MEMOAR PEJUANG VETERAN (Brigjen TNI (Purn) Soemarno Soedarsono)

Dia menghabiskan sepenuh hidup demi membangkitkan karakter nasionalisme bangsa. Dirinya merasa miri melihat persoalan bangsa makin runyam oleh tindak tanduk dari segenap elemen bangsa yang tak lagi patriot.

Berikut adalah memoar atau sejenis autobiografinya yang disematkan dalam Lifetime Achiement 2011 RMOL.

Jalan-jalan becek penuh lumpur itu kutapaki dengan cepat. Di sekitarku orang sibuk berjalan perlahan-lahan agar lumpur bercampur tanah dan air yang menggenang tak mengenai celana yang sudah tergulung selutut. Daerah yang “kumuh” di Kemayoran Kecil ini selalu saja banjir meski hujan yang turun sedikit. Bergegas aku mencuci kaki dahulu sebelum melanjutkan perjalanan yang hanya berjarak 100 meter menuju SMA Adam Bachtiar yang terletak di sebelah RS. Carolus. Satu-satunya SMA Republik masa itu, sebelum era kemerdekaan.

Betapa bangganya ayah saat aku menjadi alumnus pertama SMA Budi Oetomo. Ayahku bernama R. Soedarsono Mertodihardjo. Sebagai sersan di KNIL, beliau menduduki jabatan sebagai ketua onder officieren bond (persatuan ikatan bintara). Tahun 1930 aku sering duduk dipangkuan ayah jika ada pertemuan dengan ndoro Dr. Sostro Kartono, adik Raden Ajeng Kartini. Aku sudah tak ingat lagi pembicaraan yang mereka lakukan. Setelah pensiun, ayah bekerja sebagai kepala Rumah Sakit Kusta di Lenteng Agung. Ayah adalah bekas tentara KNIL di bidang kesehatan berpangkat Gelijkgesteld (disamakan) karena dianggap kemampuannya sama dengan seorang Belanda. Bisa dibilang, kehidupan keluarga waktu itu cukup mapan.

Namun, saat Jepang menduduki Indonesia, ayah ditangkap dan dipenjara di Cilacap. Ibu harus banting tulang bagi kami, anaknya yang berjumlah tujuh orang. Ibu mengajar pada pagi hari lalu kerja serabutan malam harinya. Sering kali aku ingin memeluk ibu jika kulihat ia kelelahan. Ibu wanita ayu, tegar, dan lembut. Dia pula guru dengan dedicated jiwa pengabdian tulus sekaligus ikhlas

 

Setelah keluar dari tawanan, ayah rela menjadi mandor jalanan dengan upah kecil. Disinilah mimpiku dimulai. Kesenjangan antara sekolah Republik dan sekolah Belanda – Inggris, seringkali membuatku dan teman-temanku sedih. Merasa disepelekan. Terhina. Memendam marah. Aku bertekad untuk mengubah keterpurukan ini.

Aku lalu  bergabung dengan PMI yang dipimpin dr. Soekoyo, pamanku. Kami membantu korban di pihak Republik setiap ada pertempuran.  Aku juga ikut membantu gerakan bawah tanah di. Tapi tak pernah berkesempatan  ikut melakukan perjuangan fisik.

Aku sangat ingin melakukan sesuatu bagi bangsaku. Tuhan Maha Pengasih, tahun 1950, aku  bersama Rudini, Sumarono Tuk Setyohadi dan Untung Sridadi terpilih dari 27 orang melalui seleksi ketat mengikuti pendidikan Koninklijke Militaire Academie (KMA) – Breda Belanda. Di usia 20 tahun, aku bertekad berjuang, mengambil ilmu dari negeri Belanda.

Aku pun kembali  ke tanah air tahun 1955 sebagai perwira muda. Penemuan jati diri membawaku berhadapan dengan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Bapak Jend Gatot Subroto saat berusia 26 tahun. Dari kedinasan maupun secara pribadi, beliau membimbing seperti sahabat, guru sekaligus layaknya bapak.

Dua tahun kemudian, aku ditugaskan ke Malang di pasukan Artilleri Brawijaya. Waktu itu terjadi pergolakan dalam negeri. Aku ditugaskan menyusul pasukan yang sudah mendahului berangkat ke medan pertempuran. Aku harus menggantikan komandannya yang mendapat tugas sekolah.

Suatu kali saat kunjungan Pak Mursyid di Kawangkoan terjadi serangan dahsyat dari Permesta selama 3 hari berturut-turut. Mereka sudah berada di batas kota Kawangkoan dan kami dikurung. Peluru yang tersisa hanya untuk satu hari pertempuran. Kami beruntung, Panglima Mursyid datang dengan membawa 50 kendaraan. Tapi pasukannya cuma satu peleton.

