GOLDEN AMBASSADOR, Langkah Taktis Duta Besar

DJOKO SUSILO

oleh Ranap Simanjuntak dan Paulus Roberto

from mova37

Djoko Susilo adalah Dubes RI untuk Swiss merangkap Liechenstein. Mantan wartawan dan anggota Dewan itu bukan diplomat sembarangan. Ia tak ragu melawan arus demi membela kehormatan negara di panggung internasional. 

untuk lebih jelas klik di sini : Djoko Susilo

Swiss, sebuah konfederasi di tengah benua Eropa punya hubungan yang lama dengan kawasan Asia dan Pasfik. Museum der Kulturen di Basel, salah satu negara anggota Konfederasi Helvetial yang berdiri sejak 1840 menyimpan banyak benda budaya yang dikumpukan dari Asia dan Pasifik, termasuk tentu saja Indonesia.

 

Sejak berdiri pada 1893 sudah tak terhitung jumlah ekspedisi yang dikirimkan Museum der Kulturen Basel ke kepulauan Indonesia. Para antropolog yang bekerja untuk museum itu mendata kekayaan budaya dari Indonesia yang dianggap sebagai link penting yang menghubungkan kebudayaan Asia dan Melanesia.

 

Basel adalah kota terbesar ketiga di Swiss. Berpenduduk sekitar 166 ribu jiwa, kota itu terletak di tepi Sungai Rhine (Rhein),

 

Setidaknya terdapat 3.500 tekstil dari Indonesia di museum Basel yang dikumpulkan sejak 1893. Begitu juga koleksi benda-benda artefak termasuk alat musik tradisional, patung, alat tenun, perahu dan sebagainya disimpan rapi.

 

Pada Museum der Kulturen Basel banyak memperlhatkan koleksi tekstil dari seluruh Indonesia terutama dari Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Borneo, Sulawesi termasuk baju dari kulit kayu yang berasal dari Sulawesi Tengah. Demikian tulis Kedubes RI untuk Swiss di Bern.

 

Museum der Kulturen Basel juga kerap memamerkan tekstil dan benda-benda lain yang mereka kumpulkan dari Indonesia. Dalam 10 tahun terakhir, misalnya, sudah lima kali pameran tentang Indonesia diselenggarakan museum itu. Di tahun 2001 sebanyak dua pameran seni kontemporer Bali, dan tahun 2002 sebanyak tiga pameran budaya tradisional dan kontemporer Bali.

 

Selain tekstil, di lantai dua museum berlantai empat seluas 3.320 meter persegi itu juga disimpan koleksi benda-benda artifak berupa alat musik tradisional, patung, alat tenun, perahu dan berbagai benda yang digunakan suku-suku diseluruh Indonesia. Semuanya disimpan dan terdata dengan rapi.

 

Kurator museum tersebut, Richard Kunz yang fasih berbahasa Indonesia, dapat dengan lancar menerangkan makna, motif ataupun teknik pewarnaan tekstil dari masing-masing daerah. Walaupun masih menggunakan teknik pewarnaan yang sederhana seperti mengkudu untuk pewarnaan merah, maupun indigo, namun kualitas tekstil Indonesia yang berumur ratusan tahun tidak kalah dengan produk di masa modern.

 

Tekstil tertua dari Asia Tenggara di museum itu, berasal dari India, yang dibawa para pedagang Portugis setelah tahun 1511 sebagai persembahan kepada raja Los Palos. Kain tertua tersebut ditemukan di salah satu toko seni di Indonesia. Uji carbon dating memperlihatkan bahwa usia kain itu sekitar 500 tahun dan diperkirakan dari masa antara 1435 hingga 1510 M. Kain itu pun diketahui merupakan barang berharga yang diwariskan keluarga Kerajaan Los Palos secara turun temurun.

 

Selain pameran, Museum der Kulturen Basel juga kerap meminjamkan benda kebudayaan yang mereka miliki kepada museum lain di seluruh dunia.

