Fadel Muhammad dan Misteri Reshuffle Pasar Bebas

simak di sini : FAdel Muhammad

Terbukti menggugah kemandirian bangsa lewat kinerja sebagai menteri, pelengseran Fadel di injury time menghenyak banyak orang. Empati pun berdatangan atas pencopotan tokoh Partai Golkar itu sebagai keputusan tak populis dan tak bijak.

“Fadel mengagetkan kita saat dia maju berperang melawan ‘beruang-beruang ekonomi’ yang memaksa Indonesia melakukan impor komoditas pangan yang dapat diproduksi sendiri dan banyak dikonsumsi rakyat.” Demikian salah satu kalimat dari tulisan akademisi sekaligus praktisi bisnis ternama, Rhenald Kasali di salah satu media masssa nasional.

Sang penulis, yang merupakan guru besar ekonomi Universitas Indonesia itu, memberikan reaksi atas pencopotan Fadel Muhammad dalam reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II pada 18 Oktober 2011.

Dengan gamblang dia terlebih dahulu menyebut rentetan kinerja Fadel sebagai menteri yang membela kepentingan rakyat kecil, utamanya nelayan. Pun berusaha membentuk kemandirian bangsa. Fadel dinilai berjuang sesuai kampanye Presiden SBY, yakni pro poor, pro growth dan pro job.

Pencopotan Fadel Muhammad yang memang menjadi hak preogratif presiden ini tentu menghenyak banyak orang. Politisi gaek Partai Golkar, Akbar Tandjung sampai mengaku bingung sendiri. Sebab, terbukti sudah berkinerja baik selama dua tahun di pemerintahan. “Kita menilai selama ini dia bekerja sungguh-sungguh dan tekun. Hubungan komunikasi (Fadel) dengan Pak SBY juga baik. Keberpihakan dan dukungannya kepada petani garam yang saat ini menghadapi serbuan garam dari luar negeri nampak. Program-progam di bidang kelautan dan perikanan juga nampak,” demikian alasan kebingungan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar itu.

Dalam kelompok masyrakat nelayan maupun pesisir, pencopotan Fadel menuai penyesalan. Ketua Forum Masyarakat Kelautan dan Perikanan (FMKP) Oki Lukito memandang mantan Gubernur Gorontalo itu memiliki gagasan cemerlang seperti program minapolitan berbasis budidaya dan kegigihan mengentaskan kemiskinan masyarakat bahari.

“Sebenarnya Fadel sudah berada di kapal yang tepat. Dia memiliki ocean leadership yang kuat. Hanya sayangnya, sebagai nakhoda, dia tidak didukung awak kapal yang memiliki kualitas memadai,” ungkapnya.

Ketua Umum Lembaga Bantuan Hukum Forum Studi Aksi Demokrasi (Fosad), Faisal Riza Rahmat bahkan menganggap pencopotan itu bagai dagelan. “Lantas apakah pengganti Fadel dapat bekerja dengan maksimal?” tanya dia.

“Persoalannya sederhana, hanya like and dislike. Dan kami juga saksikan bahwa menteri-menteri yang disebut-sebut korupsi masih berada di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yang diduga terlibat korupsi di Kementeriannya masing-masing,” tambah Faisal seperti dingkapkan Suara Merdeka.

 

Telepon dan Alasan Tidak Nalar

Dalam reshuffle Kabinet Oktober 2011, khususnya pencopotan Fadel Muhammad sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan itu, terjadi banyak keganjilan. Padahal laporan Ketua Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) tak menyebutkan kepemimpinan Fadel masuk dalam rapor merah. “Saya bertemu dengan Pak Kuntoro Mangkusubroto di istana. Beliau mengatakan Kementerian Kelautan dan Perikanan tidak termasuk dalam rapor merah. Artinya saya tidak tahu sebab pencopotan saya,” jawabnya saat ditanya Rakyat Merdeka Online.[1]

Yang aneh merupakan kronologis pemberitahuan oleh Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi bahwa Fadel yang tak lagi menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan terkesan kurang etis dan buru-buru. Dalam wawancara dengan stasiun televisi, Fadel mengisahkan, dirinya mendapat telepon dari Sudi Silalahi sekitar pukul empat sore, Selasa 18 Oktober 2011.