Ketika mendapatkan serangan mortar, aku mengatur tembakan pembalasan dengan menggunakan perhitungan analisa kawah (trechter analyse). Berhasil. Kami dapat membalas tembakan mortir musuh dengan tepat sehingga langsung membungkamnya. Permesta mengira panglima membawa pasukan yang besar sehingga mereka mundur.

Terjadilah titik balik atau Strategic Kip Moment dan kami mengejar mereka. Hari luar biasa itu menjadi kemenangan manis yang selalu kami ingat.

Tugas negara membawaku ke Manado tahun 1957 sampai 1960. Disinilah aku bertemu seorang gadis Manado cantik bernama Yolanda. Bertemu dengannya, sungguh membawa perubahan besar dalam hidupku.

Kami menikah, meski menganut kepercayaan berbeda. Yolanda adalah atlet tenis pemuluk Kristiani. Dia pernah menjadi juara tenis nasional. Moerdiono mantan Mensekneg sebagai ketua Pengurus Tenis Lapangan Indonesia (PELTI) pernah memanggilku Bapak  Yolanda. Aku hanya tersenyum.

Pada umur 40 tahun aku mendapatkan penugasan di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Magelang. Tugasnya di bagian umum darat sebagai Komandan Resimen Taruna (DANMENTAR). Tanggung jawabnya membantu Gubernur untuk membina dan membentuk taruna menjadi calon perwira.

Hal ini memang kudambakan sejak bertugas di TNI. Agar, para taruna yang dibentuk memiliki excellent of character  dan bagaimana how to accomplished the mission dengan karakter yang kuat, mulia dan terpuji. Mampu menunaikan segala tugas kewajiban dengan tuntas dan sempurna.

Diawali malam pertama serah terima jabatan, aku bersama isteri komandan divisi Alm. Pak Sudarto yaitu ibu Alm, Ninik Sudarto diminta bernyanyi bersama di depan para taruna tingkat 1 sampai dengan tingkat 4. Pada waktu mau menyanyi, ibu Ninik mengambil satu catatan dari dalam tasnya. Ia berkata, “saya mau ikut-ikut taruna yang suka nyontek.”Para taruna spontan tertawa, tepuk tangan senang sekali. Saya terkejut. Bagaimana bisa taruna menganggap menyontek sesuatu yang lucu. Sebagai seorang perwira, yang belajar apa artinya karakter, bukankah itu sesuatu yang tabu.

Kita sadari  pembentukan karakter perwira hal utama. Aku  mulai menggeluti dan mendalami masalah character building. Dengan memadukan pengalaman di TNI kucoba memperdalam apa yang sudah dipelajari di west point tentang duty, honor, country dan terapkan pada para taruna.

Para taruna merespon sangat baik. Yang kudidik di tahun 1970-an belakangan banyak menjadi pejabat negara. Mereka yang mengaku masih ingat pelajaran waktu di Magelang, antara lain : Jenderal Subagio mantan KASAD, Jenderal Johny Lumintang, Letjen Kiki Syahnakri, Letjen Suedy Marasabessy, Jenderal Rya Mizard, Letjen Chaniago, Mayjen Noor Aman dan masih banyak.

Masa pengujianku tiba justru saat aku dengan semangat tinggi memompakan semangat, karakter, dan jiwa pengabdian tinggi. Sebagai komandan resimen karakterku pernah diuji dengan memberikan masukan peninjauan ulang pada empat taruna yang akan dipecat. Para taruna itu menyebabkan kematian seorang taruna di luar kampus.

Bagiku seorang komandan harus mempunyai keberanian dan ketegaran membela anak buahnya yang tidak salah. Empat taruna itu tak jadi dipecat hanya diturunkan pangkatnya. Tinjauan ulang bagaimana taruna bisa keluar kampus hingga peristiwa itu terjadi. Ada evaluasi menyeluruh perwira yang bertanggung jawab saat plonco terjadi.

Tapi ini membuatku harus menghadap dewan kehormatan militer. Ada yang tidak senang pendidikan karakter yang kuterapkan. Berkat pertolongan Tuhan, setelah tiga tahun kasusku di peti-eskan. Dibentuk juga tim peneliti khusus dan akhirnya KSAD memutuskan aku di rehabiliter dan ditugaskan kembali sebagai perwira pembantu bidang perencanaan dan operasi staf umum angkatan darat.

