Indonesia Seamless Tube, Meretas Revolusi Industri Pipa Baja Nasional

oleh : Ranap Simanjuntak

industri baja masih didominasi pemain asing

Hadir di tengah hegemoni asing, Indonesia Seamless Tube berhasrat membidani lahirnya revolusi industri baja dalam negeri. Perusahaan anak negeri berbadan hukum PT Artas Energi Petrogas itu akan menjadi pionir perdana dalam membangun pipa baja tanpa kampuh dengan semangat kemandirian bangsa.

——-

Menenggarai sebagai negara komoditas tambang seperti minyak dan gas bumi yang lumayan besar, Indonesia butuh pasokan pipa baja yang pula besar.  Berbagai jenis kebutuhan dari pelbagai jenis serta ukuran guna menunjang kegiatan eksplorasi, produksi hingga distribusi harus tersedia dalam jumlah memadai.

Sayangnya, industri baja nasional sedang menghadapi tantangan besar.  Ada kecenderungan penurunan produksi dalam perkembangannya dewasa ini. Bahkan, beberapa produsen dalam negeri menghadapi ancaman kebangkrutan.

Lihat saja dalam catatan yang di kumpulkan, periode 2005 hingga 2009 kapasitas  produksi pipa baja di Indonesia terbilang stagnan, di angka 1.275.000 ton tiap tahunnya.  Di lain sisi, angka produksi terpasang atau biasa disebut utilisasi mempunyai kecenderungan penurunan kapasitas.

Secara ringkas, perkembangan konsumsi produk pipa baja domestik pada periode tersebut menunjukkan penurunan minus 9 persen tiap tahun. Di mana, konsumsi produk pipa baja Indonesia pada tahun 2006 sebesar 1.143 ribu ton, setahun kemudian turun menjadi sebesar 982 ribu ton. Pada 2008, konsumsinya menyusut menjadi 884 ribu ton. Dan, 2009  kembali jeblok pada sekitar angka 750 ribu ton.

Tahun 2005, produksi pipa baja Indonesia sebesar 689.726 ton dengan tingkat utilisasi sebesar 54,1 persen. Ada sedikit peningkatan di tahun 2006 yang mencapai 61,11 persen. Toh, tahun berikutnya, yakni 2007-2009  tingkat utilisasi tersebut kian anjlok. Di mana, 2007 utilisasinya mencapai 50, 42 persen, 2008 jatuh pada angka 45,03 persen, dan 2009 tergradasi hingga kisaran 34,03 persen saja.

Kondisi makin parah sejak terbukanya kran perdagangan bebas pada Januari 2010. Tantangan industri baja dalam negeri melingkupi tingginya biaya produksi dan lemahnya infrastruktur makin karut marut setelah produsen asing, terutama produk asal China menjelajah di dalam negeri.

Terbukti, pada 2010, impor baja dari China telah mencapai 1,5 juta ton per tahun. Bahkan, Kementerian Perindustrian menyebutkan sejak penerapan ASEAN-China (CAFTA), impor baja dari negeri Tirai Bambu itu melonjak hingga 170,8 persen. Lebih mengkawatirkan, pipa baja selundupan di berbagai daerah, seperti Batam makin marak.

pengeboran minyak dan gas masih membutuhkan pipa gas dalam jumlah yang besar

Kemerosotan tersebut juga sudah terbukti di tahun ini. Pada semester satu 2011, tingkat produksi pipa baja nasional diketahui tidak lebih dari 15 persen setara dengan 191.250 ton dari kapasitas terpasang 1,28 juta ton per tahun. Padahal, konsumsi pipa baja di dalam negeri pada tahun ini diprediksi mencapai 825.000 ton atau tumbuh 10 persen dibandingkan dengan kebutuhan tahun lalu sekitar 750.000 ton.

Menurut laporan The Indonesia Iron and Steel Industry Association (USIA) untuk Kementerian Perindustrian, seluruh produsen pipa baja anggota USIA yang mencakup 14 produsen pipa mengalami injury (kerugian) akibat tekanan itu sehingga dengan terpaksa mengurangi produksi, penjualan, dan keuntungan.