“Diberitahu, oleh Presiden saya tetap menjadi Menteri Perilakanan dan Kelautan. Maka, saya panggil semua staf untuk mempersiapkan rapat kerja dengan DPR. Saya siapkan semua karena masih banyak kapal Malaysia di negeri kita dan kapal kita yang di Malaysia. Saya persiapkan semua,”[1] cerita Fadel. Bahkan Sudi sempat memuji laporan Fadel.

Berselang empat jam lebih, pukul 19.50 WIB, yakni hanya sepuluh menit sebelum pengumuman reshuffle,  Sudi kembali menghubungi Fadel via telepon. Inilah awal drama tragedi pencopotan Fadel yang memunculkan kesan dan pesan “penzaliman” dan menjadi perbincangan publik.[2]

Dalam keterangan pers yang kemudian dipublikasan vivanews menyebutkan pembicaraannya, yakni “Pak Fadel nama anda tidak disebut. ‘Lho kenapa tidak disebut?’ Tetapi telepon dimatiin sama Pak Sudi. Mungkin karena beliau buru-buru dipanggil Presiden,” kata Fadel saat menggelar jumpa pers di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan keesokan harinya.[3]

Benarkah ini kemauan dari pimpinan Partai Golkar? Analisis media massa menyebutkan, awalnya partai berlambang pohon beringin itu mengharapkan tambahan kursi di kabinet. Karena itu, mereka mengajukan Sharif Cicip Sutardjo yang juga menjabat wakil ketua umum DPP PG. Bila skenario mendapatkan tambahan kursi itu tidak terealisasi, Ketua Umum DPP PG Aburizal Bakrie ingin Sharif menggeser posisi Agung Laksono dari Menko Kesra. Agung juga menjabat wakil ketua umum PG. Jadi, di dalam struktur PG memang terdapat empat posisi wakil ketua umum.[4]

Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso langsung menanggapi kalau partainya menghormati keputusan presiden yang tak menambah jatah kursi menteri buat Partai Golkar di jajaran Kabinet Indonesia Bersatu II. Namun dia berharap pihak Istana Kepresidenan memberikan penjelasan terkait pencopotan Fadel. “Mungkin kalau boleh menyarankan, Istana harus memberi tahu Pak Fadel dengan bahasa yang kira-kira terhormat sehingga beliau tidak merasa tercampakkan begitu saja,” kata Wakil Ketua DPR RI ini.[5]

Ketika dikonfirmasi soal gejolak di tubuh Partai Golkar, Priyo tak membantah. ’’Itu dinamika internal yang juga terjadi di semua partai,’’ pungkasnya. Namun, dia buru-buru menambahhkan kalau masalah reshuffle urusan presiden sepenuhnya. ’’Kami tidak mau ikut-ikut terkena ’abu anget’, karena persoalan tergeser atau tidak tergeser, atau ada pergantian di antara personel Golkar,’’ ujar Priyo.[6]

Tatkala media berusaha mengkonfrontir dengan isu Fadel akan hengkang dari Partai Golkar, Priyo membantah. “Saya kira tidak. Fadel itu tokoh yang memiliki integritas yang sudah teruji di partai kami. Kami sangat kehilangan beliau jika betul pergi dari Golkar,” jelas Priyo.[7]

Nyatanya isu Fadel akan hengkang tak benar. Toh Fadel dengan ksatria menerima pencopotan dan posisinya digantikan Sharif Cicip Sutardjo, rekannya di partai. “Sebagai manusia, meskipun hati kecil ini kecewa, saya akan terima dengan senang hati. Saya terima ini semua demi jalannya pemerintahan yang baik nanti,” ungkap Fadel.

