Profil Hary Tanoesoedibjo Sang Pengusaha Media

simak di sini : Harry Tanoesudibjo (Bos Media). Tulisan ini menjadi naskah dalam buku Man of The Year 2011 oleh RMOL yang diterbitkan pada 29 Januari 2012. Harry Tanoe menjadi penerima award dalam kategori Unpredictable Newsmaker.

Pengusaha muda Hary Tanoesoedibjo, yang sebelumnya tak mengenal politik praktis secara mengejutkan melabuhkan jangkar politiknya di Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Panggilan hati nurani atau ingin mencari perlindungan bisnis di balik parpol?

 

 

Di penghujung 2011 lalu, raja bisnis media, Hary Tanoesodibjo menyita perhatian publik. Kali ini bukan mengenai sepak terjang bisnisnya yang memang semakin menggurita, melainkan keterlibatan pengusaha muda ini di panggung politik.

Masyarakat, terutama kalangan politisi, tersentak kaget ketika mendengar pengusaha yang akrab disapa Hary Tanoe itu bergabung dengan Partai Nasional Demokrat (Nasdem), berdampingan dengan bos Media  Group, Surya Paloh. Sebab, partai yang dipilih adalah partai baru yang belum bisa diprediksi masa depannya. Bukanlah partai penguasa atau partai besar lainnya.

Seperti diberitakan, Rapat Pimpinan Nasional I Partai Nasdem yang digelar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara ( 9-10 November 2011) secara resmi, menegaskan, Hary Tanoe telah bergabung ke Partai Nasdem dengan jabatan sebagai Ketua Dewan Pakar. Memang sejak tiga bulan sebelumnya, santer tersiar kabar bahwa pemilik MNC Group itu akan melabuhkan diri ke partai besutan Surya Paloh tersebut.

Langkah Hary Tanoe masuk ke jalur politik praktis memang mengejutkan. Namun, jika dirunut ke belakang, sebagai pengusaha Hary dikenal sebagai sosok fenomenal. Terkadang membuat gebrakan tak terduga, bahkan terasa kontroversial.

Sepak terjang bisnis Hary Tanoe memang tak diragukan, khususnya soal bisnis. Sejak muda dia rajin mengubah haluan bisnisnya, mulai dari perusahaan sekuritas, investment company, sampai membentuk induk perusahaan dan merambah ke bisnis media.

Awalnya, Hary Tanoe hanya anak pedagang kusen dan daun jendela semasa kuliah di Kanada dan Amerika, sembari main di Wall Street. Kembali ke tanah air, dia mendirikan perusahaan sekuritas PT Bhakti Investama bersama Titiek Soeharto.

Hary Tanoe berhasil berjibaku memutar bisnis justru pada saat turbulensi keuangan Asia Tenggara berepisentrum di Indonesia. Ia mampu meyakinkan Bambang Trihatmodjo dan trah Cendana untuk menjalankan macam-macam bisnis, melalui holding company-nya, Bhakti Investama.

 

Mengejutkan Cendana

Pada tahun 2002, Hary Tanoe membeli saham Bimantara Group, kerajaan bisnis yang didirikan Bambang Triatmodjo pada 1981. Entah bagaimana aksi, pendekatan atau lobi yang dilakukannya, tiba-tiba semua kontrol Bimantara sudah bukan lagi di tangan Bambang Tri. Kurang dari lima tahun setelah Hary masuk Bimantara, tanpa banyak bicara, Bimantara Citra tiba-tiba sudah berubah nama menjadi Global Media Network. Dan, nama Bimantara kini tinggal kenangan.

Dengan gebrakan secepat kilat, ia menggemukkan jaringan media di bawah bendera Media Nusantara Citra yang mengkongkonsolidasikan kepemilikan media elektronik televisi (RCTI, Global TV, MNC TV), radio (Sindo Radio), portal berita okezone.com dan media cetak (Koran Seputar Indonesia dan mengangkat anak tiri majalah Trust menjadi anaknya).

Melalui MNC, Hary Tanoe melakukan akuisisi ataupun kemitraan strategis dengan sejumlah pemilik radio swasta niaga, televisi lokal, termasuk pengembangan channel-channel kosong yang ada di jaringan TV Berbayar Indovision.

Setelah membuat gebrakan dengan menguasai saham Bimantara, Hary Tanoe kembali merambah bisnis keluarga Cendana yang lain. Sasarannya adalah stasiun televise milik Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut. Kini Hary Tanoe tengah  bersengketa kepemilikan saham di  Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Mbak Tutut—putri penguasa Orde Baru dengan menjanat Presiden RI selama 32 tahun—itu, dibuatnya ‘tidak berkutik’.