 

“Keseriusan Museum der Kulturen Basel patut mendapatkan penghargaan, tidak saja karena museum ini serius dalam mengumpulkan, membuat benda-benda seni Indonesia dalam data base tersendiri, serta memeliharanya dengan teknologi yang modern untuk menjaga kelestarian benda-benda seni, namun lebih dari itu museum mampu untuk lebih memaknai dan menghargai peradaban budaya leluhur yang hampir terlupakan,” demikian KBRI Bern.

 

Djoko Susilo melihat ini sebagai potensi besar. Sejak bertugas pada Maret 2010 lalu lelaki kelahiran Boyolali, 6 Juli 1961 itu melakukan gebrakan. Salah satunya soal promosi budaya Indonesia.

 

Setidaknya ada 14 pameran berskala internasional di Swiss di tahun 2011. Dalam setiap pameran, Indonesia mendapat kuota lima UKM. “Sayang dalam beberapa kali undangan, Indonesia hanya mengirim sedikit. Bahkan bisa hanya mengirim satu UKM saja,” kata Djoko.

 

Dia membawa sejumlah wartawan Swiss kala mengundang Presiden Swiss Doris Leuthard ke Indonesia. Wartawan Swiss pun mendapat kesempatan  untuk mengamati kehidupan Muslim moderat di Indonesia, Untuk mengamati secara langsung.

 

Tidak saja meliput kunjungan presiden, wartawan Swiss juga mendapat kesempatan mengamati secara langsung kehidupan Muslim moderat di Indonesia dan peluang investasi yang dapat menguntungkan kedua negara. Sebagai mantan wartawan, Djoko memahami betul potensi pers sebagai penopang diplomasi.

 

Gayung bersambut. Presiden Doris Leuthard dan Chancellor Corina Casanova antusias. “Indonesia dan Swiss, sebagai dua negara yang demokratis, banyak memiliki kesamaan pandangan, khususnya dalam bidang HAM dan pluralisme, “aku Presiden Leuthard.

 

Kunjungan pada Juli 2010 itu menambah erat hubungan dua Negara. Kerjasama bilateral Indonesia-Swiss mengurangi hambatan perdagangan kedua negara, khususnya terkait kebijakan non tarif (TBT, standar SPS) tercapai.

 

Juga kesepakatan peningkatan kemitraan ekonomi secara komperehensif antara Indonesia dan European Free Trade Association (EFTA), yang terdiri dari Swiss, Norwegia, Islandia, dan Liechtenstein. EFTA sendiri sebagai mitra potensi karena menduduki peringkat ke-10 sejak tahun 2008 dalam perdagangan barang di dunia (mencapai US$ 657 miliar) dan peringkat ke-5 perdagangan jasa (US$ 206 miliar).

 

Hingga akhir 2011, perundingan makin berjalan apik. Aturan yang menyulitkan akan direvisi. Misalnya Perjanjian Perlindungan dan Peningkatan Penanaman Modal (P4M) yang dibuat tahun 1974. Dan, Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) yang ditandatangani pada 1988. Indonesia-Swiss sependapat agar perjanjian investasi bilateral ini sejalan dengan pasal-pasal mengenai kerjasama investasi yang sedang dirundingkan Indonesia dan negara anggota EFTA.

 

Djoko yang pernah menjadi wartawan Jawa Pos, masing-masing di Washington DC dan London hampir  bertugas selama 25 tahun ini memperbaiki pelayanan KBRI di Swiss. Sehingga, birokrasi menjadi mudah.

 

Hal yang menarik dari mantan anggota Komisi I DPR RI (2004-2009) dari Fraksi PAN ini menyangkut kecintaan memakai baju batik, ikon Indonesia. “Saya sendiri konsekuen mengenakan batik kemana saja kecuali ketemu presiden atau menteri. Saya juga pakai batik ketika menghadiri jamuan diplomatik. Malahan sejumlah kolega saya, para duta besar negara sahabat memuji batik saya,” aku dia.

 

Djoko pun mencanangkan KBRI Bern sebagai KBRI Batik. Dia memerintahkan para staf untuk bekerja menggunakan batik. Ini memperkental wajah Indonesia, karena batik sudah diakui dunia melalui UNESCO sebagai warisan budaya nusantara.

