Profil Dr. I Ketut Mardjana, Direktur Utama PT Pos Indonesia

Pos“Dengan Demokrasi Mudah-mudahan Bangsa Kita Semakin Matang”

Upaya mengangkat kembali PT Pos Indonesia yang mulai redup karena ditinggalkan penggunanya, membuat Direktur Utama Ketut Mardjana berpikir out of the box. Berbagai bentuk terobosan usaha bisnis dilakukan, mulai dari transformasi infrastruktur, rencana IPO, memperluas usaha bisnis, utilisasi properti, sampai membangun jaringan sistem online.

Meski rencana-rencana pengembangan bisnis yang brilian itu harus ditentang oleh Menteri BUMN dan terbentur regulasi yang ada, tidak membuat sang Dirut PT Pos putus asa dalam mencari alternatif pengembangan usaha. Salah satunya adalah memberdayakan aset properti milik PT Pos yang tersebar hingga ke seluruh pelosok negeri, dengan perluasan jasa layanan dan pengembangan usaha.

Kepada Syukron Faisal dari SINDO Weekly yang mewawancarainya dua pekan lalu, Ketut mengatakan kelebihan daya jangkau yang dimiliki oleh PT Pos Indonesia inilah yang belum dimanfaatkan secara maksimal untuk menumbuhkan perekonomian di pedesaan. Oleh karena itu, Ketut berencana untuk mengembangkan bisnis PT Pos agar lebih dekat dengan masyarakat pedesaan. Selain itu juga untuk membantu perekonomian pemerintah yang sedang tumbuh. Pos 2

Bagaimana dampak kondisi politik sekarang terhadap bisnis PT Pos Indonesia?

Bagi PT Pos, yang kami layani adalah masyarakat menengah ke bawah, yang merupakan kebutuhan harian, day to day. Oleh karena itu, dapat saya katakan tidak ada pengaruhnya terhadap PT Pos Indonesia. Barangkali, dengan Pemilu 2014 nanti PT Pos akan mencoba untuk mengambil keuntungan dengan ikut mengirim logistik pemilu melalui pos, hehehe …

Apa prioritas utama yang harus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan perekonomian?

Masalah regulasi, sering terjadi ketidaksinkronan antara regulasi yang satu dengan yang lain. Saat ini, PT Pos Indonesia tidak boleh me-running sebagai usaha perbankan. Padahal, PT Pos Indonesia itu ada di daerah seluruh Indonesia. Muncul isu di Jepang, tabungan pos itu begitu luar biasa besarnya. Hal ini sebenarnya dalam rangka memobilisasi dana masyarakat melalui tabungan pos.

Apa harapan Anda terhadap parpol peserta Pemilu 2014?

Jika dilihat NKRI yang telah didirikan oleh Bapak Bangsa, harapan saya pastinya jangan sampai terjadi konflik horizontal. Para pendiri bangsa ini telah membangun landasan negara yaitu Pancasila. Jika kita pegang teguh, Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat. Demokrasi harus tetap berjalan sesuai koridor. Jika terjadi perebutan suara dalam pemilu, itu memang program yang mereka jual. Jangan sampai ada kampanye hitam yang menunggangi isu-isu SARA. Mudah-mudahan dengan demokrasi itu, bangsa ini semakin matang jiwanya.

Anda membuat transformasi dari BUMN menjadi entrepreneur dengan program empowerment dan modernization. Bagaimana konsepnya dan apa yang melatarbelakangi gagasan tersebut?

Pertama, tatkala saya ditunjuk untuk menjadi wakil direktur utama, saya tidak memiliki pengetahuan tentang pos. Jadi, sangat fresh sekali, cara saya berpikir belum terkontaminasi oleh suatu hal. Dulu, surat itu masih menjadi idola dan dipuji-puji. Kemudian saya pelajari, kok kami merugi terus, sampai mengikis modal perusahaan. Kemudian muncul pertanyaan, mengapa perusahaan yang hebat luar biasa pada masa lalu sekarang ini hampir tenggelam?

