SBY dan Film Pesan Sang Jenderal

gambar : tribunnews

gambar : rimanews

Banyak cara menuju Roma. Banyak cara juga untuk mendongkrak pamor, mengantongi ‘berbagai’ pundi. Salah satunya lewat film. Tentu bakal nyentrik kalau aktornya itu kepala negara.

Oleh : Ranap Simanjuntak

Artis jadi politisi dan politisi jadi artis. Sampai presiden pun dikabarkan jadi pemain film setelah sukses menjadi musisi, penyanyi sekaligus pencipta lagu. Memang kebebasan pencitraan memang sudah karut marut. Sementara artis sendiri punya cara luar biasa mendongkrak pamor sampai hal tak lazim.

Kabar teranyar yang menjadi berita bombastis di tahun 2012 ini datang dari artis belia, Dinda Hauw. Gadis berusia 15 tahun kelahiran Palembang itu menghenyak nusantara dengan pernyataannya yang mengatakan akan bermain film berjudul ‘Pesan Sang Jendral’ bersama Presiden SBY. “Sempat kaget juga, karena akan ada bupati sama menteri-menteri yang ikut main juga. Semoga Pak SBY bisa (ikut berakting),” kata pemain film Surat Kecil untuk Tuhan itu di Plaza FX, Jakarta, Senin (20/2).

Dinda Hauw-gadis pelantun isu

Kabarnya film Film garapan Sutradara Benny Setiawan tersebut juga melibatkan sejumlah artis kawakan seperti Alex Komang dan Ira Wibowo.

Entah keceplosan atas keluguan artis belia atau ada upaya untuk menaikkan rating, namun buru-buru Executive Produser Prima Media Sinema Tri Bayu Aribowo menyanggah pernyataan itu.

“Kami meminta maaf atas kesalahan wawancara dari Dinda Hauw. Ini adalah kepolosan seorang anak membaca skenario bahwa presiden di sini (skenario) diartikan olehnya adalah Pak SBY. Kacamata dari Dinda Hauw presiden sekarang ya Presiden SBY. Masalah menteri atau bupati itu juga tidak ada,’ terang orang yang menjadi penanggungjawab film tersebut.

Tri Bayu Aribowo

Namun Tri Bayu tak menyangkal kalau film itu berkaitan dengan orang nomor satu di negeri ini. Film layar lebar yang mulai syuting Maret mendatang itu mengangkat cerita seorang anak yang punya cita-cita sangat besar dan mulia, dia terinspirasi dengan pesan Jendral Sudirman yakni. Pesan Sang Jendral yang melekat pada sang anak itu ingin disampaikan kepada presiden. Toh, judulnya dapat berubah.

Dia menambahkan, meski tidak diperankan langsung oleh SBY, tapi pihaknya tetap akan meminta izin mengenai penggunaan karakter tokoh Presiden SBY. “Kami tetap akan izin ke SBY mengenai karakter yang akan dipakai itu presiden. Tapi ini fiksi, bukan presiden SBY, Kalau nantinya pak presiden bersedia ikut syuting kami akan berbangga hati,” ucapnya memberi umpan.

Apa kata Demokrat? Di tengah gonjang-ganjing berbagai masalah internal partai dan memanasnya suhu politik, salah satu kader partai Demokrat malah mengeluarkan pernyataan yang makin ngelantur. Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat, Soetan Bhatoegana mengatakan mendukung. “Sepanjang itu untuk memberi pencerahan kepada masyarakat kan enggak apa-apa,” katanya.

Menurut dia akan lebih seru kalau Angelina Sondakh ikut bermain pula. “Yang ini pasti jadi ngeri-ngeri sedap barang tuh. Bukan Box Office lagi tapi Out of The Box,” ujarnya ketika dikonfirmasi Tribunnews.com.

Malah pendiri Partai Demokrat yang kalau bicara bagai orang marah ini mengiklankan diri siap kalau dimninta ikut main film tersebut. Haha. “Kalau diajak ok asal perannya jangan yang tukang meras-meras rakyat, yang curi-curi (Lucu-Lucu Ngeri) saja,”guyonnya.

Soetan yang juga menjabat Ketua DPP Bidang Ekuin Partai Demokrat ini bahkan jumawa dengan menyebutnya diri tak perlu belajar akting lagi. “Enggak usah, langsung jadi barang tuh,” pungkas dia.

Soetan Bathoegana

Soal jadwal Soetan menganggap enteng pekerjaan presiden dengan menyebut kerja SBY selaku kepala negara dan pemerintahan tidak akan terganggu atas adanya jadwal syuting bermain film nanti. Padahal, jelas bangsa ini sedang didera multi masalah. “Ya, yang bersangkutan kan tahu mengatur waktu,” imbuh dia.

Hahaha…kalau negeri sudah maju dan tak payah mungkin wajar saja pernyataan itu.

Bambang Soesatyo

Ya, banyak orang tertawa mendengar isu SBY akan main film. “Hah? main film?,” kata politisi Partai Golkar Bambang Soesatyo. Sejenak anggota Komisi III DPR RI ini terbahak. “Film? Ha… ha… ha..,,” dia tak dapat menahan tawa .