 

Lelaki kelahiran Boyolali, 6 Juni 1961ini pun terkenal sebagai sosok rendah hati. Tatkala dia mendapat santunan maskapai penerbangan terbaik kelas bisnis dalam perjalanan dinas, Djoko malah menukarkan dengan kelas ekonomi.

 

Baginya, naik kelas bisnis pemborosan.  Djoko mengaku, bila setahun dua kali saja pulang ke Jakarta dengan naik Singapore Airlines, negara harus mengeluarkan dana sekitar 13.000 CHF (lebih dari Rp 120 juta). Dia pun memilih kelas ekonomi sebanyak 10 tiket Jakarta-Zurich.

 

Dana sebesar itu cukup untuk membeli 10 tiket ekonomi Jakarta-Zurich. Sisanya dia gunakan untuk mengundang berbagai pihak yang bisa memberi kontribusi seperti pakar, kalangan budaya, rohaniawan atau akademisi untuk promosi  KBRI Bern di Swiss.

 

”Biarlah saya naik kelas ekonomi, toh juga aman dan selamat sampai tujuan. Asal dana itu bisa dipakai kegiatan lain yang positif. Sejak dulu saat menjadi wartawan, lalu anggota DPR atau menghadiri undangan seminar internasional pun sudah biasa naik pesawat di kelas ekonomi,” terangnya.

 

Berkat aksi hemat ini, Djoko dapat mempertemukan kepentingan, khususnya bagi Indonesia. Juga mengirim wartawan, termasuk wartawan di Swiss menjelajah Indonesia dalam pembuatan informasi mengenai obyek wisata dan perdagangan yang memang perlu dipromosikan.

 

Gebrakan nyata sang diplomat lainnya menyangkut pengembangan sumber daya manusia dan pengetahuan. Djoko menggelar kerja sama dalam pengadaaan beasiswa pendidikan di Swiss. Menurutnya, saat ini Swiss National Science Foundation memberikan beasiswa pendanaan untuk penelitian di segala disiplin ilmu. Utamanya kerja sama penelitian internasional, konferensi dan kegiatan lain terkait pengembangan pendidikan. Skema bantuan ini merupakan kesempatan emas yang harus dimanfaatkan dalam membangun keunggulan bangsa.

 

Penengah Konflik PSSI

Tahun 2011, sepak bola nasional hiruk pikuk akibat kisruhnya Kongres Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Karena pemerintah tak punya kewenangan mengintervensi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallarangeng meminta Djoko membantu menjernihkan situasi.

 

Melalui telepon, Menpora memintanya melakukan komunikasi sekaligus mengklarifikasi kepada FIFA sebagai induk sepak bola internasional. Djoko diharapkan dapat menjelaskan tudingan intervensi pemerintah dalam tubuh PSSI kepada FIFA yang bermarkas di kota Zurich, Swiss.

 

Kala menerima telepon, Djoko Susilo mengaku tercengang mendengar tugas yang diberikan. Dia merasa ini belum pernah berurusan dengan sepak bola jadi tidak mengetahui sedikitpun perihal PSSI maupun FIFA. Bekal pengalaman sebagai wartawan dengan tuntutan menyelami masalah yang akhirnya menjawab keraguan ayah tiga anak ini.

 

Lulusan Master of International Management dari University of Maryland, Amerika Serikat ini mencoba membuka relasi dengan FIFA sekaligus mengumpulkan referensi hal ihwal masalah PSSI dari berbagai sumber. Juga muncul hasrat ingin tahu soal kemisteriusan punggawa PSSI selama ini. “Kenapa pengurus PSSI jika wira-wiri ke Zurich (kantor pusat FIFA) tidak sekali pun mengontak KBRI? Mereka berurusan dengan KBRI kalau kehilangan paspor saja,” tanya Djoko.