Dia menambahkan, selain akan melanjutkan mendirikan yayasan garam, dirinya juga akan melakukan beberapa program-program pro rakyat bersama Partai Golkar. “Saya tetap di Golkar, kan saya Wakil Ketua Umum Partai Golkar. Partai ini rumah besar saya sebagai politisi. Saya tidak akan pindah ke partai manapun. Sebab, saya tidak kecewa dengan Golkar. Saya ingin memfokuskan kemenangan Golkar di wilayah timur. Strategi pemenangan tersebut tetap dikembangkan.[8]

Terbukti Fadel setia dengan Partai Golkar. Bahkan, beberapa dukungan mengalir deras buatnya. Bahkan dalam proses pencalonan kandidat calon pemilihan Gubernur Jakarta, nama Fadel meraih skor tertinggi dari hasil survei internal DPP Partai Golkar, pada medio Januari 2012.[9]

Dan yang cukup mengejutkan, Nama Fadel tiba-tiba mencuat dalam hasil survei calon gubernur DKI Jakarta yang digelar Cyrus Network dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) periode 24 November-1 Desember 2011. Padahal selama ini, nama yang digadang-gadang untuk maju dari Partai Golkar adalah Tantowi Yahya dan Prya Ramadhani. Nama Fadel pun menggeser kedua calon tersebut.[10]

Rakyat Merdeka Online melansir polling khusus siapakah Gubernur DKI Jakarta 2012? Hasilnya hingga 12 Januari 2012, nama Fadel melesat di urutan ketiga dengan membukukan dukungan 14,04 persen. Dia mengalahkan bakal calon lainnya seperti Faisal Basri, Fauzi Bowo, Hasnaeni, Hendardi Supandji, Joko Widodo, Nachrowi Ramli, Prijanto, Sandiaga Uno dan tokoh lainnya.[11]

Sempat pula tersiar kabar Fadel akan mencalonkan diri untuk pemilihan Gubernur Maluku Utara. Isu tersebut mencuat lantaran hasil penelitian lembaga survei lokal, Garda Malut. Disebutkan, Fadel menempati urutan pertama dari enam kandidat calon gubernur dengan perolehan 44 persen suara. Posisi kedua ditempati Gani Kasuba yang saat ini menjabat Wakil Gubernur Maluku Utara dengan perolehan 14,7 persen, disusul empat kandidat lainnya.[12] Memang setelah Malut ditunjuk Fadel sebagai lumbung ikan nasional, ketokohannya mulai menjadi perbicangan daerah yang merupakan tanah kelahirannya tersebut.

Lalu alasan apa sebenarnya yang membuat Fadel dijatuhkan dari kursi menteri? Sudi Silalahi menyebutnya ada masalah, meski tak mengungkap apa permasalahan yang ada. “Yang jelas tidak adalah penzaliman itu, sangat rasional. Presiden juga punya hak konstitusional dalam mengangkat dan memberhentikan menteri. Setelah dilakukan investigasi beliau memang mempunyai masalah,” ujar Sudi Silalahi, Jumat (21/10).[13]

Pernyataan ini membuat Fadel berang. “Alangkah baiknya bila Pak Sudi bisa menjelaskan alasan (pencopotan) saya. Jangan seperti ini membuat masyarakat bingung. Tidak perlu menyampaikan alasan pemberhentian bila pada akhirnya substansinya sangat kabur. Hingga terkesan mengada-ada, bahkan cenderung dapat menjadi fitnah terhadap diri, keluarga, dan nama baik saya,” ujarnya lagi.[14]

Oleh para kolega dirinya disarankan mempolisikan Sudi karena sudah melakukan fitnah dan pencemaran nama baik. Untungnya Fadel berjiwa besar. “Atas pencemaran nama baik yang dilakukan saya tak akan melaporkannya kepada polisi tetapi ke Allah dan rasul-rasul-Nya,” seru dia.[15]

