedang menyamar, kami betul-betul prihatin. Tapi Pak Harto sangat menikmati perjalanan itu,” akunya.

Try menuturkan alasan Pak Harto senang melakukan incognito yang biasanya dilakukan di daerah-daerah terpencil. “Sebagai kepala negara Pak Harto merasa harus turun langsung, melihat sendiri bagaimana program-program pemerintah dilaksanakan, dan apa sudah langsung dirasakan masyarakat. Karenanya kami tidak pernah makan di restoran, tidur pun di rumah kepala desa atau penduduk,” tuturnya.

Di lokasi yang dituju biasanya Pak Harto juga berbaur dengan masyarakat sekitar, membantu petani turun ke sawah, mengetam padi dan memberi pupuk. Tidak jarang Pak Harto memberi pengetahuan tentang katarak. Setelah itu dia biasanya menginstruksikan ajudan untuk berkoordinasi dengn Yayasan Darmais untuk melakukan operasi gratis.

“Pak Harto juga sering berbincang-bincang dengan ibu rumah tangga, nanya soal sandang pangan, memastikan cukup atau nggak, harga murah atau nggak. Kalau kepada petani tanya panennya bagaimana. Ke pedagang tanya pasokan barang bagaimana,” kata Try.

Dalam buku Pak Harto, The Untold Stories perjalanan Soeharto saat menyamar juga ditampilkan lewat foto. Tampak Pak Harto sedang mengaso. Berbaju batik, dia duduk di sebuah gundukan dan menyender di pagar kayu.

Berikut beberapa kegiatan Soeharto pada 17-21 November 1976:

Masuk Pasar

Dibawah ini adalah gambar Presiden Soeharto saat masuk ke sebuah pasar di daerah Banyumas, Jawa Tengah.

Jenderal berbintang lima ini berdialog langsung dengan pedagang di pasar. Anggota rombongan tidak ada yang memperkenalkan identitas sang presiden sesungguhnya. Pada waktu itu, para pedagang tidak tahu kalau mereka sedang berbicara dengan seorang Presiden. Karena penampilan Soeharto memakai topi dan baju batik, mereka menyangka beliau adalah seorang mantri pasar. Dari kunjungan ini beliau mendapat gambaran harga kebutuhan pokok rakyat.

Di Sawah

Seperti halnya Soekarno yang menemukan gagasan Marhaen tatkala bertemu dengan petani di Bandung, Soeharto tak mau ketinggalan. Di kabupaten Purwakarta, dia bahkan singgah dua kali. Wawancara dengan petani-petani yang sedang menggarap sawah.

Dari wawancara itu beliau mendapat keterangan langsung dari petani seputar penggarapan tanah, pemakaian pupuk dan hal-hal yang menjadi kesulitan para petani. Ketika singgah di sebuah Puskesmas, beliau menanyakan kepada para perawat mengenai program keluarga berencana dan pengelolaan Puskesmas. Setelah berkeliling seharian, presiden yang menjabat selama 31 tahun ini bersama rombongan menginap di pendapa Kawedanan Banjar, Kabupaten Ciamis.

Sudah pasti kehadiran Kepala Negara yang mendadak itu membuat kalang kabut para pejabat setempat, seperti Camat dan Wedana karena tidak ada satu pun dari mereka yang diberi tahu mengenai rencana kunjungan Presiden tersebut.

Di Sekolah Dasar
Soeharto memandang perlu soal pendidikan sehingga dirinya menyempatkan singgah di sebuah SD Inpres untuk mengetahui secara langsung kondisi sekolah dan proses belajar mengajar. Ada kejadian unik yaitu ketika beliau mengoreksi kesalahan salah seorang guru ketika menyampaikan pelajaran, namun apa jawaban Pak Guru tersebut? “Memang, ini untuk menguji tingkat keseriusan para siswa dalam menerima pelajaran”.

Di Bank Rakyat
Di sebuah Bank Rakyat Indonesia unit desa, Soeharto menanyakan hal-hal seputar perkreditan untuk petani dan besarnya tunggakan kredit yang belum lunas. Beliau juga memberikan arahan langsung hal-hal teknis kepada pimpinan bank mengenai penanggulangan kredit-kredit dari petani yang masih menunggak. Setelah itu beliau menginap di kantor desa Sendangsari, 30 km sebelah utara kota Yogyakarta untuk persiapan melanjutkan perjalanan berikutnya ke Jawa Timur.

Meninjau Korban Banjir
Di Jawa Timur, Soeharto menyinggahi tempat penampungan pengungsi korban banjir di kecamatan Pasirian kabupaten Lumajang. Beliau juga menengok dapur umum dan merasakan masakan yang akan dikirim kepada para korban. Pak Harto juga memberikan pidato sejenak untuk membesarkan hati para korban banjir yang sedang kesusahan. Dia juga menganjurkan kepada para korban untuk bertransmigrasi ke luar Jawa, karena dengan bertransmigrasi akan lebih menyejahterakan para petani sebab lahan pertanian lebih luas daripada di pulau Jawa. Seusai melaksanakan serangkaian perjalanan penyamaran ini, rombongan menuju lapangan terbang Abdurachman Saleh, Malang untuk kembali ke Jakarta.

Akhirnya di tengah perjalanan, seperti akhir hayatnya,  Soeharto kelelahan. Dia duduk di tanah bersandarkan pagar yang terbuat dari bambu. Rans & berbagai sumber.

One thought on “Soeharto dan Sepenggal Kisah Icognito yang Terlupa

  1. maafkn kami yg hanya nisa melihat keberhasilan tanpa mengetahui kesusahannn damailah engkau dsna para pemopin kami perjuangan hrs dteruskan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s