 

Djoko lalu memetakan masalah, menelusuri rekam jejak PSSI. Singkat kata, dirinya mengindikasi dasar permasalahan dari statute PSSI oleh FIFA. Dari aturan FIFA, pasal 35 ayat 4 berbunyi, “The members of the executive committees must not found guilty of criminal offence.” Artinya, anggota komite eksekutif tidak pernah terbukti melakukan tindakan pidana.

 

Namun kala itu kongres PSSI sedang berlangsung. Aturan ini oleh beberapa pihak, terutama kalangan Nurdin Halid yang kala itu masih menjabat Ketua Umum PSSI dan bermaksud mencalonkan kembali dipelintir. Diberi tambahan berbunyi, “tidak sedang ditemukan melakukan kejahatan ketika kongres.”Tentu saja ini jauh panggang dari api.

 

Pengurus PSSI incumbent ngotot kalau calon pengurus asal selama kongres (biasanya berlangsung tiga hari) tidak sedang diperiksa polisi atau jaksa karena suatu kejahatan, maka bisa menjadi calon sekalipun pernah dipenjara dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan.

 

Nah, Nurdin Halid yang memimpin PSSI sejak 2003 merupakan tersangka kasus penyelundupan gula impor illegal dan pernah ditahan atas dugaan korupsi dalam distribusi minyak goreng selama dua setengah tahun oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara sejak 9 Agustus 2005. Namun setahun kemudian, dirinya dibebaskan setelah mendapat remisi.

 

Pada 13 Agustus 2007, Nurdin Halid kembali divonis dua tahun penjara atas tuduhan korupsi dalam pengadaan minyak goreng.  Karena itu, FIFA sejak Juni 2007 melarang Nurdin Halid menjadi Ketua Umum PSSI. FIFA dalam suratnya ke PSSI, saat itu, bahkan meminta PSSI melakukan pemilihan ulang ketua umum.

 

Nurdin dan petinggi PSSI lainnya, aku Djoko, menyembunyikan isi surat FIFA itu dan tetap menjabat kala itu. “Kenapa pengurus PSSI menyembunyikan adanya perintah pemilihan ulang? Pemilihan 2007 itu tidak sah,” seru mantan Dosen FISIP Universitas Airlangga Surabaya itu.

 

Djoko yang langsung menemui Presiden FIFA Sepp Blatter mengatakan, FIFA memutuskan tak ada lagi nama Nurdin Halid sebagai calon Ketua Umum PSSI.  “Selama ini FIFA cuma dapat informasi sepihak dari PSSI saja tentang sepak bola tanah air beserta permasalahannya. FIFA tak pernah mendengar informasi dari pihak lain. Pantas saja orang-orang PSSI kalau ke Zurich selama ini tidak berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI di Swiss. Jadi seperti ada yang mereka tutupi, karena pengurus cabang olahraga lainnya yang koordinasi dengan kami,” tunjuk Djoko.

Ungkapan ini mendapat perlawanan dari kubu Nurdin Halid. Kontan, kalangan yang sudah terbiasa duduk di kursi empuk PSSI ini membantah. Nurdin Halid malah menuding Djoko Susilo yang berbohong. Menurutnya, keputusan FIFA tidak mungkin sekonyong-konyong ada tanpa melalui sidang Komite Eksekutif FIFA.

 

“Tidak benar ada keputusan itu. Karena tidak mungkin ada keputusan FIFA tanpa melalui rapat Komite Eksekutif FIFA. Sedangkan rapat Komite Eksekutif FIFA sudah dilakukan, keputusannya ada tiga,” ujarnya.

 

Nurdin pun merinci tiga keputusan FIFA, yakni pertama, menginstruksikan PSSI untuk segera membentuk Komite Pemilihan. Kedua, PSSI harus segera melaksanakan kongres. Dan ketiga, PSSI segera menyelesaikan masalah dengan LPI (Liga Primer Indonesia) sebagai turnamen tandingan Indonesia Super League (ISL).