Saya melihat bahwa PT Pos memiliki aset dan jaringan yang luar biasa, ada di mana-mana, tapi justru kinerjanya buruk sekali. Kinerja karyawannya bisa dikatakan apatis, tidak bergairah, dan sedikit minder. Kendaraan pos dan gedung-gedungnya pun sudah tampak tua, kusam, tidak jelas. Dengan kondisi seperti itu, wajar jika orang mengatakan PT Pos akan mati, masuk masa senja.

Begitu saya pelajari, ternyata PT Pos tidak pernah punya utang, artinya asset undelivered. Saya juga mengeksplorasi, seperti apa perusahaan pos di luar negeri? Ternyata, pos di Jepang sangat maju. Bahkan, pemerintah dan bank pun sampai pinjam uang dari kantor pos. Justru bank pos di sana menjadi perusahaan terbesar. Kantor posnya pun sangat modern sekali pelayanan dan bentuknya. Memang kami agak telat melakukan transformasi, kami terlalu mudah menyerah dengan suatu kondisi.

Pos 3Lantas, bagaimana solusinya?

Menghadapi kondisi ini, saya coba menyentuh karyawan. Tidak dengan menaikkan gaji mereka. Tapi, saya perbaiki dulu infrastrukturnya. Pada waktu itu, pusat memang takut memberikan kekuasaan karena kerap terjadi penyalahgunaan dan penyelewengan. Sehingga, hal ini terbawa ke pusat, yang mengakibatkan semakin lambat dan tidak bisa melayani masyarakat dengan cepat. Untuk mengembalikan kepercayaan dan persepsi masyarakat, maka di tahun pertama, saya membuat program empowerment and modernization. Empowerment artinya memberdayakan kembali sumber-sumber yang ada, baik aset dan sumber daya manusianya. Kemudian, memodernisasi kendaraan lama dengan yang baru agar persepsi masyarakat juga berubah soal kondisi pos yang kuno.

Menurut Anda, apa yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin?

Pemimpin itu harus memiliki minimal tiga syarat utama. Pertama, mampu membangun visi. Membangun visi itu sangat ditentukan oleh karakter pemimpinnya, yang harus memiliki wawasan, pengetahuan, dan jaringan. Kebetulan saya pernah bekerja di institusi pemerintahan sebagai auditor, mengurus institusi internasional seperti World Bank, IBDB, bahkan sampai pada tingkat petani. Pengalaman ini terhimpun bagi saya untuk membangun visi, melayani masyarakat hingga level pedesaan.

Kedua, seorang pemimpin juga harus memiliki nilai integritas sehingga betul-betul menjadi panutan. Di samping harus menjadi pembuat kebijakan, nilai-nilai integritas itu juga harus dibangun, seperti berkendara motor atau bersepeda bersama karyawan di saat santai.

Ketiga, seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan, dan risiko yang sudah diperhitungkan. Bahkan, jika harus mengambil kebijakan yang tidak populer sekalipun. Seperti waktu saya membangun VSAT (Very Small Aperture Terminal—stasiun penerima sinyal dari satelit yang berfungsi untuk menerima dan mengirim data ke satelit) di seluruh wilayah Indonesia yang tidak memiliki jaringan telepon. Banyak sekali tantangannya, karyawan saya menilai bahwa membangun VSAT itu menambah beban biaya, dan akan membuat PT Pos semakin merugi. Setelah terbangun dengan unit online, akhirnya unit cost-nya semakin kecil.

Dengan perkembangan ICT(Information and Communications Technology), surat tergantikan oleh SMS dan email, wesel pos beralih ke ATM. Bagaimana pengembangan strategi bisnis untuk segmen ini?

Kalau orang takut dengan ICT, bagi saya IT itu harus dirangkul. Justru kami menjadikan ICT sebagai tulang punggung dari seluruh aktivitas perusahaan. Jika personal mail sedang turun, kami akan cari bisnis mail lain yang sedang berkembang. Tantangan bagi kami bahwa bisnis surat masih tumbuh, seperti rekening koran, pemberitahuan tagihan-tagihan.