 

Menanti Kehadiran Sang Revolusioner

Di dalam tesis Soedjatmoko berjudul “Pembangunan Ekonomi sebagai masalah Kebudayaan”, kemandirian menjadi gaung utama meraih perekonomian nasional yang kuat. Sebab, pada dasarnya, jaminan mutlak menentukan nasib sendiri memang terletak pada kekuatan ekonomi yang besar.

Soedjatmoko-tokoh intelek Indonesia

“Urgensi pembangunan ekonomi lebih nyata mengingat sebagian besar negara-negara berkembang lain telah berhasil memulihkan keadaan ekonominya, malahan tingkat itu dapat dilampauinya. Maka kemerdekaan kita dan kemungkinan untuk benar-benar menentukan nasib sendiri tergantung dari kesanggupan kita untuk meluncurkan pembangunan ekonomi yang proporsi serta kecepatannya sepadan dengan urgensi serta luasnya masalah ini,” tulis salah satu intelektual Indonesia yang pernah menjabat sebagai rektor universitas PBB di Jepang itu.

Sadar bahwasanya perlu mengoptimalkan kreasi anak negeri menggapai kemandirian bangsa, khususnya di bidang pipa baja, pemerintah pun melakukan perlindungan lewat regulasi. Melalui Keppres No 80 Tahun 2003, Inpres No 2 Tahun 2009, Peraturan Menteri Perindustrian No 49 Thn 2009, dan PTK 007 dari Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) ketergantungan asing pun mulai dibatasi. Pemerintah sepakat melakukan pelarangan impor pipa baja dalam bentuk jadi. Impor pipa baja yang diperbolehkan yang setengah jadi atau tanpa ulir untuk melindungi produsen lokal.

Di tengah keadaan serba sulit tersebut nyatanya hadir inovasi baru. Perusahaan dalam negeri bernama Indonesia Seamless Tube (IST) atau PT Artas Energi Petrogas melakukan revolusi industri di bidang baja melalui pembangunan pabrik pipa baja tanpa kampuh atau tanpa sambungan yang biasa disebut seamless steel pipe. Ini merupakan kreasi pertama di Indonesia, bahkan untuk Asia tenggara, Australia dan New Zealand.

IST sebagai langkah nyata menggapai konsep Indonesia mandiri sendiri mulai berproduksi pada Juni tahun depan dengan jumlah investasi sebesar 500 juta dollar AS. Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono rencananya langsung meresmikan proyek pionir pipa baja kebanggaan dalam negeri ke mata dunia.

Mengapa IST dikatakan sebagai pionir? Direktur Komersial PT Artas Energy Petrogas Rully Hendrick Luntungan menjawab, industri yang ada di Indonesia saat ini hanya melakukan kegiatan perampungan atau pemolesan akhir seperti heat treatment atau sekadar pembuatan ulir  atau thread processing line.

“Sifatnya strategis dan mampu memperdalam struktur industri pipa baja tanpa kampuh di dalam negeri. Juga bisa meningkatkan porsi kandungan lokal yang mampu mencapai nilai tambah yang lebih tinggi daripada yang selama ini terjadi, yaitu terbatas pada proses pembuatan ulir dan dalam hal tertentu dilakukan proses heat treatment untuk pipa high grade sesuai dengan standarisasi American Petroleum Institute (API) 5CT N80, K80 ataupun P110,” jelas lelaki kelahiran Medan, 31 Agustus 1975 tersebut.

Pabrik IST sendiri berlokasi di kawasan industri Krakatau Steel Cilegon, Banten. Sebab, di daerah tersebut infrastruktur yang meliputi listrik, gas, serta penunjang lainnya seperti pelabuhan internasional Cigading Port cukup dekat. “Di IST akan dibangun hot rolling plant bersamaan dengan steel maker yang dilengkapi dengan electric dan blast furnace. Di mana seluruh bahan baku akan memanfaatkan sumber daya mineral dari dalam nergeri secara maksimal,” imbuh Hendrick.