 

Toh Djoko tak mau terjebak dalam konflik. Guna memastikan kebenaran ucapannya, dia menemui Ketua Umum KONI/KOI Rita Subowo yang secara terpisah juga sudah bertemu Sepp Blatter di Zurich. Rita Subowo membenarkan kalau orang nomor satu di FIFA itu melarang Nurdin Halid ditambah Nirwan Bakrie untuk maju dalam bursa pemilihan Ketua Umum PSSI. Bahkan kubu lawannya, George Toisutta dan Arifin Panigoro turut dilarang.

 

Akhirnya FIFA sendiri yang mengakui pertemuan itu. Dalam laman resmi 10 Maret 2011, Badan Sepak Bola Dunia tersebut menegaskan pertemuan tersebut. “Presiden FIFA, Sekretaris Jenderal FIFA, dan Direktur Asosiasi FIFA telah bertemu wakil dari PSSI pada hari Senin 7 Maret dan Duta Besar Indonesia di Swiss serta Ketua NOC Indonesia pada hari Selasa 8 Maret di Zurich di Home FIFA,” tulis laman tersebut.

 

Secara diplomatis, Djoko berusaha menyudahi pertikaian yang terjadi. Langkah Komite Normalisasi pimpinan Agum Gumelar yang menganulir putusan Komite Banding soal lolosnya nama George Toisutta dan Arifin Panigoro sebagai bentuk provokasi. Suami Musfiroh S Badri kini berbalik menyerang FIFA demi kepentingan nasional.

 

“Tindakan FIFA sebenarnya bisa dikategorikan sebagai provokasi dan mengobok–obok dunia sepak bola Indonesia. Tujuannya jelas. Jika para tokoh bisa terprovokasi, FIFA punya alasan menjatuhkan sanksi atas Indonesia,” katanya.

 

Djoko meminta semua pihak, termasuk kubu George Toisutta-Arifin Panigoro untuk tidak membuat pergerakan yang memancing reaksi. Semua pihak, menurut Djoko harusnya mematuhi proses hukum. “Seharusnya mereka tidak terpancing melakukan berbagai tindakan yang merugikan. Diplomasi pun harus ditingkatkan agar semua berjalan lancar dan berlangsung mulus. Konfrontasi hanya akan merugikan kepentingan nasional,” pesan dia.

 

Akhirnya Kongres Luar Biasa  digelar. Johar Arifin Hussein memenangi pemilihan dan berhak memimpin federasi sepak bola Indonesia setelah lama dibelenggu oleh arogansi Nurdin Halid cs. Meskipun kini PSSI kembali bergolak, langkah Djoko itu membawa pencerahan sepak bola tanah air.

 

———————

Boks

 

BIODATA

 

Nama Lengkap : Drs. Djoko Susilo, MA.

Tempat & Tanggal Lahir : Boyolalli, 06-Juli-1961

Agama : Islam

Istri : Musfiroh S. Badri

Anak : 3 (tiga)  Orang

 

PENDIDIKAN

  1. SMAN 1 Boyolali 1979
  2. FISIPOL UGM 1985
  3. Master of International Management, University of Maryland, Collage Park, MD USA 1990.
  4. Master of Arts Journalism, University of Wales, Cardiff, UK 1995.
  5. Ph.D Candidate in Journalism, University of Wales, Cardiff, UK 1997

 

PEKERJAAN

Dosen FISIP Univ. Airlangga, Surabaya 1985-1986

Koresponden Jawa Pos di Washington DC 1988-1992

Koresponden Jawa Pos di Inggris 1994-1997

Anggota DPR RI Komisi I 2004-2009

Duta Besar Indonesia untuk Swiss dan Liechenstein 2010- sekarang

 

PENGALAMAN ORGANISASI

Wakil Ketua HMI Komisariat Fisipol UGM 1982-`984

Pengurus Pemuda Muhammadiyah Jatim 1994-1998

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah

Anggota PWI cabang Jawa Timur

Anggota delegasi WAMY dan Delegasi Jamaah Al Islamaiyah, Tripoli, Libya

 

Negarawan yang Kritis

 

Pernah terpilih sebagai wakil rakyat di Senayan, Djoko Susilo turun gunung mengkritisi perkara yang menyangkut tanah air. Rasa nasionalismenya tak surut terjebak dalam rutinitas sebagai diplomat.