Puncaknya, di penghujung 2011 lalu Harry Tanoe mulai “spinning” lagi, dengan memproklamirkan diri sebagai pentolan Partai Nasdem bersama koleganya, pemilik televisi berita pertama Metro TV dan pendiri Koran Media Indonesia, Surya Paloh.

Masuknya Hary Tanoe ke politik praktis pada saat bisnisnya mulai menggeliat, tentu menimbulkan tanda tanya berbagai kalangan. Ketika kepercayaan rakyat kepada para politisi dan partai politik menipis, mengapa dia justru memasuki ranah tersebut?

Lalu, mengapa pengusaha yang pernah diberi predikat sebagai salah satu pengusaha berpengaruh di Indonesia itu memilih Partai Nasdem sebagai partai baru yang masih belum jelas kekuatannya? Mengapa ia tak tertarik berpolitik di bawah panji partai penguasa, atau partai besar lainnya, yang akan dengan suka cita menerima kehadirannya?

Sebelum merapat ke Partai Nasdem, Hary Tanoe dikenal sangat dekat dengan Partai Demokrat dan masuk dalam lingkaran Presiden SBY. Karena itu, ketika Hary Tanoe memilih merapat ke Surya Paloh,– politisi yang gencar mengkritik kebijakan pemerintah,– spekulasi pun muncul.

Kabar beredar, masuknya Hary Tanoe ke partai dengan ikon Surya Paloh itu lantaran dia sakit hati ditinggal SBY. Menurut isu pula, Hary merasa ditinggalkan saat didera kasus Sistem Administrasi Badan Hukum atau terkanal dengan singkatan Sisminbakum di Kejaksaan Agung. Benarkah? Hary Tanoe membantah keras spekulasi yang mengatakan, pilihannya bergabung bersama Partai Nasdem berlatar-belakang kekecewaan pada penguasa dan partainya.

Harry menyanggah. Dia menegaskan kalau bisnis yang dijalani sudah mapan, sehingga merasa sudah waktunya memenuhi panggilan hati nurani untuk terjun di bidang politik. “Ini karena ada motivasi, ada panggilan. Ada niat ada jalan. Saya ingin menyumbangkan, membangun bangsa dan memberikan kontribusi positif. Tidak ada niatan untuk mencari uang dari politik.” Demikian  Hary Tanoe menepis kecurigaan.”

Soal kenapa Partai Nasdem yang menjadi kendaraan, bos MNC itu mengaku pilihan tersebut berawal dari perbincangan dengan Ketua Umum Ormas Nasional Demokrat, Surya Paloh. Hary mengklaim dirinya dan Surya Paloh memiliki perspektif dan visi yang sama membangun negeri. Kesamaan visi ini, kata Hary sangat penting. Proaktif, tulus, dan bekerja keras dan bekerja cepat tentunya untuk kebaikan masyarakat. Karena kesamaan visi itu ia memutuskan mau menjadi Ketua Dewan Pakar.

Dalam pidato politiknya di depan peserta Rapimnas Partai Nasdem, Hary Tanoe menyatakan bahwa pilihan bergabung dangan Nasdem sudah sangat tetap. Sebab, prospek Nasdem untuk tumbuh dan jadi pilihan rakyat dalam Pemilu yang akan datang sangat besar. Nasdem, kata Hary, punya momentum yang tepat untuk tumbuh dan jadi pilihan masyarakat.

“Di tengah-tengah kondisi yang tidak menentu seperti sekarang, Nasdem hadir menawarkan solusi,” kata Hary, seperti dituturkan Sekjen Nasdem Ahmad Rofiq, dalam wawancara khusus dengan Rakyat Merdeka Online.

Top of Form

Wakil Ketua Umum Partai Nasdem Sugeng Suparwoto menyatakan, pihaknya tidak pernah merayu-rayu Hary Tanoe untuk masuk partainya. Tapi, Hary ingin masuk sendiri, karena tertarik dengan visi misi Nasdem. “Kita tidak pernah memberikan iming-iming atau power. Sebab, sebagai partai baru apanya yang mau diberikan,” kata Sugeng.

Soal jabatan ketua dewan pakar untuk Hary, Sugeng mengatakan sangat pantas. Sebab, dari segi ilmu manajemen, Hary adalah orang mumpuni. Hary juga dianggap punya analisis yang matang dalam setiap masalah. Dengan posisinya, Hary diharapkan bisa memberi masukan yang berarti untuk memajukan partai.

Meski belum menunjukkan “kelasnya” sebagai politisi, keberanian Hary Tanoe naik ke panggung politik mendapat apresiasi sejumlah kalangan. Salah satunya adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie. katanya, etnis Tionghoa yang pengusaha, yang berani terjun ke politik baru Haryy Tanoe. “Saya apresiasi bahwa politik itu dunia kita semua. Jadi tidak usah segan, darimana pun latar belakang kita, untuk terjun ke dunia politik. Karena itu mulia,” sebut Jimly.