Soal kapasitas produksinya, per tahun kapasitas pembuatan pipa baja tanpa kampuh mencapai 200.000 ton dengan ukuran hingga diameter 340 mm. Soal penggunaan teknologi, lanjutnya, sudah mutakhir sehingga menghasilkan pipa kualitas prima dan presisi tinggi. Maksimal sekitar 0.5 persen dari diameter luar pipa serta 5 – 8 persen toleransi ketebalan dinding pipa. “Khususnya dalam sektor industri pipa baja tanpa kampuh  sampai saat ini belum terdapat industri hot rolling mill yang dapat menghasilkan green pipe atau shell,” tutur peraih ‘”Kontribusi Ulung’ Universitas Harvard Model Kongres di Gedung Parlemen Luksemburg.

Lelaki jebolan Master of Business Administration, Fulbright Scholar dari The Australian National University, Canberra, Australia  ini mengutarakan, seamless steel pipe hot rolling mill tersebut terdiri bagian pilihan. “Ada mannesmann-type piercing mill agar menghasilkan hollow bloom. Three roll assel mill sebagai hot rolling mill untuk memperoleh presisi diameter, tebal dinding dan kebulatan. Lalu, nine stand sizing mill atau stretch reduction. Terakhir cooling bed, straightening machine, on-line NDT, serta pemotongan ujung-ujung pipa,” pungkas dia.

Melepas Hegemoni Asing

Sejuhamana potensi pasarnya? Bila melihat fenomena pengguna casing, tubing dan line pipe seamless saat ini, seluruh operator pengolahan minyak dan gas bumi yang beroperasi di bawah naungan lembaga pemerintah, yaitu BP Migas dan kontraktor atau perusahaan seperti Geothermal dan PGN. Dari data BP Migas, pemakaian maupun pembelian casing dan tubing selama 7 tahun terakhir ini berkisar pada angka 120.000 metrik ton pertahun.

Diprediksi, volume itu meningkat seiring dengan agenda nasional dalam menaikkan produksi minyak mentah Indonesia. Apalagi, tak bisa dipungkiri, produksi minyak masih menjadi primadona. Belum lagi pangsa pasar ekspor yang tidak kurang dari 30.000 metrik ton pertahun dan pangsa pasar di luar lingkungan kerja BP Migas yang diperkirakan sebesar 20.000 – 30.000 metrik ton pertahun.

“Jelas kalau pasar pipa baja tanpa kampuh di Indonesia saat ini masih dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing, dengan melakukan investasi di Indonesia untuk memproteksi produsen pipa baja dari negara asalnya,” tambahn Hendrick.

Ungkapan tersebut bisa dimengerti. Analogi sederhana seperti yang diterapkan Toyota atau Honda. Kedua perusahaan tersebut hanya menggunakan Indonesia sebagai titik-rakit atau assembly point sehingga produksi atau pabrik mereka di Jepang tetap beroperasi.  Begitu pula yang dilakukan produsen-produsen baja dari luar negeri.

Sejauh ini, industri pipa baja tanpa kampuh di Indonesia hanya terbagai dalam dua kategori produk yang dihasilkan, high grade ( L80/N80/P110 ) dan low grade ( H40-J55/K-55 ). Pangsa pasar high grade nusantara masih dikuasai oleh dua perusahaan.

Pertama adalah PT Seamless Pipe Indonesia Jaya (PT SPIJ) yang dikuasai Grup Tennaris sebagai merger perusahaan raksasa dari unit pipa Nippon Kokan, Jepang dan Siderca, Argentina, yang menguasai pabrik Dalmine  (Italia),  Tamsa (Mexico), Algoma (Kanada), danMaverick (USA).