Orang mengirim uang, juga memakai sistem IT, mengabarkan lewat pesan singkat—SMS. Dengan ICT orang juga bisa melakukan track and trace, seperti memonitor pengiriman surat kilat melalui SMS. Sama sekali kami tidak khawatir dengan ICT yang berkembang. Itu justru memperlancar pekerjaan pos sehingga pelayanan menjadi lebih baik dan menciptakan produk-produk baru seperti surat express regional. Dengan kemajuan teknologi informasi, saya mencoba untuk membalikkan logika publik yang menganggap adanya teknologi maka PT Pos Indonesia akan tenggelam, justru kami akan terbit kembali.

Biodata I Ketut Mardjana Pos 4

Tempat, tanggal lahir : Bali, 18 Maret1951

Pendidikan :

1988–1993      Monash University, Melbourne, Australia

1993                Institut Ilmu Keuangan (UK) Jakarta

Penghargaan :

2001    Asean Social and Economic Coorporation Golden Awards

2001-2002       Asian Development Best Executive Awards

2011    People Of The Year 2011, sebagai Inspiring CEO 2011, dari Harian Seputar Indonesia

Tepat Waktu Setiap Waktu

Sejarah lahirnya PT Pos Indonesia begitu panjang. Keberadaannya di Batavia (nama sebelum Jakarta) sejak jaman VOC, tepatnya didirikan oleh Gubernur jenderal Baron van Imhoff pada tahun 1746. Pada waktu itu pendirian Pos untuk melayani persuratan dari dan ke Hindia Belanda, juga persuratan dari Belanda.

Status badan usaha Pos Indonesia mengalami beberapa kali perubahan. Mulai dari Jawatan Post, Telegraph dan Telephone (PTT), kemudian menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Seiring pesatnya kebutuhan akan pos dan telekomunikasi, di tahun 1965 statusnya berubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos dan Giro). Di tahun 1978 berubah menjadi Perum Pos dan Giro, hingga akhirnya pada 1995 berstatus Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero).

Kini, jejaring kantor layanan PT Pos Indonesia tersebar di 24 ribu titik yang menjangkau 100 persen kota kabupaten, hampir 100 persen kecamatan dan 42 persen kelurahan atau desa, serta 940 lokasi transmigrasi terpencil di Indonesia. Dengan perkembangan teknologi informasi, kini PT Pos telah memiliki 3.700 kantor pos online, lengkap dengan electronic mobile post.

Sistem kode pos juga mempermudah proses pengiriman. Tiap jengkal daerah di Indonesia pun mampu diidentifikasi dengan akurat. Sehingga, pengiriman pos dapat sampai dengan cepat dan tepat pada waktunya. Tidak salah jika moto PT Pos Indonesia adalah “Tepat Waktu Setiap Waktu—On Time Every Time.”

Pos 5            Tak hanya itu, PT Pos Indonesia pun semakin gencar melakukan revitalisasi dan diversifikasi usaha. Hal tersebut dilakukan untuk mendongkrak kinerja keuangan setelah beberapa tahun merugi. Direktur PT Pos Indonesia I Ketut Mardjana mengatakan, tahun lalu perusahaannya meraih pendapatan Rp24 miliar. “Sehingga target kami pendapatannya mencapai Rp28 miliar pada tahun ini,” katanya.

Pada 2013, lanjut Ketut, PT Pos menargetkan laba hingga Rp28 miliar itu dengan asumsi 60 persen digunakan oleh filatelis dan 40 persen penerbitan perangko. Pilihan keuntungan dari sektor itu karena dari kegiatan surat-menyurat terus mengalami penurunan seiring berkembangnya teknologi. “Ada migrasi dari surat-surat yang menggunakan perangko dengan surat-surat yang tidak menggunakan perangko,” katanya.

Selain itu, untuk meningkatkan kinerja perusahaan PT Pos memang telah melakukan sejumlah modernisasi dan perluasan bisnis. Selain memperkuat dan mengembangkan inti bisnis di bidang pengembangan direct mail, paket, dan layanan logistik, PT Pos Indonesia juga merambah layanan finansial dan properti. “Pengembangan juga dilakukan Pos Indonesia di sektor perhotelan. Hingga 2016 nanti, setidaknya 12 hotel akan dibangun di beberapa kota di Indonesia, seperti Bandung, Malang, dan Kediri,” imbuhnya.