Mengenal Ikon Humas, Prita Kemal Gani

  Ribuan lulusan muda bidang kehumasan berkualitas lahir dari tangan dingin Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR. Jerih payah wirausahawan perempuan ini mampu mengatrol dunia kehumasan sebagai pilihan profesi bergengsi.

Oleh : Ranap & Indah

Prita yang kini menduduki posisi Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School of Public Relation (STIKOM-LSPR) Jakarta ini mengenang masa-masa perintisan lembaganya sebagai sesuatu yang berharga.

Lantaran membangun citra kehumasan tak semudah membalik telapak tangan di tengah badai krisis ekonomi. ”Peristiwa penting yang berkesan, yaitu ketika terjadi krisis di Indonesia yang menyebabkan kerusuhan dan beberapa tenaga pengajar asing di London School memutuskan untuk pulang ke negerinya.”

“Ketika itu saya pikir tamatlah riwayat kami, namun ternyata justru di sinilah awal kebangkitan London School,”ujar istri dari Direktur dan Pimpinan Redaksi Majalah SWA, Kemal Effendi Gani ini.

Prita nyatanya percaya kalau kemampuan para praktisi Humas Indonesia tak kalah dengan praktisi asing. Kepercayaan diri bersemi kembali setelah dia merenung atas bekal pendidikan Public Relations di London City College of Management Studies, Inggris. Kemantapan mental Prita juga kuat karena terpatri falsafah hidup untuk menjalankan hal-hal yang baik (good karma) dan tak melakukan hal yang buruk (bad karma).

“Hal ini saya jabarkan dalam visi dan misi hidup saya yakni untuk menjadi bermanfaat bagi banyak orang, terutama keluarga saya, sanak saudara serta keluarga besar LSPR,” cetus mantan Director of Public Relations for Clarck Hatch International, Jakarta Indonesia (1989-1992) itu.

Konsep multikultural menjadi keunikan budaya pendidikan di STIKOM-LSPR. Sistem pengajaran menggunakan 50 persen bahasa Inggris dan 50 persen berbahasa tanah air Indonesia. Dari segi kurikulum, LSPR menggunakan 60 persen kurikulum internasional (UK) dan 40 persen kurikulum nasional.

Program studi yang dikembangkan juga aplikatif untuk segera diserap dunia kerja. Diantaranya Public Relations Studies, Mass Communication Studies, Marketing Studies, Advertising Studies, dan Performing Arts Communication Studies.

Peraih Master of Business Administration – International Academy of Management & Economic, Manila, Philippines tahun1990 in sengaja menciptakan suasana internasional di kampus. Tujuannya  agar para alumnus menjadi tak lagi segan tampil di dunia global.

Sosok Prita yang terkesan sederhana ternyata mampu meraih simpati dari berbagai kalangan. Demi kesuksesan tim kerja pendidik, dia berusaha menciptakan hubungan kerja yang harmonis agar ide kreatif menderas. Para mahasiswa pun dinilainya sebagai aset berharga perusahaan.
Dedikasi Prita pada bidang kehumasan mengantarkan ibu dari tiga anak ini menjadi Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) periode 2011-2014. Prita pun mencatatkan sejarah sebagai ketua umum perempuan pertama dalam perjalanan 39 tahun berdirinya Perhumas.
Prestasi lainnya direngkuh Prita ditunjukkan dengan penghargaan dari berbagai institusi. Diantaranya Outstanding Entrepreneur Award 2009 yang diberikan oleh Enterprise Asia yang memiliki program untuk memberikan penghargaan regional untuk entrepreneur terbaik se-Asia Pasifik.

Ada lagi gelar lain dari Perhumas dalam kategori pendidikan pada 2006, serta penghargaan Best Practice in Public Relations and Communications Profession oleh Institute of Public Relations Malaysia (IPRM).  “Public relations bukan lagi hobi, tetapi sudah merupakan kebutuhan mutlak di kalangan bisnis internasional, pemerintahan maupun kelembagaan,”ujar Prita menerangkan motivasinya bergelut di dunianya.

Bagaimana perjalanan hidup Prita? Bila menelisik pembawannya yang kalem, ini tak lain merupakan keturun dari sang ayah, almarhum Sudaryono. Ayahnya merupakan lelaki campuran Jawa-Sumatera Barat.

Sementara sikap ulet berwirausaha banyak ditempa dari didikan sang bunda, Tity yang berdarah Padang. Sedari kecil Prita memang diajarkan kemandirian. Pasalnya, sang ibu yang menjadi penopang hidup tatkala sang ayah wafat ketika dia berusia lima tahun. Biaya hidup Prita digulirkan dari bisnis hotel ibu tercinta di Bengkulu.

“Cita-cita saya sejak kecil ingin menjadi guru dan cita-cita inilah yang menarik saya untuk berada pada bidang pendidikan,” katanya.

Selain terobsesi sejak kanak-kanak menjadi guru, Prita juga menggemari dunia public relations dari belia. Lintasan hidup akhirnya yang menghantarkan kuliah diploma bidang Manajemen Hotel di Universitas Trisakti.