Kedua oleh PT Citra Tubindo, Tbk yang awalnya didirikan oleh pengusaha nasional. Tapi kini, saham mereka sudah dikuasai oleh Grup Vallourec (Perancis), Mannesmann (Jerman), Soconord (Belgia) dan Sumitomo (Jepang) yang semuanya merupakan pemain utama kelas dunia.

Kekuatan dua perusahaan itu menjadi pengendali alat marketing pipa baja internasional. Toh kedua perusahaan tersebut tak bersedia membangun industri hulu dengan alasan  bila cukup dengan industri hilir maka dapat menguasai pangsa pasar high grade di Indonesia.

“Hal ini yang menyebabkan industri besi baja Indonesia mengalami stagnan dan membuat Indonesia semakin tergantung kepada produk luar negeri.  Apalagi, pangsa pasar low grade masih dikuasai oleh para  penyuplai atau pedagang seperti Marubeni, Mitsui, dan Airtrust  dari Singapura serta beberapa perusahaan lokal lainnya,” tunjuk Hendrick.

Dibantu sumber bahan baku yang kuat sekaligus dukungan financial besar lewat afiliasi kepada perusahaan lain, mereka mempunyai unit thread processing saja. Di antaranya, PT Pipa Mas Putih, PT Patraindo/Elnusa, PT Purna Bina Nusa/ Elnusa, PT Apipa/Mitsui, dan PT Telaga Mas Murni/ Marubeni.

Sanggupkah IST bersaing, bahkan melepas hegemoni asing yang selama ini begitu dominan? Sebagai orang yang juga bertugas dalam pemasaran, Hendrick merasa optimis. “IST  yang akan dibangun merupakan pionir, industri hulu. Bukan hanya untuk sektor industri minyak dan gas bumi semata, melainkan memberi stimulus sektor industri lainnya,” terang peraih murid teladan tahun 1993 oleh Chateau, Mont-Choisi ini.

Dirinya menjabarkan, penjajakan kerjasama dengan beberapa perusahaan, seperti PT Chevron Pasific Indonesia, Soconord Group S.A, dan kini sudah membuat Memorandum of Understanding (MoU) dengan Soconord Group S.A akan sangat membantu. ”Utamanya dalam hal promosi, pemasaran dan penjualan produk yang akan dihasilkan oleh PT Artas Energi Petrogas,” seru lulusan program media dan komunikasi dari International University, Jenewa – Swiss MA itu.

Dengan teknologi mutakhir(Mannesmann piercing Mill, Assel Mill, serta Multi-roll stretch reduction mill atau Sizing Mill), IST menurutnya, dapat memproduksi pipa baja tanpa kampuh yang teruji. Sehingga, dapat memenuhi sertifikasi standar internasional seperti American Petroleum Institute (API) 5CT, API 5L, API 5D atau American Society for Testing and Material (ASTM) A53 dan A106.

”Produk pipa baja tanpa kampuh yang dihasilkan mempunyai ukuran diameter dengan kisaran 140 hingga 340 mm,  tebal 6 hingga 35 mm dan panjang 6.000 sampai13.000 mm. Harganya pun disesuaikan dengan biaya produksi dengan memperhitungkan penjualan di pasaran,” sergah Hendrick.

Pada akhirnya, dia tak mau mengumbar janji. IST yang bakal menjadi bayi revolusi industri pipa baja harus mawas diri. Penjagaan kualitas produksi merupakan bagian terpenting yang menjadi tolak ukur promosi sekaligus menjaga hubungan baik dengan perusahaan lain. Butuh kerja keras memang!

 

Tulisan ini menjadi copy tulisan yang diterbitkan oleh majalah Forum Keadadilan edisi Senin, 21 November 2011.

9 thoughts on “Indonesia Seamless Tube, Meretas Revolusi Industri Pipa Baja Nasional

  1. Semoga IST bisa bersaing dengan perusahaan asing ,saya sangat mendukung sebagai warga negara indonesia mudah mudahan indonesia bisa maju dengan adanya IST ini amien ….