Putri almarhum mantan Presiden Soeharto, Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto mendukung Fadel dan mempertanyakan alas an reshuffle karena bermasalah seperti diutarakan Sudi. “Ini harus dijelaskan, karena beberapa menteri lain yang diduga lebih bermasalah, justru tidak diganti,” kata Ketua Dewan Pengurus Pusat Bidang Petani dan Nelayan di Partai Golkar ini. [16] Sudi membela diri dan berkilah, seharusnya Fadel sendiri yang mengungkapkan masalahnya.

Sempat pula beredar kabar kalau pelengseran itu akibat kasus sengketa pengadaan tanah untuk tanah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Dua surat dari Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Komaruddin Hidayat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah AM Fatwa yang mengirim surat kepada presiden kalau Fadel gagal menyediakan lahan seluas 40 hektare di Desa Cikuya, Kecamatan Cisoka, Tangerang, Banten, untuk kampus dan perumahan UIN ditengarai sebagai biang keladi Fadel di-reshuffle.

Fadel pun membenarkan kalau masalah itu memang ada. Hanya saja seluruh persoalan tanah dan sudah tercapai kesepakatan dengan UIN Syarif Hidayatullah. Dirinya pun mengaku sudah menyerahkan dokumen itu kepada kepada Sudi Silalahi dan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto.

Sudi dan Djoko pun mengadakan rapat terkait persoalan ini. Usai rapat Fadel mendapat telepon dari Sudi yang memberitahu bahwa ia tetap memimpin Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Lepas benar atau tidaknya Fadel dam sengketa tersebut, bila menjadi dasar alasan pencopotan tampaknya kurang logis. Fadel mempertanyakan kenapa masalah pencopotannya yang menurutnya masalah kenegaraan dikaitkan dengan persoalan pengadaan tanah yang nilainya hanya Rp 5 miliar. “Saya tidak mau terjebak dengan masalah itu,” katanya. [17] Seharusnya, tambah Fadel, jika memang ada kaitannya maka persoalan tanah itu diajukan ke pengadilan perdata.

Dari banyaknya argumen tampaknya analisa Rhenald Kasali sepertinya paling logis. Pemberhentian itu akibat kepentingan para importir dalam arus pasar bebas, atas nama perjanjian dagang yang dipayungi World Trade Organization. Tindak tanduk Fadel membongkar kontainer-kontainer berisi ikan-ikan yang diselundupkan ke pasar Indonesia. Aksi penyelamatan industri garam rakyat yang bertahun-tahun digempur para importir bangsa sendiri. Dan, langkah keras menangkap para pelaku illegal fishing adalah kumulatif ketidaksukaan kaum elite paham neo liberal di negeri ini.

Fadel menyadari hal tersebut. “Saya baru menyadari bahwa selama menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, sikap saya dalam memperjuangkan ekonomi rakyat terlampau keras.”

“Kebijakan yang saya buat dianggap berpotensi merugikan kepentingan para penganut ekonomi pasar bebas. Sikap saya ini adalah mandat konstitusi yang harus memperjuangkan rakyat kecil.”[18]

 

 

Kisah Eksentrik Sang Pendobrak dan Sepenggal Konsistensi

 

Kiprah kepemimpinan dengan gaya eksentrik telah menyulap keterbelakangan. Fadel Muhammad masih konsisten memberi perhatian kepada kepentingan masyarakat bahari. Bagaimanah ukiran masa lalunya?

—————————-LEAD

Pendobrak belenggu ini datang dari wilayah Indonesia Timur. Tanah kelahiranya Ternate.Tahunnya 1952. Soal tanggal lahir, dia beruntung karena bersamaan dengan hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei.

