David Setiabudi, Ikon Gamer Indonesia

menerima penghargaan MURI

Oleh : Ranap Simanjuntak

Menekuni pekerjaan sesuai hobi memang mengasyikkan. Begitu hal tersirat dari rutinitas David Setiabudi sebagai pembuat software game. Berangkat dari ketertarikannya soal seni rupa, lelaki kelahiran Malang 21 Oktober 1976 ini meraih berbagai penghargaan sebagai penemu game Indonesia. Dia pun menelurkan ilmunya sebagai dosen di salah satu universitas swasta di Jakarta.

salah satu karya David

Bermula dari hobi menggambar dan bermain game selama menginjak bangku SMA, David berkreasi secara underground membuat game pesawat SIEGE tahun 1992 dengan program GWBASIC. Saat itu, hasil karyanya dibagikan gratis kepada teman-temannya.

Selepas sekolah, atas keinginan orang tua sebagai pemilik toko optik mata di Malang, David pun mengambil kuliah Freaksini Optisien D3 Kedokteran Optik Mata UI. Dirinya merasa bidang tersebut tak sesuai hati nurani sehingga anak dari pasangan Junaedi Setiabudi dan Juliani Buana Djaja ini terus berkreasi bidang seni rupa. Sebuah Komik yang mengadopsi cerita Malin Kundang namun berbeda ending bernama Solid Kids dia hasilkan.

“Saya kuliah untuk orang tua. Ijazahnya membantu bisnis orang tua membuka toko optik mata. Tapi saya malah membuat komik yang alurnya seperti Malin Kundang tapi ibunya tidak menghukum anak menjadi batu, karena menurut saya sekejam-kejamnya ibu pasti tak mau anaknya menjadi batu. Sayang karena saat itu krisis ekonomi sulit mencari pengusaha yang mau mempublikasikan jadi saya tak melanjutkan membuat komik,” cerita David.

wawancara di televisi

Lalu, David pun kuliah lagi di Universitas Tarumanagara fakultas Desain. Sambil menggeluti bidang grafis, David pun mencoba kembali menghidupkan gelora lamanya membuat game terlebih saat skripsi tetntang pembuatan software game. Sebab, bidang ini lebih kompleks dengan menggabungkan gambar, suara sekaligus cerita. Menariknya, dia memunculkan tokoh serta kisah dari dalam negeri dengan menggunakan bahasa Indonesia pada 2002. Kala itu, banyak yang menertawakan, toh David bersikukuh untuk mengembangkan kebudayaan nusantara, bahkan ada game berbahasa daerah seperti bahasa Jawa, Sunda, Palembang dan lain sebagainya.

Karya-karya itu dibentuk dalam sebuah wadah “Divine Kids” sebagai fondasi pembuatan game. Sasarannya memang anak-anak dengan tujuan memberi edukasi soal nasionalisme, budaya sekaligus mendidik karakter. “Saya pernah ditawari untuk membuat game porno tapi langsung saya tolak. Saya juga punya pantangan dalam membuat game seperti tidak menampilkan orang merokok, narkoba atau berbau anarki,” ketus lelaki yang mendapatkan penghargaan rekor MURI sebagai pembuat game pertama di Indonesia tahun 2004.

Begitu pula Divine Kids dinobatkan sebagai game pertama di Indonesia oleh MURI. Juga mendapat penghargaan dari Majalah Game Station dalam acara Indonesia Game Show. “Karena ini orisinil, saya mendaftarkannya ke Ditjen Hak Kekayaan Intelektual. Untuk software yang bisa di-download dari internet selama tiga tahun mencapai 102 terra giga bytes. Sementara mulai Desember lalu sampai sekarang sudah 22 terra giga bytes. Juga memasarkannya dengan Orisoft Media (penerbit software komputer) di mal atau pameran dalam bentuk CD,” aku suami dari Vionta Medrianti ini.

Dalam keseharian, David pun mencoba menelurkan ilmunya dengan memilih berprofesi sebagai dosen di beberapa tempat. David tercatat sebagai pengajar beberapa mata kuliah di Universitas Multimedia Nusantara milik Kompas grup, Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanagara, dan Binus Center. “Kalau tidak mengajar biasanya kegiatan membuat game dalam sehari memakan waktu delapan jam, dan kalau mengajar hanya dua jam saja. Pembuatannya hanya dibantu satu orang yang mengurusi musiknya. Dan, sekarang sudah banyak kerja sama dari berbagai pihak serta juga menjalin kerja sama dengan anak didik. Beberapa pesanan game kami buat baik dari dalam maupun luar negeri,” terang lelaki berkulit putih ini.

Dalam waktu dekat ini, David akan terbang ke Iran guna mewakili Indonesia dalam memperkenalkan produk Indonesia khususnya games. “Saya bangga bisa memajukan games Indonesia. Sekarang sudah ada lebih dari 90 karya hasil saya ditambah dengan kerja sama mahasiswa. Dulu juga pernah membuat game SBY anti koruptor dan mendapat respon yang baik dari presiden,” imbuhnya.

 

——

Tulisan ini sebagai penilaian juri dalam lomba Satu Indonesia Awards kerjasama antara PT Astra dan Tempo. Pernah juga dipbulikasikan dalam tempointeraktif.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s