Sewaktu magang pada salah satu hotel berbintang di dengan posisi public relations Prita makin yakin kalau profesi tersebut amat cocok. “Ingin menjadi guru dan kesukaan saya di bidang public relations inilah yang menjadikan saya berkarir di pendidikan komunikasi terutama Public Relations,” aku Prita.

Semangat Prita Kemal Gani kemudian berjalan beriring dengan kemauan serta bekerja keras. Meski telah menyandang predikat sebagai enterpreneur  wanita Indonesia terkemuka, Prita berusaha menelurkan ide-ide representatif.

Berkat kontribusinya delama lebih dari satu dekade, namanya memang telah layak disejajarkan dengan tokoh-tokoh wanita Indonesia lainnya. Terlebih dengan obsesi yang tak hanya kerja, melainkan pula hasrat memperbaiki bangsa melalui lembaga pendidikan yang didirikannya. ”Saya ingin membangkitkan semangat kretivitas mahasiswa London School ke area internasional dan mendapat pengakuan internasional yang berdampak pada perbaikan ekonomi di Indonesia.” ujarnya optimis.

Bukan sekadar modal tekad, keberanian yang sudah diterpa pengalaman itulah sebagai landasan awal Prita terjun di dunia pendidikan. Tepatnya medio 1992, dia membuka lembaga kursus Public Relations dengan modal ruang kantor sewaan. Luasnya hanya 12 meter persegi perkantoran pada gedung World Trade Centre (WTC) di bilangan Jalan Sudirman, Jakarta.

Perlahan nan pasti, keuletan Prita membuat bisnis pendidikan ini berkembang. Hingga pada 1999, Prita memberanikan diri secara resmi meningkatkan kelas dari lembaga pendidikan menjadi sekolah tinggi. Namanya Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School of Public Relations – Jakarta.

Segudang Prestasi

Serius menggeluti pekerjaan selaku akademisi, Prita menjadi teladan sekaligus inspirasi para pendidik kampus. Prita pun ditahbiskan sebagai Dewan Konsul dari APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia) wilayah III.

Perjuangan keras mendirikan LSPR hingga menjadi sekolah yang disegani di dunia pendidikan tinggi Indonesia pun mengantar perempuan kelahiran Jakarta, 23 November 1961 ini meraih Outstanding Entrepreneur Award di tahun 2009 dari Asia Pacific Entrepreneur Award. Padahal baru setahun sebelumnya, dia sudah terpilih sebagai Finalist in Ernst & Young Entrepreneur of The Year.

Bahkan, Institute of Public Relations Malaysia (IPRM) pun ikut menganugerahi Prita sebagai Best Practice in Public Relations and Communications Profession di Kuala Lumpur pada 23 Desember 2005. Namanya pun tenar sebagai juri kehormatan pemilihan Abang None, Koko Cici, Putri Pariwisata dan Duta Muda ASEAN Indonesia.

Menapak usia 52 tahun, pendiri dan pemimpin LSPR ini mencatatkan sudah menelurkan lebih dari 10.000 sarjana dan pasca sarjana serta program diploma komunikasi.  Selain menyelami pekerjaan, Prita juga menikmati peran sebagai istri dan ibu  dari Ghina Amani Kemal Gani, Fauzan Kanz Kemal Gani, dan Raysha Dinar Kemal Gani. Di kala senggang, dia masih menyempatkan waktu turun ke dapur mempersiapkan hidangan untuk keluarga tercinta. Luar biasa.

Selain menekuni bidang Public Relations, Prita juga dikenal pemelihara lingkungan. Sasarannya menciptakan lingkungan hijau. Prita sebagai makhluk sosial mengabdikan diri sebagai Member of Advisory Board of British Council Climate Change Project sejak tahun 2008 hingga kini.

Prita yang kebanjiran job masih memperhatikan perkembangan anak yang terbelakang, khususnya autis.  Dia merupakan Pembina dan Anggota Penasehat London School Autism Awareness Centre.

Segudang prestasi yang melahirkan manisnya buah sukses sungguh tak semudah membalikkan telapak tangan. Proses itu digapai dengan kesederhanaan di masa kecil. Kesederhanaan ini yang menurut dia kerja keras memulai usaha dengan awal yang sederhana pula.

Pengalaman masa kecil sebagai anak yatim membuat dia serius dalam melangkah. Tuntutan mandiri menempa jiwanya agar bisa menjadi pengganti sosok ayah bagi ketiga adiknya. Lantaran sang ayah yang berprofesi sebagai seorang wartawan di salah satu media cetak di Jakarta meninggal saat dia masih belita. Sedangkan sang ibu yang awalnya seorang ibu rumah tangga kemudian bermetamorfosis menjadi orang tua tunggal sekaligus pencari nafkah.

Prita kecil tidaklah hidup dalam keluarga yang sangat berkecukupan. Mengulik kembali kisah-kisah hidupnya, Prita bersyukur diberi kesempatan untuk menjadi pribadi terampil dan tidak bergantung pada orang lain. Alhasil, ketekunannya ini menciptakan wadah pendidikan bermutu bagi anak bangsa. Prita  masih menjadi motivator agar lembaganya menjadi kampus idaman bagi para calon mahasiswa.

Tulisan profil ini masuk dalam buku Man Of The Year 2011 RMOL yang diterbitkan 29 Januari 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s