Kemudian aku dipindahkan ke Lemhanas  sebagai Direktur Pendidikan di bawah Alm. letjen Sutopo Yuwono. Alhamdulillah, sejak kejadian itu mulai kutingkatkan EQ dan SQ untuk membangun karakter pada diriku.

Swaktu pensiun pada 1985, Lemhanas kembali memintaku sebagai tenaga ahli. Aku menjadi ketua kelompok kerja ketahanan nasional selama 10 tahun. Konsepsi ketahanan nasional Indonesia kukembangkan. Bagaimana memanfaatkan semua aspek kehidupan nasional dipadukan menjadi  lima ketahanan yaitu ideologi, politik, ekomoni, sosial budaya dan pertahanan keamanan agar mampu menghadapi segala hambatan.

Sepuluh tahun berlalu, aku memenuhi hukum Islam kelima, beribadah haji ke tanah Mekah. Berada dikakiNya, merasakan hadiratNya, ke-aku-an ku luruh total dan peristiwa besar itu terjadi dalam hidupku.

Setelah kembali, Gubernur Lemhanas waktu itu, Sofyan Effendi meminta mencetak tulisan tentang materi yang kuberikan. Buku pertamaku berjudul, Ketahanan Pribadi dan Ketahanan Keluarga Sebagai Tumpuan Ketahanan Nasional(1997, intermasa) terbit.

Menyusul buku kedua, Penyemaian Jati Diri  seiring dengan pelantikan Presiden BJ Habibie. Korupsi bertambah marak. Seorang budayawan yang juga ketua ANTARA berkata, ”Siapa orang yang menulis buku ini. kok beraninya menulis buku ini membicarakan hal nyata yang terjadi dikehidupan kita?”.

Ketika berceramah bagi kepala sekolah di Sawangan atas undangan DEPDIKNAS, 8 Agustus 2009, mereka mengatakan, “Kok, Anda berani mengadakan character building, sedangkan Bung Karno saja dengan Nation dan Character building-nya gagal. Sedangkan Pak Harto juga dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya dengan P4 gagal!” Aku menjawab, keberanian itu karena kuyakin bisa terwujud membangun karakter dalam rangka membina ketahanan yang bersifat bottom up. Dibarengi keteladanan secara top down. Kejadian itu mendorongku semakin mengembangkan konsep jati diri dan pendalaman tentang karakter dan jati diri Pancasila.

Selesai memberikan ceramah, aku langsung menyatakan akan menulis buku tentang Character Building. Alhamdulillah buku itu terealisasi dan diluncurkan tanggal 30 Desember 2002.

Pada 11 Januari 2002, bersama Komaruddin Hidayat yang mewakili Bapak  Nurcholis Madjid ditambah Awaloeddin Djamin, Moetojib, Kodradi, Ermaya, Franzs Magnes Suseno, Ferry Sounefille, isteri tercinta, Henny Singgih menandatangani akte notaris pendirian Yayasan Jati Diri Bangsa (YJDB). Visinya membangun karakter individu anak bangsa untuk membangun karakter dan jati diri bangsa sesuai Pancasila.

Ada tiga program utama yaitu makro, mikro dan kegiatan. Pertemuan awal Soerjadi Soedirja selaku Ketua Dewan Pembina menanyakan siapa yang digunakan sebagai sasaran atau dicapai? Aku menjawab bahwa sasarannya seluruh anak Agar terwujud cita-cita para founding fathers serta menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem lan kartorahardjo atau negara yang besar, megah, jaya, berharkat dan bermartabat.

Kini usiaku makin senja. Kesehatan mulai menurun. Aku butuh walker untuk berjalan. Penglihatanku mengalami glaucoma sehingga kemampuannya terbatas. Pendengaranku juga berkurang. Toh semangat dorongan istri, keluarga, dan teman-teman dalam wadah Yayasan Jati Diri Bangsa kami tetap melakukan pelatihan Character Building Training Program. Tahun 2001, ada pelatihan untuk para kepala sekolah se-DKI. Pada 2005- 2006, Dirjen PMPTK Depdiknas Fasli Jalal memberi kesempatan, memberi paparan n tentang arti dan peran penting karakter dalam menggulirkan Character Building Training Program.

17 Januari 2007, ada MOU dengan Depdiknas c.q Dirjen PMPTK untuk menggulirkan program Character Building bagi 2.700.000 guru seluruh Indonesia. Pada 11 April 2007, kami diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang didampingi Mensetneg Sudi Silalahi, Menhan Yuwono Sudarsono, Menag Maftuh Basyuni. Dalam kesempatan itu, kami mengajukan lima hal pada Bapak Presiden agar pembangunan nasional Indonesia benar-benar dapat dipayungi oleh nation dan character building mengingat telah memudarnya nilai-nilai yang digunakan oleh masyarakat secara luas.