 

Fadel Muhammad, politikus Partai Golkar ini mencuat dalam headline media massa di tahun 2011. Pencopotannya sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan dalam reshuffle kabinet Oktober lalu mendapat simpati banyak kalangan.

 

Bagaimana tidak, selama dua tahun menjabat dia telah berupaya menguatkan ekonomi kerakyatan. Kebijakan suami dari Hana Hasanah (anggota DPD RI) ini berpacu membangkitkan kemandirian bangsa, lewat kebijakan intervensi terbatas pemerintah melalui pengetatan impor garam dan ikan.

 

Dengan mengangkat tema revolusi biru bernama Minapolitan, Fadel merangsang pembangunan sektor kelautan dan perikanan di nusantara. Berbagai masalah yang dia coba atasi. Misalnya dalam kasus tambak udang Dipasena di Lampung.

 

Fadel telah berhasil meleraikan pihak yang berkonflik PT Aruna Wijaya Sakti, anak usaha CP Prima dengan 7.152 petambak plasma. Dia berjanji akan membantu penyediaan listrik dan bibit udang.Bahkan, menyarankan para petambak mengambil alih pengelolaan.

 

Mereka disarankan membentuk badan usaha koperasi atau badan usaha milik daerah (BUMD) guna mengelola tambak terbesar di Asia Tenggara ini. Sayang belum sampai tujuan dalam merealisasikan mimpi Dipasena menjadi tambak udang terbesar sedunia, pelengserannya sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan menghambat rencana tersebut.

 

Banyak lagi langkah konkret yang dia lakukan dalam memperkuat negara bahari beserta dengan rakyat di dalamnya. Pemegang sertifikat menyelam PADI (Professional Association of Diving Instructors) dan SSI (Scuba Schools International) ini mencanangkan gemar makan ikan.

 

Setelah melakukan aksi perlawanan aksi persengkongkolan impor ikan (terutama dari Cina), Fadel kembali mengobrak abrik impor garam yang diberlakukan Menteri Pedagangan (saat itu dijabat Marie Elka Pangestu yang sudah menjabat dua periode). Sekaligus Fadel berusaha menaikkan harga garam menjadi Rp 900 perkilogram dalam menstilumulus petani garam. Namun, akhirnya Maria Elka Pangestu—yang hasil reshuffle digeser sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif—hanya menyetujui kenaikan hingga Rp 700 perkilogram saja.

 

Fadel pun pernah mengeluarkan kebijakan populis dengan program pembangunan 10 ribu desa miskin pesisir. Ada pula penambahan bantuan kapal lebih dari 253 kepada nelayan kecil tiap tahun. Cerita pagelaran bahari tingkat internasonal bernama Sail telah sukses dua kali dia laksanakan (Sail Banda tahun 2010 dan Sail Wakatobi- Belitong 2011) adalah bagian ukiran tinta emas.

 

Soal memerangi pencuri ikan dia pun tegas. Kisah penangkapan nelayan Malaysia yang berujung penyanderaan tiga petugas pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 14 Agustus 2010 menjadi kenangan tak terlupakan. Suhu politik Indonesia-Malaysia sempat memanas, meski tak berakibat konflik fisik setelah pengembalian masing-masing sandera. Setahun kemudian, petugas pengawas yang berhasil menangkap kapal pencuri Malaysia tak bergeming tatkala helikopter berusaha melakukan intervensi, menodongkan senjata terhadap penindak sipil illegal fishing tersebut.

 

Fadel, lewat Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan pun membentuk sistem pengawasan berbasis masyarakat bernama Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas). Kini, sudah lebih dari 1500 Pokmaswas yang terhimpun.

 

Fadel tak lupa menjalin kerjasama melakukan kerja sama ekonomi dengan negara-negara ASEAN dan Jepang. Kerja sama ekonomi ini bertujuan menertibkan pencurian ikan.Masih segudang langkah eksentrik yang dia punya. Pengelola pulau-pulau kecil, penyelamatan ekosistem terumbu karang, magrove dan pencemaran laut pun tak luput.