——————-LEAD

Berawal dari keinginan sejumlah anggota dewan yang hendak mengunjungi Swiss dengan logo studi banding. Sebagai Duta Besar di Negara itu, Djoko Susilo berani menolak. Alasannya sederhana, waktu kunjungan yang dipilih tak tepat karena parlemen Swiss sedang reses.

Lelaki yang genap berusia 50 tahun itu pun melakukan kritikan kepada anggoota dewan yang suka menghamburkan uang rakyat dengan alasan kunjungan DPR. Pada Maret 2011, Djoko membeberkan kalau kunjungan ke luar negeri itu 90 persen tak bermanfaat.

Baginya, kunjungan ke luar negeri bisa dibenarkan asal memiliki tujuan yang jelas. Misalnya untuk konferensi misal dari  KTT, perundingan, atau tindakan pembelaan warga negara TKI. Atau membawa misi kebudayaan dan mempromosikan pariwisata atau olahraga. Barulah itu sah.

 

Dirinya tegas menolak kunjungan kerja yang asal-asalan. Pernah pula dia menolak permintaan kedatangan DPRD dari Sumatera selama lima hari karena hanya menjadwalkan 5 jam saja untuk acara.

 

Pengalaman Djoko berdasarkan perbincangan dengan diplomat lain ditemukan sejumlah negara yang menjadi tujuan favorit. Pertama, kawasan Amerika Utara yang meliputi Amerika Serikat dan Kanada. Kedua, kawasan Eropa Barat yang mencakup Swiss, Belanda, Inggris, Prancis, dan jerman. Terakhir adalah wilayah Asia Pasifik seperti Australia, Jepang, Korea dan China. Sebagian ada juga yang ke Timur Tengah, seperti Arab Saudi dan Mesir.

 

“Ciri khasnya, biasanya negara yang dipilih adalah negara mapan atau maju. Jadi studinya bisa diisi dengan kegiatan sampingan seperti belanja atau berwisata. Ada juga yang ke Timur Tengah, Arab Saudi dan Mesir. Tapi itu ujung-ujungnya umroh atau wisata,” sambung dia.

 

Pernyataan ini mendapat respon besar dari kelompok DPR RI. Para Ketua DPR RI hingga anggotanya serentak menyerang Djoko tak layak mengeluarkan argumentasi yang menjadi ranah tanggungjawabnya. Bahkan, badan legislatif itu menyerukan Presiden SBY untuk memberhentikan sang diplomat. Tapi, Djoko anteng saja.

 

Kritik itu dirasakan perlu. Pengamat politik dari Universitas Nasional (UNAS) Jakarta Massa Djafar pun mendukung aksi Djoko. “Djoko Susilo sudah menunjukkan pertanggungjawaban secara moril akan keberpihakan kepada rakyat terlebih lagi kunjungan anggota dewan dibiayai dari uang rakyat,” kata Massa.

 

Atas kritikan Djoko dan banyak pihak akhirnya pimpinan DPR RI menandatangani surat kesepakatan dilaksanakannya moratorium atau penghentian sementara kunjungan kerja dan studi banding ke luar negeri. Surat moratorium itu ditandatangani Ketua DPR Marzuki Alie dan empat Wakil Ketua DPR, yaitu Anis Matta (PKS), Priyo Budi Santoso (Golkar),Taufik Kurniawan (PAN), Pramono Anum Anung, Senin 30 Mei 2011.

 

Tidak disebutkan hingga kapan moratorium ini berlaku. Yang jelas, selain kunjungan berkaitan dengan agenda Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP), kunjungan muhibah, dan Grup Kerja Sama Parlemen (GKSP) maka alasan lain badan legislatif ke luar negeri tak diijinkan atas biaya negara.

 

Kekritisannya yang berani tak hanya yang melibatkan pihak di dalam negeri. Alumnus jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada ini mengkritik kredibilitas New7Wonders Foundation sebagai penyelenggara tujuh keajaiban dunia.