  2. saya, suyanto mokh ali fakih, umur 48tahun, tinggal di cilegon, pengalaman di pabrik baja pt. cold rolling mill indonesia utama sebagai general service staff dan di pt. krakatau steel, sebagai purchasing staff, terakhir bekerja di industry kimia, pt. polypet karyapersada selama 17 tahun sebagai supervisor store, kalo bapak/ibu berkenan, saya mengajukan diri untuk bergabung di pt. indonesia seamless tube sesuai pengamalaman yang pernah saya miliki, yaitu bisa di general affairs atau di store (warehouse)
    terima kasih
    yanto

  3. Kepada Yth : Importer & Cargo Agent

    Mohon maaf sebelumnya jika email kami ini mengganggu aktifitas Bapak2/Ibu2

    Perkenalkan kami dari VPL- Logistics, Consolidator untuk barang-barang import baik Door to Door maupun resmi/legal serta peminjaman Perusahaan/Under Name ke Indonesia.
    Kami dapat menghadle semua jenis import komodity dengan air freight atau sea freight ke Indonesia.
    Kami juga bisa mengerjakan sistim Borongan (All-In) barang-barang yang berupa : mesin bekas,textile,besi/baja dan pipa.

    Rutin schedule Import consolidator Door to Door kami sebagai berikut :
    By Air Freight / Sea freight Door to Door to Indonesia
    – Singapore to Indonesia
    – China to Indonesia
    – Taiwan to Indonesia
    – Malaysia to Indonesia
    – Eropa to indonesia

    Rate yang kami tawarkan sudah termasuk ex-works rate dari origin, Freight Charges air / sea, Pajak dan bea masuk. Kami juga menerima sigment import yang sudah terlanjur masuk ke pelabuhan tanjung priok dan bandara Soekarno-hatta yang tidak di lengkapi dengan izin import.

    Di Indonesia, Sea port / air port charges di Indonesia serta delivery charges to Door penerima.
    Kami berharap kutipan ini akan memenuhi permintaan Anda, jika Anda membutuhkan lebih banyak pertanyaan jangan ragu untuk menghubungi kami

    Untuk sementara yang bisa kami tawarkan penawaran resmi,sedangkan harga Door to Door baru bisa kami berikan setelah ada permintaan atau adanya data-data barang

    Demikianlah penawaran ini kami ajukan,besar harapan kami agar bisa kerja sama dengan perusahaan
    Bpk/Ibu.atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

    PT. VISA PARAMA LINES

    Head Office :
    Jl. Tebet Timur Kav. 29/9-10
    Jakarta Selatan – Indonesia
    Tel : +62-21 8394 8347
    Fax : +62-21 8536 5750
    E-mail : cs-jkt@vpl-logistics.com
    Webb : http://www.vpl-logistics.com

    Branch :
    Jl. Pemuda 11 DEF
    Medan – Indonesia
    Tel : +62-21 6998 4271
    Fax : +62-21 6998 4271
    E-mail : cs-mdn@vpl-logistics.com
    Webb : http://www.vpl-logistics.com

    Warehouse :
    Jl. Bangka 1 Gudang APW
    Jakarta – Indonesia
    Tel : +62-21 4450 7029
    Fax : +62-21 4450 7029
    E-mail : cs-gdg@vpl-logistics.com
    Webb : http://www.vpl-logistics.com

  4. kepada bapak ranap simanjuntak..
    saya dedet aprima doni, mahasiswa UNP sumbar.
    mau meminta pertolongan kepada bapak, bisa kah saya mendapatkan softcopy data konsumsi dan produksi pipa dan baja Indonesia dari tahun 1982-2012..???
    karena saya sangat membutuhkan pertolongan bapak untuk menyelesaikan metode ilmiah saya sebagai syarat kelulusan..
    atas kebaikan bapak saya ucapkan terimakasih.
    ismaildedet15@gmail.com

  5. saya Edy Sunaedy ingin bergabung di perusahaan Bapak dengan pengalman saya operator Bubu & Milling Borring…mksh.
    Hub:087871778200

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s