 

Bahkan, dia pernah mengusulkan kurikulum pendidikan bahari untuk sekolah dasar kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ini upaya menumbuhkembangkan nasionalisme Indonesia sebagai negara bahari yang terdiri dari beribu pulau.

 

Di saat dia tak lagi menjabat sebagai menteri, Fadel konsisten berjuang. Sesuai janji, Fadel mendirikan Yayasan Garam. Secara kontinu dan ekspresif lelaki berhidung mancung itu meminta dan mendorong PT Garam sebagai satu-satunya BUMN yang memproduksi dan mengolah garam agar mengevaluasi kinerja.

 

Sejarah Gemilang

Sekonyong-konyong nama Fadel Muhammad mencuat sebagai bakal calon gubernur, Jakarta dan Maluku Utara. Tak sedikit pula yang mengelukan menjadi pemimpin negeri ini, kelak. Bisa jadi karena imbas kinerja apik di masa lalu. Ditambah empati dari penzaliman.

 

Sejenak melongok lelaki yang awalnya memilih jabatan menteri dengan alasan sebagai bentuk pengabdian dari regional menuju nasional. Dia rela melepaskan jabatan Gubernur Gorontalo tepat 22 Oktober 2009 untuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Meski saat itu merupakan masa keemasan.

 

Fadel baru saja mendulang hasil dengan lompatan quantum membawa provinsi Gorontalo sejahtera. Sejak 2001 menakhodai provinsi baru hasil pemekaran dari Sulawesi Utara, dia mampu memacu pertumbuhan ekonomi hingga 8,4 persen. Dengan gerakan budidaya jagung, Fadel menurunkan angka kemiskinan di Gorontalo secara fantastis. Dari 77 persen turun drastis hingga 33 persen di tahun 2009.

 

Wajar dia bak pahlawan. Lihat saja dalam pemilihan Gubernur Gorontalo tahun 2006, ada dukungan 81 persen suara. Nilai ini merupakan tertinggi di Indonesia untuk pemilihan sejenis dan tercatat di rekor MURI sebagai rekor pemilihan suara tertinggi di Indonesia. Fadel pun masih menjabat Ketua Dewan Jagung Nasional.

 

Ketokohan seorang Fadel memang mengakar sejak belia. Kuliah di ITB, dia mendapat penghargaan mahasiswa teladan dan meraih tiket beasiswa dari Caltex dan Grant dari Mitsubishi untuk belajar di Institut Teknologi California. Namun,secara eksentrik, tawaran itu ditolaknya. Berhasil pula mengembangkan koperasi kampus yang dikelola mahasiswa.

 

Fadel yang meraih gelar Doktor Ilmu Adsminitrasi Negara di Universitas Gadjah Mada Fadel dengan predikat cum laude merupakan pengusaha sukses. Dengan gelar insyinyur pada 1978, dia mendirikan PT Bukaka Teknik sebagai perusahaan pertama yang sampai sekarang masih eksis.

 

Pemilik Bank Intan (yang akhirnya dilikuidasi) itu setidaknya berhasil menjalankan lima perusahaan sejak era 80-an meski banyak pula yang karam. PT Arco Chemical Indonesia/PT Lyondell Indonesia/PT Bayer Urethanes Indonesia (1987-2004), PT Dowell Anadrill Schlumberger Indonesia (1985-2004), PT Gemar Baker Nusantara/PT Dwi Sentana Prima (1983-2003). Pada 1988 dia mendirikan PT Gemasembrown dan terakhir tahun 1993 mendirikan PT Nesik Bukaka.

 

Kini salah satu pendiri ICMI itu sedang dalam keadaan bebas tugas. Namun, harapan besar banyak orang menaruhkan kepercayaan di nadi ayah dari Fikri, Faiz, dan Fauzan ini untuk membangun bangsa.


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s