 

Sebelumnya sempat terjadi adu kuat antara pemerintah Indonesia melalui Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang dijabat Jero Wacik. Awal pertikaian karena panitia meminta Indonesia menjadi tuan rumah pengumuman atau deklarasi kemenangan tujuh keajabian dunia terbaru pada tanggal 11 November 2011. Namun, dengan persyaratan pembayaran komitmen  fee sebesar US$10 juta, ditambah US$35 juta sebagai dana pelaksanaan acara.

 

Pemerintah pun menolak dan mendapat tekanan Pulau Komodo dicoret sebagai peserta tujuh keajaiban dunia. Karena New7Wonders Foundation berpusat di Zurich, Swiss, maka Djoko menelusuri. Pada alamat yang tertera itu, tak ditemukan papan nama New7Wonders Foundation. Hanya ada tulisan Heidi Weber Haus von Le Corbusier.

 

Alamat tersebut merupakan museum atau galeri pribadi Heidi Weber. Presiden sekaligus penggagas New7Wonders Foundation, Bernard Weber ternyata menumpang di rumah kakak iparnya. Pada depan bangunan itu tertulis Heidi Weber Haus von Le Corbusier. Inilah alamat yang digunakan New7Wonders Foundation.

 

akhirnya pulau komodo masuk dalam tujuh keajaiban dunia

Politisi PAN ini lalu menyerang New7Wonders Foundation sebagai organisasi yang tidak jelas. Keberadaan maupun keabsahannya.  Dugaan ini makin kuat setelah Djoko yang memang menjalin hubungan baik dengan para wartawan di Swiss seluruhnya tak mengetahui keberadaan New7Wonders Foundation.

 

”Saya bicara dan bertanya dengan beberapa jurnalis dari media massa di Swiss, ternyata tak satu pun dari mereka mengetahui tentang keberadaan New7Wonders Foundation,” kata mantan wakil ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia itu.

 

Menanggapi tudingan ini, Head of Communication New7Wonders, Eamonn Fitzgerald menyatakan bingung dengan dasar penilaian. “Saya tidak paham dengan apa yang dimaksud ‘layak’ dalam artian ruang kantor,” kata Eamonn.

 

Sayang bukti sudah menguatkan Djoko. Bahkan atas kontroversi ini, pemerintah Maladewa turut menarik diri dari kompetisi itu. Alasannya, mahalnya biaya lisensi dan paket sponsor.

Contohnya saja, pemerintah Maladewa diharuskan membayar biaya lisensi untuk penerbangan Maladewa sebesar US$ 1 juta atau sekitar Rp 8,8 miliar. Belum biaya sponsor dan lainnya. “Dengan menyesal, kami menarik diri dari kompetisi ini karena tuntutan tak terduga atas sejumlah uang yang diminta dari penyelenggara New7Wonders,” kata Menteri Negara Pariwisata, Seni dan Budaya Maladewa Thoyyib Mohamed, Kamis 20 Okotber 2011.

 

Djoko pun berfokus hal lain. Dirinya mengingatkan masyarakat soal pemungutan suara atau vote Taman Nasional Komodo di Indonesia menggunakan SMS. “Saya sayangkan mengapa cara vote bisa berubah menjadi lewat SMS. Siapa yang mengubah itu? Karena satu-satunya cara itu hanya lewat satu klik vote di internet.”

 

“Vote lewat SMS ini dipertanyakan. Siapa yang memberi mandat kepada provider di Indonesia? Kok tega-teganya itu. Jangan-jangan ada unsur penipuan,” kritik dia.

 

Akhirnya Pulau Komodo tetap menjadi pememang tujuh keajaiban dunia. New7Wonders Fondation mengalah dan tak jadi mengeruk keuntungan besar. Ketujuh finalis yang masuk tujuh keajaiban dunia berdasarkan abjad adalah Amazon, Halong Bay, Iguazu Falls, Jeju Island, Komodo, Puerto Princesa Underground River, dan Table Mountain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s