Kepala BKKBN, dr Sugiri Syarief : Solusinya Dukungan Masyarakat

oleh : Ranap Simanjuntak

Pertumbuhan penduduk sebagai masalah klasik masih menghantui. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pun mulai menyusun langkah startegis. Apa pula program pengembangan badan yang berada di bawah naungan Departemen Kesehatan ini? 

Sekitar 7 miliar orang kini hidup di dunia. Bila dalam kondisi sama, maka akan ada tambahan penduduk sebanyak 1 miliar lagi dalam kurun waktu 12 tahun mendatang. Hal ini tentunya membuat persaingan hidup semakin sengit. Multi dimensi permasalahan pun akan mengakar dalam kehidupan.

Indonesia sendiri menjadi negara dengan penduduk terbanyak nomor empat dengan dengan jumlah sekitar 241 juta jiwa pada tahun ini. Dalam perhitungan laju pertumbuhan penduduk, negeri ini berada di posisi kelima setelah Nigeria, Pakistan, India, dan Brasil. Untuk itu, sebagai lembaga yang membidangi masalah inni, BKKBN dituntut ekstra kerja keras. “Ini bukan hanya pekerjaan pemerintah. Solusi terbaik dengan dukungan masyarakat secara menyeluruh,” ungkap Kepala BKKBN, Sugiri Syarief.

ledakan penduduk-ancaman dalam negeri dan dunia

Menurutnya, berdasarkan angka laju pertumbuhan, sebenarnya statitistik menunjukkan keberhasilan. Ada penurunan laju tertumbuhan tiap tahunnya dengan sebelum tahun 2010 angkanya di atas 1,49 persen. “Kalau menurut perhitungan fersilitas pada 2007 angkanya 2,6 persen, pada tahun ini sudah mengalami kemunduran, dan diprediksi tahun 2012 mencapai 2,3 persen. Nah dengan trend ini maka pada 2015 bisa mencapai angka 2,1 persen,” sebut orang nomor satu di BKKBN itu

Bagaimana soal keluarga berencana (KB) ? Sugiri yang baru saja ditunjuk sebagai Kepala BKKBN pada akhir September lalu ini berkilahhasilnya sudah membaik. Persentase masyarakat Indonesia dalam mengikuti KB sudah mencapai angka 61,4 persen. “Angka itu lebih dibandingkan negera lain, seperti Malaysia yang hanya mencapai 36 persen, meski di lain sisi Malaysia angka pertumbuhannya masih di bawah Indonesia. Bila mampu menggenjot ke angka 68 persen maka menghasilkan fersilitas 2,1 persen. Tentunya tingkat pertumbuhan penduduk juga menurun,” dia menjelaskan.

Kepala BKKBN-dr Sugiri Syareif

Sugiri menambahkan, dari yang paling banyak terjadi, ada hubungan terbalik antara tingkat pendidikan dan kesejahteraan dengan jumlah anak. Di mana semakin tinggi tingkat pendidikan dan kesejahteraan maka tingkat jumlah anak keluarga tersebut semakin berkurang. “Karena itu, kami terus mensosialisasikan seluruh penggunaan alat sekaligus KB yanga ada. Tak ketinggalan juga mana dampaknya,” pungkas dokter lulusan Universitas Gadjah Mada tersebut.

Agar juga berdampak hingga masa mendatang, BKKBN punya program bagi kaum muda. Namanya Penyiapan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja (PKBR). Pelbagai pengarahan ditambah pengetahuan kepada para remaja secara berkelanjutan. “Kita siapkan modul-modul modul-modul dalam pembelajaran soal bereproduksi. Tujuaannya mempersiapkan remaja yang nanti akan membina keluarga sudah memahami fungsi perlindungan, sehingga tercipta kehidupan yang nyaman,” paparnya.

Bahkan, dalam program PKBR itu, BKKBN telah membentuk pusat informasi dan konseling (PIK) di berbagai sekolah dan universitas. Di mana, para pengarah atau pendidik di PIK merupakan kalangan muda yang sudah mendapat penggemblengan oleh BKKBN. “Jumlah PIK sekarang sudah mencapai hampir 6000 dan diharapkan nanti akan menyeluruh. Sebab, kalau yang muda yang memberikan pengarahan itu lebih tepat sasaran karena lebih terbuka,” tambah Sugiri.

Bagian penting menurut lelaki kelahiran Lampung 2 Agustus 1952 ini menyikapi perkembangan indeks pembangunan manusia (IPM). Menutur catata dalam laporan United Nation Development Program (UNDP), Indonesia melorot ke peringkat 124 dari peringkat 108 tahun lalu. “Namun kemelorotan ini pada dasarnya karena  negara yang masuk perhitungan juga meningkat dari 169 menjadi 187 negara. Dari tiga aspek, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sebenarnya bidang kesehatan dan kesejahteraan ada peningkatan. Angka harapan hidup di Indonesia kini mencapai 69,6 persen, dan ada kenaikan sebesar 121 persen dalam bidang pendapatan perkapita dibandingkan tahun lalu. Nah untuk pendidikan pemerintah berserta masyarakat saling membahu untuk mengingatkan agar anak harus sekolah. BKKN juga akan melakukan revitalisasi KB,” tutup Sugiri.

 

Tulisan ini menjadi advetorial di Koran Tempo edisi Kamis, 17 November 2011 dan bahan yang ditampilkan pada majalah Tempo, Senin 21 November 2011.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s