Kami menyarankan suatu rekonstruksi moral secara total. Dalam puncak peringatan hari pendidikan nasional tanggal 26 Mei 2007 di candi Prambanan, dalam pidato, presiden menyatakan bangsa yang tidak membangun dan tidak memantapkan jati dirinya sebagai suatu bangsa, akan mudah salah arah dan terombang-ambing terutama di era globalisasi yang bergerak sangat cepat. Beliau juga menyampaikan bahwa pendidikan karakter sangat efektif kalau disalurkan lewat pendidikan nasional. Apa yang beliau ucapkan pada tanggal 26 Mei ini ternyata di ulangi  baik ditahun 2008 maupun di tahun 2009  di Universitas Airlangga, Universitas Dipenogoro dan di beberapa tempat lain.

Tahun 2008, dibantu delapan orang pakar, pilot project tema Pendidikan Karakter dari Gagasan ke Tindakan diluncurkan. Hatiku terenyuh, ketika Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 mei 2010 mencanangkan pendidikan karakter dalam rangka membangun karakter, budaya dan peradaban bangsa. Sinar terang itu mulai menyeruak dalam kegelapan. Seolah jiwa dahaga mendapat seteguk air.

Melangkah keluar dari ruangan Istana negara hari itu aku merasa perlu diadakan suatu pra kondisi untuk memudahkan bergulirnya pendidikan karakter secara nasional melalui gerakan kampanye “demam” arti dan peran penting karakter dan berkarakter dengan mengadakan safari bedah buku Karakter Mengantar Bangsa dari Gelap Menuju Terang. Kurindu demam karakter ini melanda setiap anak bangsa, dimulai dari Jakarta kemudian mengguncang pulau Jawa hingga mengguncang Indonesia. Suatu hari akan tampil putra-putri Indonesia yang akan berkarakter menorehkan sejarahnya sendiri yang akan mengguncangkan dunia seperti yang pernah dilakukan Bung Karno.

Aku sudah berumur 81 tahun lebih. Kutahu, kedua tanganku terlampau kecil untuk mengguncang dunia. Di dalam keterbatasan ini, tapi satu hal yang pasti, perjuangan ini belum usai. Kalian anak-anakku para putra-putri pertiwi akan melanjutkannya. Dimulai dari diri sendiri, di sini dan sekarang ini! Jayalah terus Indonesiaku!

 

Tulisan lain pendapar Soemarno yang diterbitkan investor daily :

Yayasan Jati Diri: Keterpurukan Indonesia Akibat Bangsa Berkarakter Pembantu

Bangsa Indonesia saat ini berada di ujung tanduk karena kehilangan jati dirinya. Suka tidak suka, bangsa ini memiliki karakter sebagai pembantu rumah tangga. Untuk mengembalikan karakter yang hilang, Bangsa Indonesia harus memusatkan perhatiannya pada pendidikan yang tidak hanya terfokus pada knowledge (pengetahuan) tetapi pada sincerity (ketulusan).

Demikian diungkapkan Ketua Umum Yayasan Jati Diri Bangsa, Brigjen TNI (Purn) Soemarno Soedarsono dalam diskusi kebangsaan di Domus – Indonesia Cultural Observatory, Jakarta yang diselenggarakan Gerakan Integritas Bangsa (GIN) pimpinan Salahuddin Wahid dan dipandu oleh Putut Prabantoro, Selasa (10/5).

Soemarno menjelaskan, hasil penelitian Yayasan Jati Diri Bangsa, sebanyak 20% para ibu masyarakat menengah, umumnya menyerahkan pendidikan anak kepada pembantu rumah – mengingat kedua orang tua (ayah dan ibu) beraktivitas di luar rumah. Sementara sisanya yakni 80% adalah para ibu dari golongan masyarakat bawah yang tidak mampu menyewa pembantu atau dirinya sendiri menjadi pembantu. Para ibu yang bekerja pembantu, karena kondisi dan situasi rumah tangga menelantarkan anaknya begitu saja atau anak menggelandang.

“Kondisi ini perlu diwaspadai, karena anak Indonesia dibesarkan dengan bermentalkan dan berkualitaskan sebagai pembantu. Sebagai akibatnya adalah anak-anak yang orang tuanya pembantu hidup terlantar dan menggelandang,” jelas Brigjen lulusan sekolah militer di Breda, Belanda tersebut.

