Satu Pesona Bali Bernama Perang “Tipat Bantal”

Bali menyimpan sejuta pesona yang tak pernah mati. Di kalangan dunia daerah ini merupakan tempat paling digandrungi kalangan wisatawan dari penjuru dunia. Eksotismenya tak pernah jemu. Demikian pula soal budaya seperti perang ‘tipat bantal” Desa Adat Kapal, Mengwi, Kabupaten Badung. 

 

“Nah kalau mau ke Bali dengan berbagai pilihan objek wisata, dan pelbagai paket menarik di Pulau Deata ini.
Hubungi kami; Attin Tours & Travel. phone : 021-7975897/7975894. sms : 08170990021. dijamin memuasakan dengan harga termurah!”

MENGWI, KOMPAS.com–Ratusan warga dari dua banjar di Desa Adat Kapal, Mengwi, Kabupaten Badung, Selasa terlibat dalam tradisi perang “tipat bantal” atau saling lempar ketupat di depan pura desa setempat.

Tradisi sebagai wujud pengharapan kesejahteraan bagi masyarakat di wilayah tersebut juga biasa disebut dengan “Aci Rah Pengangon” atau juga “Siat Tipat Bantal”.

“Selain sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen, ritual ini adalah sebagai bentuk pengharapan supaya warga di desa adat ini selalu mendapat kesejahteraan,” kata Nyoman Sukataya, Ketua Karang Taruna Desa Adat Kapal di sela-sela acara.

Pada ritual kali ini, kata dia, melibatkan warga dari dua banjar saja, yakni Banjar Celuk dan Uma.

Menurut Sukataya, makna dari kegiatan itu adalah bertemunya dua sumber kehidupan yang dipercaya membawa kesejahteraan yang dilambangkan pada ketupat dan bantal (penganan dari ketan dicampur kelapa dan dibungkus dengan daun kelapa).

Selain itu, acara ini juga untuk menjaga keseimbangan supaya berbagai bidang kehidupan yang menjadi mata pencaharian masyarakat setempat tetap berjalan dengan baik.

Tradisi itu dilaksanakan setiap bulan keempat dalam penanggalan Bali (sasih kapat) sekitar bulan September hingga Oktober. Pelaksanaanya diwujudkan dalam bentuk perang-perangan menggunakan “tipat bantal”.

Tipat atau bermakna ketupat adalah olahan makanan dari beras yang dibungkus dalam anyaman janur atau daun kelapa yang masih muda berbentuk segi empat.

Sedangkan bantal merupakan penganan yang terbuat dari beras ketan yang juga dibungkus dengan janur, namun berbentuk bulat lonjong.

Dua hal itu, kata dia, merupakan simbolisasi dari keberadaan energi pria “maskulin” dan wanita “feminin” dalam semesta ini. “Itu sesuai dengan konsep Hindu yang disebut Purusha dan Predhana,” ujarnya.

Pertemuan kedua hal itu dipercaya warga mampu memberikan kehidupan kepada semua makhluk di bumi, yakni segala yang tumbuh dan berkembang baik dari tanah (tumbuh), bertelur maupun yang dilahirkan.

“Benturan tipat dan bantal saat berada di udara kemudian jatuh ke tanah adalah lambang kesuburan bagi warga kami,” ujarnya.

Acara perang tipat bantal digelar pukul 16.00 Wita dan mendapat perhatian dari masyarakat Kecamatan Mengwi maupun dari sekitarnya, termasuk kalangan wisatawan asal Jepang yang datang menggunakan pakaian adat Bali.

Perang tersebut berlangsung sekitar 15 menit yang berlangsung cukup meriah. Meski tampak para peserta acara itu sangat bernapsu untuk melemparkan makanan itu ke lawannya, namun setelah acara usai tidak tampak rasa saling mendendam akibat kena lemparan yang rasanya cukup menyakitkan.

Tidak hanya peserta yang terlibat aksi saling lempar, namun beberapa penonton juga ada yang asyik menimpali dengan ikutan melempar ke arah kerumunan orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s