Politisi yang awalnya artis juga heran mendengar kabar SBY main film. Rieke Diah Pitaloka mengkritis keras. Politisi PDI Perjuangan ini menuduh SBY saat ini sedang main film terus. Setiap pidato SBY, katanya, memperlihatkan kemampuan akting yang luar biasa. Bagaimana intonasi, gestur tubuh sampai gerak tangan, terlihat seperti akting, termasuk ekspresi? “Ha..ha..ha,” begitu mungkin jawaban kalau Mba Surip masih hidup.

Rieke dengan benderang menirukan adegan SBY yang doyan akting. “Apalagi kalau bicara “saya prihatin”. Padahal yang dibutuhkan rakyat bukan akting prihatin dari seorang presiden. Tapi saya setuju kalau pak SBY ikut shooting film supaya sadar ketika sutradara bilang action,” sindir Rieke.

rieke diah pitaloka

Naluri penulis buku ‘Renungan Kloset’ sekaligus oposan ini sebagai seniman pun muncul mendadak. Istri Bajuri bernama Oneng dalam Bajaj Bajuri ini sontak member ide. “Usulah sama produser Bajaj Bajuri untuk buat ‘Bajuri The Movie’, Ajak SBY main juga. Ceritanya, soal Oneng yang ditolak dari RS karena Bajuri nggak punya uang. Saking putus asa Bajuri akhirnya berusaha ketemu pak SBY supaya Oneng tidak ditolak rumah sakit karena uri miskin. Bajuri naik bajaj ke Cikeas, mau ketemu dan mengadu ke SBY,” Rieke bercerita ide naskahnya. Film Bajaj Bajuri

Senada diungkapkan rekan satu partai Rieke, Eva Kusuma Sundari yang menilai SBY asyik menyalurkan hobby tapi peduli janji-janji kampanye. “Sebaiknya Pak SBY fokus memenuhi janji kampanye 15 hal yang belum terpenuhi.

Eva Kusuma Sundari

Jangan ambil lahan rezeki bintang film. Kalau presiden ya mewujudkan RPJM, bukan malah lempar handuk untuk main film,” imbuhnya.

Sementara seniman eksentrik Pong Harjatmo menanggapi isu film itu muncul karena SBY narsis. “Saya menolak SBY main film. SBY sudah narsis berat, mulai dari rekaman lagu, pakai pesawat kepresidenan, hingga main film. SBY harus ingat, banyak masyarakat yang masih makan nasi aking. Mengapa SBY tidak memikirkan kesejahteraan rakyat, jangan pencitraan terus,” ungkap Pong.

Lalu tanggapan politisi yang pernah terjun langsung dalam film ‘Chau Bau Kan’ (dari novel Remy Sylado) dan ‘Dream Obama’, yakni Yusril Ihza Mahendra. Mantan pembantu SBY itu menyarankan SBY untuk menolak tawaran main film itu bila memang benar adanya.  Pasalnya, negara dan bangsa sedang kisruh. “Presiden alangkah lebih baik fokus dan serius bekerja. Main film itu, apalagi peran utama, akan menyita banyak waktu, tenaga dan pikiran. Sisa waktu SBY menjadi  presiden tinggal dua tahun,” kata Yusril.

Lebih baik, lanjutnya, waktu yang tersisa dimanfaatkan dalam menunjukkan kinerja. “Beliau harus meninggalkan kenangan keberhasilan membangun bangsa dan negara, bukan dengan membangun citra lagi dengan film. Belum tentu, film itu  disukai rakyat sebagai penonton,” petuah Menteri Hukum dan HAM itu.

Ada berbagai tanggapan. Memang semua bebas berpendapat. Begitu pula dari ranah politik. Pengamat Politik Universitas Paramadina, Gun Gun Heryanto menilai isu SBY berakting dalam film ini  sebagai skema mendinginkan eskalasi politik. “Bagi kepentingan presiden bisa jadi itu memang menjadi salah satu skema ‘cooling down’ dari eskalasi politik yang didominasi hubungan antagonistik. Itu semacam ‘relaksasi’ sehingga topik seputar SBY tidak semata identik dengan kasus Nazar dan Anas,”ujar Gun Gun.

Gun Gun Heryanto

“Main film, meski tidak sampai menghabiskan waktu banyak, tetapi kesan yang muncul dari publik akan berbeda. Jangan sampai presiden membuat masalah baru, yakni terkesan berada dalam ‘hyperealitas’ politik citra. Dia memberi ‘solusi imajiner’ untuk berbagai harapan publik saat ini,”tambah dia.

Entahlah. Ini soal penciteraan sang presiden atau malah skema pasar pebisnis layar lebar. Yang jelas sekarang film yang entah jadi berjudul ‘Pesan Sang Jenderal’ atau bukan ini membuat orang penasaran. Bisa jadi, film ini bakal meroket. Namun, lepas dari itu, semoga pesan yang disampaikan di dalam film bisa membangun, membangitkan sekaligus mengingatkan patriotisme yang kian lama kian terkikis. Semoga!

Naksah dan foto : diolah dan diambil dari berbagai sumber!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s