Menurut dia, pengiriman tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri adalah bagian dari percepatan proses keterpurukan bangsa Indonesia. Sekalipun para TKW disebut sebagai “ratu devisa” atau “pahlawan devisa”, suka tidak suka harus diakui pengiriman TKW ke luar negeri membenarkan bangsa Indonesia berkarakter pembantu.

“Bisa dibayangkan 2000 TKW yang dikirim, 10% dari jumlah itu kembali ke tanah air dengan perut besar dan 4 di antaranya melahirkan di jalan,” ujar Soemarno Soedarsono, yang bersama dengan tokoh nasional lain mendirikan Yayasan Jati Diri Bangsa pada 2002.

Pendidikan karakter
Lebih dalam Soemarsono menjelaskan, karakter bangsa harus dimulai dari kejujuran dan ketulusan. Jati diri bangsa adalah suatu pilihan yang harus ditanamkan sejak dini.

Menurut dia, ketika 1945, para bapa bangsa bekerja bersama rakyat dan ditambah dengan karakter yang kuat untuk merdeka. Indonesia bersyukur, karena semangat yang sama-sama berkarakter itulah negara ini bisa merdeka dan lepas dari penjajahan Belanda.

“Seharusnya, bangsa ini mencatat 11 Mei 2010 di mana pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan dimulainya pendidikan karakter. Ini merupakan peluang emas untuk membangun kembali karakter yang sudah hilang,” katanya.

Karakter, tandas Soemarno, harus dimulai dari pendidikan sejak dini, di mana jati diri bangsa ditanam ke dalam.

Dicontohkan bahwa ketika Jepang runtuh akibat bom Nagasaki pada Agustus 1945, Kaisar Hirohito hanya menanyakan berapa guru yang masih tersisa. Artinya, bagi Jepang, karakter bangsa dimulai dari pendidikan SD dan SMP. “Karakter itu bisa dilihat dunia saat ini ketika Jepang terlanda tsunami hebat bulan lalu,” katanya.

Menurut Soemarno, karakter adalah pendidikan yang tiada berkesudahan (never ending process). Sehingga adalah tidak mungkin menanamkan Pancasila sebagai karakter dengan cara instan. Pancasila harus ditanam dalam-dalam dengan bentuk perbuatan.

“Oleh karenanya, jika karakter bangsa ini adalah pembantu, yang menjadi pertanyaan adalah di mana ketahanan keluarga yang merupakan tiang dari kekuatan negara dan bangsa? Soekarno tidak menginginkan Bangsanya pada waktu itu menjadi bangsa kuli – oleh karena itu bangsa Indonesia harus merdeka dari penjajahan,” ungkapnya.

Kejujuran dan antikekerasan
Mengamini Soemarno, Salahuddin Wahid (Gus Solah) mengatakan bahwa pesantren Tebu Ireng Jombang menerapkan dua nilai luhur yang tidak boleh dilanggar yakni kejujuran dan antikekerasan. Jika nilai luhur dilanggar ada sanksi keras yang mengancamnya.

Menurut dia, hal yang sama juga terjadi pada Pancasila. Jika Pancasila diakui sebagai karakter bangsa seharusnya bangsa Indonesia tidak dapat memanipulasi atau membohongi Pancasila dengan hanya menunjukkan kesemuan. “Pada saat ini, yang kita lihat adalah semu. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang jujur dan tulus. Namun sekarang ini kita adalah bangsa yang semu.” tegas Gus Solah.

Sedangkan Muji Sutrisno SJ menjelaskan bahwa China lebih gamblang menjelaskan karakter dengan perumpamaannya. Peribahasa China mengatakan berhati-hatilah dengan pikiranmu, karena pikiran akan mengeluarkan kata-kata dan kata-kata akan menentukan perilaku. Sehingga karakter itu merupakan proses panjang yang senantiasa harus dipelihara dan dilatih terus.

“Jika Pancasila adalah karakter bangsa, tidak mungkin dilakukan dalam waktu 3 (tiga) bulan seperti kursus Bahasa Inggris. Untuk dihayati sebagai nilai luhur yang terimplementasikan. Pancasila harus ditanamkan dalam-dalam sejak dini,” ujar budayawan ini.

Pancasila, tandas dia, adalah hasil dari renungan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Pluralisme yang ada dalam nilai Pancasila sebenarnya banyak terdapat pada gurindam atau bahasa keseharian masyarakat dulu. Seperti, Lain Lubuk Lain Ikannya – atau Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung, merupakan contoh nilai yang hidup dalam masyarakat yang seharusnya diingat terus.

“Oleh karena itu, persoalan yang sekarang ada di Indonesia adalah teks vs konteks atau apa yang tertulis dan apa yang dikerjakan,” jelas Muji Sutrisno SJ.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s