JAKARTA BERKEBUN…YUK MARI

Sigit Kusumawijaya

Pengkampanye Urban Berkebun di Kota

oleh : Ranap Simanjuntak

Jarang anak muda yang punya perhatian khusus dalam pelestarian lingkungan, terlebih yang tinggal di kota. Namun berbeda dengan sebuah komunitas bernama ‘Indonesia Berkebun’ dengan konsep memanfaatkan lahan kosong menjadi hijau dengan penanaman pohon (urban farming).

Komunitas ini bermula dari hasil diskusi sebanyak 15 orang orang seperti arsitek ternama Ridwan Kamil, penggiat media sosial, Shafiq Pontoh, arsitek muda Sigit Kusumawijaya dan lainnya ketika mendapatkan tawaran lahan seluas 10.800 meter persegi yang dapat digunakan sementara. Lokasinya di di Sring Hills, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Menurut Sigit Kusumawijaya, hasil perbincangan itu menghasilkan ide memanfaatkan lahan menganggur di Jakarta yang dimanfaatkan sementara untuk bercocok tanam. Lahirlah Jakarta Berkebun pada Oktober tahun lalu.

Sigit, lelaki kelahiran Jakarta 14 November 1981 bersama penggagas lain melakukan kampanye lewat media sosial seperti twitter, facebook, milis. Tanpa dinyana, respon masyarakat begitu tinggi terutama kawula muda. Secara bergantiang beberapa kelompok orang yang rata-rata berjumlah 10 orang mulai berkunjung. Karena lahannya tandus, tahap awal tanah tersebut digemburkan dahulu. Dan, memilih tanaman kangkung lantaran mudah tumbuh. Baru secara bertahap lahan tersebut ditanami jenis tanaman lainnya seperti cabai, tomat, dan jenis sayuran.

Sigit Kusumawijaya-Humas Indonesia/Jakarta Berkebun

Konsep sederhana ini ternyata menarik dukungan banyak pihak. Jakarta Berkebun yang dananya berasal dari iuran anggota yang serba terbatas mulai mendapat simpati seperti pinjaman lahan di Bumi Pesanggrahan Mas, Jakarta Selatan atau bantuan dana sponsor dari beberapa kegiatan corporate social responsibility (CSR) permasalahan permodalan mulai teratasi.

Hebatnya lagi, Sigit yang bertugas sebagai public relations mulai membuka informasi selebar-lebarnya. Atas pengetahuannya, menimba ilmu di Universitas Tu Delft Belanda jurusan urbanism mengembangkan perkotaan dengan perspektif pembangunan hijau berkolaborasi dengan ilmu desain yang digelutinya selama kuliah di UI jurusan arsitektur. Kegiatan yang semula berskala regional di Jakarta ini mulai diikuti kaum muda di kota-kota besar di Jakarta. Maka, lahirlah Indonesia Berkebun.

Kini, Indonesia berkebun telah tumbuh di 12 kota seluruh Indonesia dan satu kampus, yaitu UI Berkebun. Meski secara organisator komunitas ini belum rapi, namun komunikasi berjalan dengan baik. Anggotanya pun menjamur, sehingga mendapat penghargaan lima besar komunitas terbaik dari perusahaan obat terkenal, PT Merck.

“Keinginan kami adalah menyebarkan semangat postif. Tidak mengambil keuntungan melainkan ingin membenahi kota biar makin ramah dan hijau,” ungkap lelaki yang kini bekerja di perusahaan pembuat pola transportasi massa PT Mass Rapid Transit.

Sigit yang juga Ketua Bidang Pengkajian dan Pelestarian Perkotaan di Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) berupaya mencoba melandasi pembangunan perkotaan secara berkelanjutan dengan dibarengi pertumbuhan lingkungan sehat. Sebab anak pertama dari pasangan Edy Hidayat dan Sudarningsih ini paham betul kalau kualitas hidup manusia berasal dari lestari alam. “Bahkan, kegiatan ini punya tiga tujuan yaitu ekologi dengan memperhatikan lingkungan, ekonomi yang mampu membantu kebutuhan masyarakat dan sedang mencoba pengembangan pemasaran supply kepada supermarket untuk sayur bayam, dan fungsi edukasi yang coba menelurkan warga untuk ramah sekaligus mencintai lingkungan,” ucap lelaki yang belum menikah ini.

Lewat beberapa kegiatan seperti komunitas pencinta desain grafis, Sigit terus mengkampanyekan Indonesia Berkebun dengan media promosi yang menarik hati. Harapannya, pemerintah juga ikut mendukung. “Sejauh ini sih Menteri Pertanian sudah berjanji mau membantu,” tutup mantan Wakil Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Deen Hag sewaktu kuliah di Belanda.

Tulisan ini dalam sebagai penilaian juri karena tokoh yang ditulis menjadi peserta lomba Satu Indonesia, yakni kerjasama PT Astra dan Tempo. Tulisan ini sebagai tulisan dan  pernah di-posting di http://www.tempointeraktif.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s