Kalangan politisi melontarkan komentar yang beragam. Wakil Sekjen Parati Golkar, Nurul Arifin menegaskan bahwa Partai Nasdem tidak akan mampu menggerogoti partai yang sudah mapan, termasuk Partai Golkar dan Partai Demokrat. Ratu Disko Jawa Barat 1983 itu menuturkan, meskipun memiliki banyak media massa, partai Nasdem miskin ketokohan sehingga tidak berarti apa-apa dalam politik di Indonesia. “Kekuatan media juga bukan segala-galanya sebab jika miskin ketokohan, tak ada artinya,” ucap Nurul.

Sebagai partai yang sudah banyak makan asam garam politik di tanah air, kata Nurul Arifin, Partai Golkar sangat siap berhadapan dengan lawan politik apapun pada pemilu mendatang. “Kita sudah teruji dengan pengalaman-pengalaman yang enak maupun tak enak.”

Artis papan atas di era 90-an itu, menyebutkan bahwa meskipun Partai Nasdem memiliki banyak media massa menyusul masuknya Bos MNC Grup, Harry Tanoesoedibjo, bukan berarti partai itu dengan mudah mendulang suara. “Karena yang menentukan suara itu adalah rakyat, bukan media.”

Sementara itu, Ketua DPP Partai Demokrat, Mohammad Jafar Hafsah, menegaskan keyakinannya bahwa Partai Nasdem tak mampu menggerogoti suara partainya kendati sama-sama nasionalisme. Ketidakmampuan Partai Nasdem menggerogoti suara partai penguasa itu, menurut Jafar, karena partai binaan Susilo Bambang Yudhoyono sudah memiliki wilayah atau kantong suara yang loyal.

Jafar menambahkan, Partai Demokrat memiliki kantong-kantong suara yang tak tergoyahkan. Apalagi, para pemilihnya loyal kepada Partai Demokrat. Tapi, kata dia,  Partai Demokrat tak akan lupa dan terus waspada terhadap partai lain. Baik itu baru maupun partai lama.”Perlu dicermati dengan baik guna mengantisipasi kemungkinan terburuk,” ungkap Jafar.

Sebagai warga negara, Hary Tanoe tentu sepenuhnya berhak menentukan haluan politiknya. Apalagi, ia telah matang di bidang bisnis sehingga bisa diharapkan ia tak akan tergoda untuk memupuk kekayaan dari kancah politik.

Pakar Komunikasi Politik Univeritas Indonesia (UI) Effendy Ghazali menyatakan, masuknya Hary Tanoesoedibjo ke Nasdem  merupakan suatu gejala yang wajar. Karena, di luar negeri juga terjadi serupa: seorang pengusaha masuk partai politik. Hal itu terjadi pula pada Thaksin di Thailand dan di beberapa negara lain. “Masuknya Hary Tanoe, kata Effendi, tentu akan menjadi kekuatan baru bagi Surya Paloh.”

Namun, sebagai pengusaha di bidang media yang mempunyai daya pengaruh besar guna membangun opini public langkah Hary itu memang layak dicermati. Terlebih lagi, ia bergabung dengan Surya Paloh, yang juga memiliki media.

Pengamat politik senior Arbi Sanit, mengungakpkan kelumrahan masuknya Hary Tanoe ke pentas politi. Hal tersebut baginya lumrah sebagai kebanykan pengusaha.  Sebab, katanya, orang-orang bisnis semakin yakin dengan masuk ke politik, bisnisnya akan lebih terlindung atau malah bisa ekspansi. Sejalan dengan itu, bergabungnya Hary Tanoe ke Partai Nasdem tidak akan membuat perpolitikan Tanah Air menjadi produktif. Justru akan terjadi konflik kepentingan, terkait posisinya sebagai pengusaha dan politisi.

Kecurigaan Arbi Sanit tentu sangat beralasan. Namun, menghadang langkah Hary Tanoe di jalur politik, dengan alasan ia adalah pemilik berbagai media, juga bukan tindakan yang adil. Bukankah sebaiknya ditunggu dan dicermati, langkah-langkah politik seperti apa yang ditempuh oleh sosok pengusaha muda ini?

3 thoughts on “Profil Hary Tanoesoedibjo Sang Pengusaha Media

  1. hari tanosudibyo ini pake uangnya tutut…biasa skenarionya ambil alih..padahal tetep uang keluarga cendana..biar ga keusut ma KPK…jd seolah2 hari tano ini beli sahamnya bambang maupun tutut…ahhhh dah ga herannnnn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s