Geliat Pamor Emiten Batu Bara (Februari 2012)

Sempat dibayangi kelesuan pasar, emiten produsen batu bara kembali mendongkrak pamor. Sektor ini penggerak kenaikan IHSG dan menjadi kans dalam jajaran indeks LQ45.

Oleh : Ranap Simanjuntak

Boleh dibilang, selama periode setahun pada 2011, kuartal IV merupakan masa getir produsen batu bara. Sandungan terberat berasal dari titik jenuh jual alias oversold.  Krisis Eropa yang belum juga surut, kebijakan pembatasan harga oleh China lewat otoritas price cap, dan robohnya jembatan Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur merupakan akumulasi hambatan yang menghadang.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan, harga batu bara Indonesia sejak Oktober lalu terus turun dari US$ 119,24 per ton menjadi US$ 109,29 per ton hingga Januari. Penurunan itu berkisar 8,3%. Tahun lalu, rata-rata harga batu bara acuan (HBA)  mencapai US$ 118,4 per ton.

dampak buruk batubara dapat merusak lingkungan

Namun masa suram itu tampaknya bakal berganti angin segar. HBA  Indonesia pada Februari ini meningkat 2,09 %, dari US$ 109,29 per ton menjadi US$ 111,58 per ton. Meski masih tipis, kenaikan ini merupakan kali pertama dalam periode empat bulan terakhir. Di mana, HBA tersebut merupakan harga untuk penjualan spot dalam periode 1-29 Februari 2012 untuk batu bara dengan rata-rata 6.322 kilokalori.

Namun para analisis mengingatkan agar tak senang dahulu karena HBA dalam dua bulan ini sebesar US$ 110,4 per ton masih di bawah HBA tahun lalu. Analisis  Indosurya Asset Management Reza Priyambada mengungkapkan, geliat emiten batu bara mulai tampak dan diprediksi mendulang masa gemilang pada kuartal II tahun ini.

“Itu tergantung dengan kondisi ekonomi dan laju inflasi. Sekarang sentimen sudah mulai membaik. Memang agak sulit memprediksinya, tapi setelah keluar laporan keuangan di bulan Maret nanti, biasanya para investor akan mulai terjun sehingga akan mengalami pertumbuhan,” ungkapnya.

Memang harga di pasar spot belum membaik. Menyiasati permintaan harga ekspor yang belum naik signifikan, Reza mengingatkan emiten untuk memperbesar volume dengan tujuan alternatif di negara Asia atau Australia karena Amerika dan Eropa masih terguncang krisis. Terlebih China telah melakukan restocking besar-besaran dan India diprediksi menahan pembelian akibat depresiasi nilai tukar Rupee.

Reza menunjuk PT ABM Investama Tbk (ABMM) yang tak terlalu terganggu dengan harga pasar dengan peningkatan produksi. Sejak go public menjadi emiten baru ke 22 di 2011 dalam melantai di bursa Desember lalu, sahamnya langsung melejit ke posisi Rp 4.100  dari  pelepasan harga di Rp 3.750. Tahun lalu ABMM memang meningkatkan produksi batu bara sebesar 2,7 juta ton dari  produksi 1 juta ton di tahun 2010. Bahkan, tahun ini, perusahaan itu menargetkan produksi hampir dua kalipat, yakni 5,5 juta ton.

Bahkan, beberapa saham emiten produsen batu bara seperti PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Borneo Lumbung Energy & Metal Tbk (BORN), dan PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI)  berpeluang masuk indeks LQ 45. Menurut Reza saham HRUM dan BORN akan menguat lantaran dukungan kinerja keuangan positif serta sahamnya cukup aktif ditransaksikan oleh investor. “Kalau Resource Alam memang aktif aditransaksikan. Ada potensi peningkatan harga. Kalau manajemen sering memberikan informasi kepada investor, misalnya aksi korporasi mengakuisisi tambang baru, sahamnya akan lebih aktif ditransaksikan,” pungkasnya.

Soal perkiraan yang tak terlalu prospektif, Reza menunjuk PT Darma Henwa Tbk (DEWA) karena dinilai terlalu sering mengalami kerugian, meskipun pada kuartal I 2011 mampu membukukan keuntungan. Kemudian, PT Perdana Karya Perkaya Tbk (PKPK), PT ATPK Resources Tbk (ATPK) dan saham produsen batu bara lainnya yang masuk kategori saham lapis ketiga sulit menjadi saham yang likuid ditransaksikan investor. “Nilai kapitalisasi pasar mereka terlalu minim, dan sahamnya kurang dikenal oleh investor,”  imbuh dia.

Namun Reza mengkritik raksasa PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk. (BORN) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Meskipun kedua perusahaan ini diminati investor asing, bahkan BUMI Selasa (21/2) BUMI tercatat sebagai top foreign buy dengan  dengan total transaksi Rp167,3 miliar, namun Reza menilai dua emiten ini bisa melemah. “Masalahnya bukan fundamental tapi sentiment di dalam mereka investor lebih sering menjadi ini sebagai trading,” jawabnya.

Sementara JP Morgan memberikan rating netral diberikan kepada ADARO (ADRO) serta overweight pada saham Berau Coal Energy (BRAU) dan TB Bukit Asam (PTBA). JP Morgan juga merilis sensitivitas pendapatan emiten 2012 terhadap 10% perubahan harga batu bara. Di mana BRAU berada di urutan pertama dengan perubahan 32%. Kemudian BUMI 23%, INDY 21%, ADRO 20%, ITMG 19% an PTBA 17%.

Sementara Direktur PT Recapital Asset Management Pardomuan Sihombing berharap Indonesia berperan menentukan harga batu bara dunia. Caranya dengan penyelenggaraan perdagangan berjangka. “Batu bara harus segera masuk dalam perdagangan berjangka. Indonesia sebenarnya sudah punya harga referensi yang dikeluarkan PT Coalindo Energy dengan produk Indonesia Coal Index (ICI), namun sosialisasinya masih kurang,” ujarnya, Senin.

KenaikanHBA sejalan dengan harga delapan produk batu bara termal yang menjadi referensi. Mulai berkalori rendah (4.200 kilokalori), seperti Ecocoal diproduksi PT Arutmin Indonesia (anak usaha BUMI hingga batu bara berkualitas 7.000 kilokalori yang diproduksi anak usaha PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Apalagi, saham-saham pertambangan menjadi penggerak utama kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan dari awal hingga bulan kedua tahun ini. Catatan PT Bursa Efek Indonesia, dari 10 saham yang menjadi penggerak utama kenaikan Indeks, enam saham berasal dari sektor pertambangan. Sektor ini memang vital memajukan perumbuhan ekonomi.

Tabel

PERGERAKAN RATA-RATA HARGA SAHAM BATUBARA

Emiten     Selasa (21/2) Seminggu    Sebulan 3 Bulan 6 Bulan

 

BRAU 425 420 425 415 540
BUMI 2.525 2.475 2.525 2.200 2.700
INDY 2.550 2.375 2.550 2.725 3.075
ADRO 1.990 1.950 1.820 1.960 2.250
ITMG 43.400 39.850 38.750 42.750 43.400
PTBA 20.750 21.000 19.750 17.850 18.800

 

Tulisan ini menjadi bahan (copy) Tulisan yang diterbitkan di majalah Trust edisi 15 Tahun X terbit tanggal 23 Februari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s